Tuesday, September 25, 2012

CACAT BUKAN HAMBATAN SUKSES

Kemarin ketika sedang mengikuti kuliah ruhiyah, ada yang bercerita terkait sebuah film inspiratif.

"AMMAR FILM"

Sebuah tontonan (film pendek dari Timur Tengah) yang hanya berdurasi sekitar 5-6 menit.

Bagi yang belum nonton,

bagi yang suka GALAU,

bagi yang suka berpikir PESIMIS,

bagi yang sering dihantui perasaan+pikiran yg NEGATIF,

saya sarankan buat nonton film itu sejenak, cuma bentar doank kok.

Saya yakin setelah nonton, pasti kalian akan bilang "WOW" gitu hehehe :D

Film tersebut sangat inspiratif walaupun memang banyak film inspiratif lainnya.

Di dalam film berdurasi singkat tersebut, dikisahkan seorang bernama "Ammar" yang terlahir dengan ketidaksempurnaan fisik (cacat).

Dokter pun telah memvonis bahwa Ammar hanya akan bertahan hidup paling lama sekitar 2 tahun, tidak lebih dari itu.

Meskipun demikian, orang tuanya selalu menanamkan sikap OPTIMIS dan pantang PUTUS ASA, mereka yakin ALLAH selalu ada untuk mereka, ALLAH akan menolong anak mereka, Ammar.

Ammar pun tumbuh menjadi sosok yang hebat, sangat hebat, ia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya dan tetap bersosialisasi juga bersekolah seperti yang lainnya.

Tidak dipungkiri, dalam film tersebut juga terlihat Ammar sempat mendapatkan penolakan di bangku pendidikan dengan tidak diizinkan oleh Guru untuk mengikuti kelas karena dianggap tidak akan mampu belajar seperti anak normal.

Ammar tidak pernah menyerah...

tidak juga berkecil hati...

Ammar banyak meluangkan waktunya untuk menghapal dan mengkaji Al-Qur'an....

Ia juga sangat gemar menonton pertandingan bola dan bercita-cita menjadi seorang "Wartawan Bola" agar bisa bertemu dengan pemain-pemain hebat dunia.

Apa yang terjadi?

Apakah Ammar benar-benar hanya hidup dalam waktu 2 tahun tanpa berhasil menggapai cita-citanya?

TIDAK.

Kun Fayakun..

Allah sungguh Maha Agung...

Dengan kehendak Allah, hingga usia menginjak "DUA PULUH ENAM TAHUN" lebih dari apa yang pernah divoniskan dokter sejak ia masih bayi.

Di usianya yang ke-26 tahun, Ammar berhasil mewujudkan cita-citanya...SUBHANALLAH :D !!!!

Ia telah hafidz Al-Qur'an...

Ia LULUS SARJANA dengan predikat CUM LAUDE...

dan, Ia benar-benar menjadi WARTAWAN BOLA seperti apa yang ia inginkan...

Ammar juga telah banyak menyabet beberapa PIALA penghargaan dari segudang prestasi lainnya...

Sebuah kalimat inspiratif yang AMMAR ucapkan,"....Immaa Takhtaar, wa Immaa Tanhaar...(Kamu memilih untuk EKSIS atau kamu RUNTUH)"

Menakjubkan bukan?

Astaghfirullah, dan coba kita lihat siapa diri kita masing-masing...

Apakah kita cacat seperti Ammar?

Atau kita justru SEHAT dan NORMAL?

Apakah cita-cita terbesar kita?

Dengan kesempurnaan fisik yang Allah berikan, sudahkah kita wujudkan atau hanya angan-angan filosofi semata?

Bila tidak, bila belum, bila malu, bila merasa tidak bisa, bila ragu, bila GALAU,

Coba bercermin dari kisah inspiratif si AMMAR...

Petik hal-hal positif di sekitar kita...

Menjauhlah sejauh mungkin dari hal-hal yang negatif di sekitar kita...

