Saturday, April 28, 2012

HOBI BEDAH PLASTIK? WASPADA TOMOMANIA



         Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk lain yang diciptakan oleh Allah SWT. Ada yang berkulit putih, hitam, sawo matang, dan kuning langsat. Ada yang bermata bulat dan ada pula yang sipit. Ada yang berambut ikal dan ada pula berambut lurus. Ada yang berhidung bangir dan ada pula yang pesek. Cantik, tampan, ataupun tidak kedua-duanya itu hanyalah suatu hal yang bersifat relatif dan termasuk penilaian subjektif dari tiap-tiap individu. Namun, pada hakikatnya manusia itu juga merupakan makhluk yang tidak pernah merasa puas. Sebagaimana salah satu hal yang paling mendasar pada teori Abraham Maslow, bahwa manusia itu tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah diperoleh / dimilikinya dalam hal kebutuhannya.
Pada kenyataannya, manusia kini telah tertelan dalam buaian perkembangan zaman yang diiringi oleh kemajuan pengetahuan dan teknologi.  Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi jika sampai mempengaruhi ataupun merusak budaya yang telah tertanam. Dan salah satu masalah yang sangat menarik untuk disajikan ialah sebagai berikut.
           Tomomania. Ini semacam penyakit maniak yang mungkin masih terdengar asing tetapi sebagian besar orang yang mengidap penyakit ini. Ditinjau dari Dictionary Encyclopedia  (Kamus Ensiklopedia), Tomomania berarti obsesi untuk memiliki wajah atau tubuh yang sempurna dengan jalan operasi. Bila diartikan secara kasar, Tomomania adalah suatu kecenderungan atau ketagihan untuk melakukan bedah plastik terhadap bagian tubuh yang dirasakan tidak sempurna. Kasus-kasus seperti ini seringkali terjadi atau bersumber dari Negara bagian Asia Timur seperti China, Taiwan, Korea, dan sebagainya. Bagi Negara-negara tersebut, bedah plastik ini tidak lagi menjadi hal yang asing. Bahkan telah ,mendarah daging atau dapat dikatakan sebagai “hobi” bagi mereka. Fenomena ini telah menyebar ke hampir beberapa Negara, salah satunya, Indonesia. Kita dapat menyebutnya sebagai Fenomena Barbie.  Jadi, siapa pun pelaku yang menderita tomomania ini akan selalu mempunyai hasrat untuk memuaskan dirinya dan kenikmatan yang diperolehnya tentu saja dengan melakukan operasi bagian tubuhnya secara berulang kali sesuai selera atau suasana hatinya, dia ingin menjadi seperti apa dan dalam bentuk yang bagaimana. Tidak peduli itu legal ataupun non-legal. Segala cara akan ditempuhnya dan tindakan tersebut tentu saja merogoh kocek yang sangat fantastis.
Tomomania ini cenderung disebabkan karena faktor Self Confidence (Rasa percaya diri) yang rendah dan kurang menghargai diri sendiri. Hal ini terutama terjadi di kalangan wanita. Biasanya, wanita itu merupakan sosok yang sensitif dan paling mudah terpengaruh dengan sesuatu yang bersifat keindahan ( Aesthethic ) meskipun secara fitrah, wanita memang makhluk yang paling indah yang Tuhan ciptakan.
 Menurut pengamatan saya, penyakit maniak ini dapat pula menimbulkan personality disorder yang biasa orang sebut sebagai “Narsis”. Inilah dampak yang nyata yang sering terjadi. Jadi, orang tomomania itu akan selalu memiliki pemikiran bahwa “pembedahan wajah” yang mereka jalani adalah yang terbaik dan  tersempurna dari siapa pun. Sedikit saja ditemukan “lecet” atau “kesalahan” dari perubahan wajah  itu maka mereka tidak akan segan-segan untuk membedahnya sekali lagi hingga berkali-kali. Akan tetapi, bodohnya, mereka tidak mempedulikan dampak negatif yang akan terjadi. Bagaimana jika proses pembedahan itu tidak steril, menimbulkan efek buruk yang berkepanjangan, atau bahkan terjangkit virus hingga merusak sel-sel kulit ?  Berdasarkan fakta yang diperoleh bahwa efek yang seringkali terjadi ialah penderita tomomania sudah pasti akan menderita Anorexia atau Bulimia.
