Saturday, March 23, 2013

CINTA DALAM MITOS

hearts-Green
By Yanuarty Paresma Wahyuningsih
Angin bertepuk seraya menampar daratan. Partikel-partikelnya menyusupkan kesejukan dari hamparan air gurih nan asin yang terbentang di sepanjang mata. Lutut terasa lunglai sampai harus duduk menyaksikan ribuan pasang kaki berlalu-lalang memadati dermaga perdagangan ini. Pelabuhan Nusantara, begitulah sebutannya. Letaknya yang cukup strategis di pesisir Selat Makassar yang memisahkan antara Pulau Sulawesi dan Kalimantan menjadikannya sebagai pusat lalu lintas perdagangan yang sangat ramai. Sudah hampir lima tahun aku menyaksikan ribuan penumpang yang kerap mengujungi dermaga ini. Mereka bukan hanya sebagai penumpang, melainkan para pedagang yang datang dari berbagai penjuru seperti Samarinda, Nunukan, Jawa dan lainnya.

Atmosfer senja mulai menutup cakrawala kota Parepare yang selama ini menjadi tempat berlabuhku demi mengais rezeki. Sudah hampir magrib tetapi aku masih saja duduk di pinggir dermaga, menanti kapal yang tidak kunjung tiba. Rombongan nyamuk dari barat dan timur mulai menyerang seolah ingin mengusir diriku yang sedang asyik menikmati kilauan jingga di antara selimut awan dan samudera.
Aku terhenyak dalam guratan kisah lalu yang menjadi salah satu penyebab sehingga terdampar kembali ke dermaga seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandar Madani ini.
Gelombang neuron, akson serta dendrit dalam otak semakin panas. Long term memory memaksa untuk menelisik kembali sebuah perjalanan hidup yang pernah menitipkan merah jambu di hati.
***
“Mas Soleh, ayo dio ki’ jolo’[1] ke sumur. Barusan mati air di sini. Tidak biasanya mati begini,” ajak salah seorang rekan kost-ku yang memang asli Bugis.
Sudah empat tahun tinggal di Parepare, khususnya di rumah kost tersebut. Rumah kost ini terletak di kompleks BTN Soreang yang dulunya merupakan daerah semak belukar yang kemudian dibangun oleh Raja Suppa sebagai perluasan kekuasaan dan pemerintahan kala itu.
Tidak ada jalan lain selain berangkat menuju sumur yang letaknya sekitar satu kilometer dari rumah kost. Segala peralatan mandi beserta handuk digotong tanpa rasa malu, begitu pula dengan Asong dan Jamal—teman kost sekaligus rekan kerja. Sudah tiga tahun lebih kami bertiga bekerja sebagai office boy di salah satu hotel yang terletak di tengah kota.
“Nggak salah nih kita mandi di sini?” tanyaku gusar ketika melihat sumur di hadapan mata.
Sumur itu sekilas mirip dengan bentuk sumur pada umumnya. Akan tetapi, hal yang membuat gusar adalah letak sumur tersebut justru menjorok ke bibir pantai dan berpapasan dengan laut. Aku khawatir bila mandi dengan air sumur itu maka badan akan terasa asin melihat posisinya yang langsung berseberangan dengan laut.
“Tenang meki’ saja[2]. Banyak ji[3] orang yang sering mandi di sini. Tidak asin ji airnya,” jawab Asong sambil menimba air dari sumur tersebut.
Mencuat rasa lega setelah mendengar jawaban si Asong bahwa air dari sumur tersebut tidak asin seperti yang dibayangkan. Kami bertiga pun mandi bersama dengan menggunakan sarung sebagai penutup badan. Beruntung, pengawas sumur tersebut memperbolehkan kami mandi di situ. Biasanya sumur tersebut digunakan sebagai fasilitas wisata bagi kebanyakan orang. Namun, kali ini kami mandi secara gratis tanpa harus membayar uang masuk.
Air sumur itu terasa sangat sejuk di badan dan sensasi dinginnya mampu mencerahkan pikiran serta hati. Ditambah dengan pemandangan pantai yang ramai akan kapal-kapal para nelayan Desa Cempae semakin menambah kelangkaan suasana saat mengguyurkan tubuh dengan sekian liter timbaan air. Selain itu, baru pertama kali aku merasakan mandi air dingin di kota tropis. Padahal, hawa cuacanya pun persis seperti di Surabaya—tempat tinggalku bersama orang tua.
Asong dan Jamal lebih duluan selesai. Mereka masih menungguku yang masih wudhu. Setelah ritual mandi darurat selesai, kami kembali ke rumah, bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Ketika sedang menggunakan seragam, Jamal tiba-tiba saja menepuk pundakku lalu berceletuk, “Eh, kamu tahu ga[4] tadi itu sumur? Haha, nanti ada kapang[5] cewek yang dekati ko[6].