Menjauhlah dari TEMAN yang NEGATIF

Menjauhlah dari orang-orang yang SUKA GALAU

Mendekatlah pada TUHAN

Mendekatlah pada apa yang bisa membuat kita berSEMANGAT

Carilah KAWAN yang POSITIF

Tulislah mimpi pada DREAM BOOK kita

dan WUJUDKAN

MOVE ON

ACTION

Agar tidak hanya hidup dalam filosofi "jika dulu....." "andai....."

Gimana??

Want You???




Friday, September 21, 2012

Mari Berkompetisi Sehat

       Setiap minggu saya sangat suka menyaksikan tayangan program kompetisi memasak di salah satu stasiun TV  yakni "MASTER CHEF". Namun, semenjak kehadiran "Black Team" yang tadinya benar-benar sangat terpukau tiap menyaksikan tayangan tersebut dengan berbagai orang dan skill yang mumpuni dalam hal masak-memasak kini perasaan itu sedikit pudar. Bukan masalah "Black Team"-nya melainkan  "perang mulut" yang menghiasi kompetisi tersebut.

      Sungguh sangat disesalkan, kompetisi yang semestinya terlihat awesome harus ternodai dengan "perang mulut" tersebut. Ada yang saling dendam, saling menjatuhkan, saling mengejek skill masing-masing bahkan tidak jarang juga pernah terlontar kata-kata kotor (walaupun kadang disensor) yang mana itu bisa saja menjadi ancaman buruk bagi pelaku kompetisi bila dinilai dari segi attitude-nya.

        Lantas di manakah makna kompetisi yang sehat itu berada bila kenyataannya masih saja ada pelaku kompetisi yang suka  saling"berperang mulut" seperti itu? Ditambah lagi ajang tersebut selalu up to date ditayangkan di media elektronik.

         Bisa jadi orang-orang yang tadinya terpukau dengan tayangan tersebut justru semakin salah arah dalam menanggapi, memandang bahwa acara tersebut menarik dengan adanya "saling kritik" di antara para peserta kompetisinya. 

            Alangkah semakin "amazing" jika program tersebut tidak diembel-embeli dengan hal-hal seperti itu sebab tontonan itu merupakan bagian kecil sebuah ilustrasi "modelling" bagi siapapun yang melihatnya. Dengan kata lain, tontonan itu juga merupakan sebuah tuntunan. Bisa menjadi tuntunan baik ataupun buruk tergantung dari isi dan kualitas yang tersusun di dalamnya.

           Tidak ada gunanya berkompetisi jika sesama rival saling menjatuhkan dengan "kata-kata yang buruk", sifat dendam dan tidak mau menghargai karya masing-masing kompetitor. Kompetisi bukanlah mengajarkan makhluk untuk saling menjatuhkan, saling menghina, apalagi sampai dendam. 

              Masih ada kompetisi yang sehat, yang benar-benar mengajarkan kita esensi dari kompetisi itu sendiri, mengajarkan berbagai pelajaran berharga dari setiap komponen yang dilombakan, mengajarkan kita tentang kesabaran, manajemen waktu, manajemen sikap, hati bahkan lebih dari itu, kita dapat mengambil hikmah berupa jalinan ukhuwah (persaudaraan) antar sesama kompetitor walaupun kita berdiri sebagai seorang rival (lawan) dan satu hal lagi adalah mengajarkan kita bagaimana menghargai usaha/karya dari tiap-tiap kompetitor termasuk kita sendiri. Seorang rival kompetitor bukanlah seorang musuh. 

            Jika semua hal itu dicoreng dengan hal buruk, meskipun dianggap kecil namun bisa saja semakin lama justru akan semakin menumpuk dan akibatnya hanya akan mendatangkan "penyakit hati" dan lebih parahnya lagi, apa yang kita lakukan bisa saja menjadi sia-sia dan tidak bernilai apa-apa untuk kita.

           Jadi, mau pilih yang mana, berkompetisi secara jujur dan sehat atau berkompetisi diiringi dengan keburukan yang hanya sia-sia??? 

