Friday, September 6, 2013

KETIKA DIUJI (LAGI) SEBAGAI PEMIMPIN

Kemarin pagi sebelum berangkat ngajar, saya sempat membuka email di FB.

Seorang kakak tingkat masa kuliah yang mengirimnya. Tadinya, sudah lama sekali kami tak saling menyapa lewat socmed (karena saya dan dia tak berada di satu daerah). Saya juga mengira mungkin dia membenci saya lantaran masalah yang terjadi 2011 lalu.


Di sini saya hanya ingin curhat sesuai judul yang saya tulis. Ini bermula sejak masih kuliah semester awal. Saat itu hanya ada dua organisasi yang saya ikuti. Pertama, karena saya ingin berubah menjadi lebih baik maka saya mengikuti organisasi rohis Fakultas, LISFA (Lingkar Psikologi Asy-Syifa, namanya). Kedua, karena hobi menulis dan korespondensi, saya juga ikut salah satu organisasi jurnalis fakultas, PERSONA namanya.

Di LISFA, alhamdulillah masih langgeng dengan organisasi tersebut hingga akhir kuliah. Namun, ini berbeda dengan PERSONA.
Ketika itu, telah terjadi pergantian ketua atau PINMUM dan PIMRED. Dan, lambat laun, kegiatan organisasi tersebut makin surut dan redup. Bahkan bisa dibilang mati suri.
Lama kemudian, hampir di penghujung 2011, PERSONA ingin bangkit lagi sekaligus memilih PINMUM dan PIMRED yang baru.
Waktu itu, ketua sebelumnya (kakak tingkat yang saya maksud itu) menghubungi saya. Karena kebetulan kami sama-sama magang di UPT BK kampus, jadi kami sering bertemu. Namun, tepat saat 2012 datang, saya kemudian ditarik.
Saya dan dia pun tahu bahwa ini sangat mendesak dan kami mungkin waktu itu tidak sadar bahwa pemilihan ketua yang baru ini terbilang ilegal (tak resmi), tak melalui sidang dan terkesan "memaksa".
Ketika itu, saya sudah hampir selesai skripsi, sisa bab 4 dan 5. Ketika itu pula, mereka memilih saya sebagai PINMUM dengan sedikit mendesak dan memohon. Sebenarnya ada salah seorang sahabat yang juga dipilih sebagai kandidat, tapi karena dia masih memegang jabatan sebagai Bendum LISFA, maka dia hanya menjadi PIMRED. Akhirnya, mau tidak mau, saya mengatakan "Ya, saya coba dulu".

Dari situlah saya mulai diuji.
Saya mengusulkan untuk membuat buletin sederhana sebagai perkenalan kembali PERSONA, khususnya kepada para Maba.
Saya dan kakak tingkat tersebut sudah berusaha menghadap ke PD 3. Sebenarnya saya begitu takut dan kurang respek lagi dengan Bapak itu (maaf, ini karena setelah kejadian Desain Training yang menyebabkan kami bisa dibilang "merugi").
Beliau hanya bilang, "Coba saja, buktikan dulu, dan cari sisi komersilnya" agar bisa "terjual". Maksudnya sebagai faktor penarik minat saja agar ada yang mau bergabung dengan organisasi tersebut.
Saya pun juga sudah berusaha diskusi dengan ketua BEM waktu itu dan dia siap membantu.

Namun, lambat laun, saya tak bisa melawan waktu dan kesibukan saya selama turun lapangan lagi untuk tambahan hasil analisa skripsi. Sehingga, saya harus terdampar jauh dari lokasi kampus. Saat saya kembali ke kampus hendak bimbingan lagi, saya shock. Berita tentang mati surinya PERSONA meledak ke mana-mana hingga ke seantero fakultas. Malah saat itu begitu banyak mahasiswa tingkat praktikum yang menjadikan isu PERSONA sebagai sasaran empuk interview masalah.

Saya coba meladeni interview itu dengan bersabar dan berusaha mengatakan hal-hal baik terkait PERSONA sekalipun dari interogasi mereka sepertinya mencurigakan. Dan, mereka memakai itu sebagai bahan praktikum. Bukan hanya satu kelompok atau satu kelas, melainkan kelas lain demikian halnya. Lalu, saya terpaksa tidak lagi ingin meladeni interview tersebut karena saya jenuh, sedikit kecewa dengan mereka.