“Maksudmu apa, Mal?” sergahku sambil mengernyitkan dahi dan berbalik ke arah Jamal.
“Hehe, tidak. Bercanda ji,” timpal Jamal dengan cengir kuda andalannya.
Tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Jamal. Asong hanya menahan senyum saat mendengar Jamal menodongkan kata ajaib itu. Dengan langkah sigap, jemari ini memasukkan botol berisi air minum dan sekotak makanan ke dalam tas tanpa mempedulikan lagi maksud dari perkataan Jamal.
***
“Maaf na[7]. Tidak sengaja ka’[8],” ujar seorang perempuan berambut ikal sambil mengelap seragamku dengan tisu miliknya.
Entah berapa tetes air dari gelas yang tanpa sengaja menubruk baju kerja di badan. Perempuan itu sebelumnya berjalan dengan kepala yang ditengokkan ke samping kanan, melihat lorong-lorong kamar dan gelas kaca berisi air minum berada di tangan kirinya. Aku yang sedang mengepel lantai dari arah yang berlawanan terkejut ketika bertabrakan dengannya.
Ketika mengangkat kepala, ada hembusan angin yang berbeda dari angin laut di sekitar lengkungan Teluk Pare, Desa Cempae yang biasanya terhirup jika berolahraga ke daerah itu. Angin aneh itu kemudian meremas nadi yang terselubung di dada. Ada getaran yang sangat hebat dari jantung saat melihat keanggunan sosok perempuan yang baru saja menyenggol dengan segelas air miliknya. Aku terkesima dibuatnya sampai-sampai lupa sedang memegang gagang pel.
Hello, ndak apa-apa jeki’[9], Mas?” tanya perempuan itu lagi. Dia berhasil membuyarkan lamunan ini tentangnya.
“Eh, i...iya, Mbak. Nggak apa-apa kok,” balasku dengan kalimat terbata-bata.
Perempuan itu hanya melemparkan senyum dalam anggukannya. Lalu, dia pergi menuruni tangga tanpa berbalik lagi.
Jantung semakin berdetak hebat bahkan saat dia telah pergi dari pandangan mata. Siapakah gerangan wanita anggun tersebut? Sungguh terbersit setitik kekaguman padanya. Gaun sederhana bernuansa soft pinky dan tas rajutan berwarna silver menyala tampak serasi dengan tutur katanya yang lembut meskipun hanya terdengar sekejap. Batin ini bergemuruh dalam harapan kecil di ujung hati, semoga belum ada seseorang yang memilikinya.
Hari-hari terasa ringan walaupun setumpuk pekerjaan menghadang. Ini semua berkat angin aneh yang dihantarkan dari perempuan anggun yang terlintas di lorong kamar hotel saat mengepel tadi. Ingin rasanya bertemu lagi dengan si rambut ikal itu tetapi apa daya, diri ini tidak mengenalnya sama sekali.
Tidak biasanya ada sosok perempuan yang mampu menggetarkan batin. Seringkali hanya bertemu dengan beberapa wanita pelanggan hotel yang mengadakan rapat kantor ataupun pesta pernikahan di hall. Itupun kebanyakan dari mereka telah bersuami atau sudah terlihat lebih berumur. Mungkin saja hari ini justru menjadi hari pertama dan terakhir bertemu dengan wanita anggun tadi.
“Mas, kenapa ko senyum-senyum sendiri? Baru dapat bonus kah?” tanya Asong penasaran.
“Tadi aku ketemu sama cewek cantik, Bro,” tuturku sumringah.
“Siapa, Mas?” tanya Asong lagi. Kali ini dia mengernyitkan dahi. Mungkin karena dia belum pernah mendengar kata ‘cewek cantik’ dari bibir ini selama tiga tahun bekerja di hotel tersebut. Biasanya pikiran ini hanya fokus pada pekerjaan sekalipun banyak pelanggan atau tamu yang berlalu-lalang di sekeliling hotel. Maklum, mungkin karena bosan melihat para tamu hotel yang mayoritas terdiri dari para businessman dan business woman.
“Ada deh. Tadi dia nabrak aku sampai bajuku basah kena tumpahan air minumnya. Habis itu, dia pergi,” paparku dengan logat Jawa yang masih kental.
Asong hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia menepuk pundakku lalu berkata, “Sabar meki’, Mas. Ada ji nanti itu jodohmu.”
Asong kemudian melirik ke arah Jamal yang baru saja selesai melahap makanannya di dapur—tempat kami mengobrol. Jamal pun membalas lirikan Asong dengan acungan jempol yang mantap tanpa sepatah kata. Sekali lagi, otak ini tidak mengerti dengan bahasa isyarat mereka. Biarlah itu menjadi rahasia mereka, yang penting hari ini ada cerita yang membahagiakan setelah bertemu dengan sosok bidadari tadi pagi.