Thursday, September 20, 2012

Meniti Kesuksesan Bersama Mereka


Hari ini dapet pesan singkat dadakan dari sebuah instansi untuk undangan seleksi kerja dari lowongan yang dimasukkan akhir bulan lalu bahwa seleksi dilaksanakan besok pagi di Jawa Tengah. Walhasil, saya akhirnya didiskualifikasi karena masalah waktu dan jarak yang terlampau jauh, yang tidak nutut untuk membawa saya ke tempat tersebut.

Sedih, iya tetapi aku merasa bersyukur di sela-sela itu sebelumnya saya udah mendapatkan peluang besar di tempat tinggal saya untuk sebuah visi yang lebih mulia dibandingkan seleksi kerja tersebut. Sangat bersyukur karena Allah telah menjawab doa-doa saya di tengah penantian demi mendapatkan sebuah pekerjaan.

Mungkin inilah jalan yang Allah tunjukkan. Beberapa hari yang lalu, saya dikontak oleh seorang dosen yang juga merupakan kakak dari adik tingkat yang masih kuliah di UMM juga. Rupanya mereka sejak bulan ramadhan lalu sedang gencar mencari lulusan psikologi yang akan ditempatkan mengajar di salah satu fakultas yang juga terdapat beberapa mata kuliah psikologi tambahan di dalamnya. Walhasil, karena kami belum dipertemukan dalam jangka waktu dua bulan yang lalu tersebut, mereka akhirnya mengambil dosen luar biasa dari Makassar, namun itu pun masih sangat minim. Rupanya dosen LB tersebut hanya punya waktu pertemuan kelas sebanyak 6 kali pertemuan dalam satu semester disebabkan beliau juga adalah praktisi di Makassar sehingga kinerjanya dirasakan kurang maksimal. Hasil yang kurang maksimal tersebut menyebabkan para mahasiswa yang identik dengan sebutan "mahasiswa buangan" tersebut semakin tidak keruan. Mereka sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dari apa yang selama ini diajarkan kepada mereka akibat keterbatasan SDM di lembaga tersebut. Ditambah lagi dengan berbagai permasalahan yang sangat complicated dari tiap-tiap mahasiswa/i nya baik masalah personal hingga masalah keluarga yang berkaitan dengan pola asuh bahkan ada pula mereka yang disia-siakan oleh orang tua mereka sehingga memilih untuk membiayai kuliah mereka sendiri dengan cara bekerja di sela-sela waktu kosong saat kuliah bahkan itupun sempat membuat mereka bolos karena harus mencari uang demi bertahan hidup. Mendengar keluhan dari kisah-kisah memilukan para dosen dan mahasiswa/i tersebut, saya baru menyadari mungkin inilah jalan yang harus saya tempuh. Saya yakin Allah mengutus saya untuk berada di sekeliling mereka akan ada banyak pelajaran hidup yang bisa saya peroleh dari mereka.

Dan saya juga mengerti sekarang, untuk sukses pun tidak selamanya harus berada di antara gedung mewah, orang-orang berdasi dan berjas mahal, justru berada di antara mereka yang dianggap kecil, kita juga bisa menjadi sukses dan besar, tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga membantu mereka yang dianggap kecil menjadi pribadi yang akan BESAR pada masanya masing-masing. Amiin, insyaAllah. Apapun yang akan dijalani ke depan semoga bisa tetap istiqomah dan bisa memberikan segala daya upaya yang maksimal sehingga hasilnya pun juga bisa maksimal.

Yap tetap optimis, ALLAH selalu ada untuk kita yang juga selalu ada untuk-NYA..Sabar untuk menanti kesuksesan yang besar dengan melakukan hal-hal kecil tapi memberikan pengaruh yang besar.

GANBAREEE CHINGU !!!!!

Wednesday, September 19, 2012

ROHIS IS NOT TERRORIST

         Baru beberapa hari yang lalu kami marak menyaksikan bahwa di salah satu stasiun TV ada oknum yang memberitakan hal yang keliru tentang ROHIS. Ada apa sih sebenernya dengan ROHIS?? Apa benar kalau mereka yang masuk ROHIS itu adalah calon TERORIS?? Tidak hanya itu, santer pula berita terkait film penistaan terhadap Rasulullah SAW.

