Saturday, March 16, 2013

GAGAP, GERAK REFLEKS DAN TUNARUNGU

Hari ini lanjut lagi ya. Masih ada PR lagi dari ngajar kemarin yang belum puas terjawab.

Baiklah langsung aja dibahas.

A. Kemaren ada yang nanya yang intinya terkait gangguan bahasa dan bicara. Ditinjau dari psikologi faal, mari kita telaah dulu ya di mana sumber kerusakan yang menyebabkan gangguan tersebut.

 

Jawabannya adalah adanya gangguan atau kerusakan pada area Broca. Ini reviewnya:

Paul Broca, seorang dokter yang menemukan pusat bicara di otak yang kemudian diberi nama “pusat Broca”. Penelitiannya terhadap pasien di rumah sakit jiwa yang sulit bicara namun ckup cerdas, ia dapat mendengar dan berkomunikasi melalui isyarat. Kemudian pasien tersebut meninggal dan Broca mengadakan autopsi.

Dari hasil autopsi ditemukan adanya kelainan di suatu tempat di otak yaitu “frontal convultion” (benjolan-benjolan bagian depan) yang ketiga pada cerebral hemisphere sebelah kiri. Lokasi di otak ini kemudian ditetapkan Broca sebagai pusat bicara. Sehingga bila terjadi gangguan di tempat ini, maka orang tidak dapat berbicara dan disebut menderita aphasia.

Perlu diketahui bahwa aphasia tidak sama dengan bisu. Orang bisu biasanya tidak dapat mendengar sehingga tidak dapat pula berbicara. Sedangkan penderita aphasia tidak menderita apapun baik pada alat-alat pendengarannya maupun pada alat bicaranya. Apahasia juga tidak sama dengan stutterng (gagap), alexia (gangguan dalam membaca) dan agrafia (gangguan dalam menulis).

Lalu, coba saya jawab pertanyaan berikutnya yang kemaren ditanyai sama mahasiswa.

Apa penyebab terjadinya gagap? Kalau diperhatikan dengan saksama, gagap terjadi karena adanya hambatan bunyi suara yang keluar dari rongga mulut. Di mana pita suara tidak dapat bergetar secara sempurna karena adanya pemblokiran udara dari rongga dada dan perut kita saat bicara. Begitu juga udara yang tersendat-sendar secara tidak beraturan keluar dari rongga dada dan perut akan menghasilkan suara yang tersendat. Adapun faktor penyebab timbulnya gagap menurut penelaahan para ahli adalah sebagai berikut:

  • Faktor keturunan: Sebagian ahli mengemukakan bahwa gagap merupakan penyakit keturunan. Di mana penderita gagap sudah membawa sifat turunan pada sistem sarafnya yang membuat penderita rentan terhadap perkembangan kesulitan berbicara. Penyakit gagap pada anak dapat muncul ketika anak mengalami suatu gejolak ketegangan emosional di lingkungan yang membuat dirinya merasa tidak nyaman, tercekam oleh rasa khawatir atau cemas saat berbicara.
  • Faktor neurologis: Menutu sebagian besar ahli neurologis berpendapat bahwa adanya gangguan saraf menyebabkan gangguan sistem koordinasi dari fungsi motorik untuk bicara. Gangguan saraf ini dapat muncul akibat adanya luka pada otak sebagai akibat kesulitan dalam proses kelahiran anak tersebut. Hal lain, anak menjadi gagap karena telah menderita infeksi yang mengganggu sistem saraf secara serius, sehingga pada saat itu telah terjadi proses penurunan kemampuan fungsi saraf secara menyeluruh. Anak pun menjadi membawa sifat gagap. Apabila anak dalam kondisi yang melemah, maka akan terpicu perkembangan gagapnya.
  • Faktor psikologis: Gagap dapat terjadi karena adanya konflik kejiwaan atau konflik emosional yang melanda seseorang sehingga merasa tertekan. Anak mengalami kegagalan dalam menetralisir gejolak emosional yang menekan perasaannya, sehingga mengganggu proses pengucapan kata-kata saat bicara. Faktor penekan yang menimbulkan konflik emosional anak dapat terjadi akibat suatu paksaan, desakan atau pengaruh lingkungan yang membuat dirinya tidak merasa nyaman, tegang atau panik. Dengan kata lain, ketika anak gagap diakibatkan oleh kejadian tertentu yang sangat menekan. Hal ini bisa saja dipicu akibat pengekangan orangtua terhadap anak, tidak memperbolehkan anak untuk berargumen, sikap otoriter yang terlalu berlebihan, konflik yang dialami dari lingkungan pergaulannya, kecemasan saat disuruh membaca di depan kelas secara mendadak dan sebagainya. Nah, kesulitan di penderita gagap akan semakin berat bila dia mulai merasakan keganjalan dalam hatinya seperti perasaan malu, rendah diri atau si penderita terlalu membanding-bandingkan kondisinya dengan orang lain yang dihadapinya ketika bicara. Paksaan, ancaman, desakan dan bentakan dapat merangsang atau memicu ketegangan emosional pada anak. sehingga mengganggu kordinasi sistem saraf bicara pada anak.

