Tuesday, July 16, 2013

STOP BULLYING!

pic by news.detik.com
Bullying?? Apakah teman-teman blogger pernah di-bully atau bahkan mem-bully??

Percaya atau tidak, saya pernah merasakannya. Pahit, sakit hati, kesal, emosi dan seluruh perasaan negatif berkelindan menjadi satu. 

Bullying, sebenarnya apa sih artinya? Kalau secara harfiah, bully berarti menggertak atau mengganggu dan menyakiti orang lain yang lebih lemah. Sedangkan, kata bullying kemudian dipakai untuk menunjukkan perilaku agresif seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan berulang kali guna menyakiti, menindas seseorang atau sekelompok orang yang lebih lemah, baik secara fisik maupun batin, di kehidupan nyata bahkan di dunia elektronik seperti dunia maya dan alat telekomunikasi. Target bullying itu biasanya cenderung menembak sasaran yang lebih lemah dari orang yang mem-bully. Dan, yang paling sering terjadi adalah, bullying disebabkan oleh adanya penyalahgunaan terhadap kekuasan atau kekuatan yang dimiliki dan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan para pelaku dan korban.

Kasus bullying khususnya dalam dunia pendidikan sudah bukan hal baru lagi. Kasus tersebut pun beragam jenisnya, ada yang bersifat tawuran per kelompok dan ada pula yang sifatnya antarpribadi, ada yang secara terang-terangan, ada pula secara sembunyi. Apapun itu, esensi bullying tetap sama, MENYAKITKAN!!!

Sekolah... mestinya menjadi sarana untuk menempa ilmu sekaligus memperbaiki kepribadian ke arah yang lebih baik. Tapi, lambat laun, sarana pendidikan semakin disalahgunakan oleh beberapa siswa. Kita tahu sendiri kan, sekolah itu terdiri dari orang multietnis, multi background, multi status dan multi-multi lainnya. Tidak jarang, para siswa ini juga ingin tampil eksis dan 'caper' agar dikenal sebagai 'bintang sekolah'. Alih-alih pengen jadi 'bintang sekolah' malah jadi 'raksasa menakutkan'. Siswa-siswa kayak begini biasanya banyak ditemukan di kota-kota metropolitan. Biasanya, kalau di kota-kota besar itu, ada begitu banyak elemen yang menyilaukan seperti banyaknya informasi, tempat, cara pandang masing-masing orang, banyaknya penduduk, ritme kerja dan lifestyle yang tinggi dan sebagainya. Otomatis, setiap individu tentu harus bisa menyesuaikan diri lebih ketat dengan banyaknya elemen yang luar biasa berlebihan itu. Akibat terlalu banyaknya rangsangan yang diserap oleh mesin kognitif individu tersebut, akhirnya yang terjadi adalah munculnya sisi lain dari pandangan manusia itu sendiri atau dengan kata lain, mereka cenderung menganggap dunia secara amat impersonal. Sehingga, yang terjadi adalah setiap individu cenderung akan tidak saling mengetahui dan mengenal bahkan peduli satu sama lain. Lebih dari itu, individu tersebut di kemudian hari bisa menjadi anonim (tidak punya identitas diri). (sumber: Ahmad Baliyo E. P. No.1 Vol. IV. 2011)

Dulu, saya pernah merasakan bagaimana di-bully. Bagaimana? Tentu menyakitkan! Saya pikir, itu hanya ada dalam sinetron atau bahkan dalam mimpi.Tapi, pada kenyataannya, sepanjang bersekolah sejak TK hingga SMA, saya sering di-bully.

Kalau menengok penyebabnya, apakah saya ini tergolong lemah? Tidak juga! Meski saya ini perempuan (yang kata orang makhluk paling lemah), tapi saya pun pernah berkelahi, tinju-tinju beneran sama teman laki-laki saya waktu SD. hehehe... Jangan ditiru ya! ciyuuus? Ya! Tapi, waktu itu... teman laki-laki saya yang mulai duluan, ganggu saya yang lagi menulis di papan tulis saat guru tidak ada, dia melempari saya dengan kapur dan penghapus penuh kapur, lalu saya kejar, saya peringatkan tapi dia tidak terima akhirnya menonjok saya. Saya pun balik menonjok dia karena dia tidak menghormati saya sebagai ketua kelas. Alhasil, malah dia yang menangis terus lapor pada orangtuanya. Orangtuanya datang, sekolah heboh, kepsek pun geram dan saya mencoba menjelaskan bahwa saya ini hanya ingin membela diri karena tidak diterima diperlakukan seperti itu -> ditonjok! Tapi, sejak saat itu, kami malah makin akrab, dia minta maaf sama saya, ortunya pun demikian dan kami berteman baik. hehehe... Salah sendiri ngelawan perempuan. Makanya, jangan remehkan perempuan!!!