        Dalam waktu yang bersamaan, kami bersama kawan aktivis dakwah ramai ngeposting artikel di milis grup kami terkait penghinaan tersebut. Memang benar kata seorang akhwat yang juga salah satu rekan aktivis kami, selama ISLAM itu masih BERNAPAS, mereka yang ada di luar sana tidak akan pernah puas untuk menghinakan agama Allah bahkan tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang muslim juga bisa saja.melakukannya. Namun, yakin saja, Allah pun tidak akan pernah duduk DIAM. Dia pasti akan menghinakan pula orang-orang yang telah menistakan agama-Nya.

       Mengapa mereka men-judge bahwa mereka yang tergabung dalam organisasi ROHIS itu adalah kader-kader TERORIS? Apakah mereka benar-benar tahu apakah esensi dari ROHIS itu sendiri? Bila tidak cukup tahu atau bahkan sok tahu, kenapa tetap nyolot? Oke, oke. Mungkin bagi beberapa pihak yang tidak pernah menyentuh "ranah" ROHIS bisa jadi juga berpikiran yang sama seperti mereka. Tapi, tahukah mereka? Rohis itu bukan hanya sekadar tempat nongkrong biasa, bukanlah tempat orang-orang jahat, bukanlah suatu organisasi yang berisikan kegiatan-kegiatan untuk "mencuci otak" orang sedemikian rupanya, bukanlah tempat membentuk pribadi yang ditakuti, pemberontak apalagi sampai dikatakan TERORIS. Itu sungguh paradigma yang sangat dangkal yang pernah saya dengar.

          Kami pribadi justru sangat bersyukur bisa tergabung dalam ROHIS. Menjadi seorang aktivis dakwah itu benar-benar menuntun kami ke arah yang lebih baik. Tidak hanya sekadar itu, ROHIS sudah seperti istana atau rumah kedua kami. Di dalamnya, kami menemukan kesejukan, berada di sekeliling orang-orang dengan keteguhan prinsip yang luar biasa yang benar-benar tulus ingin menolong agama Allah. Mempunyai saudara seiman yang sungguh luar biasa, sangat luar biasa. Ketika kami dihadang oleh beragam hamparan masalah duniawi, ROHIS menjadi tempat kami untuk bisa bertafakkur, mengevaluasi segala kesalahan yang telah diperbuat dan menuntun kami untuk membangun pribadi yang lebih baik lagi. ROHIS pun yang menyatukan ukhuwah kami antara satu dengan yang lain sehingga terasa semakin indah dari hari ke hari. Yang lebih berkesan lagi adalah, ROHIS telah menjadi salah satu wadah yang benar-benar memperkenalkan kami lebih dekat lagi dengan TUHAN dengan jalan terus saling memotivasi satu sama lain dalam mengkaji ilmu-Nya yang MAHA LUAS. Dari ROHIS lah, apa yang tak pernah tersentuh dan terpikirkan malah jadi terhiraukan.

          Waktu kami kuliah dulu, Organisasi ROHIS menjadi salah satu tujuan favorit para mahasiswa. Jadi, yang nggak ikut ROHIS bisa dibilang ketinggalan zaman. Bahkan, tampuk kepemimpinan yang mewadahi seluruh organisasi kampus baik formal maupun non formal dihasilkan berkat kerja keras dengan seluruh kawan-kawan ROHIS. Meskipun medan perjuangan yang kami temui di lapangan tidaklah seberat dan sedahsyat sebagaimana yang pernah dilalui oleh para Rasul beserta sahabat-sahabatnya, sekecil apapun medan yang kami temui, itulah lahan di mana kami dapat menyebarkan kebaikan yang lebih banyak dan lebih luas demi menegakkan agama-Nya. Subhanallah :) Yang lebih mencengangkan lagi, dunia ROHIS bisa jadi sebagai salah satu perantara bertemunya jodoh seperti yang dialami oleh beberapa kawan kami, eittss tapi bukan cinloook lho ya, bukan sama sekali. Mereka yang bahkan tadinya tidak tahu menahu tentang organisasi kami malah mengklaim bahwa ROHIS itu adalah salah satu tempat mulia yang mana di dalamnya terdapat mutiara terpendam (istilah untuk sosok calon istri yang shalihah). MasyaAllah, kami bahkan sempat tertawa geli mendengar mereka menyatakan hal itu. Tapi, itu juga menjadi do'a buat kami, insyaAllah. :)

