Tuesday, August 28, 2012

Kisah Di balik Self-Efficacy

Eh malam ini saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman menarik yang pernah saya alami. Kenapa saya ngambil judul self-efficacy, yaa biar kelihatan juga sisi psikologinya. :D hehe. Ketika saya duduk di bangku SD dan SMP, alhamdulillah Allah mempercayakan segudang prestasi untuk saya raih di usia yang masih "sangat ingusan". Alhamdulillah selama 6 tahun di SD, saya tidak pernah lepas dari peringkat I tetapi juga pernah sekitar 3 kali rangking II. 

Berkat support dari orang tua, guru serta teman-teman yang selalu memberikan petuah bahwa saya harus yakin dengan kemampuan diri sendiri itulah yang membuat saya meraih beberapa prestasi. Kata-kata yang saya cetak tebal itulah yang merupakan definisi secara bahasa dari kata self-efficacy, jadi kita harus yakin akan kemampuan diri sendiri, pasti bisa.

Sewaktu saya mewakili sekolah untuk mengikuti lomba MIPA sekecamatan, saya sangat gugup namun akhirnya saya menang karena saya yakin dengan kemampuan diri saya. Padahal waktu itu ada banyak siswa-siswi yang terkenal sangat pintar yang menjadi rival saya.

Sewaktu saya mewakili SD saya mengikuti lomba pidato bahasa indonesia 3 kali dan pidato bahasa inggris 1 kali, saya pun menanamkan hal yang sama bahwa lagi-lagi saya harus yakin, saya pasti bisa padahal waktu itu, saya harus membuat sendiri isi pidato tersebut dan rival-rival saya mempunyai pidato yang isinya jauh lebih bagus dan mereka adalah orang-orang jenius di sekolahan mereka. Namun, yang menjadikan saya juara adalah keyakinan dan semangat belajar yang tinggi. Saya mempelajari cara-cara orang berpidato secara otodidak, melihat gaya presiden berpidato tanpa teks seperti tokoh presiden RI pertama, mempraktekkannya sembari menghapal dan memahami isi dari pidato yang saya buat sendiri. Dan, ternyata dalam setiap pelombaan yang saya ikuti, semua rival saya kurang menguasai poin dari apa yang saya pelajari tersebut sehingga isi pidato yang bagus justru menjadi tidak bagus akibat cara penyampaian yang biasa-biasa saja. 

Meskipun saya menjuarai lomba-lomba tersebut ada saja pihak yang tidak suka bahkan sempat meremehkan saya. Seperti salah seorang guru saya ketika saya dipindahkan sementara di sekolah unggulan dalam beberapa bulan masa percobaan, beliau yakin bahwa yang akan menang adalah anak muridnya (kebetulan dia dulunya adalah teman kelas saya ketika saya dipindahkan di sekolah tersebut). Ketika tahu pemenangnya adalah saya, dia tidak terima karena merasa kurang adil. Di situlah saya berpikir bahwa orang pintar tidak selalu menang. Yang menang adalah mereka yang cerdas dan yakin akan kemampuan dirinya sendiri.

Hal ini berulang lagi ketika saya beranjak ke bangku SMP kelas 1. Waktu itu, saya dipinta oleh wali kelas dan wakepsek untuk mengikuti lomba pidato karena beliau mengetahui prestasi-prestasi saya di bidang speech sebelumnya. Namun, ketika saya latihan, salah seorang guru malah menyuruh saya untuk berhenti latihan dan me-refer perwakilan lomba tersebut untuk dipegang oleh rekan saya yang dulunya juga teman SD saya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya dinilai oleh beliau sampai-sampai saya harus rela melepaskan amanah tersebut secara sepihak. Hal itu membuat saya malu di depan beberapa anak sekolahan yang sempat melihat saya latihan. Perlahan saya mencoba mengikhlaskannya dan berpikir bahwa mungkin itu bukan rezeki saya. Kemudian saya melapor kepada wakepsek dan wali kelas untuk mundur atas permintaan guru tadi. Mereka sempat bertanya-tanya apakah yang membuat saya dibatalkan oleh guru tersebut. Akhirnya tanpa panjang lebar, salah seorang bapak guru yang menjadi pembina perlombaan kemudian tetap mempertahankan saya untuk tetap mengikuti perlombaan tersebut dengan mengalihkan saya ke perlombaan cerdas cermat bahasa inggiris meskipun hanya sebagai cadangan. 

