Monday, July 1, 2013

SEMUA DITANGGUNG TUHAN

By: Paresma Elvigro

pic.by: bisniskeuangan.kompas.com


“Maaf, Pak. Apakah sudah diurus, Pak?”

“Belum, Dik.”

“Lalu, kapan bisa diambil?”

“Masih harus diurus ke Dewan. Jadi, belum bisa dipastikan.”

Matanya lesu, berair. Kakinya terasa berat saat meninggalkan ruang bertuliskan ‘Kepala Jurusan’. Laki-laki bertubuh jangkung itu mulai terasa sesak ketika menuruni anak tangga yang terhubung menuju ruang guru dan kelas-kelas di lantai bawah.
Sudah tujuh bulan Dodik mencium aroma setiap ruangan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Swasta ini, berbaur dengan mahasiswa yang selalu setia mendengarkan petuah ataupun mata kuliah yang diajarkan olehnya. Dia bahkan sudah menghapal seluruh jalan, makanan khas, budaya dan ragam bahasa yang tersebar di kota kecil Parepare. Selama lima bulan itu pula, dia tidak pulang ke kampung halamannya di Sleman, Yogyakarta. 

Hari ini, Dodik harus menerima kenyataan pahit untuk kesekian kali. Lidahnya tiba-tiba kelu seiring dengan hati yang tertusuk oleh sejuta duri. Dia hanya bisa mengelus-elus dada dan berjalan pulang menuju rumah teman yang selama ini sudah memberikan tempat tinggal gratis untuknya, tidak jauh dari kampus. Meski nestapa tengah merajang, dia tetap melengkungkan senyum sepanjang kaki melangkah menuju rumah.

***

“Cieee, Dodik senyum-senyum sendiri? Habis dapat bonus kah?” tanya Dengge, teman serumahnya.

Langit-langit kamar seolah memanas, lebih panas dari cuaca di luar. Selepas mengganti pakaian, Dodik menghempaskan tubuh kurusnya ke atas dipan beralaskan kasur busa. Kedua lengannya ditekuk di bawah kepala sebagai pengganti bantal. Kedua kakinya diluruskan sejajar menyentuh kasur yang kian hangat. Matanya sesekali mengawang-awang, dilemparkan pandangannya menuju dinding-dinding bernuansa putih juga pada kursi dan meja plastik di sudut kamar.

“Bukan itu Dengge. Saya hanya berusaha mensyukuri apa yang Allah berikan pada saya,” jawab Dodik sembari mengangsurkan senyum tipis pada Dengge.

“Termasuk mensyukuri bonus dari kampus kan?” tanya Dengge mengira-ira.

“Bukan. Mensyukuri kesehatan badan, napas dan semua yang melekat di tubuh saya, Deng,” timpal Dodik dengan logat Jawa yang masih kental. Dia tidak ingin teman baiknya itu tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja.

“Ooh, kukira apa. Kamu kapan pulang ke Sleman? Kamu tidak rindu sama keluargamu?” tanya Dengge sambil menyalakan kipas angin.

Dodik terdiam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan sehingga dia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Dengge barusan. Lalu, matanya dipejamkan perlahan, berharap tidak ada embun hangat yang akan mengalir dari mata sipitnya itu.

“Dodik... Dodik... Yaaah, dia sudah tidur,” tegur Dengge sambil menggelengkan kepala ketika melihat Dodik tertidur dan tidak menjawab pertanyaannya.

Dodik sebenarnya tidak tertidur. Dia hanya memejamkan mata sebagai modus agar Dengge tidak lagi menumpahkan pertanyaan kepadanya. Kemudian, Dengge keluar dari kamar sambil menyelempangkan sebuah sarung coklat bermotif garis ke bahu kirinya.

“Maaf, Deng. Saya tidak bisa menjawab pertanyaanmu tadi,” ujar Dodik setengah berbisik.

Tidak lama setelah itu, Dodik bangkit dan merogoh tasnya. Diambilnya sebuah laptop lalu dinyalakan. Dia memusatkan pandangan ke arah laptop tersebut. Di sana, tampak gambar sepasang manusia berdiri sejajar sambil menyunggingkan senyum, terlihat sangat natural. Foto itu tidak lain adalah wajah ayah dan ibunya. 

