Friday, May 31, 2013

RAMPOK ALA HIPNOTIS MAKIN MARAK DI KOMPLEKS PERUMAHAN

"Hati-hati kalau di rumah sendirian loh! Hajjah di belakang rumah baru aja kena musibah, kayaknya kehipnotis dan perhiasannya ludes!"

Tadi malam, Mama ditelepon sama Budhe Karim (tetangga+sahabat keluarga). Kata Budhe Karim, baru-baru ini telah terjadi tindak kriminal penipuan sekaligus perampokan dengan modus "hipnotis ala jambret". Penipuan sekaligus perampokan tersebut dilakukan oleh dua orang (pria dan wanita, kata orang-orang). Dua oknum tersebut hebantya lagi berpenampilan semi eksekutif, semacam SPG tapi lebih dari sekadar dandanan SPG..

Kasus tersebut berawal dari kedatangan dua oknum tersebut ke sebuah rumah di deretan Blok H. Rumah yang disatroni itu adalah rumah pasangan Hajjah dan Haji yang udah tua (dahulunya penjual minyak tanah langganan kami). Anehnya lagi, menurut cerita orang-orang setempat, ketika beraksi, dua oknum tersebut menggunakan modus "alamat palsu" ala Ayu ting-ting gitu. Jadi, mereka itu pura-pura salah alamat kemudian bermaksud menanyakan alamat yang benar. Parahnya lagi, dari beberapa nama dan alamat yang ditanyakan, terselip pertanyaan, "....terus, rumahnya Bapak Sriadi di mana ya, Bu?" Jedddddeeer..... Gimana kami semua tidak gempar, Sriadi itu tuh nama Bapak saya. Kenapa kok pas banget menanyakan alamat Bapak saya? Meskipun saya tahu, di kota ini apalagi di kompleks ini Bapak saya cukup terkenal karena memiliki banyak link bisnis, tapi toh kalaupun mereka itu benar-benar rekan/partner bisnis Bapak saya, pasti mereka tahu kalau Bapak saya sudah lama ditransfer ke Malang. Hmm... itu berarti jelas-jelas, orang tersebut bukanlah rekan kerja lama ataupun partner bisnis Bapak saya. Mungkin saja, mereka tahu dari buku telepon atau dari searching atau apalah...

Lanjut ke peristiwa... Saat ditanya, Bu Hajjah tersebut tampak seperti orang bingung plus pilon. Diduga beliau sudah terkena "hasutan hipnotis ala jambret kampungan" dari dua oknum tersebut. Akhirnya, salah satu dari penjahat kelas 'udang' tersebut menyuruh si Bu Hajjah untuk naik ke dalam mobil yang oknum itu bawa saat itu, dengan tujuan agar semakin mudah ketika menunjukkan alamatnya.

Yang bikin saya heran, kalau penjahat kelas 'udang' itu bisa tahu nama Bapak saya, otomatis mereka kan cuman pura-pura bertanya seperti itu dan langsung saja mengantar nenek itu ke rumah saya. Kalau memang mereka niat menipu, mana ada orang cuman tahu namanya tapi beg* banget sampek gak tahu alamatnya (itulah kenapa saya bilang mereka penjahat kelas udang, karena usaha penipuannya setengah-setengah hahaha...). Eeehh... pas Bu Hajjah udah di dalam mobil, mereka malah membawa beliau keluar kompleks dan diturunin di pinggir jalan, tidak jauh di seberang kompleks. Saat diturunkan pun, penjahat juga sekalian beraksi mengobrak-abrik rumah Bu Hajjah lalu mengambil sejumlah perhiasan emas milik beliau.

Mendengar berita ini, saya tadinya bermuka santai tanpa beban sekalipun masih keheranan kok bisa bawa-bawa nama Bapak saya. Tapi, saya juga merasa kasihan terhadap Bu Hajjah. Perampok itu beraninya sama orang yang udah lansia bin renta kayak beliau. Tapi, di sisi lain, saya juga bersyukur, unttuuuuuung saja rumah saya tidak benar-benar dikunjungi kalau saja dua oknum penjahat tersebut tahu alamat ini. Apalagi, baru-baru ini saya dan satu adik laki-laki saya hanya tinggal berdua di rumah karena Mama dan adik cewek saya berangkat ke Malang untuk mendaftar kuliah sekaligus mengunjungi Bapak, selama hampir tiga minggu.

---

Kalau soal penipuan dengan modus perampokan plus hipnotis seperti ini sudah sering saya dengar. Ketika saya masih kuliah di Malang pun, pernah saya mendengar langsung dari salah seorang adik kontrakan saya yang juga terkena modus tersebut tapi lebih kepada cara mengeruk ATM. 

Dan, saya beserta teman-teman kontrakan ahwat juga sudah sering disatroni maling di kontrakan. Malah lucunya lagi, maling yang datang beberapa kali menjambret alat perlengkapan mandi, rice cooker, setrika dan barang-barang kebutuhan dapur lainnya. Itu juga karena di lantai dua kontrakan adalah tempat jemuran yang langsung beratapkan langit biru meski dipagari oleh kawat berduri, tetap saja maling bisa lolos. Haa... Selain itu juga, saya pernah mendengar, ada maling yang sempat mengintip dari balik jemuran kontrakan. Saat itu kebetulan tidak ada orang sama sekali di kontrakan, namun saat maling ketangkap oleh warga, dia mengaku melihat sosok perempuan berbaju putih panjang sedang berjalan mondar-mandir di kontrakan bagian belakang (itu mungkin makhluk penjaga kontrakan itu atau kalau tidak, itu adalah roh halus dari salah seorang teman angkatan tua yang pernah dikabarkan meninggal tiba-tiba di kontrakan tersebut.