Tiba hari H dimana kami semua harus berangkat menuju lokasi perlombaan di luar kota. Dengan setengah kecewa dan setengah syukur, saya ikut berangkat bersama rekan-rekan yang lain. Ketika ibu guru yang waktu itu membatalkan saya memasuki mobil, beliau terkejut dan bertanya mengapa saya ikut padahal saya sudah dibatalkan. Saya hanya diam dan bapak guru pembina tersebutlah yang menjawab. Saya melihat ada guratan kemarahan yang tersirat dari wajah ibu guru tersebut. Hal itu sempat menjadikan saya down dan rasa keyakinan itu merosot seketika.

Ketika perlombaan dimulai, saya hanya menjadi penonton kawan-kawan saya. Ya, karena saya adalah cadangan. Namun, sebuah peringatan buruk terjadi, salah seorang dari peserta lomba cerdas cermat yang merupakan kakak kelas saya tiba-tiba sakit dan tidak bisa mengikuti perlombaan padahal lomba tersebut baru akan dimulai. Akhirnya kesempatan tersebut membawa saya untuk menggantikan kakak kelas saya mengikuti perlombaan cerdas cermat. Waktu itu saya hampir menangis. Ya, menangis sebab saya sudah ditolak bahkan kehadiran saya tidak diakui oleh salah seorang guru yang saya sendiri tidak tahu apa salah saya. Namun, bapak guru pembina kami sempat me-recharge semangat saya, lagi-lagi saya menemukan orang yang menyemangati saya untuk yakin dengan kemampuan saya, meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan senyuman kebanggaan pada saya. Itulah yang membangkitkan saya. Walaupun hanya bisa menang hingga babak semifinal, bapak guru pembina dan rekan-rekan seperjuangan kami tidak sedih dan kecewa sedikit pun bahkan mereka bangga karena kalau saya tidak ada sebagai "cadangan" waktu itu maka bisa saja tim kami didiskualifikasi. Hmm, tetapi, lagi-lagi, ibu guru tersebut berkata,"coba tadi si dian tidak sakit pasti bisa menang sampai final." Ya, kata-kata itulah yang dilontarkan. Perasaanku sebagai seorang siswi sekaligus peserta sempat down lagi. Astaghfirullah. Aku hanya bisa terdiam dan membisu lalu berjalan menuju mobil untuk istirahat. Entah apa yang dipikirkan oleh benak kawan-kawan yang lain. Aku tidak peduli dan tidak ingin bicara. Aku berusaha untuk menyemangati diriku sendiri. Aku benar-benar hampir menangis. Mataku mulai berkaca-kaca

Jauh hari setelah perlombaan tersebut, aku dipertemukan dengan ibu guru tersebut di kelas II SMP, baru kali itu dan dia menjadi wali kelasku waktu itu. Ya Allah. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa agar Allah menampakkan kebenaran di matanya dan dibukakan hatinya untuk bisa menerimaku sebagai murid. 

Keajaiban terjadi, akhirnya bu guru tersebut berubah baik padaku. Ketika masa kepengurusan mading, aku menjadi kepala bagian editor dan aku tidak percaya ketika beliau mau melihat tulisan karyaku yang dipajang di mading lalu memintaku untuk terus menulis. Yang lebih indah lagi adalah, dia tersenyum padaku. Cesss, hatiku seperti tersiram oleh benua antartika. Adem ayem. Entah, sampai saat ini aku tidak tahu apakah ada alasan yang pasti atau tidak yang menjadikan beliau dulunya adalah satu-satunya guru yang paling membenciku.

Beliau pun pernah memberikanku petuah yang sama dengan orang-orang sebelumnya bahwa untuk menjadi pemenang, kita harus memupuk keyakinan akan kemampuan diri kita sendiri, terus berusaha, tidak mudah putus asa, berdoa dan tekun, dan orang pintar akan dikalahkan oleh orang-orang yang demikian.

Itulah yang sampai sekarang masih melekat dalam diriku apalagi ketika tahu kalau itu masuk dalam mata kuliah psikologi yang selama ini aku pelajari.

Yakin akan kemampuan diri sendiri akan menjadikan kita mempunyai prinsip yang kuat,

tidak terkalahkan,

tetap optimis

bahkan di saat banyak orang-orang yang mencibir/meremehkan kemampuan kita karena tidak yakin akan diri kita

di situlah kita harus terus memupuk keyakinan agar meningkatkan self confident kita, agar mereka tahu bahwa menjaga keyakinan akan kemampuan diri kita akan mempu mengalahkan pikiran negatif mereka.


No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.