Tuesday, August 28, 2012

Kisah Di balik Self-Efficacy

Eh malam ini saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman menarik yang pernah saya alami. Kenapa saya ngambil judul self-efficacy, yaa biar kelihatan juga sisi psikologinya. :D hehe. Ketika saya duduk di bangku SD dan SMP, alhamdulillah Allah mempercayakan segudang prestasi untuk saya raih di usia yang masih "sangat ingusan". Alhamdulillah selama 6 tahun di SD, saya tidak pernah lepas dari peringkat I tetapi juga pernah sekitar 3 kali rangking II. 

Berkat support dari orang tua, guru serta teman-teman yang selalu memberikan petuah bahwa saya harus yakin dengan kemampuan diri sendiri itulah yang membuat saya meraih beberapa prestasi. Kata-kata yang saya cetak tebal itulah yang merupakan definisi secara bahasa dari kata self-efficacy, jadi kita harus yakin akan kemampuan diri sendiri, pasti bisa.

Sewaktu saya mewakili sekolah untuk mengikuti lomba MIPA sekecamatan, saya sangat gugup namun akhirnya saya menang karena saya yakin dengan kemampuan diri saya. Padahal waktu itu ada banyak siswa-siswi yang terkenal sangat pintar yang menjadi rival saya.

Message Corner

Di kolom kali ini, aku mau ngeposting secuil kiriman message dari teman-teman baikku. Ini bisa jadi reminder sekaligus untuk merecharge ruhiyah juga sebab kebanyakan isi messagenya bertema religi yang diambil dari Al-Qur'an, Hadits, buku ataupun diambil dari pengalaman yang pernah dialami. Let's read it out!

  • Message from Mia 
Seringkali kita mengeluh, "It's impossible, gak mungkin"
Allah menjawab,"Jika Allah menghendaki sesuatu, cukup berkata Jadi! Maka Jadilah!" (QS Yasin:82)

We often says,"I'm really tired"
But look, Allah answer,"Aku ciptakan tidurmu untuk istirahatmu" (QS An-Naba:9)

Kita pesimis ?
"Allah tidak membebankan sesuatu pada seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya." (QS. Al-Baqaah:286)

Kita bingung?
"I'm stressful"
Remember "Hanya dengan mengingat Allah, maka hati menjadi tenang,"(QS. Ar-Ra'du:28)

Hampir putus asa
"Gak ada gunanya"
Ingatlah "Maka barangsiapa mengerjakan amal kebaikan seberat dzarrah, niscaya Allah akan melihat kebaikannya." (QS. Az-Zalzalah:7)

  • Message from Dhini
"Jangan mancintai orang yang tidak mencintai Allah. Jika mereka bisa meninggalkan Allah, mereka pun akan meninggalkanmu." (HR Imam Syafi'i)

  • Message from kak Iand
Allah berfirman; "Wahai anak adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepadaku, niscaya Aku penuhi dadamu dan membantu saat engkau membutuhkan, dan jika kalian tidak melakukannya Aku akan penuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak peduli saat engkau sangat membutuhkan." (Hadits Qudsi)

  • Message from 17800
"Doa seorg prajurit bagi puteranya"Tuhanku,bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah. Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut. Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan,rendah hati dan jujur dalam kemenangan.Tuhanku, janganlah putraku Kau bimbing paad jalan yang mudah dan lunak. Biarlah kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan tantangan hidup. Bimbinglah putraku,supaya dia mampu tegak berdiri di tengah badai,serta berwelas asih kepada mereka yang jatuh. Berikan kepadanya kerendahan hati,kesederhanaan dan keagungan yang hakiki,pikiran yang cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya sehingga aku, orang tuanya, akan berani berkata "Hidupku tidaklah sia-sia" (Douglas Mac Arthur - ditulis pd masa2 plg sulit perang Pasific).

  • From Nawira
Kupu2 tdk tau warna sayap mrka,tp 0rg2 tw btapa indahx mrk.Spt jg dirimu,,tdk tw btapa indahx dirimu..Tp Allah tw btpa istimewax dirimu di mataNYA Ktk engkau tunduk dlm syari'atNYA...Ridha ats takdirNYA... Trsenyum dlm musibah... Tegar dlm Ujian..Teguh dlm Pendirian.. Subhaanallah...Smoga Engkau,aQ n Qt smw Termasuk 0rg2 terpilih mnjdi 0rg2 terindah di mataNYA...Amin....

  • From Ukh Nia
Jk dkwh ibart phon,ada sj daun2 yg brjtuhn.Tp phon dkwh itu tdk prnh khbisn cr utk mnmbhkn tunas2 brux.Smntr daun2 yg brgu2rn tdk lbh akn mnjd sampah dlm sjarah.Jgn prnh mnylahkn jln ini.Jgn mnyrah krn lelah/lemah.Biarlh lemah mngjarmu smpai ia lelah.Keep Istiqomh. (KH. RAHMAT ABDULLAH).