Setelah membereskan dapur dan semua pekerjaan telah rampung, kami bertiga pulang. Seperti biasa, kami berangkat kerja dan pulang dengan menumpangi angkutan kota—kalau di Parepare disebut Petepete—setiap hari. Petepete di sini cukup ramai dan beragam dengan jalur tujuan yang berbeda-beda. Ada Petepete Soreang yang khusus mengantarkan penumpang dari terminal atau area Soreang ke kota atau sebaliknya dan ada pula Petepete untuk daerah Lapadde, Perumnas, Lumpue dan Tipe C.
Arus lalu lintas di sini pun cukup tertib dan lancar. Tidak seperti Surabaya yang kemacetannya sudah hampir menyerupai ibu kota--Jakarta. Aku pun tenang setiap kali berangkat atau pulang kerja sebab tidak akan terlambat meskipun menggunakan angkutan umum.
Malam ini pun tampak terang benderang. Bulan purnama mulai muncul di awal Desember ini. Rasa letih bercampur peluh seolah lenyap. Listrik sudah kembali beroperasi dan air pun berlimpah ruah. Aku tidak harus bersusah payah mandi ke sumur aneh itu lagi. Sehabis mandi dan shalat isya, kurenggangkan kaki di atas kursi rotan sambil memandangi purnama yang cerah berbinar. Tiba-tiba saja wajah wanita anggun itu muncul dan tergores di tepi sinar bulan.
Apakah aku sudah gila ataukah mulai suka padanya? Mustahil rasa ini terbalaskan. Aku saja belum pernah mengenal dirinya apalagi harus meminta pada Tuhan untuk bertemu sekali lagi seperti tadi. Diri ini hanya seorang pangeran sederhana yang tidak mempunyai segudang harta. Apakah mungkin wanita berambut ikal itu akan berbalik menyukai? Ah, sudahlah. Aku juga sudah berniat untuk tidak pacaran. Perantauan yang dilakukan ke kota pesisir ini bukan untuk mencari pujaan hati yang bersedia menjadi pendamping hidup. Namun, jika saja itu juga terjadi dan Tuhan mempertemukan dengan wanita pilihan-Nya, mungkin dia adalah sosok yang memang setara dengan diriku—sederhana tanpa limpahan harta. Kalau sudah begitu, mungkin tidak perlu lagi merasa ragu untuk meminangnya tanpa harus berpacaran.
Aku tidak ingin pacaran. Trauma lalu masih menggerayangi kepala bila mengingat kejadian dua tahun silam saat masih di Surabaya dulu di mana aku bermaksud melamar Zubaedah si kembang desa yang telah kupacari secara diam-diam selama hampir dua tahun. Akan tetapi, yang kuterima hanyalah lemparan caci maki dari Ibunya. Itu disebabkan karena waktu itu aku hanya seorang pekerja serabutan di Pelabuhan Tanjung Perak. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak pacaran lagi.
***
Embun fajar menetes riang di ketiak dedaunan. Subuh tampak begitu hikmat setelah dilalui dalam shalat dan mengalunkan nada dalam bait-bait Alquran. Ini adalah hari Sabtu, hari paling santai di antara hari-hari kerja lainnya. Asong dan Jamal tampak sudah rapi dengan seragam dan celana kain yang dikenakan padahal jam di dinding masih menunjukkan pukul 05.00.
“Kalian sudah rapi toh. Kok cepat banget,” kataku sambil menyediakan beberapa buah roti mantao khas Parepare yang diberikan oleh Bu Printje kemarin. Aku juga mengaduk tiga gelas teh hangat di atas meja makan.
“Apel pagi ki’ hari ini. Kemarin dikasih tahu ka’ sama Bu Printje. Sorry, Mas. Lupa ka’ kasih tahu ko semalam karena sudah tidur meki’,” balas Jamal sambil mengeluarkan sepatu kerja dari dalam plastik hitam di sudut lemari.
Astaga, aku tidak tahu kalau hari ini kami akan berangkat apel pagi. Bersyukur karena Jamal memberitahukan info tersebut kepadaku sebelum matahari terbit. Aku bergegas mengganti baju lalu sarapan bersama mereka. Aku juga baru ingat kalau hari ini akan kedatangan banyak tamu di hotel sebab akan dilaksanakan resepsi pernikahan mewah seperti yang pernah disampaikan oleh Bu Printje minggu lalu.
***
“Hufft, akhirnya beres juga. Sampahnya kok ya banyak banget. Kayaknya lebih banyak daripada tamu sing teka iki[10],” gumamku sembari membasuh keringat dengan handuk yang bergelantungan di pundak.
“Hai...”
