Wednesday, May 1, 2013

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (6)

Sebelum tidur siang, aku mau cuap-cuap sedikit. Teringat dengan salah satu pakar di bidang kepenulisan yang sudah senior mengatakan bahwa materi itu hanyalah efek samping dari kerja keras kita. Dari kalimat ini, aku juga teringat dengan persoalan gaji pertamaku.

Gaji. Siapa sih yang nggak mau dikasih duit? Siapa sih yang nggak mau gajian setelah bersusah-payah bekerja? Masing-masing dari kita pasti punya profesi yang berbeda. Kalau toh profesi kita serupa, bisa jadi gajinya berbeda.

Di sini aku nggak mau pamer atau mengeluh. Hanya sekadar intermezzo, mengenang ihwal gaji pertamaku. Gaji pertamaku kuperoleh ketika masih mengajar di kajian Guidance Club STAIN pada akhir September 2012 hingga Januari  2013 lalu sebagai dosen motivator. Memperolehnya pun tidak mudah. Pihak kampus menetapkan bahwa setiap satu pertemuan akan diganjar sebesar lima puluh ribu rupiah. Jumlah tersebut bukan gaji yang sebenarnya, melainkan imbalan/hadiah karena sudah mau membantu teman-teman di STAIN aja.



Dalam sebulan, aku hanya bisa mengajar selama empat kali, satu kali seminggu, setiap hari Ahad pagi. Itupun kalo nggak ada libur. Kalo ada libur, aku pun nggak bakal dapat apa-apa. Jadi, sudah bisa diterka, setiap bulannya, kalau full ngajar, aku bisa dapat berapa.

Awalnya, hati kecil ini mengeluh. Uang sejumlah lima puluh ribu setiap minggu, kalo dijumlah per bulan, betapa kalahnya aku dengan PRT di rumahku sendiri yang diganjar dengan gaji lebih dariku. Namun, lama-kelamaan, aku berikir, seharusnya aku bersyukur, bisa mendapat tawaran kerja tanpa melalui tes, dan bisa punya uang sendiri dari hasil jerih payahku, sekalipun jumlahnya tak seberapa dengan jumlah uang bulanan atau jumlah biaya ketika aku kuliah dulu.

Untuk mendapatkan gajiku, aku harus menempuh satu jalan yaitu membuat laporan tiap pertemuan. Setelah laporan itu selesai, maka aku baru bisa mendapatkan upahku. Akhirnya, kuputuskan untuk menunda pengambilan honor setelah banyak terkumpul laporan agar uang yang kuterima juga banyak, yaah meskipun harus menunggu dua bulan atau lebih.

Kenyataannya, dari akhir September hingga akhir Januari kemarin, kami hanya bisa bertemu sebanyak sembilan kali pertemuan karena berhubung ada beberapa tanggal merah dan seringnya mahasiswa pulang kampung saat weekend. Tapi, awalnya aku mengumpulkan laporan delapan kali pertemuan di pertengahan Desember. Satu pertemuan lagi kusimpan dengan maksud agar menunggu banyak seperti sebelum-sebelumnya. Namun, di luar rencana, yang tadinya Guidance Club ingin dilanjutkan, ternyata tidak ada tindakan nyata dari pihak panitianya sendiri. Akhirnya, dengan mencoba untuk rela dan bersabar, kusimpan satu pertemuan terakhir dengan tidak meminta honor. Itu berarti melayang sudah honor terakhir yang lima puluh ribu itu.

Ketika sudah mengumpulkan laporan 8 pertemuan tersebut, rupanya kendala muncul lagi. Honor belum juga cait. Dosen yang tadinya memintaku memegang kendali Guidance Club juga tidak enak hati, beliau menelepon dan memberitahukan bahwa jurusan belum dapat mencairkan honorku. Aku menerimanya dengan rela. Aku juga tidak ingin mendesak untuk segera dibayarkan jadi aku diam saja.

Mama dan salah satu sahabatku yang kebetulan kuliah di kampus itu terus menanyakan mengapa honorku belum juga cair. Aku hanya berkomentar kalo pihak kampus mungkin sedang repot jadi tidak masalah bagiku.

Minggu berikutnya, dosen itu telepon lagi, menyampaikan permohonan maaf bahwa belum bisa membayarkan honorku. Honor yang tadinya ingin dibayarkan padaku ternyata dialihkan untuk membayar dosen senior karena dari kampus terjadi keterlambatan pula. Aku sempat sedih tapi mencoba untuk mengalah sebab aku hanya dosen junior.

