Saturday, October 26, 2013

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

Psikologi kepribadian merupakan sebuah cabang ilmu psikologi yang membahas tentang pola-pola, pemikiran, perasaan dan perilaku yang membuat seseroang terlihat unik dari lainnya.

Di Indonesia, psikologi kerpibadian merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang watak dan karakteristik seseorang.

TEORI PSIKOANALISA MENURUT SIGMUND FREUD

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran yaitu:

a. Conscious (sadar): tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Isi dari daerah sadar ini merupakan hasil dari proses penyaringan yang diatur oleh stimulus dan hanya bertahan dalam waktu yang singkat serta segera tertekan ke daerah preconscious dan unconscious begitu seseorang memindahkan perhatiannya pada faktor eksternal yang lain.
b. Preconscious (prasadar): disebut pula sebagai available memory atau ingatan siap, yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak sadar. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari namun kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar. Di sisi lain, isi materi di dalam daerah tak sadar dapat muncul ke daerah prasadar. Apabila sensor sadar menangkap bahaya yang bisa ditimbulkan akibat kemunculan materi tak sadar, materi itu akan ditekan kembali ke daerah ketidaksadaran. Materi tak sadar yang berada di daerah prasadar itu dapat muncul dalam bentuk simbolik seperti mimpi, lamunan, salah ucap atau mekanisme pertahanan diri.

c. Unconscious (tak sadar): bagian paling dalam dari struktur kesadaran. Menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik namun itu adalah kenyataan empirik. Ketidaksadaran berisi insting, impuls atau driver yang dibawa sejak lahir dan pengalaman traumatik (biasanya pada masa kanak-kanak) yang kemudian ditekan oleh kesadaran lalu dipindah ke daerah tak sadar. Isi dari materi tak sadar memiliki kecenderungan yang kuat untuk bertahan lama dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

Struktur Kepribadian menurut Psikoanalisa Sigmund Freud

Id : dorongan insting yang selalu ingin dipuaskan dan merupakan aspek biologis. Id bersifat pleasure principle atau sesuai dengan kehendak nafsu.

Ego : mengacu pada reality principle (sesuai dengan realita yang ada) di mana sebuah perilaku atau kepribadian diwujudkan dalam bentuk pemenuhan terhadap Id. Ego merupakan aspek psikologis yang mendasari perilaku seseorang.

Superego : merupakan aspek sosiologis atau badan moral yang berdasarkan atas norma yang berlaku dalam kehidupan. Superego bertugas untuk mengendalikan Id dan Ego.

Id, Ego maupun Superego saling berinteraksi satu sama lain menghasilkan produk yang disebut tingkah laku.

TEORI BEHAVIORISME

Teori behaviorisme pertama kali dipelopori oleh B.F. Skinner. Skinner bekerja dengan tiga asumsi dasar yaitu:

a. Tingkah laku itu mengikuti hukum yang berlaku (behavior is lawful). Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.

b. Tingkah laku dapat diramalkan (behavior can be predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan, tetapi juga dapat meramalkan. Bukan hanya menangani masa lalu tetapi juga masa depan.

c. Tingkah laku dapat dikontrol (behavior can be controlled). Ilmu dapat melakukan antisipasi dan menentukan sedikit-banyak tingkah laku seseorang. Skinner bukan hanya ingin tahu bagaimana terhadinya tingkah laku, tetapi dia sangat berkeinginan memanipulasinya.