B. Kemaren juga ada yang nanya, gimana sih gerak refleks itu. Misal: ketika disodorin api ke tangannya, maka refleks tangan akan menghindar akibat panas yang ditimbulkan api. Nah, gimana pendapat para ahli mengenai gerak refleks?

Jawabannya:

Marshall Hall, seorang dokter di bidang faal mengemukakan bahwa refleks tergantung pada saraf di tulang punggung/spinal cord dan tidak dipengaruhi oleh otak. Hall mengemukakan ini berdasarkan hasil eksperimennya terhadap seekor ular yang sudah diputuskan saluran saraf tulang belakangnya pada suatu tempat tertentu. yaitu antara tulang punggung kedua dan ketiga. Dengan demikian, tidak ada lagi saluran saraf menuju otak. Sejak saluran saraf itu diputus, ular tersebut tergeletak diam di atas meja percobaan tanpa gerak, kecuali gerakan kecil di kepala sesekali. Namun, ketika kulit ular dirangsang dengan sesuatu, maka tubuh ular itu akan bergerak hebat, menggelepar dalam waktu yang lama.

Dari penelitian itulah, Hall menegaskan bahwa ada empat macam gerakan tubuh:

a. Voluntary movement: tergantung pada kesadaran dan kegiatan otak (cerebrum).

b. Respiratory movement: tidak atas dasar kehendak dan tergantung pada pusatnya di sumsum tulang belakang penyambung (medulla oblongata).

c. Involuntary movement: tergantung dari kepekaan otot-otot terhadap rangsangan.

d. Gerak refleks: tergantung hanya pada jaringan saraf dalam tulang punggung (spinal cord), tidak tergantung pada otak dan tidak juga bergantung pada kesadaran.

Pendapat Hall mendapat pro dari Lotze (ahli filsafat) yang mengatakan bahwa gerak refleks adalah gerakan yang tidak disadari. sebab walaupun refleks itu bermanfaat bagi makhluk hidup yang bersangkutan untuk menyesuaikan dirinya pada situasi tertentu, namun refleks tidak berfungsi pada situasi bari yang belum dikenali oleh organisme.

C. Terus mengenai bisu. Lebih diperluas lagi, mungkin maksud mereka itu adalah tunarungu. Apa dan mengapa tunarungu bisa terjadi?

Jawaban:

Pengertian Tunarungu Menurut Dudung & Sugiarto (1999) tunarungu adalah istilah yang menggambarkan keadaan kemampuan dengar yang kurang atau tidak berfungsi secara normal sehingga tidak mungkin lagi diandalkan untuk belajar bahasa dan wicara tanpa dibantu dengan metode dan peralatan khusus. Tunarungu berpengaruh terhadap seluruh perkembangan anak sebagai individu. Keadaan itu mempengaruhi perkembangan mental, kepribadian, emosi dan sosial si anak

Ada beberapa pengaruh yang terjadi terhadap perkembangan anak tunarungu, yaitu:
1. Ketunarunguan mengakibatkan anak tidak mendengar bunyi secara umum, sehingga menyebabkan:
a). Kehidupan perasaan kurang berkembang dan tidak berjenjang, di satu pihak sukar dirangsang, tetapi di pihak lain dengan mudah menjadi berkelebihan.
b). Jalan pikirannya terlalu konkret dan sukar berpikir secara abstrak.
c). Sukar masuk ke dalam situasi perasaan orang lain. Semuanya disebabkan oleh bunyi-bunyi di lingkungannya tidak memberi pengaruh kepadanya.


2. Ketunarunguan mengakibatkan anak tidak mendengar bunyi bahasa, sehingga menyebabkan anak tunarungu yang dididik, terutama secara visual kinestesis tanpa mengikutsertakan unsure auditif akan mengalami kemiskinan dalam perkembangan bahasanya. Intonasi dan bunyi bahasa yang tidak dapat ditangkap lewat pendengaran sangat menghambat perkembangan bahasanya sebab hakikat bahasa adalah bunyi, nada, dan irama, bukan gerak bibir atau gerak lidah.