  • From Chafidh (ketum LISFA)
"Jika pagi datang, org2nya lalai akn brfikir ap yg hrs d krjaknnya, sedngkn org yg brakal akn brfikir ap yg akan dilakukn Allah kpdanya" {Ibnu Athaillah}

  • From 76486
Andai Al-quran bisa bicara,ia akan berkata :"waktu kau masih anak2,kau bagai teman sejatiku,dgn wudhu kau sentuh aku,dlm keadaan suci kau pegang aku,kau baca dgn lirih dan keras, skrg kau telah dewasa, nampaknya kau sudah tdk berminat lagi padaku, apakah aku bacaan usang? Yg tinggal sejarah? Skrg kau simpan aku dgn rapi,kau biarkan aku sendiri. Aku menjadi kusam dlm lemari. Berlapis debu,dimakan kutu,ku mohon peganglah aku lg,bacalah aku setiap hari, Karena aku akan jd penerang dlm kuburmu!!! 

Monday, August 27, 2012

Yearning to Correspondence

This morning I took myself to the post office, as usual, no other purpose than sending letters. When it started to open the door, spontaneous Degg, really really quit? As I walked toward the counter delivery, the post office would hover my memory when I was sitting in 4th grade.


I used to be very fond of correspondence and philately. I ever have a collection of stamps even though it was not just a few pieces only. I've followed the seminar program that called "sahabat pena" together with friends in one hall of the hotel in this small town. Almost every week, I went to the post office to send a letter to some friends both for my school friend who moved out and for those who know of the address of the sahabat pena's program. There was a friend of Bukittinggi, Jakarta, Sumenep and others. And, often times to the post office, I must be willing to queue up long after school in order to send letters and buy stamps.

But that was then. After entering the 2000s, the hobby is increasingly shifted. Technology became more sophisticated. At home there was already a wireless communication device that is mobile and the internet. So, mailers do not need to bother anymore in the mail. However, when I was junior high school, I was still love my hobby. Another reason, I also have not allowed to use mobile phone. In addition, there was an accident that my school friend who moved to another city so the only way to keep our relationship is  by exchanging letters.

For most of my friends think it's time that the correspondence is something that called "cupu" and old. I do not care about what they say. For me, the correspondence is unique activities, from which we can channel the talent of writing, could have a lot of friends even exchanging letters with envelopes and paper creations cute letter and also could collect stamps.

But, when I started to enter senior high school, I was really lost touch of my friends are. And this time I have repeatedly sent letters to the new address but unfortunately no reply came from the other side. I always miss the sound of a diligent mailman that delivering mail to my home and it is no longer I have encountered. Until now I've lost contact even once had exchanged mobile numbers but because my friend's habits that often forgot to let me know their cellular numbers and what else so finally, it was end. That's the remnants of memories there. Just living a story.

It's very long, and the post office was now full renovation, I did not find many more stamps on display at the counter like a dozen years ago. I did not find a long queue of people who came as the first. Now there are those to go to the post office because want to pick up the average salary retirees, submit documents and send the money via western union. No more young people who came up with the same hobby as I've got previous. No more friend whom Icould share back-related about correspondence. And, I miss it so bad.

                                                                          ----
(Terjemahannya)

Tadi pagi aku menyempatkan diri ke kantor pos, seperti biasa, tiada lain tujuannya selain mengirim surat. Ketika mulai membuka pintu, spontan degg, kok sepi banget ? Saat berjalan menuju loket pengiriman barang, melayanglah ingatanku akan kantor pos tersebut ketika aku masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Dulu aku sangat gemar korespondensi dan filateli. Aku bahkan punya koleksi perangko meskipun itu tidak hanya beberapa potong saja. Aku pernah mengikuti seminar program sahabt pena di salah satu hall hotel di kota kecil ini bersama dengan teman-teman. Hampir setiap minggu, aku ke kantor pos mengirim surat untuk beberapa sahabat pena baik itu untuk kawan sekolahku yang sudah pindah maupun untuk mereka yang kukenal dari alamat program sahabat pena itu. Ada sahabat dari Bukittinggi, Jakarta, Sumenep dan lain-lain. Dan, acap kali ke kantor pos, aku harus rela mengantri panjang sepulang sekolah demi untuk berkirim surat dan membeli perangko. 

Tapi itu dulu. Setelah memasuki tahun 2000an, maka hobi itu semakin bergeser. Teknologi pun semakin canggih. Di rumah pun sudah ada alat komunikasi nirkabel yaitu handphone dan internet. Jadi, surat-menyurat tidak perlu susah-susah lagi lewat pos. Meskipun demikian, ketika aku SMP, aku masih menggandrungi hobiku itu. Toh aku juga belum diperbolehkan menggunakan telepon selular sendiri. Selain itu, kebetulan kala itu ada seorang sahabat sekolahku yang pindah ke kota lain sehingga satu-satunya cara untuk menjaga silaturahmi kita adalah dengan saling berkirim surat.

Bagi kebanyakan teman-temanku waktu itu menganggap bahwa korespondensi adalah sesuatu yang cupu dan jadul. I don't care about what they say. Bagiku, korespondensi adalah kegiatan yang unik, dari situ kita  bisa menyalurkan bakat tulis-menulis, bisa mempunyai banyak teman bahkan bisa saling berkirim surat dengan kreasi amplop dan kertas surat yang lucu-lucu juga bisa sekalian mengoleksi perangko.

Sayangna, ketika mulai masuk SMA, aku benar-benar kehilangan kontak dari sahabat-sahabatku tersebut. Padahal waktu itu aku sudah berkali-kali mengirimkan surat ke alamat barunya tetapi sayangnya tidak ada balasan yang datang dari seberang. Aku selalu merindukan suara tukang pos yang rajin mengantarkan surat ke rumah dan itu tidak lagi aku temui. Sampai sekarang aku sudah lost contact meskipun dulunya sempat saling bertukar nomor HP tapi karena kebiasaan sahabat yang suka gonta-ganti nomor dan lupa memberi kabar akhirnya yaa harus bagaimana lagi. Itulah sisa-sisa kenangan yang ada. Hanya tinggal sebuah cerita.