Tadinya, Dodik berharap setelah menemui Kepala Jurusan, dia bisa segera menelepon orangtuanya melayangkan kabar bahagia. Lebih dari itu, dia juga berharap bisa segera pulang mumpung besok hingga tiga hari ke depan adalah hari libur menjelang pergantian tahun 2012 menuju 2013 masehi. Namun, semua harapan itu pudar seketika.

***

Liburan telah usai. Dodik kembali bergumul dengan setumpuk rutinitas mengajar di kampus. Saat sedang berjalan ke arah kelas yang akan didatangi, langkahnya tiba-tiba terhenti di depan sebuah gedung hijau di sebelah kanan. Matanya menengok ke atas, tepat ke sebuah ruangan yang pernah memberatkan langkahnya. Ya, kantor Kepala Jurusan.

Dengan membaca basmalah, Dodik kembali memberanikan diri untuk mengunjungi kantor jurusan sejenak. Di tiap titian anak tangga, Dodik terus menghela napas panjang dengan mulut membentuk huruf U.

“Permisi, Pak!” tegur Dodik sambil mengetuk pintu.

“Masuk!” balas sang Kepala Jurusan.

“Maaf, Pak, saya...,” ucap Dodik yang kemudian kata-katanya terpotong oleh kalimat yang keluar dari Bapak berkumis tebal di hadapannya.

“Kamu mau menagih gajimu lagi? Saya sudah bilang, masalah gajimu masih ditahan oleh Dewan dan Kepala Yayasan kampus ini,” sergah lelaki berkumis itu.

“Tapi, Pak, apa alasannya sehingga saya belum bisa menerima gaji saya? Apa karena saya pegawai tidak tetap di sini?”

“Kamu jangan sok tahu, Dik. Ini urusan internal.”

“Tapi, saya berhak kan, Pak untuk menagih apa yang menjadi hak saya? Sudah tujuh bulan, Pak,” balas Dodik lirih.

Lelaki dengan setelan jas hitam itu membisu. Kerutan menghampiri dahinya.

“Baiklah, Pak. Kalau memang itu alasannya, saya lebih baik mengundurkan diri. Saya ingin pulang ke kampung saja,” ujar Dodik tegas. “saya sebenarnya ingin meminta apa yang menjadi hak saya yang belum tertunaikan selama lima bulan, itu untuk saya pergunakan memesan tiket pulang ke kampung. Kalau memang posisi saya merepotkan kampus ini hingga tidak bisa membayarkan hak saya, tidak usah dibayarkan juga tidak apa-apa kok Pak. Saya ucapkan terima kasih atas kebaikan hati Bapak yang sudah memanggil saya bekerja di sini. Permisi,” lanjut Dodik sambil mengobral senyum.

Kali ini, langkahnya ringan ketika beranjak keluar dari ruangan itu sekaligus mengangkatkan kaki meninggalkan kampus. Dodik sudah bebas dari belenggu yang selama ini menyempitkan desah napasnya. Dia akhirnya memilih untuk resign dari pekerjaannya sebagai pegawai honor di kampus tersebut. 

Meskipun keluar dari kampus dengan tangan hampa, dia yakin ada Sang Pencipta yang akan membayarkan apa yang menjadi hak-haknya. Ya, semua sudah ditanggung oleh Tuhan. Bersyukur dia diberi sedikit rezeki melalui Dengge. Dodik pun bisa kembali ke tanah istimewa, Yogyakarta.

4 comments:

  1. Emma, ini cerpen terinspirasi dari pengalaman pribadi yaaaa.. ^^

    ReplyDelete
  2. Ehhh tulisannya lutuuuu, kruet2 kriting2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak juga,, itu udah lamaaa banget bikinnya pas nonton apaaa gitu,,,trus kepikiran bikin cerpen ini hahaha, ehehehe sengaja diganti, habisnya aku gampang boseen

      Delete
    2. heeee... ^_^ Aya baru sekali dari hijau ke orange ganti. Habis itu engga ganti2 lagi, habisnya mau beberesan "rumah" lamaaa.. Haaaa... wkkw,,, Trus Aya pilih font blog Aya tu karena kayak tulisan aseli, hihiii, jadi Aya berasa nulis di buku harian pake tulisan tangan lucuu, ^^,

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.