Begini cerita saya waktu di-bully....

Bullying masa TK

Yang masih saya ingat baik adalah waktu itu saya punya teman perempuan, rambutnya disemir pirang tapi bukan bule, tomboi dan raut wajahnya menakutkan (itu yang bilang orang lain, bukan saya). Namanya H. Dia itu selalu nyubit saya, bikin saya menangis, selalu rebut mainan apapun yang saya main dan tidak terima kalau saya dipuji sama guru. Tidak habis pikir ada anak TK yang jago nge-bully. Setiap sekolah, saya menangis tapi karena belum begitu mengerti jadi saya agak cuek dan malah baik sama dia. Kalau mainan saya direbut, yaaa... saya lebih baik duduk di teras sekolah sendirian atau ngobrol sama ibu guru saya, lihat pemandangan... tanpa mainan... tanpa jungkat-jungkit... tanpa semuanya. Hari-hari saya dipenuhi kelabu tapi anehnya saya tidak begitu takut. Saya tetap baik sama H. Sampai suatu hari, dia merebut jungkat-jungkit yang saya mainkan sendirian, eehhh... dia jatuh sendiri karena terlalu kencang... tapi malah saya yang difitnah. Astaghfirullah, sekali lagi, saya tidak percaya, bagaimana pribadi anak itu sehingga bisa berbuat jahat di usia dini... amat sangat dini...

Bullying masa SD

Waktu SD, saya pernah di-bully. Saat naik ke kelas tiga, terjadi perebutan bangku. Dan, akhirnya semua teman sudah dapat bangku, kecuali saya! Loh kok bisa gak dapat? Bukannya kursinya gak cukup, tetapi satu bangku dikuasai oleh seorang teman, perempuan. Saat itu, saya menaruh tas di situ karena saya anggap tidak ada penghuninya. Eh, setelah saya duduk, teman saya si D itu datang menghardik saya dan melempar tas saya ke lantai. Saya juga jatuh ke lantai, dan saya duduk di lantai. Belum ada guru yang melihat. Teman saya itu dengan seenaknya memaki saya dan membentak, padahal saya sama sekali tidak bicara apa-apa. Selidik punya selidik, rupanya dia membenci saya lantaran dia tidak suka kalau saya dekat dengan Tama (sahabat karib laki-laki saya). Sahabat saya si Tama pun ikut melerai dan memarahi si D. Yaa meski saya sudah berhasil dapat tempat duduk berkat bantuan Tama, tetap saja setelah itu D masih geram. Dia itu masih kecil udah sok dewasa, mau jadi pacar sahabat saya, Tama. Ya ampuuuun, setahu teman-teman saya yang lain, Tama itu juga pernah bilang ke mereka kalo dia itu suka sama saya. Tapi karena masih kelas 3 SD, jadi saya anggap itu artinya suka jadi sahabat saya. Di manapun saya ada, dia juga ada nemenin saya. Begitulah, si D termakan api cemburu akibat cinta monyetnya terhadap Tama. Tidak hanya sekali si D nge-bully saya, dia juga teramat pelit pada saya lantaran saya dulu selalu dapat rangking 1 di kelas, dia pun tidak terima, bahkan dia pernah numpahin milo di depan saya. Masyaallah... mimpi apa saya sampe di-bully sama temen sendiri. Kapan D berhenti nge-bully saya? Saat Tama pindah sekolah ke kota lain, si D juga ikutan pindah dan finally saya bebas.

Apakah saya benar-benar sudah bebas? Ternyata TIDAK!! Saat itu, kelas 5 SD. Saya dan satu teman kelas ditransfer untuk sementara ke SDN Unggulan. Pertama masuk saja, saya sudah diolok. Saat memperkenalkan diri, mereka mengejek nama saya terlalu panjang dan mereka membuat yel-yel kemerdekaan seperti ini:

Yanuarty Paresma Wahyuningsih, lahir di kereta api, tertabrak mati, weeek....