Sudah sangat lama, dan kantor pos itu sekarang sudah full renovasi, aku tidak menemukan pajangan berbagai perangko lagi di meja dalamnya seperti belasan tahun yang lalu. Aku tidak menemukan antrian panjang dari masyarakat yang datang seperti yang dulu. Sekarang yang ada adalah mereka berkunjung ke kantor pos rata-rata untuk mengambil gaji pensiunan, mengirimkan dokumen dan mengirim uang via western union. Tidak ada lagi generasi muda yang datang dengan hobi yang sama seperti yang kupunya dahulu. Tidak ada lagi kawan yang dapat kuajak sharing kembali terkait korespondensi. I miss it so bad.

Sunday, August 26, 2012

KRITERIA ABNORMALITAS

          Abnormal ? Kata itu tuh sering banget kan kita dengar di kehidupan sehari-hari. Namun, bukan berarti mereka yang tidak pernah mendengarnya bisa dijudge "katrok" atau "kuper". E..eh, tapi terkadang ada juga orang yang suka ngomong dengan kata itu bahkan suka banget ngatain temennya sendiri, kalo ada yang hidungnya pesek, dikit-dikit ngatain "abnormal", kalo ada temen yang tubuhnya lebih pendek dari dia, dikit-dikit ngatain abnormal juga, padahal dia sendiri tidak tahu apa makna dari abnormalitas itu sendiri. So, bagi yang pernah berbuat demikian dan tidak punya basic pengetahuan tentang abnormalitas, so jangan sembarangan ngumbar kata "abnormal" ya!!

Friday, August 24, 2012

Resep Pisang Ijo

Selama aku kuliah di Malang, kan kadang suka kangen sama makanan khas Sul-Sel tuh, jadinya kadang sampe hunting kuliner ke sana kemari. Nah lho pas lagi kepengen banget makan es pisang ijo, ternyata banyak juga PKL yang jualan makanan itu tuh di pinggir-pinggir jalan sekitar kampus Unibraw dan kampusku sendiri, UMM.

Daripada ntar aku nangis, maka mampir lah aku beli es pisang ijo di tempat yang biasanya temenku juga beli di situ. Kata temen sih lumayan enak rasanya ketimbang yang laen. Ya udah akhirnya aku nyoba mampir ke UMM bookstore, eh beli buku dulu ding, habis tuh, aku ke depan bookstore, ada si mbak dengan gerobaknya yang jualan es pisang ijo. Tet tooot..ya udah, beli seporsi harganya Rp.3500,-. Yaah lumayan lah rasanya. Aku juga sering beli di situ karena aku yakin dengan rasanya tapi kalo sekarang ini udah ditutup alias gak jualan lagi, entah mungkin karena gak dibolehin jualan di depan toko buku kampusku or other reason. Eiya, dan yang lebih penting lagi aku mah belinya gak pake sirup karena aku punya sirup khusus yang kubawa langsung dari Parepare, namanya sirup DHT pisang ambon dan hanya didistribusikan ke daerah sulawesi selatan aja. Kalo pake sirup laen sih boleh-boleh aja tapi bagi kamu-kamu yang sering makan pisang ijo di sul-sel pasti bakal ngerasain kualitas dan cita rasa yang aneh kan kalo sirupnya beda merk. Heum, selain itu, kalo di parepare khususnya, di sini tuh kalo orang bikin pisang ijo gak pake es tapi dibikin anget suam2 kuku gitu jadi pas dimakan, bubur kuahnya itu gak pecah dan masih fresh.

pic by google

Lebih parahnya lagi di Malang kok banyak banget variasi toping dan rasanya. Ada yang dikasih essence durian lah, coklat lah apa laah, trus ada yang kuahnya tuh kayak bubur pecah, jadi dikentalin banget trus kalo dimakan kecampur es jadinya pecah. Ckckck, so bad. Makanya kudu selektif bagi kamu-kamu, mahasiswa/i, bapak2, or ibu2 yang mau hunting es pisang ijo, jangan sekali-kali beli es pisang ijo yang dijajakan di kaki lima soalnya kalo salah beli bisa-bisa yang ada malah dapet rasa basi dan kecampur sama pewarna non pangan. Hiiih sereeem. Kalo bisa cari resto yang khusus menyediakan hidangan kuliner dari sul-sel (kalo kepengen masakan sul-sel).

Niih aku bagi resepnya deh, biar aman jadi lebih baik bikin sendiri aja ya di rumah masing-masing.