Aku terkejut saat kudengar suara lembut disusul dengan jemari yang kemudian menyentuh tepi pundakku. Spontan aku langsung berbalik ke arah sumber suara. Seolah dejavu, aku seperti mengalami hal yang serupa saat bertemu dengan wanita berambut ikal. Ini bukan mimpi. Mungkin saja Tuhan mendengar doaku tadi malam. Di hadapanku telah berdiri seorang wanita yang sama dengan yang menabrakku kemarin.
Kali ini dia lebih anggun dengan balutan gaun berwarna merah muda menyala berbahan ciffon tebal yang terjuntai hingga ke mata kaki. Rambutnya ditata sedemikian rupa seperti model rambut ala Barbie yang baru-baru ini dipopulerkan oleh Syahrini. Yang lebih menakjubkan lagi adalah angin aneh yang menggelitik dadaku terasa lebih sejuk dibandingkan kemarin. Angin itu berhembus lebih indah daripada anging mamiri dan energinya pun telah menyundul bola hatiku, terasa lebih empuk daripada roti mantao Parepare yang biasanya dijual di toko Sinar Terang. Gombal, tetapi inilah yang sejujurnya terpaut dalam rasa.
Aku tidak yakin pertemuan kedua ini akan membawa kami ke jenjang yang lebih serius. Aku sadar akan janji pada diri sendiri untuk tidak pacaran. Namun, dia berhasil mencuri perhatianku. Tidak kuat menatapnya dalam-dalam. Dengan menunduk seperti ini berharap dia tidak akan melihat rona pipi yang kian berubah kemerahan. Dia ternyata adalah salah satu dari tamu undangan yang hadir di acara pernikahan tadi pagi.
Dia meminta maaf sekali lagi atas ketidaksopanan yang tidak sengaja dia lakukan kemarin saat menabrakku. Tidak hanya itu, dia pun memperkenalkan dirinya. Kami sejenak berbincang di teras hotel. Udara siang yang sangat menguras keringat tiba-tiba terasa sejuk di sekeliling. Mungkin karena ada dirinya. Dia duduk di pinggir tembok dan aku berdiri sambil memegang gagang sapu di hadapannya, bermaksud melindunginya dari terik mentari yang tepat berada di belakang. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa dia yang menitipkan roti mantao itu kepada Bu. Ucapan terima kasih bukan hanya terlontar karena mantao yang sangat lezat itu, melainkan karena dia telah meluangkan waktunya untuk berbincang sejenak.
Tidak hanya sampai di situ. Sosok perempuan anggun itupun mengajak aku, Asong dan Jamal serta dua adik perempuannya yang masih remaja pergi berkeliling kota Parepare saat sore hari. Tampaknya dia berasal dari keluarga terpandang. Plat mobilnya saja terdiri dari satu angka, DD 7 BR. Mungkin, dia menyukai angka tujuh.
Dia menghentikan mobilnya di pinggir trotoar tepat di depan Pantai Bibir. Hamparan pantai yang berada di sekitar persimpangan antara Jalan Bau Massepe dan Jalan Mattirotasi ini seolah melemparkan milyaran oksigen segar pada hati yang sedang digelayuti asmara. Tatanan pepohonan kecil nan rindang di sekitar trotoar terlihat anggun seperti paras wanita yang mempunyai tinggi badan 166 sentimeter itu. Imajinasi dalam otak mulai bergetar kuat. Andai saja aku dan dia telah resmi sebagai sepasang pengantin. Mungkin suasana jalan-jalan kali ini akan terasa lebih nikmat bila hanya dilakukan berdua, menyaksikan kapal-kapal nelayan berlayar seperti hatiku yang sedang berlayar menuju hatinya.
Waktu berlalu sangat cepat. Malamnya, dia mengajak aku dan lainnya menuju Jalan Sultan Hasanuddin. Lebih tepatnya menuju Pasar Senggol yang juga terletak di pinggir Pantai Mattirotasi. Di sana, rasa ini semakin dalam. Kelap-kelip lampu kapal dan perahu nelayan tidak kalah bersaing dengan sinar cinta yang kian benderang dalam hati. Hembusan angin laut di tengah hiruk-pikuk para pengunjung yang memadati berbagai tempat perbelanjaan di sepanjang jalan semakin menyejukkan rasa kagum ini padanya.
Wanita anggun ini terus bercakap-cakap seperti seorang guide yang sedang menceritakan berbagai hal di pasar malam tersebut dengan sangat detil. Asong dan Jamal hanya terkekeh dalam hati setiap melihat wajahku yang berubah merah jambu diterpa lampu cinta yang ada di sepanjang jalan Pasar Senggol. Saat duduk berenam di salah satu tempat makan gerobak kaki lima yang terserak di pinggir pantai, raga ini seolah merasa hanya duduk berdua dengan pujaan hati. Nasi goreng merah khas Parepare yang tersedia pun terasa lebih nikmat di lidah. Ah, ingin rasanya seperti ini tiap hari dan tentu saja dalam ikatan yang halal bersamanya. Namun, apa daya, itu mungkin hanya tinggal impian yang gagal tercapai.
