Friday, September 6, 2013

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (13)

Assalamu'alaikum :)

Saya pikir CHDJ udah ending. Alhamdulillah, SK masih ada jadi masih lanjut ngajar.

Oh ya, untuk semester gazal ini, saya memperoleh tanggung jawab untuk memegang mata kuliah Kesehatan Mental di semester V serta mata kuliah Pengantar Bimbingan Konseling Islam di semester I.

Minggu ini banyak cerita menarik setelah masuk dua kelas tersebut.


Pertama, saat masuk kelas pagi semester lima KesMen, penduduknya tahu berapa orang????? 7 butir saja pemirsaaaah..... Really? He'em ciyus nih. Parahnya lagi, tuh kelas sudah seperti ponpes khusus laki-laki, isinya 7 orang laki-laki, perempuan otomatis hanya saya seorang. 

Ketika pertama masuk untuk bahas kontrak kuliah, ada satu mahasiswa yang menatap wajah saya paling lama tanpa kedipan. Why? Jangan salah paham dulu! Kata anak-anak lain, sebut saja F, dia memang seperti itu. Ketika dosen sedang berbicara, maka mata bulatnya akan terus menatap ke wajah dosen yang bersangkutan. Waduh, sampai saya salah tingkah sendiri. Wajarlah ya, karena usia kita pun tidak jauh beda makanya saya sempat grogi ketika di tengah menerangkan silabus, dia terus memarkir matanya ke arah saya.

Untuk kelas para lelaki ini, karena jumlahnya hanya secuil, saya pun sempat bingung ketika akan membagi kelompok belajar mereka. Mau tidak mau, hanya ada 2 kelompk dengan jumlah maksimal 3 anggota. Karena sudah pernah bertemu sebelumnya di kajian GC tahun 2012 lalu, jadi saya sudah paham seperti apa karakter masing-masing dari mereka. Mungkin, hanya kebiasaan mereka saja yang belum begitu tampak dan saya ketahui. Saya cuma berharap semoga mereka benar2 serius mengikuti kelas saya, belajar dengan sungguh-sungguh, tidak telat mengumpulkan tugas, tidak banyak yang absen (karena cuma 7, gak lucu kan kalo sebagian pada absen), bisa rame, menyenangkan dan bisa meraih nilai terbaik untuk kelas saya. Amin.

---

Lanjut ke hari Kamis. Siang hari. Sebelumnya saya mau bilang, semester ini meski hanya ada 2 jadwal kelas, namun benar-benar padat dan payah. Payah karena motor dipakai adek ke sekolah sehingga ke kampusnya harus jalan kaki, mendaki, siang-siang panas bolong dan biaya ojek sangat mahal ditambah saya harus berhemat demi membuka rekening baru. tsaaaah.... huuuuftt!!!!

Untuk kelas siang ini benar-benar padat. Kenapa? Karena saya kedapatan schedule mengajar di kelas MABA sejumlah 24 orang plus 1 Mahasiswa lama yang sudah pernah ikut kelas saya semester lalu.

Karena siang hari, jadi banyak dari mereka yang terlihat suntuk. Namun, bersyukur saya masih diberi kemampuan untuk berhumor dan usaha untuk kreatif demi mengatasi kebosanan mereka. (Saya pun sebenarnya bosan menghadapi kuliah siang karena ngantuk, tapi saya paksa untuk menghapus kebosanan itu). Alhamdulillah, mereka sangat ramai dan menyenangkan.

Kemarin, di kelas Maba, saya diliatin terus dengan teman-teman semester tiga (yang semester kemarin masuk kelas saya) waktu memberikan pertanyaan kepada para Maba. Kemarin pun ada begitu banyak hal lucu yang terjadi.

Di antara 24 maba, hanya ada beberapa orang yang punya karakter "berani bicara di depan umum" dan punya jiwa pemimpin. Selebihnya masih malu-malu kucing. Jadi saat kutanya-tanya tentang tata tertib dan silabus, sebagian besar pada dieeeem, kalem, melempem kayak rempeyek, masyaallah....

Dan, kelas tersebut, jumlah perempuannya lebih banyak dari laki-laki. Lebih dari itu, nama-nama mereka pun banyak kesamaan di huruf belakang sehingga saya sempat kebingungan dan terjebak salah saat menyebut nama masing-masing. Makanya kemarin, saya sedikit bertingkah lucu saat berusaha menghapal nama-nama yang bagi saya sulit karena serupa.

Yang lucunya pada saat saya memberikan beberapa pertanyaan terkait tujuan hidup atau impian mereka. Dari seluruh kertas yang terkumpulkan, rata-rata jawaban mereka sama, masih ngambang. Mereka banyak yang menuliskan, "Saya ingin menjadi orang yang sukses, berguna dan membanggakan orangtua." ---> Tentu ini masih dangkal dan tidak spesifik kan? 
Ketika saya keliling dan bertanya kembali, "Sukses dalam bidang apa? Ingin berguna untuk apa dan siapa?", mereka semua bungkam sambil melongo dengan wajah lugu. 
Berkali-kali mereka bertanya ulang, "Maksudnya tujuan hidup yang spesifik itu bagaimana sih Kak?"
Padahal, untuk pertanyaan tersebut, saya sudah memberikan contoh berkali-kali dengan beragam hal dan sudah cukup spesifik.

