Wednesday, May 8, 2013

SAHABAT BUKAN TONG SAMPAH

Bagi sebagian orang, sahabat itu adalah tong sampahnya. Yang namanya tong sampah pasti dapat menjadi tempat pembuangan terakhir atas segala apapun yang ia rasakan dan ia alami.

Tapi, pernahkah kamu berpikir? Sahabat itu tidak pantas untuk dijuluki sebagai tong sampah. Ia hanya manusia biasa. Ketika kamu mengeluh, sedih, gusar, rapuh, kamu memang bisa menjadikannya sandaran terakhir saat yang lain menjauh. Namun, tidak pernahkah kamu berpikir bahwa sahabat itu juga butuh senyumanmu, butuh keceriaanmu, butuh kabar bahagia darimu.

Jika ia terus-menerus kau gelontorkan kesedihan, kerapuhan, kegusaran, kemarahan atas apa yang kamu alami, ingatlah, ia juga manusia. Ia bukan malaikat, bukan pula Tuhan. Ia manusia biasa yang juga membutuhkan sapaan hangat dan kebahagiaan dari orang-orang terdekatnya.

Jangan pernah menganggap sahabat adalah ia yang paling ampuh untuk menjadi pemecah masalahmu. Sebab, ia pun sama denganmu. Sama-sama manusia. Ia memang peka terhadap keadaanmu, tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hati berkeluh kesah padanya. Ia tentu saja akan jenuh dengan sikapmu yang terus-menerus seperti itu.

Jadi, pahamilah sahabatmu. Jika pun kamu nyaman curhat padanya, jangan sekali-kali kamu menumpahkan semua hal negatif yang kamu pendam. Rajinlah menyapanya dengan kabar bahagia dan buatlah ia tersenyum sebagaimana ia selalu memberikan berbagai upaya agar kamu tersenyum. Berikan ia semangat seperti ia yang senantiasa rela menyuntikkan semangat kala kamu gundah gulana.

4 comments:

  1. Betul... Aya juga risih kalau Aya jadi tong sampah terus-terusan. Kalau kabar bahagia, Aya engga pernah dibagi. Giliran yang jelek-jelek, susah-susah, mewek-mewek, amarah, emosi, malah bagi ke Aya. Sedangkan ke temen lainnya kasih kabar bahagia, kasih kado, ajak jalan-jalan, ajak ini, ajak itu. Giliran Aya protes aya bukan tong sampah, jawabnya"karena hanya kamulah satu-satunya yang kupercaya" bla bla bla. Hufffh.

    Trus lagiiii, terlalu naif. Selalu bawa embel-embel " kita kan sahabat, so kamu musti begini begini begini ke aku, ga boleh tidak. T.T "

    ReplyDelete
  2. wah Aya punya pengalaman yaa,,hmmm,klo nuntut ky gitu kayaknya gak bisa dibilang sahabat, maunya didengerin tapi gak mau mendengar. naah butuh dilurusin itu pandangannya. Aya tegasin aja ke dia :)

    ReplyDelete
  3. heee.. Iya Aya memang dituntut dan itu membuat Aya gerah. Aya memilih menjauh dan menghiraukannya sebagai teman yang sangat biasa. karena Aya hanya makin tertekan saat bersamanya.. Capek Euyyyyy.

    Trus Aya juga kurang senang masalah intern berdua malah ngajak2 org ketiga keempat de el el, bagi Aya sama aja kayak buka aib secara blak-blakan. Dari yg awalnya org pikir semua baik2 saja, jadi terbongkar masalah intern bedua kemana2. Awalnya Aya selalu diam dan mengalah, hanya mau didengerin, maunya dianggap lebih, maunya dianggap tinggi, awalnya Aya iyain, tapi makin lama Aya ditindas.. Jadi i am sorry goodbye.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm gitu ya. Berlebihan juga ya kalo gitu. yaa semoga aja dia bisa dibukakan hati dan pikirannya ya Aya.

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.