           Lalu apa aja sih sebenarnya kegiatan dalam ROHIS itu? Yang jelas semua kegiatan atau program yang kami jalankan adalah kegiatan yang insyaAllah bermanfaat, gak hanya untuk kami tetapi juga untuk semua, tanpa terkecuali. Ada banyak sekali kegiatan yang kami lakukan dan meskipun antara ROHIS yang satu dengan yang lain berbeda program, tetap visi dan misi kami adalah SATU. Berbagai kegiatan itu pun tidak hanya berpusat pada satu titik saja yaitu pengkaderan akan tetapi juga mencakup lingkup yang lebih luas seperti kajian keilmuan baik itu ilmu pengetahuan umum terkait materi kuliah masing-masing hingga materi keislaman yang juga memberikan sumbangsih cukup besar terhadap pembentukan tauhid, aqidah dan kepribadian/ akhlaq sebagai seorang muslim sejati. Tidak hanya itu, kami juga sering mengadakan kegiatan kecil namun sangat berarti seperti aksi penyebaran bunga gratis pada saat bertepatan hari ibu sampai kegiatan berskala besar seperti lomba-lomba akademik, training motivasi, bedah buku hingga seminar nasional. Jadi, apa masih kepikiran kalau ROHIS itu sarangnya TERORIS??

          Itu semua bukanlah rekayasa belaka. IT'S REAL and IT'S WORK. ROHIS is not TERRORIST. Bila  pun ada pihak yang menyatakan bahwa ROHIS itu adalah seorang teroris, itu adalah cara berpikir individu-individu tertentu yang terlampau keliru terhadap esensi dari ROHIS itu sendiri. Coba deh terjun langsung dan terlibat dalam ROHIS, apa iya masih berprasangka kalau ROHIS itu adalah TERORIS?? Once again, ROHIS bukanlah sarang TERORIS. ROHIS adalah tempat untuk mencetak pribadi-pribadi berkualitas yang dapat menjadi tonggak bagi masa depan, agamanya, serta bagi bangsa dan negaranya.

             
        

Wednesday, September 12, 2012

Si Semu Pendusta

Dan ketika kejahatan dibungkus sedemikian rapi dengan kebaikan yang semu
siapa lagi yang patut percaya?
siapa lagi yang akan peduli?
karena pun kepercayaan pudar sudah
tatkala kau menangis palsu
yakin sudah tangan-tangan itu tidak lagi datang menyapamu

Apa yang kau cari kawan?
Apa yang kau balut di balik kakimu yang suka menjilat api?
Apakah mati rasa geluti batinmu saat ini?

Dan kau cabik perlahan, satu per satu malaikat dari dirimu
Kau telantarkan sumpahmu demi memungut satu kesombongan
Kau percikkan api dari kakimu, perlahan membakar diri sendiri
Rapuh....
Itulah kau saat ini
Tidakkah kau sadar?
Tempat memintamu hanya Dia
Tidakkah kau sadar?
Tempat bernaungmu hanya Dia
Sekali lagi,
Tidakkah kau ingin sadar dari mati suri yang membuatmu mencabik keelokan dirimu sendiri?

Dia....
Mintalah pada Dia, yang telah menciptamu
bukan pada cacing yang berserakan di bumi
bukan pada anjing yang mengonggong penuh muslihat
bukan pada api yang kau percikkan dari kakimu
bukan...