Bahan-Bahan utama (takaran bahan sesuai selera yaa) :

  • Tepung beras
  • Pisang raja yang udah tua yang udah dikukus terlebih dahulu (kalo pisang lain gak enak)
  • Garam
  • Air daun suji
  • Air 
  • Pasta pandan atau kalo mau tradisional pake daun pandan trus diblender dan disaring airnya

Bahan Saus:

  • Tepung terigu
  • Santan
  • Gula pasir
  • Daun pandan sebagai penambah aroma
  • Garam
Bahan pelengkap:
  • Sirup DHT Pisang Ambon (kalo pake sirup lainnya gak papa sih tapi sirup DHT ini memang pasangan asli resep pisang ijo)
  • Sagu mutiara yang udah direndam dan dicuci dan direbus (untuk toping)
Cara membuatnya:
  1. Pertama, siapkan pisang raja yang tua(jumlahnya sesuai selera), dikukus terlebih dahulu sampai matang.
  2. Buat bahan kulit dengan cara campurkan bahan-bahan utama di atas (tepung beras, air, air daun suji, garam dan pewarna). Diaduk hingga mendidih. Dinginkan terlebih dahulu.
  3. Setelah adonan dingin, olah hingga kalis (tidak menempel di tangan), lalu diambil sedikit2 kemudian ditipiskan dengan menggunakan roll silinder (biasanya dari kayu, atau bisa juga pake botol sirup yang berbentuk tabung kalo gak punya roll).
  4. Kemudian balutkan adonan kulit tersebut hingga menutupi seluruh bagian pisang.
  5. Setelah itu, kukus adonan tersebut selama kurang lebih 20 menit.
  6. Buatlah bahan saus dengan mancampur semua bahan yang ada.
  7. Hidangkan di mangkuk dengan diberi toping (terserah sih as your pleasure, tapi biasanya pake sagu mutiara aja) lalu siramkan sirup DHT sebagai penambah rasa/pemanis secukupnya. Boleh pake es boleh juga dimakan pas lagi anget-angetnya.
Nah itulah resep pisang ijo-nya. Selamat memasak dan mencicipi^^

Thursday, August 23, 2012

Kenangan Dari Kematian

     Hari Selasa sore kemarin, kami sekeluarga menyempatkan diri berziarah ke makam mbah putri dan mbah kakung kami. Entah mengapa namun hari itu kami pribadi sangat ingin mengenakan pakaian yang bernuansa putih. Seketika langit sore masih terlihat terik. Kami menempuh perjalanan yang sedikit jauh dan berada di daerah dataran tinggi. 

(almarhumah=baju hijau, diambil saat acara lamaran salah satu cucu kandungnya di kota Malang)

      Kami terlebih dahulu berziarah ke makam mbah putri, mbah Sini namanya sebelum menuju makam almarhum suami mbah Sini. Dahulunya almarhumah adalah seorang ibu yang dengan berbesar hati bersedia membiayai sekolah ibu kami yang berasal dari sebuah desa di kabupaten Madiun. Almarhumah adalah seorang anak yatim yang sangat berbeda dari saudara-saudaranya yang sedikit tamak akan harta warisan sepeninggal orang tua mereka, sosok yang sangat taat beribadah, tegas, pekerja keras bahkan ketika suaminya harus dipanggil oleh Allah terlebih dahulu. Meskipun demikian, beliau adalah panutan terbaik bagi kami pribadi. Almarhumah mengajak ibu kami menyusuri tanah perantauan, tempat beliau tinggal bersama suaminya. Di sana juga lah ibu kami bertemu dengan ayah kami dan almarhumah lah yang membiayai pernikahan orang tua kami, memberikan modal bagi orang tua kami agar dapat membeli rumah sendiri. Alhamdulillah hingga sekarang kami sekeluarga sudah hampir genap 28 tahun hidup di tanah perantauan ini, tepatnya di kota Parepare, Sulawesi Selatan. Meskipun kami sekeluarga telah lama tinggal di sini namun kami tetap menghormati budaya asli seluruh keluarga besar kami sebagai keturunan jawa. 

      Almarhumah pun juga sangat berjasa bagi kami pribadi. Kami sebagai anak pertama ibarat cucu terakhir bagi almarhumah karena sepersusuan. Sewaktu kecil, almarhumah sering menyusui kami ketika ibu kami sedang sibuk atau ASI-nya kurang lancar. Oleh karena itulah kami dikatakan sebagai cucu sepersusuan dengan cucu-cucu kandungnya sendiri. Anehnya, acap kali kami mendengar bahwa di antara semua cucu-cucu kandungnya bahkan di antara adik-adik kandung kami sendiri, kami pribadilah yang sangat spesial dan paling disayang oleh almarhumah. Kami juga tidak tahu-menahu namun, menurut penelusuran kami perhatian yang beliau berikan selalu sama rata pada semua cucu-cucunya.

     Begitu banyak kenangan yang tertinggal. Kenangan yang selalu dapat menguatkan diri kami pribadi. Almarhumah adalah kenangan terindah yang kami rasakan hingga saat ini. Bagaimana tidak, sejak kecil kami selalu ditanamkan nilai-nilai agama dari beliau. Karena kami pribadi sering menginap di rumah beliau, menemani beliau dalam kesendiriannya yang jauh dari anak cucunya yang tinggal menyebar di berbagai kota dan pulau. Dari situlah kami pribadi diajarkan berbagai ilmu agama dengan bahasanya yang lembut, ringan namun penuh makna. Almarhumah selalu bercerita tentang pengalamannya setiap kali beliau pergi ke tanah suci Makkah baik pada saat menunaikan ibadah haji maupun umroh. Meskipun cerita tersebut selalu berulang, kami tidak pernah bosan mendengarkannya. Mungkin itulah petunjuk yang Allah berikan agar hati kami dilembutkan dan dipermudah untuk menerima kebaikan dan hidayah-Nya.