2. Kriteria Tunarungu Menurut Dudung & Sugiarto, (1999) terdapat beberapa kriteria tunarungu, yaitu :


a). Berdasarkan Tingkat Kehilangan Kemampuan Dasar Tunarungu dapat dibagi atas tulis dan kurang dengar atau pekak. Golongan tuli adalah mereka yang kehilangan kemampuan dengar 90 decibel (dB) atau lebih, sedangkan golongan kurang dengar adalah mereka yang kehilangan kemampuan dengar kurang dari 90 dB. Golongan kurang dengar ini masih dapat dibedakan atas kurang dengar ringan (kehilangan kemampuan dengar antara 30 sampai 50 dB), kurang dengar sedang kehilangan kemampuan dengar antara 50 sampai 70 dB), dan kurang dengar berat (kehilangan kemampuan dengar antara 70 sampai 90 dB).


b). Berdasarkan Letak Kerusakan  Ditinjau dari letak atau lokasi kerusakan dapat dibedakan atas tunarungu konduktif dan tunarungu perspektif. Tunarungu konduktif adalah jenis ketunarunguan sebagai akibat dari kerusakan telinga bagian luar dan bagian tengah, sedangkan jenis ketunarunguan perspektif akibat kerusakan telinga bagian dalam sampai syaraf-syaraf indra pendengaran.


c). Berdasarkan Saat Terjadinya Kehilangan Pendengaran  Tunarungu dapat terjadi pada seseorang sebelum orang itu memiliki bahasa, dan di antara kedua masa itu. Bila tunarungu itu terjadi pada saat seseorang belum memiliki bahasa disebut tunarungu pralingual dan bila tunarungu terjadi pada sesorang yang telah berbahasa disebut tunarungu postlingual, dan bila terjadi di antara kedua hal itu disebut tunarungu interlingual

d). Berdasarkan Penyebabnya  Ditinjau dari faktor penyebabnya dapat dibedakan atas tunarungu genetis (bawaan), prenatal (sejak dalam kandungan), natal (pada saat kelahiran), dan postnatal (setelah kelahiran).

3. Karakteristik Tunarungu  Menurut Prabowo & Puspitawati (1997) karakteristik dapat ditinjau dari perkembangan sosial, intelegensi, pendidikan, bahasa, dan bicaranya.
a). Perkembangan Sosial  Umumnya mengalami hambatan komunikasi dan juga hambatan belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan intelektual, hal ini menyebabkan rendahnya kemampuan untuk mengatasi dorongan/impuls karena ada kesulitan dalam melakukan interaksi sosial (yang umumnya dilakukan melalui kemampuan berkomunikasi), kurang mandiri, toleransi terhadap frustasi rendah, sangat egosentris karena komunikasi umumnya hanya dapat dilakukan dengan diri sendiri, menjadi penuntut dan bersikap actingout(melebih-lebihkan)
b). Perkembangan Intelegensi  Populasi pada umumnya mengikuti kurve normal tetapi sebagian besar tetap normal selama tidak mengalami kerusakan otak
c). Perkembangan Pendidikan  Pendidikan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing (misalnya ada yang dapat ditolong dengan menggunakan hearing aid)
d). Perkembangan Bahasa  Nampak pada penguasaan perbendaharaan kata (umumnya lebih menguasai yang konkrit dan produksi kalimatnya pendek)
e). Perkembangan Bicara  Umumnya cara bicara tidak jelas (baik artikulasi, intonasi maupun katakata sengau, contohnya m, n, ng) Untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dapat dilakukan dengan cara:
-. Sign language, dengan gesture tangan;
- Speech reading, belajar mengucapkan atau melafalkan kata-kata dan membaca gerakan bibir;
- Taction dan Kinaesthetic Feedback, dengan melatih indera peraba (misalnya  dengan mengenal getaran-getaran di leher yang dihasilkan saat melafalkan  suatu kata);

- Formal Speech Training Untuk penderita yang memiliki kemungkinan belajar bicara anak bahwa ia sangat berharga dan pantas mendapatkan perlakuan yang sebaik-baiknya. 

Menurut Dudung & Sugiarto (1999) tunarungu adalah istilah yang menggambarkan keadaan kemampuan dengar yang kurang atau tidak berfungsi secara normal sehingga tidak mungkin lagi diandalkan untuk belajar bahasa dan wicara tanpa dibantu dengan metode dan peralatan khusus.. Tunarungu berpengaruh terhadap seluruh perkembangan anak sebagai individu. Keadaan itu mempengaruhi perkembangan mental, kepribadian, emosi dan sosial si anak. Ini tidak terlalu mudah untuk kita pahami karena kita mempunyai pancaindra yang sempurna.  Apabila dalam keluarga terutama pada ibu ada penerimaan, maka akan dapat membantu dalam pengasuhan dan akan mendukung perkembangan anak. Terlebih penerimaan ibu, semakin kuat perasaan keibuan pada seorang wanita, maka semakin besar kemampuan untuk mencurahkan kasih sayang dan cintanya kepada anaknya, (Ibrahim, dalam Basri 2002).


Pada ibu yang memiliki anak tunarungu untuk mempercepat proses penerimaan terhadap anaknya yang memiliki gangguan tunarungu yaitu dengan melakukan perubahan dari menghayati hidup dengan tidak bermakna menjadi hidup lebih bermakna. Komponenkomponennya yaitu: pemahaman-diri (selfinsight), makna hidup (the meaning of life),
pengubahan sikap (changing attitude), keikatandiri (self-commitment), kegiatan terarah (directed activities), dukungan sosial (social support). Bastaman (1996)

 

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.