Kelak kau akan merenung
bertapa dalam sisa sinarmu yang rapuh
bahwa kau bertugas besar membawa dirimu ke ujung langit

--by: Emma_yeol--

--Puisi ini untuk dua orang teman dan beberapa orang yang jauh lebih tua--


--Anyway, udah lama gak bikin puisi. Pas bikin lagi, ini karena kisah beberapa orang yang ditemui. Entah harus bilang apa, but sincerely, aku berharap mereka akan berubah, bisa lebih baik lagi. Jadi orang baik itu kenapa harus bialng susah. Tiket ke surga memang mahal kawan, karena sesuai dengan fasilitas yang Dia akan berikan. Namun, kalau ternyata kalian memilih jalan yang sangat murah, aku cuma bisa bilang, lakuum diinukuum waliyadiin. Bila hati telah terkunci mati dan sudah tidak bisa mendengarkan yang haq, I don't know what should we do again and again. I'm sorry, maafkan aku jika kepercayaanku pada kalian memudar karena itu akibat ulah kalian sendiri. Tak ada gunanya nasehat diberikan bila kalian keukeuh memilih mencoba jalan curam yang sama--

Friday, September 7, 2012

Asyiknya Jalan Kaki


Ini kutulis pada hari Kamis, 6 September 2012. Flashback ke belakang ada banyak banged pengalaman menarik yang pernah kuperoleh selama masa kuliah. Aku pengen menuangkannya lagi. Salah satunya tentang 'jalan kaki'. Haha judulnya kedengarannya gak  jual banged ya hehe. Dulu waktu semester pertama kuliah, aku belum punya kendaraan sendiri. Lebih dari itu aku numpang tinggal di rumah adik bapakku yang letaknya jauh di belakang kampus. Mau gak mau harus benar2 menej waktu. Apalagi angkot di daerah situ tuh ya lewatnya itu pake waktu-waktu tertentu ibarat nungguin bus di Korea gitu. Tetapi ini lebih parah, lewatnya hanya setiap jam delapan pagi, dhuhur dan terakhir lewat tuh jam tiga sore. So, mau tidak mau kalo ada jadwal kuliah pagi banget, aku biasanya nebeng berangkat sama pakde, kalau berangkat siang, harus jalan kaki ngelewatin sawah yang terbentang sekitar 2 Km yang menghubungkan antara rumah tanteku dengan daerah belakang kampus. Itu setidaknya jalan potong yang lebih cepat daripada harus jalan kaki lewat jalur utama.

Oke, tanpa berpikir panjang aku berangkat menyusuri jalan tersebut. Sejenak kupikir jalanan itu tuh menyeramkan apalagi kalau jalan kaki sendirian. Dengan modal bismillah, meski hati rada dag dig dug yaa mau gimana lagi. Eh, tapi ketika berjalan kaki menyusuri pematang sawah itu ya, aku ngerasain suasana yang beda banget. Adem banget rasanya lewat situ, pemandangan hamparan sawah yang luas, penuh nuansa hijau kekuningan, bisa menghirup udara sejuk yang bebas polusi, bisa ngelihat langsung petani yang sedang kerja dan bisa foto-foto juga, hehehe. Semua kelelahan akibat jalan kaki sejauh 2 kilo dalam waktu 30 menit itu terbayar dengan suasana adem tadi. Heum, yaa apa boleh buat sih nyampe kampus harus bermandian keringat tapi nggak apa-apa lah yang penting aku bisa nyampe di tempatku menuntut ilmu sembari berolahraga (kan sehat tuh kalo jalan kaki).

Pernah juga nih ini kisahnya pas waktu pulang kuliah di musim UTS (Ujian Tengah Semester). Biasanya kalo aku pulang nih minta tolong mbak-ku atau mas-ku yang jemputin. Hari itu di rumah mbak-ku sedang nggak ada motor dan mas-ku pulangnya malam. Walhasil aku udah nyoba gitu ya nungguin angkot meskipun aku udah tahu jam-jam nanggung segitu tuh nggak ada angkot yang bakal lewat. Mana mataharinya terik banget lagi. Memang sih ada jalan tikus ke pematang sawah itu tapi jalanan di sekitar sawah penuh dengan lumpur dan aku nggak mungkin lewat situ. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki melalui jalur utama. Bayangin aja tuh, jalanannya naik turun-naik turun. Pada 10 menit pertama menyusuri jalanan yang mendaki sih nggak masalah, oke kudu sabar. Namun ketika menyusuri jalanan rata nan berlubang yang juga dipenuhi dengan pemandangan sawah di kiri kanan jalan itu rasanya....ampun panas banget, rasanya sekujur tubuh ini tuh udah terpanggang matang. Dan lebih dramatisnya lagi, sepatu ujian yang baru saja aku beli, meskipun harganya memang sedikit lebih murah tapi akhirnya jebol juga. Gimana nggak jebol, jalanannya berbatu dan sedikit menurun gitu. Mau buka sepatu tapi kalo nyeker yang ada malah kakiku yang melepuh kena terik matahari. Heuum, benar-benar perjuangan pulang yang penuh cobaan. Akhirnya sampe juga di rumah. Nggak tahunya perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam. Aku jadi kepikiran, yaa meski demikian, kudu bersyukur juga sih karena masih banyak di luar sana yang lebih menderita daripada aku.