       Kami sangat bersyukur mempunyai beliau yang sangat menyayangi kami. Beliau adalah "model" dan "ummahat" terbaik yang pernah kami teladani. Kami masih sangat ingat jelas, kala itu kami berdua duduk di teras rumah beliau lalu beliau bercerita tentang masa lalunya di mana kakak-kakaknya berebut harta warisan setelah wafatnya kedua orang tua mereka. Takjub! Dengan keadaan beliau yang hanya sebagai pegawai sipil biasa di sebuah rumah sakit yang penghasilannya tidak besar, beliau tidak pernah mengeluh sedikit pun. Selama kami hidup dan masih melihatnya, beliau sama sekali tidak pernah mengeluh. Beliau justru sangat semangat dan selalu membagi semangatnya pada anak cucunya, entah mereka mau dengar atau tidak. 

       Dan...., selasa kemarin saat berada di pusara makam almarhumah, kami merasakan kedamaian yang berlipat ganda. Entah mengapa kami justru tersenyum lebar dan hati kami merasa kuat tanpa menitikkan air mata setetes pun di hadapan makam almarhumah. Padahal, sudah dua tahun hingga bulan Mei tahun 2012 ini mulai beliau sakit parah hingga meninggal, kami tidak ada di sampingnya karena tugas perkuliahan yang tidak dapat kami tinggalkan. Sedih rasanya ketika orang tua kami memberi kabar bahwa beliau sudah tidak ada. Yaah wajar saja, semua pun pasti akan merasakan hal yang sama ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintai.

        Tidak ada kenangan yang pahit ketika hidup bersama beliau. Meskipun beliau sudah tidak ada, semua pelajaran yang pernah beliau berikan akan selalu kami amalkan. Semua ini atau hal apapun, di manapun dan kapan pun jiwa dan raga kita pasti akan selalu tertuju pada kematian. Death is Absolutely. Kenangan orang-orang yang kita cintai akan selalu berharga dari apapun itu bahkan ketika orang tersebut telah mati.


--I always love you, grandma-- 

Wednesday, August 22, 2012

Allah bersama prasangka hamba-Nya

          Di sekelilingku rupanya masih ada orang bahkan teman yang berpikiran "ini tuh susah...itu tuh susah" dan suka nyeletuk "zaman sekarang tuh serba susah apalagi nyari kerja. Yaa secara realita dan logika mungkin bagi mereka adalah hal yang "sulit" "tidak mudah" atau sejenisnya.

          Namun, kami pribadi selalu ingin berbeda pikiran dengan mereka. Zaman boleh maju dengan segala kerumitan hidup akan tetapi bagiku optimis tetap NUMBER ONE bahkan di saat apa yang ada dalam benak kita itu adalah sesuatu yang IMPOSSIBLE bagi kebanyakan orang.

          Kami tidak pernah dan tidak ingin menatap segala sesuatu itu dengan kacamata pesimis. Kami sendiri teramat yakin sebab Allah never sleep. Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang meminta dan berikhtiar. Allah akan mendekat jika kita juga mendekat pada-Nya.

         Di saat seperti ini, mungkin banyak yang GALAU alias resah dengan segala ketidakpastian. Entah karena tidak percaya diri, tidak yakin atau apalah itu. Namun, justru di saat-saat seperti ini, kami merasa bersyukur. Dalam setiap waktu dalam hidup kami saat ini, tidak pernah ada kata "NGANGGUR". Kami tidak juga galau. Kami bersyukur dengan segala waktu yang diberikan Allah saat ini, kami bisa lebih mendekatkan diri kepada-Nya, lebih dekat bahkan sangat dekat, memohon dan meminta diberikan kemudahan dan petunjuk yang terbaik, sembari kami terus berikhtiar mencari kerja dan memilih pekerjaan dari beberapa tawaran yang ada yang diridhoi Allah dan orang tua kami agar langkah kami selanjutnya tidak sia-sia. Di samping itu, kami pun bersyukur masih diberikan waktu luang untuk membantu meringankan pekerjaan orang tua kami terutama ibu di rumah sebab selama 1 tahun kami sudah merantau  ditambah 3,5 menyelesaikan perkuliahan jauh dari mereka.

        Sekali lagi, secara logika orang-orang, hidup itu serba rumit, serba HIGH LEVEL dan sebagainya. Namun, kami yakin, optimis dan bersabar menjalani apa yang ada saat ini di hadapan kami dengan tidak lupa untuk terus berikhtiar, terus menerapkan prinsip kami untuk tepat waktu dalam beribadah sebagaimana yang telah kami ulas dalam tulisan sebelumnya.

Allah Maha Kaya, mintalah hanya pada-Nya

Allah bersama prasangka hamba-hamba-Nya, jadi husnudzan dan optimislah pada-Nya

Allah bersama dengan orang-orang yang sabar, maka mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat

Pertolongan Allah sangat dekat, dekatkanlah diri pada-Nya 

       So, jika kita berpikir "Ini itu serba sulit" maka dunia akan merespon pikiran kita dan memberikan kesulitan pada kita, akan tetapi jika kita berpikir,"insyaAllah mudah, kun fayakun" Allah pasti akan memberikan kemudahan pada kita. Inilah mungkin yang dinamakan Law of Attraction dan The Power Of Mind  Jadi benar kan bahwa Allah itu bersama-sama dengan prasangka hamba-hamba-Nya ??
     