  Tidak dipungkiri pula, penyakit tersebut disertai dengan gangguan emosional yang kompleks. Atau, kemungkinan besar pun tanpa disadari lagi jika itu ibarat kata sudah “membatu” dalam jiwanya. Di sisi lain, penyakit semacam ini dapat timbul karena awal dari sebuah kekagumannya terhadap aktor atau aktris yang mereka sukai. Kekaguman yang tidak wajar hingga berkeinginan untuk memiliki bentuk tubuh, hidung, tulang pipi, dan sebagainya yang harus mirip atau melebihi dari yang aktor / aktris miliki. Lalu, akan lebih tidak masuk akal lagi  apabila sampai meniru keseluruhan anggota badan orang yang dikagumi dari ujung kepala hingga ujung kaki sampai benar-benar sama persis seperti aslinya. Tetapi, untung saja, hal yang demikian ini tidak terjadi, khususnya di Indonesia. Entah bagaimana tanggapan masyarakat seandainya hal semacam itu terjadi. Mungkin, inilah yang dinamakan “Kiamat Sudah Dekat”.
 Kita tidak mampu menelaah lebih mendalam mengenai penyakit tersebut. Akan tetapi, lebih kreatif lagi jikalau kita sejenak berandai-andai, memposisikan diri kita sebagai “penderita”. Kemungkinan besar, hasilnya melampaui dari “penderita” aslinya. Mungkinkah demikian ?
 Pada paragraf ketiga tadi disebutkan adanya Fenomena Barbie. Para tomomaniers  yang cenderung memandang kesempurnaan itu ibarat memiliki bentuk tubuh seperti boneka Barbie, mereka lebih cenderung mengkonsumsi obat-obatan pelangsing tubuh, melakukan operasi perataan  bagian perut dan tubuh bagian “belakang” serta operasi sedot lemak pada bagian tangan dan kaki atau mungkin melakukan operasi payudara. Bahkan, Kasus yang paling banyak memperoleh persentase tertinggi ialah operasi bedah mata.
  Salah satu contohnya adalah berdasarkan informasi yang diperoleh dari majalah infotainment, Asian Plus, edisi 286.  Seorang aktris cantik yang bersal dari Korea, sebut saja dengan inisial “MY”. Di majalah tersebut para netter mengemukakan bahwa “MY” bedah plastik pada bagian matanya berdasarkan dari foto-foto aktris tersebut yang “bocor” di internet, mulai dari waktu ia kecil sampai sekarang. Para wartawan pun menmbahkan bahwa sebenarnya itu bukan berita baru, sebab kasus serupa pernah  muncul sebelumnya. Kenyataannya, bagi publik Korea, operasi plastik bukanlah hal yang aneh atau tabu. Negara yang menduduki peringkat ke-27 praktisi operasi plastik terbanyak di dunia itu memang tidak mengharamkan bedah plastik. Operasi membuat lipatan  mata adalah yang paling umum dilakukan. Namun, merupakan hal yang tabu bagi para selebritis untuk mengakui bahwa wajah mereka tidak murni. Di Indonesia pun demikian. Praktisi bedah mata paling banyak diminati oleh masyarakat.
 Jika sudah demikian, lantas pertanyaan yang muncul adalah apakah semua orang di Negara yang mengesahkan bedah plastik berarti  membuka sarana bagi penduduknya untuk menderita tomomania ? Jawabannya adalah tergantung dari konsep cara berpikir dan view masing-masing individu.
  Lalu, apakah tomomania disebabkan karena faktor genetik ?  Sampai saat ini belum ada penelitian yang kompleks mengenai penyakit maniak tersebut apalagi membahas apakah tomomania itu disebabkan karena faktor genetik (keturunan) atau bukan. Bahkan, beberapa kamus besar bahasa Indonesia pun tidak mencantumkan seperti apa itu tomomania. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan mematahkan semangat kita untuk lebih mengetahui apakah tomomania itu sebenarnya. Bila kita termasuk orang yang mampu berpikir kreatif, marilah kita teliti penyakit maniak tersebut.