Saat mendengar itu terlontar dari mulut teman baru, saya hanya diam bahkan tersenyum geli, saya anggap lelucon gombal padahal syair yel-yel mereka itu sangat menyakitkan! Keesokan harinya, secara tidak langsung, guru baru saya mem-bully saya juga. Saya yang baru sehari masuk kelas dan mengikuti kelas selanjutnya sedang waktu itu ternyata ada PR tapi saya tidak tahu karena memang baru masuk... eeehh... malah tangan saya dipukul pake penggaris kayu... SAKIT! MERAH! Iya. Saya kesal tapi mencoba sabar. Saya ditertawai, saya coba untuk ikut tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Apakah saya ini terlalu sabar? Saya cuma bisa bilang kalau kesabaran itu memang tidak ada batasnya tapi ketika sudah mencapai titik 'didih', kesabaran itu tentu akan berkurang. Itu yang saya alami. Besok... besok dan besoknya lagi, saya datang diantar Bapak dengan senyum gembira, masuk kelas, duduk dan ikuti pelajaran, teman laki-laki di belakang saya malah ngejahilin saya, mukul kepala saya pake penggaris kayu dengan pelan, ngegelitik saya biar saya gak konsen, alhasil saya ditegur guru, teman saya memfitnah bahwa saya yang mengganggu dia dan teman lain acuh tak peduli sekalipun kami semua sudah saling kenal.

Saya benar-benar tidak tahan. Saya akhirnya meminta kepada kepsek untuk kembali saja ke sekolah asal saya. Saya sama sekali tidak senang dengan potret sekolah  unggulan seperti itu. Apa itu yang namanya sekolah SD UNGGULAN??? Saya pikir TIDAK SAMA SEKALI! Finally, saya pamit dengan baik-baik pada teman saya, saya juga bahkan meminta maaf kalau ada salah. Mereka malah sedih, nangis dan pengen saya balik. Entah itu hanya gurauan, tipu muslihat atau apalah... saya tidak peduli lagi. Tapi, overall, saat saya berulang tahun, saya masih setia mengundang mereka ke rumah. 


Bullying masa SMP

Kenapa di zaman saya ranking itu adalah bahan rebutan? Kenapa siswa yang berprestasi malah kena bully? Dan dari sekian teman-teman berprestasi lainnya, kenapa harus saya yang kena???

Pertama, saya berhasil mengambil posisi ranking 1 umum di sekolah, saya dibenci oleh seorang teman saya yang awalnya dapat ranking umum itu.
Kedua, ini cerita paling seru dan berawal dari mimpi. Ya, saya mimpi dan mimpi itu kenyataan. Baru pertama kali dalam hidup saya, mimpi buruk saya kenyataan. Waktu itu kelas dua SMP, saya masuk kelas III.1 unggulan. Kompetitor tidak begitu berat dan alhamdulillah saya masih bisa berprestasi dan ikut siswa teladan. Di kelas, saya punya teman kelompok belajar, bukan geng tapi orang banyak menyebut kami geng padahal tidak. Di kelompok kami, sudah sepakat saling bantu-membantu dalam beberapa matpel. Kebetulan hari itu ada tugas bahasa inggris. Karena guru meminta untuk tidak memberi contekan makanya saya tidak mau membantu teman dengan jalan memberi contekan, tapi hanya sebatas penjelasan detil tentang tugas itu. Salah satu teman kelompok kami (cewek) yang memang orang paling kaya di kelas dan sok berkuasa itu marah karena saya tidak memberikan contekan.

Dan, besoknya.... kelas mendadak berubah seperti neraka bagi saya seorang. Teman saya si DN itu menghasud seluruh teman di kelas agar tidak berbicara dengan saya, mengacuhkan saya dan mengolok saya sebagai "orang sok pandai". Salah saya apa sih? Saya hanya ingin menaati tata tertib peraturan dari guru bahwa memberi contekan bukanlah jalan terbaik. Saya juga sudah sering membantu mereka untuk menerangkan mata pelajaran yang tidak mereka mengerti, utamanya bahasa inggris karena waktu itu memang saya juga baru sadar bahwa saya sering mendapat nilai paling tinggi di antara teman-teman satu sekolah, ya bukan hanya satu kelas tapi satu sekolah. Hal itu bikin DN geram. Teman-teman betul-betul tidak ada yang mengajak saya berbicara. Teman sebangku pun dihasud untuk tidak ngobrol dengan saya. Mereka semua diancam oleh DN.

