Saturday, November 9, 2013

DAPAT KLIEN LAWAN JENIS?

Bagaimana ya kalau ada klien lawan jenis yang konseling sama kita? Yang pasti kiat utama yang harus dipegang teguh adalah jangan sampai klien itu dependence sehingga menimbulkan hallo effect.

Baru beberapa minggu lalu, saya mulai aktif lagi menulis quotes di Facebook. Salah seorang teman mengontak saya dengan melampirkan komentarnya di salah satu status FB. Dia sebut saja H. Saya mengenal Kak H saat Friendster hampir terganti oleh Facebook. Dia adalah salah satu temannya si teman kelas saya. Kami memang tak pernah bertemu. Dia sering cyber counseling dengan saya by chat

Saat liburan, entah tahun berapa saya lupa, waktu itu saya sedang berlibur di Madiun (tempat Mama). Saat itu, saya nginap di rumah Bulik (saudara Mama yang nomor 2). Kak H tiba-tiba menelepon. Sebenarnya, saya paling malas jika ditelepon dengan lawan jenis yang tak begitu kenal kalau tidak ada kepentingan. Tapi, saat itu, saya angkat saja karena sudah berkali-kali missed call. Tidak tahunya hanya basa-basi dan saya berusaha untuk memintanya untuk menyudahi perbincangan yang kurang bermakna itu.

Awalnya, memang hanya sebatas hubungan klien-konselor. Tapi, yang namanya lawan jenis, kita harus berhati-hati juga. Sejak Kak H mulai rajin mengomentari FS, SMS dan ini itu, saya yang berusaha untuk tegas. Saya juga seringkali berganti nomor ponsel karena saking banyaknya nomor asing yang menghubungi. Saya tak betah.

Lama kemudian, beberapa minggu lalu itulah, dia baru muncul lagi. Awalnya basa-basi (dan saya bukan orang yang suka berbasa-basi terlalu banyak, kecuali untuk keperluan konseling yang benar-benar serius). Entah kenapa, tapi jujur, saya kurang suka dengan candaannya. Saat itu, saya bertanya kabar, hanya bertanya "Apakah sudah berkeluarga atau belum?" Karena sudah lama sekali, dia tak pernah konseling lagi. Tidak tahunya, dia membalas dengan candaan, "Belum. Doain ya! Atau... gimana kalau nikahnya sama adek saja?" Heuu... setelah itu, dia meminta nomor ponsel saya yang baru. Tapi, mohon maaf sekali. Begitulah saya. Karena saya tidak ingin orang (lawan jenis) yang pernah konseling dengan saya itu semakin tergantung dan mengontak saya dengan hal basa-basi/kurang manfaat, lebih baik saya abaikan. Saya diam saja sambil memelototi komentarnya tanpa membalasnya, tanpa memberinya nomor ponsel saya.

Bukan bermaksud memutus silaturahmi, tidaklah! Cuma memang kalau sudah mulai minta nomor ponsel atau terlalu sering berbasa-basi seperti itu, ya perlu ditegaskan juga. Tapi, kalau untuk silaturahmi, alhamdulillah baik-baik saja, seringkali dia lebih dulu menyapa dan saya jawab. Kalau tidak, ya tidak. Saya hanya tak ingin timbul fitnah nantinya.

---

Ini bukan kali pertama. Dulu saat mendapat mata kuliah interview dan teknik konseling, kami memang sering diminta untuk mencari orang yang mau secara sukarela menjadi klien. Kebanyakan sih sama mencari klien perempuan agar lebih enak (tapi bukan berarti saya milih-milih klien, hanya saja sejenak ingin mengurangi interaksi konseling dengan klien lawan jenis). Saat itu, karena tak ada teman perempuan yang dapat diminta secara ikhlas untuk menjadi klien (karena yang jadi klien, tidak boleh orang yang dikenal apalagi teman sefakultas), jadi dulu itu kebetulan saya punya klien cowok, tapi beda angkatan dan beda fakultas. Sebut saja S. Kak S ini bahkan lebih parah lagi. Semenjak konseling dengan saya, dia seperti menguntit saya terus, tapi saya tak pernah berhasil menemukan keberadaannya. Kata teman-teman saya, mungkin dia itu sengaja seperti itu karena ingin menjadi secret admirer-mu. Tsaaah.... Saya juga bingung, dia selalu bisa melihat dan mendapati keberadaan saya di mana pun (di luar kampus atau di kampus), tapi anehnya tak pernah bisa saya tangkap. Dia mulai menguntit saya dan parahnya, dia sampai terang-terangan nembak di Facebook, "Aku mau jadi pacarmu." Saya sempat menolak. Dia balik berkata, "Kalau begitu, aku mau deh jadi suamimu. Aku pengen banget kamu jadi istriku." -_- 

Beberapa minggu, berbulan-bulan sampai dia hampir lulus, saya tak pernah membuka FB atau sosmed manapun. Saya benar-benar tak betah dengan kondisi itu. Teman-teman yang membaca dinding FB saya semakin banyak yang mengomentari hal konyol yang dilakukannya itu. Bahkan, ada teman saya yang meminta agar saya pergi menemuinya. Saya pernah menerima usul itu dan mengajaknya konseling face to face untuk praktek teknik konseling. Tapi, karena tahu, kliennya akan di-rolling, dia tak mau jika bukan saya yang menjadi konselornya. Saat itu di benak saya, "Jadi begitu? Tampaknya dia memang tak punya nyali untuk menunjukkan dirinya yang asli dan terus bersembunyi." Baiklah. Sejak itu, saya lost contact dengannya. Saya juga tidak lagi menjadikannya teman FB saya. Sampai suatu ketika, entah berapa lama, saya mengintip FB nya dan melihat dia sudah punya pacar dan bilang pada saya, "Semoga kamu menemukan jodoh terbaikmu ya!"

---

Sungguh banyak tantangannya menghadapi klien lawan jenis seperti mereka. Makanya, saya tak pernah mau lagi jika ada yang ingin konseling atau curhat via SMS. Saya rekomendasikan via email dan idealnya memang bertemu. Alhamdulillah. Walau lagi lagi, banyakan yang curhat itu kaum Adam, tapi mereka cukup "sadar" dan "paham" akan posisinya sebagai orang yang curhat dan posisi saya sebagai orang yang menjadi pendengarnya. Tidak seperti klien-klien sebelumnya yang bersikap sangat berlebihan terhadap saya.

Jadi, jika konseling dengan lawan jenis, pastikan menggali informasi detil mengenai dirinya (auto dan allo anamnesa-nya), cari tahu pribadinya bagaimana dan cara menghadapinya seperti apa, cari tahu adakah riwayat tertentu yang mungkin akan menjadi faktor penghambat saat konseling atau tidak dan yang lebih penting, bersikaplah sewajarnya baik verbal maupun nonverbal. Saat menggunakan teknik refleksi, memberikan dorongan minimal maupun berempati, sebaiknya jangan terlalu lebay dan kudu benar-benar konkret dan jangan lupa teknik konfrontasinya ketika si klien ngalor-ngidul agar mereka tahu batasan-batasan yang harus dihormati dalam hubungan profesional antara klien-konselor serta tahu apa tujuan dia curhat/konseling sama kita.

Mudah-mudahan, pengalaman ini bisa menjadi pelajaran untuk ke depannya (jika benar-benar menjadi psikolog resmi nanti). Aamiin :)


No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.