Sunday, July 28, 2013

PENTINGNYA KECERDASAN SPIRITUAL

Pagi ini baca buku dari Ustadzah Afifah Afra lagi yang berjudul "And The Star Is Me". Saya tertarik lagi dengan lembaran yang berisi kalimat berikut

Kecerdasan emosi yang berbasis pada otak, hanya akan membantu seseorang sukses di dnia, tetapi tidak di akhirat.



Seperti itulah bunyinya. Menurut buku tersebut, sebenarnya perilaku positif itu muncul karena adanya pengaruh dari "hati", bukan emosi. Bila kita membahas ranah Psikologi Islam maka yang menjadi sumber dari seluruh perilaku adalah "hati". Seperti yang sering kita baca dan dengar bahwa hati adalah raja. Apabila hati "keruh" maka keruhlah segala perbuatannya, dan apabila hati "bersih" maka bersih pula segala perbuatannya.

Menurut kecerdasan spiritual, perilaku positif adalah dikendalikan oleh keimanan kepada Allah SWT. Jadi, setiap apapun yang hendak dilakukan, maka hati dan otak akan saling bersinergi dan memberi respon satu sama lain bahwa tindakan tersebut haruslah dilakukan berdasarkan niat murni karena Allah, bukan yang lain.

Di dalam Alquran, potensi spiritualitas sudah dikemukakan dalam firman Allah di surat al-Baqarah ayat 2-20. Dari surat tersebut, manusia terbagi menjadi 3 golongan yaitu orang-orang yang beriman, orang munafik, dan orang kafir.

Orang-orang yang beriman, tentu saja melandaskan segala upaya perbuatannya hanya untuk mencapai rida Allah SWT. Sebab, mereka sudah tahu bahwa segala sesuatu itu dilakukan mestinya berdasarkan keimanan dan ketakwaan mereka pada Allah. Mereka juga tahu bahwa segala perbuatan itu bergantung kepada niat dan mereka akan menerima hasil dari segala tindakannya atas niat mereka masing-masing.

Orang-orang munafik, adalah mereka yang secara lisan mengaku beriman namun "di belakang", itu semua hanyalah tipuan. Orang-orang munafik seringkali membuat kerusakan di muka bumi, tapi tidak mereka sadari. Salah satu contohnya adalah para koruptor. Sebelas dua belas lah dengan orang kafir. Kedua golongan ini membeli kesesatan dengan petunjuk. Bedanya, kalau orang kafir, mereka sudah dikunci mati hati, penglihatan dan pendengarannya dari firman dan petunjuk Allah dan dari nilai-nilai spiritualitas. Mereka mencoba mencerna agama dengan akal mereka sehingga apabila ajaran tersebut cocok untuk mereka, maka akan mereka akan dengan mudah menerimanya. Namun, jika tidak cocok, maka mereka akan menolaknya.

Jangan sampai kita seperti itu ya. Semoga kita senantiasa dilindungi dan dijauhkan dari hal-hal buruk tersebut, aamiin.

Apabila seseorang sudah dipalingkan dari petunjuk Allah, maka yang tampak jelas dari orang tersebut adalah memiliki ciri-ciri "hati yang keras". Lebih keras dari orang yang keras kepala biasa. Susah dikasih tahu yang ringan-ringan apalagi diberi siraman rohani. Kata ustadzah Afifah, orang-orang yang demikian ini sebagiannya justru bukan orang yang tak mampu mengendalikan emosinya. Mereka justru teramat bersabar dalam merancang program-program kerusakan di muka bumi, mengorganisir dan melaksanakan setiap tahapannya dengan sangat baik dan detil. Mereka sudah tertutup mata hatinya dari penilaian mana yang baik dan mana yang buruk.

So, jika ingin menjadi orang yang cerdas, maka jangan terpaku untuk mengembangkan dan mengasah IQ atau EQ saja. Kecerdasan spiritual juga sangat penting untuk diasah. Caranya, tentu saja mempererat ibadah kepada Sang Pencipta. Jangan mengaku beriman dan beragama Islam bila salat lima waktu saja masih suka bolong, malas atau bahkan ditinggalkan. Jangan jadi Islam KTP ya.

Yuk, mari kita muhasabah diri masing-masing. Mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang cerdas dan selamat dunia akhirat, aamiin... :)

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.