Finally, semester dua aku udah dibelikan motor sehingga lebih mempermudah akses menuju kampus dan ke tempat lain yang diperlukan. Dan, ketika aku memutuskan untuk nge-kost bersama dengan kru kontrakan Siti Hajar, aku masih sangat senang berjalan kaki. Selain itu, tempat kost teman sekelasku pun lumayan tidak terlalu jauh dari kontrakanku sehingga aku sering ke kost dia hanya dengan berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil. 

Rata-rata teman-teman di kontrakan pun tidak mempunyai kendaraan sehingga setiap berangkat atau pulang kuliah sudah pasti berjalan kaki melewati gang-gang kecil yang menjadi jalan tikus menuju kampus. Lumayan juga sih jaraknya. Tapi kalo pake motor, nggak nyampe 10 menit udah sampai gerbang kampus kok. Kadang aku juga nebengin teman-teman kontrakan jika mereka butuh tumpangan. Bahkan pernah juga tuh ada adek kontrakan yang ngotot banget maksa minta anter saking takut telat datang syuro' (musyawarah/rapat, biasa dilakukan oleh aktivis organisasi di kampus) yang biasanya diadakan setiap jam 6 pagi, itu khusus untuk lembaga dakwah yang dia masukin sih, kalo aku nggak sampai segitu paginya kok kalo ikut syuro' kecuali kalo akan ngadain event-event besar dan penting, berangkatnya pasti pagi-pagi buta. Hahaha, but no matter. Karena kami semua adalah aktivis dakwah kampus jadi satu sama lain wajib untuk saling menolong, hehehe. 

Oiya, so far, berjalan kaki itu sangat menyenangkan kok sebenarnya. Bisa ngirit ongkos angkot dan bensin, hehehe. Itulah trik yang biasa kulakukan ketika aku harus berhemat sebab uang di dompet menipis. Ya, tapi nggak semua tempat harus diakses dengan berjalan kaki juga kan. Kan nggak lucu kalo mau ke stasiun kereta dari rumahnya jalan kaki, hahaha yang ada bakal ketinggalan kereta tuh. Selain itu, dengan berjalan kaki, apalagi kalo berangkat kuliah pagi-pagi, aku bisa menemukan banyak hal-hal unik di pinggir jalan yang kulewati. Aku bisa melihat si bapak pengangkut rumput liar yang rajin, disiplin dan ulet yang hanya muncul sekitar jam 6 pagi saja. Bahkan aku juga pernah tuh ketemu sama seorang perempuan yang terlihat seperti penyandang skizofrenia di pinggir toko. Waktu itu dia berseru padaku dengan mengatakan,"hati-hati mbak di situ tuh banyak orang gila,"(sambil nunjuk gedung tua di seberang jalan yang dianggap tempatnya orang gila padahal dia nggak menyadari keadaan dirinya sendiri). Kasian juga sih karena nggak ada dinsos yang mau menjangkau wilayah situ tapi tetap aja ak rada ngeri juga waktu itu saking kagetnya, pagi-pagi buta gitu ternyata ada yang nyapa aku, kupikir tadinya nggak ada siapa-siapa. Hahahaha.

Heum, seru deh jalan kaki itu. Sampai sekarang aku selalu merindukan berjalan kaki seperti yang pernah kulakukan semasa kuliah dulu.