***
Pelabuhan Nusantara tampak semakin ramai. Seperti musim-musim lebaran lainnya, jumlah penumpang yang mudik terus membengkak hingga ratusan ribu jiwa. Parepare semakin bercahaya di bawah sinar rembulan yang cekung seperti pisang. Hamparan pulau yang sekilas berbentuk seperti buaya dan ular di ujung mata mulai tersamarkan oleh warna malam yang pekat di sekitar samudera.
Aku menghentikan lamunan tentang kisah lalu yang baru saja memasuki episode perkenalan dengan gadis bernama Andi Putri. Kegalauan mulai menyelimuti pembuluh darah lalu mengantarkan degupan jantung yang membuatku sesak tanpa suara.
Kapal Tidar yang dinantikan belum kunjung tiba. Sudah hampir dua jam aku menunggu di tepi dermaga ditemani rembulan dan nyamuk yang bertebaran di angkasa. Aku melangkahkan kaki menuju gedung terminal pelabuhan. Di sana aku bisa duduk dengan tenang sambil beristirahat tanpa tersayat oleh angin yang membuatku panas dingin. Mata ini terpejam di antara hiruk-pikuk ribuan orang di dalam gedung yang mulai terasa pengap itu.
***
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa kalau maharnya semahal itu. Apakah bisa diturunkan sedikit saja?” tuturku dengan lembut di hadapan seorang laki-laki paruh baya beserta istri dan anaknya—Andi Putri.
“Lalu berapa yang bisa ko kasih ke anakku kalau begitu?” tanya laki-laki berkumis tebal dan berpeci itu dengan tegas, mengalun bersama logat Bugisnya.
Aku terdiam lalu Ibu si Putri menimpali, “Begitu memang kalau orang di sini. Sudah jadi tradisi mi itu yang melamar harus siapkan memang mi uang naik yang sekiranya cukup untuk akad nikah, resepsi sama lain-lainnya apalagi keluarga ta’[11]di sini masih tergolong bangsawan. Kalau tidak bisa menyesuaikan ya apa boleh buat.”
Ada sesuatu yang berkecamuk dalam dada seolah memaksa untuk teriak minta tolong namun tidak bisa. Bapak dan Ibuku pun merasa terpojok dengan syarat yang diajukan oleh Ayah si gadis yang ingin kupinang setelah dua bulan aku mengenalnya.
Ya Tuhan, mengapa proses lamaran ini begitu sulit? Seperti seorang penjual yang sedang bertransaksi dengan pedagang untuk membeli sebuah barang yang sangat didambakan. Akan tetapi, tawaran harganya melambung tinggi dari batas kemampuan membeli yang kumiliki. Apakah untuk melabuhkan raga dan jiwa bersama Putri harus ditebus dengan uang ratusan juta? Perut pun terasa perih bagaikan perut seseorang yang terlilit tumpukan hutang setinggi gunung. Aku tertunduk lesu.
Di kursi seberang, aku tahu Putri sangat kecewa dengan proses lamaran yang masih menggunakan berbagai syarat sebagai bentuk tradisi dari nenek moyang keluarganya. Dia tidak mampu mengangkat dagu apalagi menyanggah satu atau dua kata saja. Dia kemudian mengucap kata permisi lalu berjalan lemah menuju kamar yang berada di ruang belakang rumah ini. Mungkin saja dia sudah tidak sanggup beradu tawaran dengan kami yang masih terdiam di ruang tamu saat ini.
“Bagaimana kalau dua puluh juta? Itu sudah termasuk perhiasan emas sebagai mahar dan untuk keperluan lainnya. Kami kira itu sudah lebih dari cukup, Pak,” ujar Bapakku dengan lugas. Ucapannya spontan menghentakkan gendang telinga. Bapak memang mempunyai uang sebanyak itu. Akan tetapi, jumlah tersebut adalah uang tabungannya untuk berangkat haji yang telah dikumpulkan selama lima tahun dari hasil kerja kerasnya sebagai buruh di salah satu pabrik roti di Surabaya. Tertoreh rasa malu kepada Bapak yang bersedia merelakan harta dan waktunya untuk datang ke tanah perantauan ini demi menyaksikan anaknya yang sebentar lagi akan digiring ke pelaminan.
“Bapak?” sanggahku yang serempak dengan ibu.
Ai[12], maaf, belum bisa kalau begitu ji saja jumlahnya. Lebih baik cari yang lain saja karena keluarga ta’ di sini masih keturunan darah biru. Ndak enak kalau nanti na bilang tetangga ta’ sedikit ji uang naiknya,” balas Ayah Putri dengan gelengan kepala yang sangat mantap sesuai keyakinannya sejak awal.
