Tuesday, April 16, 2013

BILA AKU MENIKAH NANTI

Tadi siang kubaca lagi buku Puzzle Jodoh dari bunda Ida Fauziah, bunda sekaligus sahabat penulisku yang kukenal melalui FP Puzzle Jodoh. Beliau sangat baik, ramah dan tidak segan untuk memberikan support atau pun petuah padaku tentang kepenulisan. Sudah ada 3 kali tampaknya, aku membaca buku tersebut.

Sorenya, aku jadi kepikiran dengan seorang kawan SMA-ku yang baru saja melangsungkan pernikahan Ahad kemarin.

Dari buku Puzzle Jodoh dan ingatan terhadap beberapa kawan SMA yang telah menikah, hatiku membersitkan sesuatu. Bagaimana bila aku yang ada di posisi mereka? Bagaimana jika aku menikah nanti?

Menikah? Kata yang senantiasa menghantuiku sejak semester akhir perkuliahan. Yaaaah, itu karena ulah dari teman/sahabatku. Mereka terus menggonggong, mempertanyakan kapan aku akan menikah? Kapan aku akan menyusul mereka? Bla bla bla..... Sederet pertanyaan itu membuatku merancang sendiri impian yang mungkin saja perlu dan akan kulakukan bila menikah nanti. Apa saja rencana dan impian itu?



Pertama, setelah menikah nanti, tampaknya aku akan menggunakan manajemen waktu ketika kuliah dulu.

Aku ingin cerita sedikit. Di mana dulu saat aku berada di lingkungan kontrakan akhwat, bukan bermaksud pamer tapi aku sering dianggap aneh, biasanya teman-teman akan bangun pada jam 2 atau 3 langsung bersiwak dan shalat malam. Namun, berbeda denganku. Karena kamar mandi yang berfungsi sisa satu unit, secara tidak sadar, aku memenej waktu dengan bangun lebih awal dibanding belasan teman yang ada di kontrakan tersebut. Kalau biasanya mereka bangun jam 3, maka aku sering terbangun sebelum jam tersebut. Pada jam itu, yang kulakukan adalah langsung mandi, membersihkan diri, membersihkan kamar kemudian barulah mengerjakan shalat malam.

Awalnya aku juga merasa aneh, biasanya saat masih di Sawojajar, aku akan bangun minimal jam setengah 4. Tapi, lama-kelamaan setelah pindah ke kontrakan, secara otomatis, mungkin karena sebab teknis (keterbatasan jumlah kamar mandi itu kali ya) makanya aku secara tidak sadar bangun sangat cepat.


Semua teman kontrakan kadang menanyakan apakah aku tidak merasa kedinginan, dengan hawa daerah Jetis, DAU yang cukup bisa menggigilkan siapa saja sih menurutku. Awalnya, aku memang kedinginan, sering masuk angin karena mandi terlalu dini, tapi lama-kelamaan, merutinkannya, tidak membuatku sakit. Aku berangsur membaik. Beberapa teman, adik-adik hingga senior di kontrakan pun mulai meniru kebiasaanku. Alhasil, yang tadinya aku bebas mandi lebih dulu tanpa antre panjang, mulai deh diberlakukan sistem nomor antrean, hihihi.

Ya, ketika aku menikah nanti, aku akan menggunakan sistem manajemen waktu seperti itu. Mandi lebih awal, kemudian mengajak suamiku untuk shalat malam berdua (aamiin, insyaallah). Setelah shalat subuh, aku akan masak terlebih dahulu baru setelah itu bersih-bersih dan bila nanti aku bekerja, maka sebisa mungkin aku ingin tetap membagi waktu dengan baik untuk suamiku tercinta nanti (insyaallah). ^_^

Kedua, untuk area keuangan. Justru saat sekolah hingga kuliah dulu, aku merasa sering jebol alias boros. Boros dalam artian itu simpananku, uang tabunganku sendiri maupun yang diberikan orangtua tiap bulan sering kupakai untuk kepetingan kuliah, fotokopi tugas dan bla bla bla. Selain itu, boros karena aku sering jajan. Karena aku punya maag, aku tidak bisa membiarkan perutku kosong dalam waktu lama (kecuali bila puasa) ditambah jika sedang mengerjakan tugas yang banyaaak dan rumit, maka aku pun membutuhkan suplai energi yang lebih. Karena itu, uangku banyak kuhabiskan untuk jajan (meski jajannya mencari yang sehat), atau bahkan wisata kuliner dengan temanku.