Tidak lama setelah itu, saya semakin sibuk mengejar bimbingan tiap hari demi memperoleh ACC keabsahan kriteria hasil lapangan saya meski harus revisi berkali-kali pula. Saat itu saya seolah dikejar-kejar oleh para interviewer yang masih ingin mengetahui isu PERSONA.

Sampai di detik terakhir selesai wisuda dan pasca jatuh sakit setelahnya, saya mencoba mengusulkan untuk membuat buletin mini saja sebelum saya pulang ke Parepare. Karena teman yang menjadi PIMRED masih ada di sini, sehingga saya sempat meminta tolong padanya untuk mencetak dan menyebarkan buletin tersebut sebab saya sudah diwanti-wanti pulang.

Sejak saat itu saya merasa telah menjadi orang yang paling bodoh. Saat menitipkan file buletin itu, saya lupa memberikan ongkos biaya cetaknya. Ingin pinjam uang teman saya itu tapi kesalnya, rekening saya mati, saya tak punya duit lagi dari sisa skripsi kemarin. Hanya biaya untuk pulang saja.

Sejak itu juga, teman-teman yang tadinya menawarkan bantuan serta solusi, malah sibuk dan sepertinya seolah tak peduli.

Sampai saya pulang, saya kepikiran.
Saya malu karena sudah menelantarkan buletin itu.
Saya tak bisa balik karena sudah ada SK untuk mengajar
Saya menyesal, tidak mampu menjadi pemimpjn yang baik meskipun semua itu terjadi atas desakan pihak lain.
Saya benar-benar bodoh.
Padahal sebelumnya, saya pun dipercayakan untuk memegang tanggung jawab sebagai ketua panitia di event perdana cerdas cermat Psikologi di LISFA dan saya bisa melewatinya meski sempat nangis lantaran di H-1 sempat salah paham perihal peminjaman tempat. Itu saja saya sanggup, tapi mengapa untuk PERSONA tidak???

Nah, pesan yang dikirimkan oleh kakak tingkat itu membahas tentang kejadian ini.
Masyaallah, dia meminta maaf pada saya karena telah memilih saya dalam keadaan terpaksa, mendesak di tengah masa kuliah saya sudah hampir habis dan dia baru menyadari bahwa mungkin waktu itu kami semua sedang berada di bawah pengaruh emosi negatif.

Tapi, saya tetap salah. Sekalipun dipilih terpaksa, namun saya sudah mencoba membuat buletin itu namun karena kebodohan saya datang, semua pun buyar, tanpa jejak dan mungkin memori telah merekam bahwa saat itu saya tidak bertanggung jawab sebagai pemimpin. Astaghfirullah

Karena hal itu, saya sadar dan bertaubat.
Sejujurnya saya juga tak ingin mengabaikan buletin dan tanggung jawab itu kalau saja pemilihan ketua pengganti itu lebih cepat, kalau saja emosi kami tidak negatif, kalau saja saya sadar waktu itu.

Saat itu saya benar-benar merasa sendirian menghadapi ujian di PERSONA. Semua teman yang pernah bergabung di organisasi tersebut seolah tak peduli. Saya seperti kehilangan teman-teman itu.

Tapi, alhamdulillah, saya cukup tenang dan bahagia melihat teman-teman di fakultas ingin kembali membangkitkan PERSONA sebagai ikon jurnalistik Psikologi. Semoga benar-benar berjalan dengan baik.

Rasanya, saya ingin segera pergi ke sana, menghadap mereka semua lalu meminta maaf.

Mungkin, setelah membaca ini, akan ada orang yang menilai saya kurang tanggung jawab, suka lari dari masalah atau lainnya.

Jujur, saya tidak ada niat seperti itu.

Saya minta maaf...

Dari semua ini, saya belajar untuk terus membenahi diri.

Ini juga menjadi alasan saya untuk tidak meninggalkan tanggung jawab sebagai dosen ketika SK saya kemarin turun tanpa sepengetahuan saya di tengah niat hendak menyusul ke Malang.

Saya tak ingin kejadian serupa itu terulang lagi.

Semoga masih ada kesempatan bagi saya untuk memperbaiki semuanya. Sebab semua amanah akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Astaghfirullahal'adzim...

Maafkan saya teman-teman...

Jika pun maaf ini tak berarti di mata kalian, semoga Allah masih memberi saya kesempatan

Di saat kalian memilih untuk meninggalkan saya atau menjauhi saya karena hal tersebut, semoga Dia masih ada untuk saya.

Tak ada yang sempurna, begitu juga dengan seorang pemimpin, begitu juga dengan saya.

Sekali lagi, maafkan saya

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.