Tampak puing-puing kaca basah melapisi dinding mata Ibu. Bapak pun sudah tidak kuasa lagi memberi penawaran selain jumlah yang baru saja dilontarkan. Spontan, tangan ini mengusap peluh yang terserak di kening dan wajah. Hawa panas kota Parepare seolah bermukim menjadi satu di tubuh. Aku menyerah lalu mencoba bangkit dari kursi hangat yang sudah dua jam menopang tubuh ini. Akhirnya, cintaku harus terlepas di tengah dinding-dinding kuning yang tersebar di rumah Putri.
Saat aku berpamitan dengan keluarganya, Putri tidak kunjung keluar ketika Ibunya memanggil. Mungkin dia tengah kecewa berat sebab aku tidak mampu memperjuangkan niat suci ini untuk membawanya ke jenjang yang lebih halal, terhalang oleh syarat cinta yang terlalu tinggi.
Saat berada di rumah kost, Ibu dan Bapak tiada hentinya menepuk pundakku, bermaksud memberikan sebongkah semangat dalam nyala lampu jiwa yang tengah redup. Aku hanya terdiam. Asong dan Jamal berusaha untuk menghibur tetapi aku tetap tidak bisa tersenyum sedikit saja.
Ketika Bapak dan Ibu sudah tertidur lelap, Jamal menghampiri aku yang masih duduk merenung di teras rumah.
“Masih ko ingat kah dulu pernah kubilang tentang itu sumur yang pernah kita tempati mandi dulu?” tanya Jamal dengan wajah yang ikut lesu bersamaku.
Aku tersentak dengan pertanyaan Jamal. Sebuah perkataan yang pernah disodorkannya tanpa mendapatkan balasan penasaran dariku.
“Ada apa toh memangnya dengan sumur itu, Mal?”
“Sumur tempat ta’ mandi dulu itu namanya Sumur Jodoh. Pas kubilang ke kamu sebentar lagi mungkin bakal ko temukan jodohmu sehabis mandi di situ, sebenarnya itu sumur punya legenda,” papar Jamal sembari melihat ke kiri atas, mengingat-ingat legenda yang pernah didengar dari gurunya ketika duduk di bangku sekolah dasar. Lalu ia lanjut berkata, “itu dulu ceritanya, ada putri Raja namanya Andi Tenri Uleng. Dia kena penyakit kusta terus orang tuanya bingung mau diobati ke mana. Terus, Andi Tenri Uleng pasrah terus diasingkan ke daerah Cempae. Dia bilang, kalau ada orang yang mau tolong i[13], kalau laki-laki yang tolong, na jadikan suaminya tapi kalau perempuan dijadikan sodara.”
Aku mulai mendengarkan legenda yang diceritakan oleh Jamal tentang sumur aneh yang berada di kelurahan Watang Soreang kota Parepare. Menyambung dari cerita yang disampaikan oleh Jamal, dari situlah kemudian ada beberapa orang yang ikut dalam sayembara demi menyembuhkan sang putri raja—Andi Tenri Uleng—dari penyakit yang dideritanya. Dua orang di antaranya adalah seorang Panglima kerajaan yang sempat menyukai dan disukai Andi Tenri Uleng. Satu lagi bernama Ahmad Patujuh yang merupakan warga Cempae, Watang Soreang. Panglima kerajaan memilih untuk mencari obat ke gunung sedangkan Ahmad Patujuh mengemukakan usul kepada raja dan permaisuri agar Andi Tenri Uleng diasingkan dan dibawa ke Cempae untuk diobati selama 40 hari 40 malam.
Singkat cerita, selama proses pengasingannya, selalu bermunculan seekor kerbau belang pada setiap hari Jumat pukul 09.00 dan sering menjilati tubuh sang putri. Kerbau tersebut adalah jelmaan Ahmad Patujuh yang selama ini telah mengobati sang putri dengan jilatannya. Ahmad Patujuh juga sering membawa Andi Tenri Uleng untuk mandi ke tepi laut juga meminumkan airnya. Anehnya air tersebut tidak asin. Itulah air yang ada di Sumur Jodoh tersebut yang merupakan arti dari julukan yang diberikan kepada Andi Tenri Uleng yaitu “Bujung Pattimpa Parakkuseng” yang bermakna sumur pembuka jodoh.
“Sebenarnya orang-orang banyak yang percaya sama itu mitos, Mas. Tapi, biasanya yang mandi sama minum air di situ lebih banyak cewek. Ada ji juga yang kenyataan, pas minum air sumur di situ terus tidak lama langsung dapat jodoh,” lanjut Jamal.
“Ah, jangan percaya sama mitos, Mal. Bisa syirik lama-lama,” ucapku yang sejenak melupakan permasalahan hari itu.
“Iya, tidak percaya ka’ ji juga cuma mungkin tidak sengaja juga pernah kubilang ke kamu kalau sebentar lagi dapat jodoh dan jodohmu itu mi si Andi Putri.”