Tapi, setelah selesai wisuda, entah mengapa aku merasa lebih irit dibanding sebelumnya. Aku mulai bekerja dan menyesuaikan dengan keadaanku. Aku tahu, aku belum mampu mandiri sepenuhnya karena penghasilanku bisa dibilang tidak setiap bulan (ya, karena bekerja sebagai dosen honor, aku akan menerima gaji beberapa bulan setelah bekerja), tentunya malah aku yang lebih banyak pengeluaran untuk membeli keperluan bekerja. Namun, alhamdulillah, aku merasa lebih mampu mengontrol diri. Aku jarang jajan karena di rumah selalu ada buah-buahan yang bisa kumakan kala lapar menghadang atau bahan makanan lain yang bisa kuolah sendiri. Aku juga menghemat pengeluaran untuk transportasi. Berhubung kampus tempatku mengajar tidak jauh, jadi aku bisa jalan kaki. Meski lelah, anggap saja sekalian cardio. Aku juga jarang mau keluar rumah bila tidak ada kepetingan apapun.

Saat ini, aku juga sedang belajar banyak hal tentang keuangan. Meski belum sepenuhnya paham dan bukan termasuk orang yang menyukai dunia ANGKA, tapi aku akan berusaha untuk mempelajarinya.

Ketika menikah nanti, aku akan berusaha untuk mengatur keuangan dengan baik. Di samping itu, mungkin saja nanti aku akan meminta bantuan suami. Bila suamiku adalah seseorang yang pandai dalam bidang finansial atau seorang pengusaha, tentunya aku akan belajar banyak darinya dan aku perlu mengimbangi diri.

Ketiga, untuk ini, haha, spontan saja. Aku ingin punya tiga atau empat anak. Aku ingin menjadi supermom. Bila aku bekerja, aku ingin bisa membagi waktu untuk keluarga dan anak-anakku. Aku akan tetap melanjutkan passionku di bidang kepenulisan, aku juga ingin membagi waktu dengan bercengkerama dengan anak-anakku, dengan suamiku, sepadat apapun schedule kami masing-masing nantinya. Aku ingin mengamati sendiri perkembangan anak-anakku dan mengamalkan ilmu psikologi perkembangan yang pernah kuperoleh saat di bangku kuliah. Hehe.... Aku juga ingin mengoptimalkan apa yang menjadi kecenderungan hobi yang akan dipilih oleh anak-anakku, aku pun ingin melihat mereka bisa belajar banyak hal terutama memberikan asupan "religi" pada mereka. Aku berharap dengan punya tiga atau empat anak, aku ingin, ada di antara mereka yang bisa berprofesi sebagai dokter, pejabat, dosen, atau apapun itu tapi mereka juga bisa memiliki passion sebagai entrepreneur, sociopreneur atau writerpreneur di bidang mereka masing-masing. Aku ingin melihat mereka berhasil dan menjadi anak yang salih dan salihah, aaamiiin,,,,

Keempat, ini adalah hal yang sangaaaaaaaaat jarang kulakukan. BERDANDAN. Dulu, aku tomboi, punya teman banyakan laki-laki semua. Setelah kuliah, aku mulai berangsur "membaik", berusaha mengenakan atribut wanita tulen, yang tadinya suka pake celana jeans, akibat buruk karena pemakaian jeans itulah yang akhirnya membuatku beralih dan rutin mengenakan rok, gamis dan hal-hal feminim lainnya. Kalo untuk perawatan, akulah orang yang sangat tidak suka ke salon. Bila rambut kepanjangan, aku hanya akan meminta Mama memangkas rambutku di rumah meski agak berantakan pangkasannya, hihihi. Namun, untuk perawatan wajah, alhamdulillah membaik.

Ketika menikah nanti, sebisa mungkin, yang tadinya nggak suka dandan, aku akan memperhatikan dan memilah-milih pakaian mana yang menarik dan tentunya disukai oleh suamiku nanti. Aku tidak ingin membuat suamiku jenuh. Aku ingin berdandan, setiap hari untuknya. Pake wewangian yang lembut, bila perlu aku akan ke salon (tapi gak rutin yaah, karena aku tak suka menghabiskan waktu terlalu lama di salon). Aku akan berdandan dengan memilih produk yang alami agar awet muda juga tentunya, hehehe :D.

Kelima, komunikasi yang efektif. Meski aku ini kadang bisa sangat pendiam dan bisa sesekali ceria juga, tapi ketika menikah nanti, sesibuk apapun aku dan suamiku kelak, aku ingin kami tetap menjaga jalinan komunikasi yang efektif, mendiskusikan apapun yang penting untuk dibahas meski hanya satu atau dua menit, tidak perlu setiap saat harus telpon dan sms. Aku juga ingin belajar menyisipkan kata-kata manis dalam berkomunikasi (insyaallah yaah), memuji suami apapun kondisinya.