Thursday, August 16, 2012

PERSONALITY DISORDER

         Gangguan kepribadian dapat terbagi menjadi 3 kelompok gangguan, di antaranya:

  1. Kelompok Eksentrik / Aneh, ditandai dengan ciri-ciri tidak berminat untuk mengembangkan hubungan sosial.
  2. Kelompok Dramatik, ditandai dengan ciri-ciri emosional, perilaku yang tidak menentu dan cenderung berlebihan, tidak dapat diramalkan dan mementingkan diri sendiri.
  3. Kelompok mudah Cemas atau Ketakutan.

Wednesday, August 15, 2012

Rezeki Ontime Akibat Ibadah Ontime

Siapa sih yang nggak mau kalau do'a-do'anya terkabul sesuai dengan permintaan dan waktu yang diinginkan?



Dulu sewaktu kami masih duduk di bangku SMP tahun-tahun ajaran awal, kami terkadang melewatkan beberapa waktu untuk beribadah, khususnya shalat. Masih saja ada yang bolong.




Dengan segala tuntutan kesibukan seperti sekolah, ekskul, mengikuti berbagai lomba dan seminar, membuat kami terkadang melupakan kewajiban kami pada Allah untuk beribadah.




Namun, secara berangsur, kami mulai belajar untuk mendisiplinkan diri utamanya dalam hal beribadah.




Ibarat berangkat ke sekolah, kalau terlambat sedetik saja maka akan mengalami kerugian di banyak hal--dikuncikan pagar sehingga tidak bisa masuk sekolah, kehilangan ilmu, absen yang kosong dan dimarahi oleh orang tua.




Setelah dipikir-pikir, secara prinsip, pola tersebut akan sama jika diterapkan dalam hal beribadah.




Hal itupun benar adanya.

Actually, Semua Adalah Artis/Aktor TUHAN

Pernahkah kamu bermimpi atau bercita-cita menjadi seorang aktor/artis?

Pernahkah kamu bercita-cita ingin tampil eksis di layar kaca?

Atau apakah saat ini kamu sudah menjadi seorang aktor/artis yang benar-benar terkenal?

Actually, semua makhluk ciptaan TUHAN yang hidup di langit maupun di bumi adalah AKTOR/ARTIS.

Lho, kok bisa dibilang begitu?

Tidakkah kita berpikir?

Kita adalah aktor/artis sebab semenjak kita mulai berada di dalam kandungan hingga terlahirkan sampai di kemudian hari kelak, 

kita akan selalu dipantau oleh LAYAR KACA milik TUHAN yang lebih LUAS, lebih BESAR, dan lebih DETAIL.

Sama saja, jika cita-cita ingin jadi artis, maka kita pun sudah mendapatkan sebutan artis di hadapan TUHAN.

Kita adalah artis yang dipantau mulai hirupan nafas pertama hingga di hari perhitungan nanti.

Jadi kalaupun ada di antara kita yang menjadi aktor/artis, yang senantiasa eksis di layar kaca, itu hanya sebagian kecil saja.

Yang bercita-cita ingin jadi artis/aktor karena bayarannya yang tinggi? 

jangan khawatir, TUHAN tidak pernah korupsi, tidak pernah melupakan hak-hak makhluk-Nya jika memang melakukan yang terbaik.

jadi, pasti akan ada bayaran yang tidak kalah tinggi hanya dengan menjadi seorang artis/aktor di layar kaca buatan manusia.

Apa bayaranya?

BAYARAN yang akan kita dapatkan selama menjadi artis/aktor di jagad raya TUHAN ini akan selalu mengalir sesuai dengan apa yang kita LAKUKAN. 

TUHAN bahkan memberikan kita BAYARAN berupa NI'MAT dan ANUGERAH LUAR BIASA yang tidak dapat diberikan oleh siapapun termasuk produser film atau sutradara.

TUHAN memberikan kita bayaran berupa KESEMPURNAAN PANCA INDERA, KESEHATAN, PERLINDUNGAN, KEMUDAHAN, bahkan KEKAYAAN yang datang dari arah yang tidak terduga.

Bahkan GAJI yang lebih BESAR akan kita terima di hari akhir nanti.

Dan itu hanya diberikan oleh para aktor/artis-Nya yang benar-benar bertaqwa pada-Nya...

hanya diberikan pada aktor/artis-Nya yang selalu bersyukur pada-Nya...

DAN BAYARAN ITU ADALAH "SYURGA"

So, siapa yang bercita-cita menjadi aktor/artis?

Sejatinya, kita semua adalah AKTOR/ARTIS TUHAN




Tuesday, August 14, 2012

Kisah Pembuat Pensil

Pada mulanya sang pembuat pensil berkata pada pensil,
"Ada 5 hal yang anda harus ketahui sebelum aku mengutusmu ke dunia. Ingatlah kelima hal itu dan Anda akan menjadi pensil terbaik yang pernah ada."

"PERTAMA--> Anda harus membuat karya-karya besar, tetapi hanya jika Anda membiarkan diri Anda dalam tangan Seseorang yang memegang Anda"

"KEDUA--> Dari waktu ke waktu Anda akan mengalami pengalaman menyakitkan yang mempertajam diri Anda. Pengalaman ini adalah tuntutan mutlak untuk menjadi pensil yang terbaik."

"KETIGA--> Anda memiliki kemampuan memperbaiki kesalahan apapun yang Anda telah lakukan."