Aku semakin tidak percaya dengan perkataan Jamal yang baru saja diucapkannya. Apakah itu pertanda bahwa setelah mandi di sumur tersebut lantas kemudian aku dipertemukan dengan Putri?
***
“Dek, bangun. Kapalnya sudah datang.”
Aku terkesiap. Kubuka mata lebar-lebar. Kulihat orang-orang di sekeliling berbondong-bondong menuju kapal besar yang bertengger di dermaga. Sepertinya aku tertidur sangat lama disertai mimpi buruk yang memutarkan kembali kisah cintaku bersama Putri. Mimpi yang hampir saja membuatku ketinggalan kapal. Untung saja ada seorang Ibu yang membangunkan.
Dengan mata yang terlihat merah karena kantuk yang luar biasa, aku berjalan menyusuri panggung dermaga. Desakan dari penumpang lain hampir saja membuatku terjatuh. Kukucek mata dan memperhatikan satu demi satu anak tangga yang menjulur hingga ke dek kapal.
Setelah berada di atas kapal Tidar, bayangan tentang Putri masih melayang-layang. Berkali-kali kucoba menggelengkan kepala dan berharap bayangan kelam itu segera sirna dari ingatan. Setelah menemukan satu tempat tidur di kelas Ekonomi, kemudian kurebahkan tubuh lunglai ini ke permukaan kasur berwarna hitam yang panjangnya sekitar dua meter lebih. Aku menghirup udara dalam-dalam. Namun, dada masih saja terasa sesak seperti masih ada sebuah paku kecil yang bersarang di sana. Ingatan pun kembali menghantui tanpa ampun.
Aku sadar, Putri. Kita bertemu bukan karena keajaiban sumur dan bukan pula karena aku telah membasuh sekujur tubuh dengan air dari lubang tak bernyawa itu. Aku dipertemukan denganmu semata-mata atas kehendak Tuhan, Sang Pemberi Cinta.
Tidak pernah terlintas dalam jeruji pikiran untuk percaya pada mitos yang termaktub dari sumur aneh itu. Aku hanya yakin pada keajaiban cinta yang selama ini menyelipkan warna-warni rasa di dada. Andai dongeng itu benar-benar nyata dan mampu melekatkan jemari kita dalam lingkar suci pernikahan ibarat Andi Tenri Uleng dan Ahmad Patujuh. Namun, bisa saja saat ini aku berkata bahwa amarah ini justru menyala-nyala, memaki sumur tua yang memisahkan pautan hati kita. Tiap mililiter tetesannya memporak-porandakan pondasi mental dan kewibawaan saat menyampaikan maksud suci ke hadapan Ayah dan Bundamu.
Kamu tahu, aku tidak mampu menodongkan ratusan juta keeping emas seperti yang Ayahmu perdengarkan ke dinding telingaku hari itu. Maafkan aku. Sungguh tidak sanggup bila harus menjual hidup dan harta orang tua demi memperoleh jumlah sebesar itu dalam waktu singkat. Hanya derai bulir bening dari matamu yang kusaksikan tanpa harus menengok dirimu yang berlari menuju kamar saat itu. Hal itu membuat kita hancur berlembar-lembar.
Tidak sedikit pun ada rasa manis dari perjuangan cinta terhadapmu. Tidak juga rasa asin seperti bentangan laut dari Teluk Pare yang telah menjadi saksi bisu cinta ini. Yang ada hanyalah rasa hambar—tawar—sebagaimana rasa yang muncul dari sumur aneh yang orang nobatkan sebagai sumur pembawa berkah berupa jodoh alias Sumur Jodoh itu.
Sekarang sudah tamat semua episode tentang diriku dan kamu. Kapal ini akan berlayar menuju peraduanku dahulu. Ya, lebih baik kembali saja ke kolong langit tempat di mana aku berasal. Yakin saja, kamu akan bahagia bersama jodoh pilihan Ayahmu yang akan mampu memberi ratusan juta bongkahan emas. Bukan aku, seorang jodoh sesaat yang justru mengubah manisnya cinta menjadi tawar bagai rasa sumur ajaib—Sumur Jodoh—di kota Parepare ini.
Aku mencintaimu, Putri. Aku mencintaimu seperti mencintai kota pesisir yang teduh ini. Namun, maafkan bila memang mitos yang berkembang di kota ini benar-benar nyata. Mungkin, tidak seharusnya aku mandi dan minum di sumur itu. Tidak seharusnya pula kita bertemu di lorong hotel tempatku bekerja dulu. Tidak juga aku yang datang melamar meskipun hanya dua bulan berkenalan denganmu. Semua sirna, semua telah kurelakan.
Ah, mungkin aku juga sebaiknya berterima kasih dengan sumur itu. Sumur Jodoh yang mempertemukanku dengan dirimu, Putri. Namun, cintaku tidak lekang seperti mitos Sumur Jodoh yang selalu dikenang.
***