Di kontrakan itu pun, saya pernah digilir untuk kedua kalinya mendapat kamar di bagian belakang bersama beberapa teman lainnya. Untung saja, si maling tidak mendobrak kamar satu-satu. Kalau tidak... kami tidak tahu apa jadinya.

Hmm.. masih banyak deh, berita penipuan, perampokan plus hipnotis seperti itu. Di beberapa kost teman saya juga pernah kejadian. Alhamdulillah, kami masih bersyukur karena tidak separah kejadian penipuan+perampokan+hipnotis yang dialami warga lain di kompleks perumahan lain yang lebih parah lagi (diikuti pula oleh modus pembunuhan sadis yang korbannya adalah nenek tua dan remaja kuliahan).

---

Untuk soal hipnotis ini, saya sering mendengar di beberapa seminar dan pernah juga seorang dosen kami mempraktekkan proses hipnosis di kelas dengan "korban percontohan" teman kami sendiri. Hehehe... tapi ini bukan kriminal, hanya mempraktekkan sebuah ilmu saja.

Di beberapa buku, beberapa orang/ahli, saya sudah sering mendengar bahwa hipnotis itu tidak akan mempan bagi seseorang yang memang meyakini bahwa dia tidak akan terkena oleh proses itu. Seseorang yang pikiran dan hatinya senantiasa mengingat Allah pun tidak akan mudah terkena hipnotis, karena memang kebanyakan dari prosesnya mengincar "objek" yang "kosong". Maksudnya objek yang kosong itu adalah pikiran dan hati yang kosong dan kalut. 

Hipnotis itu pun masih sangat lemah kajian empirisnya. Hingga sekarang ini, ilmu yang menggali lebih dalam proses hipnosis belumlah memadai dan belum bisa dikatakan valid 100%. Dalam kajian psikologi klinis pun demikian.

Intinya, kita harus tetap waspada dengan lingkungan sekitar. Sekalipun kita tinggal di kawasan elit yang memiliki security system paling canggih, tidak menutup kemungkinan maling juga akan semakin lebih cerdik dan licik untuk dapat memasuki kawasan tersebut. Seperti halnya saya yang pernah kecurian sepatu (waktu itu, jujur, sepatu itu memang murah tapi baru saya yang memakainya khusus di daerah Malang waktu itu dan belum ada 'copy'annya, baru setelah pencurian itu terjadi, sepatu merk murah bin lokal itu marak di pasaran, eh iya, saya gak bohong sueer deh, aneh tapi ya). Padahal perumahan itu ada satpamnya, tapi tetap saja sering kecolongan bahkan juga pernah terjadi tindak pembunuhan plus perampokan di situ.

Kita harus membentengi diri kita dengan tidak sekali-kali melepaskan hati dan pikiran kita dari mengingat Allah. Sebab, hati dan jiwa yang kosong itu memang lebih mudah dimasuki oleh hal-hal negatif apalagi dihipnotis. Dan, kita juga harus membiasakan diri untuk tidak sembrono pada saat sedang berada di rumah sendirian. Bila ada orang yang tidak dikenal, tidak usahlah dibukakan pagar/pintu. Nah.. ini seperti yang saya pernah alami. Waktu itu sih bukan oknum pencuri yang datang tapi seorang berpangkat tentara yang kayaknya dia itu juga anggota BRIMOB (lihat dari seragamnya), tiba-tiba nyelonong membuka pagar rumah saya. Lalu, dengan santainya, si Brimob itu mengucap salam dan mengetuk pintu (saya hanya dengar dari ketukan sepatunya yang sedang berjalan ke arah pintu). Waktu itu saya lagi salat Dhuha. Saat turun dari lantai dua, saya tidak membukakan pintu dan hanya mengintip dari jendela. Saya tidak mengenalnya. Lalu, orang itu belum juga pergi. Saya amati terlebih dahulu gerak-gerik verbal maupun non verbalnya dengan mengandalkan ilmu "membaca body language" yang sudah saya pelajari. Ada sekitar lima menit lebih saya observasi orang tersebut. Saya biarkan saja dia menunggu lama saat melihatnya sedang telepon-teleponan, sungguh tidak punya tata krama.
Dengan tekad yang yakin bahwa analisis saya tidak meleset dan orang itu bukanlah pencuri, saya buka saja sedikit pintu itu masih dengan mukena dan sarung melekat di tubuh saya. Setelah dia bertanya, ternyata Brimob itu salah alamat. Alamat yang dicari adalah tetangga sebelah kiri rumah saya. Heuuu, ngeselin banget. Udah salah, malah seenaknya buka pagar rumah orang terus leha-leha sambil telepon-teleponan dan parahnya lagi tidak bilang maaf ataupun terima kasih karena sudah ditunjukkan alamat tetangga saya. Kelakuan/sikap dan cara bertamu seperti itu kan sama saja mengundang su'udzan bagi orang lain. Saat itu, dalam hati saya cuman geleng-geleng kepala dan bergumam, 'Jadi begitu ya sikap seorang tentara negara, tidak ada sopan santunnya sama sekali dan semoga saja hari itu juga dia diberi hidayah agar tidak mengulangi sikapnya yang sangat buruk seperti tadi.'

Yaahh... begitulah sekelumit pengalaman saya dan para tetangga, kenalan saya mengenai kasus perampokan, penipuan plus modus hipnotis. Semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah dari berbagai keburukan dan tindak kejahatan ya, aamiin! :)

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.