Keenam, ketika menikah nanti, aku ingin lebih bisa lagi mengontrol emosi. Terkadang, aku bisa jadi bete terhadap hal sekecil apapun. Bila melihat hal yang tidak kusuka secuiiiiiil saja, seperti debu masih ada yang nempel, itu juga memicu emosi. Semoga ketika menikah nanti, aku bisa mengontrol emosi dengan lebiiiiiih baik lagi, tidak membesarkan hal sepele dan tidak menyepelekan hal yang besar.

Ketujuh, aku ingin mandiri. Suami sibuk, aku tidak ingin merepotkannya. Aku ingin mengantar anak ke sekolah sendiri dan melakukan pekerjaan rumah sendiri. Tapi, bila ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan memakai tenaga bantuan PRT atau bantuan suami, yaaaa itu lihat nanti. Misal, kalo hamil an nggak boleh kerja terlalu berat, gak papa kan yah pake jasa pembantu atau minta tolong suami? hehehe.... Tapi, sebisa mungkin aku ingin menuntaskannya sendiri.

Kedelapan, ketika menikah nanti, semoga sesibuk apapun rutinitas masing-masing, kami tetap bisa menghabiskan weekend bersama. Hari Ahad adalah waktu yang tepat untuk "pacaran". Aku akan mengajak suamiku jalan ke suatu tempat, tidak harus mahal yang penting bisa menentramkan hati. Itu bisa dengan mengajaknya ke taman kota, wisata kuliner ke kaki lima asalkan yang menunya sehat atau bisa juga mengajaknya untuk pergi kajian keislaman bersama ^_^. Selain itu, sesekali, aku ingin nanti kami bisa nonton berdua, melancong ke beberapa destinasi wisata berdua ataupun bersama anak-anak.

Kesembilan, ketika menikah, tentu kami akan mulai saling mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka, aku akan berusaha untuk bisa menerima semua atribut yang melekat di diri suamiku kelak. Aku ingn kita bisa pacaran setiap hari, saling pedekate, menanyakan hal-hal yang disukai ataupun yang tidak disukai dan tidak harus memaksa untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Seperti halnya aku tidak akan pernah mau dan tidak suka mengonsumsi makanan mengandung daging, khususnya sapi dan kambing atau sejenisnya. Nah, semoga kekuranganku dengan tidak bisa memasak menu itu bisa dimaafkan yaaah, habisnya mencium bau daging saja sudah membuatku hampir pingsan apalagi harus memasak dan memakannya.

Kesepuluh, apa lagi yaaah??? Heuuum, ketika menikah nanti, aku ingin kami berdua bisa mengadakan acara kumpul bersama keluarga besar setiap sebulan sekali atau beberapa bulan sekali, mengunjungi sanak saudara, mengunjungi mertua masing-masing, saling memberikan surprise/hadiah agar bisa semakin mempererat ikatan antara kami, bisa mewujudkan impian bersama, bisa menyelesaikan masalah dengan tenang tanpa kekerasan, bila salah satu di antara kami marah semoga bisa saling mencairkan satu sama lain, bisa menghadapi kemelut bersama, saling support apapun kebutuhan dan keinginan pasangan, tidak menceritakan permasalahan di luar "rumah", tiak merepotkan orangtua, bisa belajar lagi dan terus belajar tentang apapun sampai akhir hayat bisa terus menemani dan menjaga.

Meski masih banyak yang tersirat, tapi semoga kesepuluh poin ini bisa terealisasikan ketika aku menikah nanti. Akan ada banyak hal yang mungkin tidak bisa kutuliskan dan belum dapat kuketahui dari semua yang kutulis di sini. Namun, semoga itu semua bisa menjadi pelajaran untuk aku dan orang-orang yang kusayangi. Namun, itu semua kukembalikan pada Allah. Bila di dunia aku diizinkan untuk menikah, suatu nikmat yang sangat sangat tak terhingga bagiku. Tapi, bila usiaku justru mendahului semua impian ini, maka aku berharap, kelak bila tiba masaku untuk hidup di akhirat, semoga aku pun bisa seperti manusia di dunia, bisa memiliki pasangan. :))

Oh iya, aku juga berharap para sahabat baikku, sanak saudaraku yang saat ini telat menikah atau sangat ingin menikah, semoga impian mereka terkabul. Semoga, aamiin.

2 comments:

  1. AIIIIIH subhanallah, Aya seneng dan termotivasi banget baca ini... In Syaa Allah ini keinginan setiap muslimah ^_^ Semoga Allah berikan yang terbaik yaaa... Undangannya jangan lupa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin aamiin ya rabbal alamin.... ^___^ insyaAllah, undangannya insyaallah dikabarkan melalui blog hehehehe

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.