Dinamika Kepribadian Behaviorisme

a. Kondisioning klasik disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan hubungan stimulus respon yang bersifat refleks bawaan. Penelitian mengenai kondisioning klasik ini pertama kali oleh Ivan Pavlov. Pavlov melakukan penelitiannya dengan menggunakan anjing sebagai objek. Kepada seekor anjing, dilakukan operasi kecil di lehernya, untuk memotong saluran air liur dan disambung dengan pipa ke luar, dengan maksud—peneliti dapat mendeteksi air liur yang dikeluarkan oleh anjing. Ke dalam mulut anjing diberikan daging (stimulus asli) dan secara refleks, anjing akan merespon dengan mengeluarkan air liur (respon asli). Kalau bersamaan dengan pemberian daging dibunyikan bel (stimulus kondisi) yang terjadi adalah stimulus asli bersama dengan stimulus kondisi direspon dengan respon asli (air liur). Setelah percobaan diulang-ulang, bunyi bel tanpa pemberian daging direspon dengan mengeluarkan air liur. Terjadi proses kondisioning klasik antara stimulus kondisi dengan respon asli, yang sekarang menjadi respon kondisi. Dari percobaan ini, daging merupakan reinforcement bagi keluarnya air liur.

Dalam teori Pavlov, stimulus dapat pula disebut sebagai reinforcement.

b. Operant conditioning. Mula-mula dikembangkan oleh E.L. Thorndike. Menurut Thorndike, reinforcement tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan tetapi diasosiasikan dengan respon karena respon itu sendirilah yang beroperasi memberikan reinforcement. Reinforser inilah yang kemudian disebut oleh Skinner sebagai tingkah laku operan (operant behavior).

TEORI BELAJAR SOSIAL ALBERT BANDURA

Teori yang diusung oleh Bandura ini merupakan pemikiran yang berusaha untuk mengkritik paham aliran behaviorisme. Menurutnya, lingkungan memang membentuk perilaku namun perilaku juga membentuk lingkungan. Dia menyebut konsepnya sebagai determinisme resiprokal, yaitu dunia dan perilaku seseorang itu saling mempengaruhi.

Dalam penelitiannya, Bandura melakukan berbagai variasi penelitian. Bandura mengusung teori pembelajara sosial melalui pendekatan observasional atau modelling. Dari penelitian ini, Bandura menetapkan beberapa tahapan terjadinya proses modelling sebagai berikut:

a. Atensi (perhatian): kalau Anda ingin mempelajari sesuatu, Anda harus memperhatikannya dengan seksama. Sebaliknya, semakin banyak hal yang mengganggu perhatian Anda, maka proses belajar akan semakin lambat. Misalnya, apabila Anda mengantuk, grogi, mabuk, sakit, gugup atau terlalu mencari perhatian, Anda tidak akan bisa belajar dengan baik. Di antara hal-hal yang mempengaruhi perhatian mencakup karakteristik dari model itu sendiri. Jika model penuh warna dan dramatis, misalnya kita akan memberi perhatian lebih besar padanya. Jika modelnya atraktif atau prestisius atau tampak sangat luar biasa, Anda juga tidak akan suntuk memperhatikannya. Jika modelnya tidak jauh berbeda dengan diri Anda sendiri, Anda pun akan memperhatikannya dengan seksama. Variable ini biasa digunakan Bandura untuk menjelaskan pengaruh televisi pada anak-anak.

b. Retensi (ingatan): Anda harus mampu mempertahankan—mengingat—apa yang Anda perhatikan. Di tahap ini, perumpamaan dan bahasa mulai bermain. Kita menyimpan apa saja yang dilakukan oleh model yang kita lihat tadi dalam bentuk pencitraan mental atau deskripsi verbal. Ketika ini semua tersimpan, maka Anda bisa memanggil kembali citraan atau deskripsi tadi sehingga Anda dapat mereproduksinya melalui perilaku Anda sendiri.

c. Reproduksi. Di tahap ini, Anda hanya perlu duduk dan berkhayal. Anda harus menerjemahkan citraan dan deskripsi tadi ke dalam perilaku aktual. Anda tentu harus memiliki kemampuan mereproduksi perilaku terlebih dahulu. Contoh: saya bisa saja menonton lomba pacuan kuda setiap hari, namun tetap tidak akan mampu meniru gaya dan atraksi para hoki/penunggangnya karena saya memang tidak bisa memainkan kuda pacuan. Sebaliknya, jika saya bisa menunggang kuda dengan baik, maka kemampuan saya bermain pacuan kuda akan meningkat jika saya pernah menonton pula pertandingan serupa dari orang yang lebih pandai dari saya.

d. Motivasi. Anda tidak akan melakukan apapun yang Anda lihat kalau tidak ada dorongan dalam diri Anda untuk meniru atau melakukannya. Bandura menyebutkan beberapa jenis motivasi:

- dorongan masa lalu: dorongan sebagaimana yang dimaksud kaum behavioris tradisional.