Kemudian, ketika beralih ke sesi pertanyaan tentang rencana apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut?
Saya meminta mereka untuk menulis rencana per hari, per minggu, per bulan dan per tahun yang mana itu terpecah dari rencana jangka pendek dan panjang sebenarnya. Eh... ketika saya sudah memberi contoh, mereka melongo dan bertanya-tanya lagi.
Malah, untuk pertanyaan rencana, banyak dari mereka yang menuliskan tidak sesuai dengan tujuan hidup. Misal, kemarin ada yang menuliskan, "Impian saya yaitu ingin mengharumkan nama orangtua. Saya pun ingin menjadi pegawai LAPAS." tapi, dia justru menuliskan rencana, "Rencana yang akan saya lakukan, belajar, sholat, mengunjungi rumah keluarga, mendoakan orangtua, refreshing, olahraga, jalan-jalan" 
?????
Saya sampai menahan tawa ketika membacanya kembali di rumah.

Ya, mereka memang sudah tepat memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah) karena dengan begitu mereka akan belajar lagi untuk mengenal diri mereka, mengenal apa tujuan hidup mereka dan menspesifikkan secara detil apa yang ingin mereka capai. ( I hope).

Selain itu, ketika masuk pada sesi pertanyaan untuk diri saya, ada hal lucu lagi yang terjadi.
Saya bilang bahwa saya lahir dan tinggal di Parepare tapi seluruh keluarga besar saya berasal dari Jawa Timur dan mulai tahun depan, saya pun akan menetap di Malang.
Ketika mereka bertanya saya lulusan S1 dan S2 dari mana? Saya balik meminta mereka untuk menerkanya sendiri. Ada yang bilang lulusan Makassar, lulusan Parepare (STAIN itu sendiri), dan lulusan Jawa.
Saat saya bilang bahwa saya lulusan S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, mereka lanjut bertanya, "S2 nya di mana?"
Saya jawab, "Alhamdulillah.... saya.... belum S2." Mereka malah ternganga. "Loh, kenapa bisa? Bukankah dosen harus S2, atau apa sekarang sementara kuliah juga?"
Saya jawab, "Kalau rencana sih tahun depan, tapi bila ada rezeki."

Lebih lucu lagi ketika ada yang bertanya, usia saya berapa?
Semua menebak, "27... 28... 26... 24...."
Saya tentu jawab," Salah semua."
Mereka tercengang dan makin penasaran.
Lalu saya bilang, "Saya lahir 28 Januari 19..."
Mereka menebak, "1987... 1986... 1985..." dsb
Saat saya hampir menjawab ada yang nyeletuk, "1990"
"Yap, right! Saya lahir 28 Januari 1990"
Mereka malah bengong, tak percaya dan menyangsikan hal itu.
Lalu saya kembali mengulang bahwa itu benar. Usia saya masih 23 tahun. Mereka serempak tercengang dengan berkata, "Haaaa? Masa sih dosen 23 tahun???? Gimana bisa?"
Hehehe... Memang sih, rata-rata usia dosen itu tentu jauh di atas saya. Malah saya pertama ngajar 2012 lalu dengan usia 22 tahun baru lulus kuliah S1. Namanya juga dosen LB. Tapi, kembali lagi saya ingatkan mereka untuk tidak memanggil saya dengan sebutan "Bu" tapi "Kak" agar lebih akrab.

Momen selanjutnya, ketika minta alamat socmed dan nomor handphone saya. Semua menulisnya serentak dan ada yang langsung mem-follow twitter saya serta me-missed call saya. Hehehe... Saya pun sempat bingung sendiri saking mereka yang begitu ramah pada saya.

The last moment... saat kelas usai dan berhambur pulang.
Saya menahan mahasiswi untuk cipika-cipiki (Capek juga karena ada banyak mahasiswi). 
Ketika mereka hendak mencium tangan, saya melarang karena saya merasa cium tangan itu untuk orang yang usianya jauh lebih tua di atas saya atau untuk kakak-adik kandung/sedarah saja. Selain itu, saya tidak ingin mereka mencium tangan karena saya sendiri kurang nyaman.
Dan, saat udah cipika-cipiki, ada satu mahasiswa (cowok) yang berkata dengan wajah memelas, "Kak, boleh salaman, nggak?"
Saya jawab, "Boleh." Saya tersenyum dan hanya menangkpkan kedua tangan saya di depan dada tanpa menyentuhnya. Hehehe... dia memelas tapi saya harap dia bisa memahaminya.

Nah, begitulah cerita pengalaman di minggu pertama kelas BKI setelah libur panjang kemarin.

Minggu depan adalah hari yang cukup padat karena harus memberikan training psikologi mini serta outbound kepada 50 maba dari jurusan BKI dan KPI (komunikasi).

Semoga lancar... amin. :)

Bagaimana dengan ceritamu?

2 comments:

  1. hahahahahhaha.. Gokiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiillll...

    ReplyDelete
  2. hehehe begitulah euphoria di kelas new comer alias mahasiswa baru hihi :D

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.