Friday, February 15, 2013

INISIALNYA

Wait! Aku masih bisa melihat jelas foto itu. Iya foto itu. Aku yakin itu bukan sekadar kebetulan. Meski foto itu udah lama. ^__^ Mencoba untuk menyadari kenyataan bahwa cinta dia begitu kuat pada sahabatku. Itu inisial sahabatku kan? Walau samar, tapi sangat jelas mirip ejaan  yang menunjukkan sahabatku.

^_^ Sekuat itukah cintamu pada sahabatku? Sampai berhasil menutupinya di tengah keramaian.

Apa? Aku sok tahu? Entahlah, tapi itu jelas banget, inisial itu sangat jelas mirip.

Tidak apa-apa. Dia memang lebih dulu memilih sahabatku. Aku juga bahagia bila ada setitik perubahan yang lebih baik ketika dia mencintai sahabatku.

Oke. Tenanglah kamu! Bila Allah menakdirkan kamu menjadi pendamping sahabatku, kalian toh pasti akan bersatu.

Kenapa? Apa? Jangan begitu! Tidak perlu mengatakan apa-apa padaku. Aku sangat menghargai perasaanmu. Ya, kamu tetap temanku. Sampai kapanpun, kamu adalah temanku. Pada kenyataannya, itu mungkin tidak jua akan merubah perasaanmu kan? :)

Saat kamu menanyakan kabar sahabatku, tapi kutolak, itu karena permintaan sahabatku yang menyarankan agar aku tidak ikut campur. Ya, because that's her privacy. Sahabatku pernah menuliskan secarik pesan dalam bahasa Inggris tapi aku lupa kalimatnya, intinya saat itu dia tidak ingin membahas tentangmu. Dia butuh waktu untuk itu.

Sekarang, yakinkan saja hatimu. Bila kamu mencintainya, kejarlah dia! Allah itu Maha membolak-balikkan hati seseorang kan?

Tidak usah bertanya padaku, ada apa denganku sebenarnya, tidak usah. Aku baik-baik saja. Sangat baik-baik saja :).

Kejarlah apa yang terbaik bagimu. Aku yakin, kamu juga tidak akan mempedulikan apa yang kutulis ini.
Di sinilah aku menumpahkan semuanya.

Kamu tahu kan, sahabatku itu adalah seseorang yang sangat baik, sensitif tapi juga permata. Aku... Aku setuju... Aku bisa setuju bila kalian bersatu. Aku yakin, aku bahagia melihat kalian. Melihatmu bisa menjaga sahabatku sebaik mungkin.

Kamu pernah janji kan untuk menyampaikan salamku pada sahabatku bila kamu benar-benar akan mempersuntingnya nanti? :) Aku harap kamu masih ingat. Tapi, itu tidak wajib.

Maaf ya, dalam tulisan ini, aku tidak bisa menyebutkan sapaanmu atau paling tidak menyebutmu Kak atau lebih tepatnya Mas.

Haha konyol. Ini konyol kan? Aku yakin, ini cuma mimpi di mana aku tidak benar-benar masuk dalam duniamu.

Kamu memang kepo. Bertanya padaku bagaimana cara mengejar sahabatku, mengetes segala hal seolah-olah kamu itu adalah detektif. Aku kesal dengan itu. Itulah mengapa aku mendesakmu untuk tidak bertanya apapun lagi padaku. Aku gemetar tidak bisa menjawab lagi. Tidak tahu apa yang akan kukatakan lagi bila saja kamu masih bertanya.

---R.A.R---
Meski kamu berkilah itu bukan inisial sahabatku tapi itu sangat mirip dengan yang sebenarnya. Bisakah kamu tunjukkan kepanjangan yang lain? Aku rasa tidak. Hebat ya! Semoga kalian bisa bersatu suatu hari nanti. 

.
.
.
Aku di sini meyakinkan diri bahwa aku tidak tahu apa-apa tentangmu jadi kamu bisa lihat sendiri kan bahwa tidak ada alasan bagiku untuk menyukaimu hingga keesokan hari (mungkin). 

Aku cuma mau minta maaf. Maaf bila aku pernah menyukaimu. Tidak seharusnya aku menyukai seseorang yang menyukai sahabatku.

Kamu datang seperti angin ketika semua teman-temanku masih mengungkit aku dengan dokter R. Lebih baik, aku mengipasmu agar angin yang kamu bawa tidak sampai mengenai pikiranku lagi. 

Aku bisa, pasti bisa memutarbalikkan waktu (anggap saja ada lorong waktu). Dan, di situ, aku memutar kembali otakku untuk tidak menyukaimu lagi. Aku menghormatimu, menghormati perasaanmu pada sahabatku. Dan, aku tidak boleh merusaknya. 

Hingga esok hari, saat kamu berhasil menggenggam hati sahabatku, aku yakin aku tidak mungkin datang. Aku cuma bisa berdoa. Ya, berdoa untuk kebahagiaan kalian kemudian berdoa agar aku tidak lagi menyukaimu apalagi sampai mencintaimu. Cinta yang salah tempat harus dibakar, menurutku begitu.

---Tidak tahu sudah berapa lama, aku membohongi diri sendiri. Berbohong bila aku tidak menyukainya. Tapi, sekarang, untunglah ada waktu untuk membersihkan itu, membersihkan kesalahanku: menyukai seseorang yang mencintai sahabatku. Saat pindah nanti, semoga tidak akan bertemu dengannya lagi, semoga. Kembali lagi menata hati, anggap saja aku tidak pernah mengenalnya atau mengetahui bahwa dia menyukai sahabatku. Hidup seperti kemarin lagi, saat aku tidak pernah menyentuh pintu tempat magang itu, saat aku tidak sadar kalau ada dia di sana---


--Aku ingin semua baik-baik saja. Bila dia membenciku, wajar mungkin. Tapi sebelum aku tahu dia membenciku karena ini, aku akan amnesia lebih dulu. Anggap saja, titik cinta yang keliru ini adalah cerita fiksi yang tidak pernah ada, tidak benar-benar terjadi. Anggap saja begitu. Anggap saja aku menulis dia sebagai tokoh fiksi. Dan endingya adalah dia hidup bahagia bersama sahabatku yang juga kutulis sebagai tokoh dalam cerita ini. Anggap saja demikian---

Mungkin episodenya cukup sampai di sini kali ya, setelah curhat tentang perasaanku di Jatuh Lalu Bangkit , Little Attack , Him and Him (Again),  Hate VS (Isi sendiri) dan Pilihan Rumit Cukup deh! Nggak kuat lagi.

Diary ini, anggap saja tidak pernah ada. Tidak pernah menulis tentang dia atau sahabatku.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.