Saya sedih... nangis... dan setiap keluar main, saya selalu menulis surat untuk sahabat-sahabat saya yang memang kelas mereka terpisah dari saya (yaitu sahabat saya di kelas III. 5, III. 3 dan III.4.). Saya terkucil selama beberapa hari. DN pun terus mengolok-olok saya di setiap kesempatan, bahkan di hadapan guru. Tapi syukurnya, guru-guru itu tidak langsung percaya karena mereka sudah sangat mengenal saya dengan baik dan tahu luar dalam saya bagaimana. Meskipun begitu, saya kecewa... sedih... seolah belajar sendiri di hutan belantara, tidak ada teman apalagi tarzan... benar-benar tidak ada teman. Kalau ada tugas, tidak ada teman yang mau menjawab pertanyaan saya jika saya kurang mengerti dan mereka masih mengolok saya sebagai "murid sok pintar".

Batin saya, susah juga yaa jadi bintang sekolah. Jadi siswa teladan itu susah... jadi siswa terbaik itu susah... jadi orang pintar itu susah... Tanpa teman, apalah artinya saya di kelas?

Sampai suatu saat, teman sebangku saya kasihan melihat saya diam terus dalam kelas kalau pas jam istirahat. Dia selalu melihat saya menulis puisi dan cerpen fantasi sampai binder saya penuh, tentunya dalam keheningan, kehampaan. Akhirnya, orang pertama yang mengajak saya ngobrol itu teman sebangku saya, dia sampe nangis karena takut sama DN. Saya bilang saja, untuk apa takut sama DN, dia itu cuma manusia. Takut itu sama Tuhan, bukan sama DN, sekalipun dia orang terkaya di kelas tapi, toh masih ada yang lebih kaya dari dia yaitu sahabat perempuan saya di kelas III.5 itu. Saya berusaha membela diri, apapun komentar DN terhadap saya. Sampai saya berinisiatif minta maaf lebih dulu, saya disuruh inilah itulah... saya lakukan asal masih wajar. Baru deh, dia balik minta maaf sama saya. Tapi setelah itu, hubungan kami renggang. Itu sih karena dia yang menjauh sendiri.

Bullying masa SMA

Ini yang paling ekstrem dari semua praktek bullying yang saya alami dari TK sampe SMP. Kelas 1 SMA, lagi-lagi masuk kelas yang penuh dengan orang-orang cerdas. Saya punya seorang teman laki-laki, badannya bongsor, anak pejabat, sok berkuasa. Entah salah saya apa, dia selalu mem-bully dengan cara meludahi muka saya dan sekali lagi sama seperti DN mengejek saya dengan sebutan "orang sok pintar". Astaghfirullah, padahal kalau di kelas itu, saya itu pendiam, hanya aktif mendengar dan bukanlah orang yang menonjol apalagi aktif bertanya (hanya sesekali saja menjawab pertanyaan atau bertanya). Kalau ada diskusi, saya bahkan tergolong introvert. Mungkin, bisa dibilang saya ini lebih menojol di tugas dan ujian, bukan di keaktifan kelas. Tapi, kenapa saya malah dicap seperti itu? Apa sih salah saya? Saya hanya ingin menuntut ilmu tapi kenapa seperti ini?

Hari demi hari, saya nangis terus di kelas. Saya bahkan was-was kalau hendak berangkat sekolah karena takut berhadapan dengan si FZ itu. Lagi dan lagi FZ meludahi muka saya, buku-buku saya, baju saya, rok saya, rambut saya... sampai... saya terpaksa tidak bisa ikut salat Zuhur berjamaah lantaran kotor terkena ludah FZ. Akibatnya, salat saya terpaksa sangat telat, kadang pun saya jamak dengan Ashar karena pulangnya jam 14.30. Saya sudah coba melawan, tapi kalau saya menegur, teman laki-laki yang lain malah makin mengolok saya sok jagoan dan melempari kepala dan badan saya dengan bola kencang-kencnag. CUMA NEGUR BAIK-BAIK DIBILANG SOK JAGOAN???? Astaghfirullah....