Makin lama, kesabaranku diuji. Orang-orang terus menanyakan padahal aku sendiri masih terbilang santai menghadapinya. Karena aku jenuh ditanyai terus seperti itu dan aku merasa bahwa aku belum mampu memberikan apa-apa dari Guidance Club selama beberapa bulan lalu, akhirnya aku memutuskan untuk mengontak dosen itu. Kubilang pada beliau untuk mengundurkan diri saja dan pihak kampus tidak perlu membayarkan honorku. Aku merasa masih kurang maksimal membimbing teman-teman mahasiswa. Jadi, pada saat itu aku rela, biarlah kalo memang pihak kampus kesulitan, aku juga tidak mau mempermasalahkannya. Toh, hanya soal honor. Dan, aku ingat lagi kalimat di atas yang menyatakan bahwa uang atau materi itu hanyalah efek samping dari kerja keras kita. Pikirku terlalu serakah bila aku hanya bekerja untuk mencari efek samping sementara aku masih merasa belum mampu membimbing mahasiswa dengan baik.

Lama baru ada balasan pesan singkat dari dosen tersebut. Sekitar bulan Januari lalu. Beliau pun menyampaikan permohonan maaf tapi juga diselingi pemberitahuan bahwa honorku sudah bisa diambil dan aku diminta datang ke rumah ibu dosen itu.

Alhamdulillah, desahku. Meski awalnya sangat berat untuk mencoba ikhlas ketika meminta tidak perlu dibayar, ternyata Allah berkata lain. Honorku cair. Senang sekali rasanya. Aku pun menjemput gaji pertamaku di rumah beliau.

Tahu berapa gaji pertamaku? Empat ratus ribu rupiah. Gaji delapan pertemuan yang kutunggu selama empat bulan lamanya kini kuterima dengan penuh rasa syukur. Di dalam kamar, kubuka lagi amplop coklat itu dan kulihat empat lembar seratus ribuan di jemariku. Air mata rasanya ingin menetes namun segera kutangkis dengan senyuman lega.

Gaji pertama yang tadinya memang hanya berupa hadiah itu memang jumlahnya tidak seberapa. Mungkin, di tanganmu, uang itu akan habis satu atau dua hari. Tadinya, tersirat di benakku untuk membelanjakan uang itu. Tapi urung. Lima puluh ribu dari itu hanya kubelikan pulsa modem agar aku bisa mengikuti update bidang kepenulisan dan mengikuti lomba-lomba yang ada. Sisanya, kupakai beli satu buku dan sisanya lagi kuminta pada Mama untuk menyumpannya. Tadinya, niatku ingin kusedekahkan pada Mama aja. Kupikir, beliau sudah membelanjakannya, tapi ternyata beliau malah menyimpannya dan bilang, uang itu nanti sebagai tambahan dari gaji mengajarku yang baru agar aku bisa membuka rekening tabungan yang baru.

Masyaallah. Meski jumlahnya kecil, tapi melihat uang itu lagi, seolah bernilai sangat besar.

Empat ratus ribu yang bisa jadi itu adalah jumlah gaji baby sitter.
Empat ratus ribu yang bisa jadi itu adalah uang jatah bulanan mahasiswa dengan ekonomi menengah (standar)
Empat ratus ribu yang mungkin itu adalah bonus harian para karyawan besar.
Empat ratus ribu yang mungkin saja itu justru gaji mingguan TKI/TKW.
Tapi, empat ratus ribu itu kini ada di tanganku. Di tangan orang yang dulunya suka jajan dan cukup boros yang kemudian insyaf setelah mendapatkan dan menghayati makna dari gaji pertamaku itu.

Hmm...
Selayaknya memang harus bersyukur setiap saat, atas apapun yang kita peroleh. Biarpun harganya kecil, yang terpenting adalah berkah dan nilai yang terkandung di dalamnya dapat dimaknai sebagai sesuatu yang lebih besar.

Entah kapan aku bisa menerima gaji dari hasil mengajarku di kelas ini. Harus bersabar menunggu enam bulan, lebih lama dari saat menerima honor Guidance Club. Tapi, setelah menerimanya nanti, insyaallah bakal bisa punya rekening tabungan dan bisa sedekah lagi. Yang terpenting tetap optimis bahwa rezeki itu adalah ketetapan Allah yang nggak bakal ketukar atau lari dari kita. Insyaallah, di balik semua ini, banyak hal yang bisa kupelajari. Tapi, aku berharap, semoga satu tetes ilmu yang kuberikan kepada teman-teman STAIN bisa memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada hasil yang kuperoleh. Karena rahmat Allah itu sangat luas. Semoga kita bisa bahagia dengan apapun keadaan dan pencapaian kita. aamiin ^_^ Tetap semangat dan terus bekerja keras.

2 comments:

  1. thanks, ceritanya bener bener memberi inspirasi aku, nggak nyangka, pas liat foto buku antology kamu ternyata kita pernah satu buku di choco love, sma 2 dan kepada ayah.... semoga karier sebagai dosen maupun penulis kamu semakin lancar

    ReplyDelete
  2. terima kasih udah berkunjung :) salam kenal juga

    oh iya kah? hehehe saya malah nggak perhatiin satu persatu namanya jdnya gtw klo sebuku hihi :D

    eum... hehe terima kasih ya, tapi mulai semester depan, aku udh ga jd dosen lg, pindah rumah soalnya jd hmmm dgn berat hati hrs diakhiri :)

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.