"KEEMPAT--> Bagian terpenting dari dirimu adalah bagian yang ada pada bagian terdalam dari dirimu."

"KELIMA--> Apapun kondisinya, Anda harus terus menulis, Anda harus tetap meninggalkan jejak yang jelas, tanda yang dapat dibaca dengan jelas sekalipun dalam kesulitan yang sangat sulit."

Lalu,

Pensil memahami

Berjanji untuk mengingat

dan kemudian masuk ke dalam kotak dengan penuh pemahaman akan tujuan Sang Pembuatnya.

Sekarang,

gantilah pensil dengan nama Anda.

Ingatlah selalu dan jangan pernah melupakannya.

Dan Anda akan menjadi pribadi terbaik yang pernah ada.


PERTAMA--> Anda akan mampu membuat hal-hal besar, hanya jika Anda membiarkan diri Anda dituntun oleh tangan Sang Pencipta. Dan membiarkan sesama mengakses segala talenta yang Anda punya.

KEDUA--> Dari waktu ke waktu Anda akan mengalami pengalaman menyakitkan, melalui berbagai kesulitan dan masalah. Tetapi, pengalaman ini Anda butuhkan untuk menjadi pribadi yang kokoh.

KETIGA--> Anda memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan yang Anda lakukan. Dan melalui hal itu Anda akan berkembang dan bertumbuh.

KEEMPAT--> Bagian terpenting dari dirimu adalah bagian terdalam dari jati dirimu.

KELIMA--> Pada setiap jalan yang Anda lalui, Anda harus meninggalkan tanda yang jelas. Apapun situasinya, Anda harus terus melayani Pencipta dalam segala hal.

Setiap orang sama seperti Pensil

Diciptakan oleh Pencipta secara unik dengan tujuan tertentu

Dengan memahami dan mengingatnya,

Mari kita menuntun diri untuk selalu menjalin hubungan erat dengan SANG PENCIPTA dan dengan sesama.

Karena kita diciptakan untuk melakukan hal-hal besar.

--Huum, nyentuh banget nih kisah motivasi--
--Selalu semangat dengan mengingatNya--













Monday, August 13, 2012

Psikologi dalam Ilmu Faal


A.         Penjelasan mengenai psikologi merupakan bagian dari ilmu faal
       Psikologi sebagai bagian dari ilmu faal muncul pada abad 19 (Pasca Renaissance) seiring dengan kemajuan ilmu alam ( natural science ). Pada fase ini, pemikiran tentang manusia terus berkembang dan banyak dilakukan eksplorasi fisiologis manusia secara empiris. Riset empiric yang banyak dilakukan pada bidang fisiologis mencakup : aktivitas syaraf, sensasi / pendengaran, dan fisiologis otak. Hasil riset pada ketiga bidang ini sangat signifikan membuka wawasan mengenai manusia sehingga memperkuat pandangan para ilmuwan saat itu akan pentingnya strategi empiris yang sistematis dalam setiap bidang keilmuan. Bagi psikologi, hasil-hasil ini member jalan untuk membangun dasar fisiologis bagi operasi mental dan menjelaskan posisi ilmu psikologi modern yang dekat dengan bidang kedokteran dan psikiatri.

"Mandikan Aku Bunda"


       Saya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong  berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di  negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya,  lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.
        Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru  saja diangkat sebagai staf  Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya.
        Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang  dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi. Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." n itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian.
      Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya.  Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif.  Lagi-lagi bocah kecil ini "DAPAT MEMAHAMI" orang tuanya. Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
    Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.  Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. "ALIF INGIN BUNDA MANDIKAN." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya.
       Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan, "BUNDA, MANDIKAN ALIF" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian. Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency".  Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.
      Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan  kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. " INI BUNDA LIF, BUNDA MANDIKAN ALIF " Ucapnya lirih, namun teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " INI SUDAH TAKDIR, IYA KAN ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ?". Saya diam saja mendengarkan. 
     " INI KONSEKUENSI SEBUAH PILIHAN." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. "Aku ibunya ............................!" serunya kemudian, "BANGUNLAH LIF, BUNDA MAU MANDIKAN ALIF. BERI KESEMPATAN BUNDA SEKALI SAJA LIF". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah. Air mata kesedihan menyirami pusara Alif, putra satu-satunya. ( Nasi telah jadi bubur, yang berlalu tak pernah kembali lagi, penyesalan selalu datang terlambat )
          Sebuah pelajaran yang SANGAT berharga, dimana kasih sayang tak akan pernah bisa ditukar dengan harta dunia; dimana kasih ibu sebagai takdir adalah untuk dilaksanakan, bukan untuk diingkari; dan dimana pun engkau berada, kelalaian bisa menjadi fatal error!!!   waktu tak bisa kembali....dan nyawa hanya satu.... akan KAU bawa kemana??

 Wassalammu'alaikum wr. Wb (Dikutip dari tulisan Sister, Nur W. R).

Sunday, August 12, 2012

Wanita Paling Mulia Maharnya



Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik, salah seorang shahabat yang agung.

Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam.

Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.

Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.

Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”.

Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap terhadap istrinya yang –menurutnya- keras kepala dan tetap ngotot berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama nenek moyangnya.
Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya mengulang-ulang kalimat “Ashadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah dan kemudian bertemu dengan musuh  sehingga akhirnya dia dibunuh.

Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap tabah mengatakan: “Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”.

Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia  yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.

