Saturday, September 7, 2013

KAUM DIFABEL BERHAK NAIK ANGKOT

Kemarin ada yang menonton HITAM PUTIH Trans7?

Saya pun menonton. Satu kata, Amazing....!!!!

Indonesia yang notabene memiliki sumber daya alam berlimpah, masalahnya pun tidak kalah melimpah.

Kaum difabel, terutama yang memiliki kelainan seperti tuna daksa atau sebagainya rupanya sampai saat ini masih sering mengalami diskriminasi.

Diskriminasi karena tidak punya kaki, tidak punya tangan atau keadaan cacat lainnya. Terlebih lagi, kelainan seperti ini banyak diderita oleh kaum marjinal. 


Di Trans7 semalam, ada sepasang suami istri penyandang difabel. Sang ayah tak punya kaki sementara sang istri berkaki lumpuh dan keduanya harus tergantung dengan kursi roda. Alhamdulillah, mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang kra-kira berusia sekolah SD (mungkin, karena saya juga lupa tidak nyimak saat mereka memperkenalkan diri).

Sang suami bekerja sebagai tukang servis elektronik (kalo istrinya saya tidak nyimak kerjanya apa). Jarak antara rumah dan tempat kerjanya cukup jauh sehingga harus naik angkutan umum. Sayangnya, mereka berdua sering ditolak dan diacuhkan oleh para supir angkot dan bus. Alasannya, karena angkot sudah penuh, repot tak bisa mengangkat beserta kursi roda mereka dan berbagai alasan lainnya. Akibatnya, mereka seringkali harus menanti kendaraan umum selama berjam-jam. Miris!! 

Bagaimana jika para supir angkutan umum itu bernasib sama seperti mereka? Tentu sangat tidak menyenangkan telah diperlakukan demikian, kan?? 

Semenjak saat itu, sang suami menyicil motor kemudian memodifikasinya bersama dengan para orang bengkel. Mereka memodifikasi motor matic mereka agar bisa membawa sang istri yang tak bisa lepas dari kursi roda. Alhamdulillah nya lagi, dari hasil modifikasi motor tersebut, banyak para penyandang tuna daksa seperti mereka yang meminta sang suami tersebut untuk membuatkan model serupa. Sehingga, mereka tidak perlu lagi diacuhkan orang-orang dan tidak perlu lagi ditolak oleh para supir angkutan umum.

Saat itu juga hadir pasangan pengantin baru Arumi Bachsin dan Emil Dardak. Emil pun memberi komentar bahwa memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bijak. Jangan katakan kamu tidak bisa karena kamu tidak punya "ini" atau "itu". Tapi, katakan pada dirimu bahwa kamu sebenarnya bisa melakukan apapun dengan yang kamu miliki, sekecil apapun itu.

Kekurangan sepasang suami istri tersebut bukanlah menjadi penghalang bagi mereka untuk tidak bersemangat menyambung hidup. 

---

Bercermin dari kejadian yang dialami oleh bintang tamu Trans7 tersebut--mungkin masih banyak yang mengalaminya di luar sana namun tidak terekspos, seharusnya ini menjadi perhatian bagi pihak pemerintah/ DISHUB agar menyediakan sarana tambahan bagi para penyandang difabel seperti mereka.

Pernah saya membaca buku travelling, di negara lain sudah banyak angkutan umum terutama bus, tram ataupun kereta pasti punya bagian untuk stroller bayi atau kursi roda di mana lantainya direndahkan sehingga sejajar dengan tinggi halte atau platform kereta tersebut. Salah satunya yaitu Belanda. Sekalipun tidak ada, para kondektur bus atau tram atau petugas keretanya pun terbilang ramah mau menolong mereka untuk naik bersama.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Selama ini, Indonesia khususnya di bidang transportasi seolah hanya fokus pada permasalahan kemacetan, penambahan atau pengurangan fasilitas angkutan umum, permasalahan naik turunnya biaya transportasi dan sebagainya. Mereka sadar bahwa angkutan umum diperuntukkan bagi masyarakat dari segala lapisan stratanya, tanpa memandang "bulu". Namun, pernahkah mereka berpikir untuk menyetarakan kepuasan para masyarakat "normal" dan kaum difabel yang terlahir kurang normal terhadap sarana dan prasarana yang mereka sediakan??

Tidak semua kaum difabel itu hidup berkecukupan sehingga mampu untuk membeli kendaraan sendiri.

Dan, tidak semua orang peduli pada hal-hal seperti ini... tidak semua orang bermurah hati membantu mereka yang berkekurangan.

Para kaum difabel pun tentu sangat berharap agar mereka juga dapat merasakan yang namanya naik angkutan umum tanpa mendapat sangsi atau dikucilkan atau merasa merepotkan orang lain.

Tapi, saya juga tidak ingin lagi-lagi menyalahkan pemerintah sebab permasalahan di negara ini begitu banyak dan pelik sehingga tentu masih ada yang luput dari penglihatan mereka.

Saya hanya berharap ke depannya, tidak akan ada lagi orang "normal" yang mengucilkan para penyandang difabel. 

 Semoga rezeki kita senantiasa diberi kelapangan ya agar bisa membantu mereka.

Aamiin :)


No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.