Monday, July 22, 2013

PSIKOLOG DAN DOKTER?

Jangan heran jika saya juga suka banget baca artikel atau apapun seputar "kedokteran". Dulu, saya memang bercita-cita jadi dokter tapi malah disasarin Allah ke psikologi, hehe :D.

Dulu, saya pikir psikologi itu hanya kumpulan ilmu sosial. Eh... ternyata, tidak hanya itu. Saya malah senang sekali saat ada mata kuliah klinis, abnormal, patologi anak dan patologi dewasa. Ya, saya lebih condong (baca: suka) dunia psikologi klinis. Sebab, psikologi klinis itu juga ada hubungannya dengan kedokteran (kedokteran jiwa/psikiatri tentunya). 
Memang, psikologi klinis konvensional itu lebih memandang pada "gangguan" yang dialami oleh manusia atau dengan kata lain "suka mencari-cari sisi negatif". Berbeda dengan psikologi Islam yang menitikberatkan pada sisi positif manusia yang tentunya bersumber dari "hati". Meski demikian, saya sukaaa sekali baca-baca tentang gangguan psikologi. Apalagi setelah tahu ada yang namanya Obsessive Compulsive Disorder (OCD) seperti yang terjadi pada salah satu tante saya yang hobinya tiap jam (dari pagi sampe malam) "nyapu alias bersih-bersih".

Kalau dibilang kenapa dulu saya suka sama teman saya yang kedokteran? :p Sebetulnya, itu tidak bisa saya jawab hanya saja kalau secara formal, saya memang suka berteman dengan anak FK atau FIKES. Saya bisa sharing tentang psikologi klinik dengan mereka, terlebih saat menempuh mata kuliah faal yang secara keseluruhan membahas soal anatomi dan utamanya tentang otak/saraf/neurologi. Tentu yang paham lebih banyak adalah mereka.

Sampai sekarang pun, saya masih suka berteman dengan teman-teman FK atau mereka yang memang sudah dokter.Berharap, meskipun cita-cita lampau saya sudah tidak lagi bisa terwujud, tapi saya masih bisa dengan leluasa sharing seputar dunia medis dan klinis dengan mereka. Insyaallah, semua pengetahuan yang saya peroleh dari mereka, juga biasa saya tularkan ke keluarga atau mahasiswa saya di kampus ataupun ke teman-teman. Insyaallah, jika Allah meridai, semua pengetahuan itu juga akan bermanfaat jika saya diizinkan untuk mengambil S2 Profesi psikologi klinik nantinya.

Eherrrm... satu lagi nih, salah satu sahabat dekat saya saat kuliah pernah berceletuk pasca membaca draft-draft novel saya yang semuanya pakai karakter tokoh "anak FK/dokter". Dia bilang, "Waah, jangan-jangan...kamu itu pengen ya punya suami seorang dokter?" Hehehe... sebelumnya saya ingin menjawab, zaman Mbah angkat saya dulu masih hidup dan tahu cita-cita saya mau jadi dokter, beliau pernah bilang kepada saya, "Tidak apa-apa, Nduk. Kan, psikologi juga sama seperti dokter, bila perlu Mbah doakan... kamu nanti dapat suami dokter,"  Hehehe... tapi Mbah sudah meninggal dan saya juga tidak begitu menanggapi perkataannya. Hmm, kalau boleh jujur, saya sih terserah Allah saja mau memberi suami dengan profesi apa kepada saya nantinya. Kalaupun saya bisa bersuamikan seorang dokter, tentu saya akan teramat bersyukur. Kenapa? Karena saya jadi bisa tahu lebih banyak tentang dunia medis dan bisa menerapkan gaya hidup yang lebih sehat lagi jika saja suami saya nanti seorang dokter. Saya juga akan senang sekali jika punya suami dokter terus bisa diajak ke kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan :D. Yaa... kalaupun bukan, juga tidak masalah. :)  Ahh.. sudahlah, tak usah kebanyakan mimpi! Hehehe... insyaallah, siapapun jodoh saya, apapun profesinya, dialah yang terbaik nantinya untuk saya.

Hmm... terakhir, dulu, saya juga pernah dipanggil teman saya dengan sebutan "Bu Dokter" padahal dia sudah tahu kalau saya nih mahasiswa psikologi. Memang benar sih, katanya, "Psikolog itu juga sama kok kayak Dokter, cuma bedanya dokter di bidang kejiwaan." Lagipula, zaman dulu, fakultas psikologi juga masih merupakan "anak jurusan" dari fakultas kedokteran, kan?!

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.