 Ditinjau dari perspektif psikologi, kemungkinan besar penyakit tomomania dapat disebabkan karena lingkungan, utamanya lingkungan keluarga. Menurut pemikiran saya pribadi, peran orang tua dan  proses pola asuh memberikan pengaruh yang sangat besar sebagai pemicu timbulnya tomomania. Lebih dari itu, tomomania yang muncul mungkin saja dapat berubah menjadi neurotik. Bila kita mencoba untuk menggabungkannya menjadi neurotic tomomania, dilihat dari segi teori Karen Horney, orang yang neurotik adalah orang yang selalu menginginkan kesempurnaan. Selalu terdorong untuk menjadi yang sempurna, menjadi yang terbaik dan sangat takut gagal atau dianggap kurang dan tidak mau menerima kesalahan sekecil apapun. Nah, tomomania pun demikian. Mereka akan selalu dihinggapi kecemasan, takut diacuhkan, dan selalu berusaha memperoleh prestise sosial dalam artian terlalu fokus pada segi penampilan dan popularitas.
 Lebih kompleks lagi, mari kita telaah berdasarkan teori diri dari Karen Horney. Yang mana, bagi Horney, diri adalah pusat keberadaan dan pusat potensi seseorang. Jika mental individu sehat, sudah tentu mereka memiliki konsepsi yang akurat tentang siapa dirinya dan bebas merealisasikan potensi yang dimilikinya itu. Namun, orang yang mengidap neurotik seperti contohnya para tomomaniers, mereka mempunyai cara lain dalam  memandang sesuatu. Mereka memecah dirinya menjadi diri yang dibenci dan diri yang ideal. Dan, para teoritikus merumuskan hal tersebut sebagai bentuk “diri bayangan dalam cermin”.
  Semakin kita menindas atau meremehkan orang-orang tomomania, khususnya meremehkan kondisi fisiknya sekalipun mereka itu cantik ( namun cantik di sini dalam artian tidak murni lagi atau palsu ), maka tindakan mereka untuk merealisasikan hobi bedah plastik-nya akan semakin menjadi.
 Ditinjau dari perspektif agama, sudah tentu ini merupakan hal yang dilarang. Allah telah menerangkan dalam Al-Qur’an bahwasanya seorang hamba dilarang mengubah ciptaannya ataupun berusaha untuk membuat sesuatu yang sama persis dengan ciptaannya. Bahkan, Allah menantang seorang hamba untuk membuat seekor lalat. Kita sebagai manusia beragama, tentu saja dapat menarik pemikiran bahwasanya sepintar apapun kita akan  tetapi kita tidak akan pernah bisa melampaui kekuasaan Allah.
  Selanjutnya, timbul pertanyaan, bagaimanakah terapi yang bisa kita terapkan / lakukan bagi para penderita tomomania ? Kembali lagi berpikir kreatif. Menurut saya, jika penderita tomomania tersebut masih belum terlalu parah  mulailah menata lingkungan keluarga dan orang tua pun harus turut membantu  proses ini. Si penderita harus belajar menganalisa dirinya terlebih dahulu, mengamati dirinya dan membantunya untuk bisa berpikir secara rasional tentang konsep dirinya, apakah arti diri itu sebenarnya dan bagaimanakah cara membentuk pribadi yang kukuh.
 Setelah itu, cobalah untuk membantunya membentuk regulasi atau kontrol diri yang baik, persepsi lingkungan terhadap si penderita harus diminimalisir, dalam artian jangan memberikan sugesti atau penilaian terhadap si penderita bahwa dirinya bersalah. Buatlah si penderita berpikir bahwa tidak ada yang kurang pada dirinya secara fisik, boleh memuji tetapi tidak dalam taraf yang berlebih. Bersikaplah biasa. Namun, apabila penderita tomomania sudah sangat parah bahkan obsesi bedah plastik yang biasa dilakukannya tiba-tiba terhenti karena kecemasan yang terus menerus menghantui, maka kemungkinan besar akan menyebabkan keinginan untuk bunuh diri. Segeralah diperiksa ke psikolog ataupun psikiatri. Setidaknya, cara tersebut dapat meminimalisir keinginan penderita untuk bunuh diri. 
Hidup itu indah. Dan keindahan itu tidak hanya dilihat dari segi fisik. Masih banyak hal lain yang perlu kita benahi dan kerjakan. Jika kenyataannya banyak orang yang sampai menderita penyakit seperti disebutkan di atas, kita harus memastikan bahwa Tuhan (Allah SWT) tidak menciptakan suatu penyakit tanpa penawarnya dan di balik semua fenomena yang terjadi, tersembunyi suatu keunikan dan hikmah yang terkadang tidak kita sadari.


No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.