arti kata dalam bahasa daerah yang ada pada percakapan

Mas Soleh, ayo dio ki’ jolo’[1] ke sumur. Barusan mati air di sini. Tidak biasanya mati begini,” (Kita mandi dulu yuk ke sumur, tumben air di sini mati, nggak biasanya mati begini)

Tenang meki’ saja[2]. Banyak ji[3] orang yang sering mandi di sini. Tidak asin ji airnya,” (Kamu tenang saja, banyak kok orang yang sering mandi di sini, airnya nggak asin kok)

Eh, kamu tahu ga[4] tadi itu sumur? Haha, nanti ada kapang[5] cewek yang dekati ko[6] (eh kamu tahu sumur tadi gak? haha jangan-jangan ntar ada cewek yang bakal deketin kamu)

Maaf na[7]. Tidak sengaja ka’[8] (maaf ya aku nggak sengaja)
Hellondak apa-apa jeki’[9], Mas (hello, Mas nggak apa-apa kan?)

Sabar meki’, Mas. Ada ji nanti itu jodohmu.” (Mas sabar aja, nanti kamu bakal dapat jodoh kok)

Apel pagi ki’ hari ini. Kemarin dikasih tahu ka’ sama Bu Printje. Sorry, Mas. Lupa ka’ kasih tahu ko semalam karena sudah tidur meki’ (kita apel pagi hari ini, kemarin dikasih tahu sama Bu Printje, maaf Mas, aku lupa kasih tahu Mas karena semalam Mas udah tidur)

Kayaknya lebih banyak daripada tamu sing teka iki[10],” (kayaknya lebih banyak daripada tamu yang datang deh ini)

“Begitu memang kalau orang di sini. Sudah jadi tradisi mi itu yang melamar harus siapkan memang mi uang naik yang sekiranya cukup untuk akad nikah, resepsi sama lain-lainnya apalagi keluarga ta’[11]di sini masih tergolong bangsawan. Kalau tidak bisa menyesuaikan ya apa boleh buat. (di sini emang udah begitu peraturannya, udah jadi tradisi kalo yang datang melamar itu harus menyiapkan uang pangkal yang sekiranya cukup untuk akad nikah, resepsi dan lainnya, apalagi keluarga kita di sini masih tergolong bangsawan, kalau nggak bisa menyesuaikan dengan tradisi ini ya apa boleh buat)

Ai[12], maaf, belum bisa kalau begitu ji saja jumlahnya. Lebih baik cari yang lain saja karena keluarga ta’ di sini masih keturunan darah biru. Ndak enak kalau nanti na bilang tetangga ta’ sedikit ji uang naiknya, (aduh maaf, kalau jumlahnya cuman segitu lebih baik cari yang lain aja karena keluarga kita di sini bangsawan, nggak enak kalau ada tetangga yang ngomong kalo uang pangkal untuk nikahnya cuman dikit)

Dia bilang, kalau ada orang yang mau tolong i[13]kalau laki-laki yang tolong, na jadikan suaminya tapi kalau perempuan dijadikan sodara. (dia bilang kalo ada orang yang mau nolong, kalo laki-laki bakal dijadikan suaminya tapi kalo perempuan bakal dijadiin saudaranya)

Iya, tidak percaya ka’ ji juga cuma mungkin tidak sengaja juga pernah kubilang ke kamu kalau sebentar lagi dapat jodoh dan jodohmu itu mi si Andi Putri (iya aku juga nggak percaya, tapi mungkin ini semua karena aku pernah nggak senagaja ngomong ke kamu kalo bakal dapat jodoh setelah habis mandi di sumur itu dan si Andi Putri itulah jodohmu)


5 comments:

  1. jempol buat Emma. Aya selalu suka tulisan Emma. Diksi yang Emma pilihkan selalu indah. Tulisan ini puitis lho. Beneran. Nyastra banget. Trus juga padat akan isi. Biasanya kisah cinta hanya akan begitu-begitu saja tapi Emma berhasil banget bikin kisah cinta yang keluar dari batas "biasa-biasa saja". Aya juga suka ide Emma menggabungkan kisah cinta dengan mitos yang tersedia, meski mitos tersebut memang berkisah tentang cinta... ♥ ♥ ♥

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banget Aya atas komentarnya, alhamdulillah kalau suka, tapi naskah ini dulu gak lolos di PlotPoint hehe, yaah mungkin karena cerita "daerah terpencil" itu gak banyak yang suka. orang-orang lebih suka sama cerita berlatar negara luar yg keren, indah. hmm sedih sih awalnya cerita daerah kecil masih kurang tereksplor tapi tetep senang nulisnya^^

      Delete
    2. Hmmm, Aya suka. Cuma Aya rada bingung karena bahasa yang dipake. ^_^ Jadi selama membaca Aya ngga ngerti sepatah dua patah kata, menahan ketidak mengertian itu sampe ketemu artinya di bawah sekali. kalau dibuat dalem kurung boleh ga ya??? Aya beberapa kali baca, cerpen yang pake latar negara atau daerah lain, untuk kosakata yang seperti di atas, dibuat terjemahannya di dalam kurung), mungkin itu bisa mengatasi sedikit kesulitan untuk memahami apa yg dimaksud.. TAPI boleh ngga ya??? ^^,

      Overall, Aya suka... Ajarin dooong :p

      Delete
    3. oh hehehe iyya boleh banget Aya, gak kepikiran soalnya lgsung copast dari ms word, nanti kuperbaiki lagi

      Delete
    4. sudah diperbaiki , kayak gini kah dalam kurung maksudnya? kutaruh di bawah sambil kutulisa ulang percakapan yg pake logat daerah

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.