Thursday, July 25, 2013

HARGA DAGING TINGGI, I DON'T CARE!!

(Maaf, biasanya saya suka pajang gambar, tapi karena temanya daging, maaaaf sekali, tak ada maksud melecehkan daging, tapi saya tidak suka, terima kasih :))

Dari tempo.co.id, saya membaca bahwa harga sapi saat ini turun hingga satu juta rupiah per ekornya. Sementara itu, harga dagingnya justru masih melonjak tinggi dikarenakan harga sapi-sapi itu sebenarnya masih fluktuatif, belum stabil sepenuhnya. Hal ini juga sempat memicu amarah di benak Presiden SBY beberapa pekan lalu.

Di lain hal, beberapa bulan belakangan marak terbongkar kasus impor daging yang melibatkan Fathanah dan "wanita-wanita cantik" yang menerima uang cucinya. Heuu, saya memang tidak begitu tahu banyak apalagi berminat dengan dunia perpolitikan. Namun, kalau nonton berita seringkali melihat tayangan yang ituuuu lagi... ituu saja... maka telinga saya mulai "panas".

Berbagai kasus yang melibatkan para pejabat ini jauh lebih hot daripada kasus para artis, menurut saya. Secara, kasus-kasus tersebut jelas berdampak langsung kepada negara ini. 

Sebagai warga negara yang baik, saya turut prihatin ketika melihat Pak SBY marah karena harga daging naik drastis, ditambah mendengar keluhan ibu-ibu termasuk Mama saya dan mungkin juga tetangga-tetangga saya yang kesal karena harga daging yang tidak juga turun dari angka Rp.100.000,- versi Indonesia tengah. 

Namun, selebihnya, kalau boleh jujur... saya tidak begitu peduli dengan nasib daging-daging itu. Mau naik kek... turun kek... urusan si daging sama pemerintah itu saja dah. Bukannya saya kasar, tapi saya memang tidak suka makan daging sapi (dan hewan berkaki empat sejenisnya) sejak kecil. Pernah sih memang, sekali makan sate kambing (karena diundang di acara ultah anaknya temen kuliah dan tidak ada menu lain lagi selain iga dan kambing, apa boleh buat, saya telan bulat-bulat sampe kost baru muntah).

Saya tidak peduli mau naik atau tidak, impor atau lokal, toh saya tidak pernah (mau) memasak apalagi sudi mencium aroma daging-daging itu. Kalau saja kelak saya sudah berumah tangga, maka saya akan membuat perjanjian kepada calon suami saya terlebih dahulu. Saya tidak ingin melibatkan urusan dapur dengan para daging-daging itu. Kalau suami atau anak-anak saya kelak mau makan daging, saya tentu tidak akan mau memasaknya alias lebih baik beli saja di tempat yang halal dan terpercaya atau... (ini jahat banget sih) minta bantuan mertua atau ortu yang masak hehehe. Terus terang, saya tidak phobia. Tapi, saya juga tidak tahu kenapa saat kecil saya sudah tidak suka mencium bau daging-daging itu. Kalau diajak Mama ke pasar dan melewati kios daging, saya selalu tutup hidung dan mulut waspada biar tidak muntah sembarangan.

Yang saya peduli adalah nasib warga Indonesia yang suka mengonsumsi daging, apalagi bagi para pengusaha yang menggunakan bahan baku daging. Kata mereka, daging lokal itu lebih enak, lebih empuk dan tidak gampang busuk atau hancur dibanding yang impor. Kalau sudah melonjak tinggi seperti ini, yaa... mereka tentu akan berpikir sejuta kali lipat untuk mengganti bahan baku dengan daging impor. Walaupun sebenarnya impor daging itu dapat menuai imbas harga daging lokal turun sehingga kebutuhan protein hewani penduduk bisa kembali normal, tapi tetap saja... siapa sih yang mau beli "barang" dengan kualitas yang tidak sebagus daging lokal??

Masalah ini sudah pasti akan dimanfaatkan oleh para pedagang nakal. Seperti yang sering saya lihat di tayangan reportase trans TV, hanya lantaran harga daging lokal yang "terjamin" itu mahalnya minta ampun, mereka sampai dengan sesuka hati mencapur bahan baku usaha mereka dengan daging busuk atau dengan tambahan daging yang tidak halal. Astaghfirullah. Yang ada, kebutuhan protein para konsumen bukannya membaik tapi malah dibuat jatuh sakit.

Saya cuma geleng-geleng kepala tapi juga sekaligus bersyukur. Ya, saya bersyukur karena ditakdirkan tidak suka makan daging merah, selain ayam (ini tidak terlalu sih) serta para kelompok seafood (kalo ini suka banget). Saya juga bersyukur bisa tergolong pecinta sayur. Tiap belanja ke pasar (kalo Mama tidak ada), saya diperbolehkan belanja apapun, kecuali daging. Jadi, dalam otak saya, tidak pernah tersetting "harga daging" itu berapa, besok naik berapa, besok turun berapa bla.. bla.. bla.. Yang ada di otak saya hanya harga-harga pasar sembako dan bahan pokok lain kecuali makhluk-makhluk "merah" itu. Tapi, resiko sih, tiap idul adha, saya makan menu beda sendiri di tengah orang yang asyik menyantap daging itu.

Alhamdulillah, di balik ketidaksukaan saya, saya bisa terbebas dari pikiran-pikiran terhadap daging lokal dan impor itu. :D Terserah apa kata orang, but I really don't care about these.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.