Wednesday, April 24, 2013

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (3)

Saat mengajar, saat menjadi pengajar, terkadang kita hanya tahu bahwa kita harus menampilkan performansi dan responsibilitas yang terbaik pada mereka. Mengajar mahasiswa memang tidak bisa disamakan dengan mengajar anak TK. Tapi, siapa bilang kalau metode yang biasanya dipakai oleh guru TK tidak bisa diterapkan pada mahasiswa? Bisa kok.

Mahasiswa itu adalah makhluk yang kognitifnya jauh lebih matang daripada anak sekolahan. Tapi, asal tau aja sih, mahasiswa pun adalah makhluk yang mudah bosan. Jadi, sebagai pengajar kita juga harus jeli mengamati kondisi mahasiswa, bukan cuman mau diamati oleh mereka saja.

Sebagaimana harapan kita, mereka pun ingin mendapatkan hasil yang terbaik dari perkuliahan yang dijalani. Tidak jarang, ketika sudah mencapai pertemuan ke-5 hingga ke-8, rasa bosan itu mulau muncul. Biasanya, ini akan terlihat dari perilaku mereka. Meski mereka berusaha untuk menjadi pendengar yang baik, berusaha untuk memahami arahan materi, tapi gimana pun juga, manusia itu punya daya konsentrasi paling banter 15 menit. Jadi, kalau 15 menit itu sudah berlalu, biasanya tanpa sadar, mereka akan memunculkan perilaku aneh seperti bersandar pada kursi dalam waktu yang cukup lama, bertopang dagu, raut wajah lesu hingga yang paling sering kita jumpai: heboh bergosip sendiri dengan teman-temannya di belakang.


Di sinilah pentingnya kemampuan "observasi" yang perlu dimiliki seorang pengajar. Seperti halnya mengamati perilaku anak-anak TK yang beraneka ragam hingga yang sulit ditebak, adakalanya kita sebagai pengajar mahasiswa pun juga harus seperti itu.

Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan untuk mengatasi berbagai hal yang bisa mencetuskan kebosanan saat proses perkuliahan berlangsung? Banyak cara yang dapat kita terapkan salah satunya adalah dengan menyisipkan  metode ice breaking. Metode semacam ini bisa kita berikan di awal, tengah ataupun akhir. Metode ini berfungsi untuk mencairkan ketegangan antara pengajar dengan mahasiswa. Metode ice breaking yang paling sering diterapkan itu antara lain pemberian games sederhana, role playing, hingga bernyanyi bersama atau hanya sekadar berdiri merenggangkan otot, mencipta lelucon hangat dan tertawa bersama sejenak.

Selain itu, kita juga bisa mengganti posisi belajar mengajar se-fleksibel mungkin. Misal, kalau mahasiswa merasa bosan dan kurang nyaman untuk duduk di kursi, duduk lesehan dengan bentuk melingkar bisa jadi alternatif. Mungkin untuk sebagian besar orang akan menganggap hal ini tidak etis, tidak sopan. Tapi, bagi kami, itu bukanlah masalah yang besar. Kita bisa saja mengalihkan perkuliahan ke ruang terbuka seperti taman, gazebo, atau sekadar menggelar karpet di ruang kelas dan duduk lesehan bersama. Itu sudah kami terapkan sendiri di kampus dan cara-cara demikian itu, terbukti cukup mampu mengurangi ketegangan antara mahasiswa dan dosen.

Itu pengalaman saya, bagaimana dengan Anda? ^_^

2 comments:

  1. Replies
    1. hehe Aya berlebihan, alhamdulillah klo keren semua karena Allah yg Maha Keren :D

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.