Kemudian orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub. Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya mahar yang tinggi. Akan tetapi, tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau dan lisannya menjadi kelu tatkala Ummu Sulaim menolak dengan wibawa dan penuh percaya diri dengan berkata: “Sesungguhnya tidak pantas bagiku menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa tuhan-tuhan kalian adalah hasil pahatan orang dari keluarga fulan, dan sesungguhnya seandainya kalian mau membakarnya maka akan terbakarlah tuhan kalian”.

Abu Thalhah merasa sesak dadanya, kemudian dia berpaling sedangkan dirinya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat dan dia dengar. Akan tetapi cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, roti maupun susu dengan harapan Ummu Sulaim akan luluh dan menerimanya.

Akan tetapi Ummu Sulaim adalah seorang da`iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia menari-nari dihadapannya berupa harta, kedudukan dan laki-laki yang masih muda, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia. Beliau berkata dengan sopan: “Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamarnmu”. Abu Thalhah bertanya: “lantas apa yang anda inginkan?”, beliau balik bertanya: “Apa yang saya inginkan?”. Abu Thalhah bertanya: “apakah anda menginginkan emas atau pera?”. Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda masuk Islam”. “Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?”, tanya Abu Thalhah. Beliau berkata: “Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!”. Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya”.

Selanjutnya Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim, maka da menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ummu sulaim berkata:
“Demi Allah! orang yang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hannya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu”.

Sungguh ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol dihatinya secara sempurna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?”.

Tanpa terAsa lisan Abu Thalhah mengulang-ulang: “Aku berada diatas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah”.

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya: “Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah”. Kemudian beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.

Oleh karena itulah Tsabit meriwayatkan hadits dari Anas :
“Aku belum pernah mendengar seorang wanitapun yang paling mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam”.  

Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thalhah dengan kehidupan suami-istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.

Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami isteri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan seorang da`iyah.

Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama yakni Ummu Sulaim sehingga pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.

Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kepada kita bagaimana perlakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmennya terhadap al-Qur`an sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata :
“Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan Anshar Madinah, adapun harta yang paling disukainya adalah kebun yang berada di masjid, yang biasanya Rasulullah masuk ke dalamnya dan minum air jernih didalamnya. Tatkala turun ayat :
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Q,.s. Âli’ Imran: 92).

Seketika Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesuka kamu, wahai Rasulullah”.

Rasulullah bersabda :
“Bagus …..bagus.. itulah harta yang menguntungkan…. Itulah harta yang paling menguntungkan…..aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu”.

     Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya.
Allah memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu ‘Umair. Suatu ketika anak tersebut bermain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada waktu itu, Rasulullah melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tersebut  untuk menghibur dan bermain dengannya: “Wahai Abu Umair! Apa yang dilakukan oleh anak  burung pipit itu?”.

    Allah berkehendak untuk menguji keduanya dengan keduanya dengan seorang anak yang cakap dan dicintai, suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahnya apabila kembali dari pasar, pertama kali  yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.

    Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu Mu`minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil senantiasa mengulangi kalimat: “Inna lillahi wa inna ilahi raji`un”. Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: “Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya”.

    Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: “Apa yang dilakukan oleh anakku?”. Beliau menjawab: “dia dalam keadaan tenang”.

  Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami istri.

   Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan mencampurinya serta merasa tenang dengan keadaan anaknya maka beliau memuji Allah karena tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

  Tatkala diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: “Wahai Abu Thalhah! bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?”. Abu Thalhah menjawab: “Tentu saja tidak boleh”. Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi: “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?”. Abu Thalhah berkata: “Berarti mereka tidak adil”. Ummu Sulaim berkata: ”Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu”.

    Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah: “kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?”.
Beliau ulang-ulang kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja` (Inna lillahi wa inna ilahi raji`un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.
Keesokan harinnya beliau pergi menghadap Rasulullah dan mengabarkan kapada Rasulullah tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda:
“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua”.

    Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata: “Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam”. Maka Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (menggosokan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata: “Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “namanya Abdullah .

     Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: “Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an”. Diantara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua dimana umat manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata:
“Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda:
“Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.

    Maka berdirilah salah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:
“Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” .
Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q,.s. al-Hasyr :9).

    Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.

   Ummu Sulaim tidak hanya cukup menunaikan tugasnya untuk mendakwahkan Islam dengan penjelasan saja, bahkan beliau antusias untuk turut andil dalam berjihad bersama pahlawan kaum muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sekali sikap kepahlawanannya dalam memompa semangat pada dada mujahidin dan mengobati mereka yang luka. Bahkan beliau juga mempersiapkan diri untuk melawan dan menghadapi musuh yang akan menyerangnya. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya dan Ibnu Sa`ad di dalam Thabaqat dengan sanad yang shahih bahwa Ummu Sulaim membawa badik (pisau) pada perang Hunain kemudian Abu Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah! ini Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek perutnya dengan badik ini”.

    Anas berkata: “Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka”.Begitulah Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau bersabda :
“Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya: “Siapa itu?”. Mereka berkata: “Dia adalah Rumaisha` binti Malhan ibu dari Anas bin Malik”.
Selamat untukmu wahai Ummu Sulaim, karena anda memang sudah layak mendapatkan itu semua, engkau adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, seorang da`iyah yang bijaksana, seorang pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama diantara ulama Islam, selamat untukmu…..selamat untukmu…
(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN, Hal. 204)