Friday, November 16, 2012

Impian di Bawah Hujan dan Senja

by Yanuarty Paresma Wahyuningsih



Atmosfer langit beralaskan mendung kini tumpah menjadi bulir-bulir air meneduhkan

Masih terkenang kala bias-bias senja yang lalu

Kutengadahkan kedua jemari yang merapat membentuk persegi, menadahi setiap air yang jatuh

Gersangnya padang ilalang kini ditumbuhi berjuta kelopak yang mega nan sedap di mata

Aduhai Allah, betapa kafirnya aku jika menyalahi anugerah ini

Aku bahagia...




Di bawah cakrawala yang tertutup pelangi, kulihat pantulan wajah itu di sana

Wajah yang enggan untuk menampilkan rahangnya

Wajah yang aku tak tahu di mana ia berada dan mengapa tergores begitu indah di langit-Mu

Wajah yang mungkin saja akan menjadi takdirku dari-Mu

Aku hanya tertegun sembari memandangi torehan prisma warna yang gegap gempita

Lalu berdoa dalam gemericik hujan yang gemulai

Ya Allah, mudahkanlah langkahnya dan langkahku untuk bertemu di kemudian hari

Bila kesulitan itu dariku, maka berilah petunjuk agar aku tidak mempersulit niatnya

Niat suci yang mungkin kini terangkum bula-bulat di sudut hatinya sekalipun aku belum tahu ia siapa


Seperti mimpi, ingin kuulang kembali

Dari belakang, kedua tangan melingkar di bahuku

Ia mengecup pipiku lalu mengangsurkan senyum yang sangat indah padaku

Ya, ia adalah pendamping hidup yang digariskan Allah, yang dibawa oleh Allah dengan kereta kencana dan kuda-kuda penggiring di hari bahagia sebelumnya

Tidak biasanya batang hidungnya berdiri kokoh di bawah atap kami sesore itu

Aku membalikkan wajahku lalu menatap wajahnya

Tampak garis-garis letih yang terbungkus di selaput pipinya yang merona

Aku tahu, betapa lelahnya ia menggali nafkah untukku

Ia memelukku dalam-dalam dan kami persis seperti sedang bermain drama Korea, sangat romantis


Ah, sayang, nyatanya ketika aku benar-benar berbalik tak kudapati wajah itu di sisiku

Mimpi di hari senja yang penuh taburan aroma roman yang memikat ikatan halal

Semoga itu bukanlah mimpi esoknya

Ya, kini kukembali ke peraduanku

Ke atas sajadah yang sedang menanti munajatku pada-Nya

Aku rindu wajah itu

Wajah yang kutak tahu bagaimana pahatannya

Namun, aku yakin itu akan menjadi kado dari Sang Maestro Seni ter-Hebat yang kelak akan menemukanku di manapun aku

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.