-dorongan yang menjanjikan (insentif) yang bisa kita bayangkan.

-dorongan yang kentara/nampak, seperti melihat atau teringat akan model-model yang patut ditiru.

Dorongan-dorongan ini secara tradisional dianggap sebagai “penyebab” terjadinya proses belajar. Namun, bukan berarti dorongan ini yang menyebabkan kita mau belajar, akan tetapi mendorong kita untuk membuktikan bahwa kita telah belajar. 

Selain itu, ada pula motivasi negatif yang memberi alasan kepada kita untuk tidak meniru:

-hukuman yang pernah diterima

-hukuman yang dijanjikan (ancaman)

-hukuman yang tampak.

Regulasi Diri

Regulasi diri merupakan kemampuan mengontrol perilaku sendiri atau salah satu dari sekian penggerak utama kepribadian manusia. Bandura menawarkan tiga tahap dalam proses regulasi diri yaitu:

a. Pengamatan diri: kita melihat diri dan perilaku kita sendiri serta terus mengawasinya.

b. Penilaian. Kita membandingkan apa yang kita lihat pada diri dan perilaku kita dengan standar ukuran tertentu atau menciptakan standar ukuran sendiri untuk diri kita sendiri.

c. Respon diri: jika Anda telah membandingkan diri dan perilaku Anda dengan standar ukutan tertentu, Anda dapat memberi imbalan respon pada diri Anda sendiri. Sebaliknya, bila tidak sesuai dengan standar ukuran tersebut, makan Anda bisa mengganjar diri dengan respon diri semacam hukuman buat diri sendiri misal: karena saya tidak berhasil mendapat nilai baik dalam ujian, maka saya akan belajar sampai larut malam hingga saya bisa.

Self-regulation ini cenderung dipengaruhi oleh Self-efficacy (keyakinan akan kemampuan diri). Adapun sumber-sumber efikasi diri ini yaitu sebagai berikut:

1. Pengalaman performansi (performance accomplishment): prestasi yang pernah dicapai pada masa lalu. Prestasi pada masa lalu inilah yang kemudian menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Pencapaian keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda tergantung proses pencapaiannya sebagai berikut:

a. Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan semakin membuat efikasi diri makin tinggi.

b. Kerja sendiri lebih meningkatkan efikasi daripada kerja kelompok dengan dibantu orang lain.

c. Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin.

d. Kegagalam dalam suasana emosinal/stres, dampaknya tida seburuk kalau kondisi emosinya optimal.

e. Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk apabila kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat.

f. Orang yang biasa berhasil, maka bila sekali gagal, tidak akan mempengaruhi efikasi (keyakinan akan kemampuan) dirinya.

2. Pengalaman vikarius (vicarious experience): diperoleh melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain. Efikasi justru akan menurun apabila mengamati orang yang memiliki kemampuan yang kira-kira sama dengan dirinya namun ternyata gagal. Bila figur yang diamati berbeda dengan diri si pengamat, pengaruh vikariusnya tidak besar. Namun bila mengamati kegagalan figur yang setara dengan diri si pengamat, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah dilakukan oleh si figur sehingga membuatnya gagal.

3. Social support (persuasi sosial): persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi ini adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.

4. Emotional arrousal (peningkatan keadaan emosi): keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stres dapat mengurangi efikasi diri. Namun, bisa terjadi peningkatan emosi (dalam taraf tidak berlebihan) yang dapat meningkatkan efikasi diri.

PUSTAKA
Alwisol. 2008. Psikologi Kepribadian (Edisi Revisi). Malang: UMM Press.


No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.