Berhari-hari saya menangis, di kantin saya juga pernah nangis sendiri sampai makanan saya tumpah dan saya malu sekali. Saya juga curhat ke teman kelas saya yang memang akrab dengan saya. Kenapa? Tidak ada yang peduli? Sekali lagi, salah saya apa ya Allah?

FZ baru meminta maaf pada saya saat kami ambil jurusan. Dia IPS sedang saya IPA. Yaah saya maafkan daripada dendam, juga tidak baik kan?

Begitulah pengalaman saya selama di-bully sepanjang tahun. Dan, saya baru benar-benar menghirup udara bebas ketika kuliah. Beruntung, punya lingkungan dan teman-teman salih dan salihah.

Saya sampai berpikir keras, berkaca tiap hari, bertanya sama diri sendiri, apa salah saya? Saya menuntut ilmu direcokin, saya dapat nilai bagus atau menang lomba malah dibilang "sok pintar", saya mengalah dibilang sok sabar, saya melawan malah dibilang sok jagoan. Serba salah kalau berhadapan dengan orang agresif seperti mereka.

Yaaa... kalau dari pengalaman saya itu, kenapa mereka bisa agresif itu karena:
Satu, ada yang berasal dari keluarga broken home
Dua, ada yang berasal dari keluarga berada sehingga menyalahgunakan identitas "orangtua" mereka sebagai simbol kekuatan/kekuasaan
Tiga, ada yang hanya karena caper banget dan ada pula yang salah asuhan

Hmm... mulai sekarang STOP BULLYING YA TEMAN-TEMAN DAN PARA PENDIDIK (GURU-GURU)! 
Kalau saja ada duta anti bullying, saya mau banget tuh bisa jadi duta itu... bisa memproklamirkan gerakan anti bullying ke seluruh pelosok, ke sekolah-sekolah untuk menumpas bullying.

I JUST WANNA SAY.....

Pendidikan itu seharusnya menjadi sebuah kenikmatan, seorang yang menuntut ilmu seharusnya bisa memperoleh kebahagiaan karena bisa mempelajari ilmu Allah yang begitu luas dan tak terbatas, namun pendidikan justru akan menjadi 'neraka' bila terjadi ketidakseimbangan antara komponen di dalamnya. Jangan jadikan tempat menimba ilmu sebagai basis untuk menanam keburukan karena apa yang kamu tanam, itulah yang nantinya akan kamu tuai.

Jika hari ini kamu mem-bullying seseorang, jika kamu memang tidak takut ancaman siapapun, ingatlah satu hal, KAMU HARUS TAKUT PADA ANCAMAN ALLAH! Biarpun perbuatanmu belum terbalas, biarpun ibaratnya kamu diberi kelapangan untuk menumpahkan keburukan dan kejahatan, kamu harus ingat, waktu itu akan tiba, waktu di mana kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Semua orang akan menanggung akibat dari sebab yang dilakukan. 

Bagi yang di-bully, bersabarlah, tetap yakin bahwa kekuatan terbesar itu datang dari Allah. Mintalah kekuatan dan kesabaran itu pada-Nya. Jangan menyimpan dendam, tapi bila ada hal yang tidak kamu sukai, tegurlah dengan cara baik-baik dan tidak menyakiti. Anggap saja mereka begitu karena  terlampau sayang padamu.

STOP BULLYING!!!
SELAMATKAN PENDIDIKAN DI NEGERI KITA! 
CIPTAKAN DUNIA PENDIDIKAN ITU SEBAGAI SUATU HAL YANG MENYENANGKAN BAGI GENERASI BANGSA INI!
---OoO-----

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway UNFRIEND YOU (DL: 20 Juli 2013)

2 comments:

  1. >.<
    wah.. kamu punya pengalaman yang nggak mengenakkan ya...
    Tetapi alhamdulillah, sekarang sudah terbebas ya...
    Perbuatan seperti apapun akan mendapat balasan dari Tuhan...

    Tetap semangat menuntut ilmu.. :)
    Allah with us ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm :) ya begitulah...tapi itu jadi kenangan2 juga, ternyata masa sekolah itu seru..iya seru karena kena bully. karena bully itu, bnyk sekali yg kupelajari. alhamdulillah....

      yapp HWAITING!!!!

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.