Thursday, November 14, 2013

JIKA IBU JADI TKW

Saya lupa, tapi mungkin topik ini sudah saya bahas sebelumnya di kolom story of KKN. 2011 lalu, saya KKN di desa Wonorejo, kecamatan Bantur, Malang Selatan.

Saya adalah ketua Coordinator Divisi Keagamaan dengan schedule ngajar ngaji rutin dan saya juga gabung dengan Divisi Pendidikan untuk ikutan bantuin pas anak-anak Pendidikan ngajar atau ngasih les. Sebelumnya, saya sempat menolak dan pengen gabung di Divisi Kesehatan (itu karena awalnya, tak ada sama sekali orang yang mau gabung di Div.Keagamaan dan selain itu saya ingin lebih memaksimalkan bidang Psikologi Klinis yang saya senangi bersama kawan-kawan Kedokteran). Tapi, eherrrm... hmmm... karena di Divisi Kesehatan juga ada salah seorang anak FK yang pernah saya sukai,
jadi akhirnya saya pun ikhlas menerima jabatan sebagai ketua Divisi Keagamaan dan kemudian digabung dengan Div.Pendidikan lantaran Div. Keagamaan yang tak ada anggotanya tadi. Walaupun demikian, eeeh.. ujung-ujungnya, gegara jadi ketua Co.Agama, saya malah dijuluki dan dipanggil "Bu Ustazah" sama semua temen-temen. Duh, rasanya terlalu berlebihan. Saya tidak pantas dijuluki "Ustazah", masih bau kencur.

Dari schedule divisi, kami tidak hanya memberikan pengajaran di dusun Wonorejonya, tapi juga di Kecamatannya, tepatnya tiap sore di Balai Desa. Kalau di dusun itu mayoritas penduduknya Muslim, nah di sekitar Balai Desa ini justru mayoritas Non Muslim. 




Makin lama, saya makin jatuh hati pada adik-adik. Melihat keceriaan mereka dan kegigihan serta semangat belajar yang mereka miliki membuat saya semakin senang menggeluti bidang yang saya pegang. Teman-teman pun turut membantu saya. Alhamdulillah, saya bersyukur, punya teman-teman KKN yang hebat-hebat dan bisa mengenal anak-anak serta para penduduk Wonorejo yang jauh lebih hebat lagi. Walaupun rata-rata mereka masih saja ada yang hidup di garis kemiskinan, tapi semangat mereka patut diacungi jempol. Bagi kita yang terkadang sering menganggap remeh pendidikan, tapi bagi mereka, pendidikan itu sangat mahal dan harus berjuang untuk merasakannya. Salut buat mereka :)

Konon, tingkat pendidikan mereka di dusun tersebut masih sangat rendah. Lebih banyak karena faktor ekonomi dan sebagian besar orangtua mereka pun pada buta huruf. Para orangtua tersebut sudah kami ajak untuk diajarin calistung, tapi tak ada satu pun yang datang lantaran mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka yang notabene sebagai petani. Pergi pagi pulang sore dan malam hari hampir tak pernah ada yang mau keluar. Jadi, apa boleh buat, kami tak bisa memaksa. Kami memilih fokus untuk mengajarkan anak-anak mereka.

Beda lagi cerita di sekitar Kecamatan (Balai Desa). Anak-anak mereka memang bersekolah tapi sayangnya mereka ada yang sampai bertahun-tahun tak pernah merasakan kehangatan orangtua, merasakan bagaimana dibimbing oleh orangtua mereka. Miris lagi! Ke mana orangtua mereka? Ya, seperti judul di atas, rata-rata para ibu mereka bekerja di luar negeri sebagai TKW dan ayah mereka bekerja di luar daerah sebagai buruh. Orangtua mereka pun jarang bisa pulang lantaran tak punya banyak uang yang bisa menutupi kepulangan mereka.

Kami juga pernah mengadakan event "Menulis Surat Untuk Bapak Presiden", menyewa jasa stasiun TV daerah Jawa dan Swasta untuk menayangkan program kami serta menyewa beberapa jasa media cetak untuk menampilkan event kami dan juga surat-surat para anak yang semua orangtuanya bekerja sebagai TKW.

Saat itu, ada seorang anak perempuan bernama Kris. Dia terpilih menjadi pemilik surat terbaik versi kami. Saat kami wawancara dengannya, air matanya mengalir deras. Betapa rindunya dia akan sosok ibu yang sudah bertahun-tahun merantau ke negeri orang sebagai TKW. Kami pun ikut terharu melihatnya.

---
Dari kisah anak-anak dusun dan kecamatan tersebut, kami semua sempat berpikir, bagaimana jika kami berada di posisi Kris dan lainnya? Bagaimana rasanya jika ibu kami menjadi TKW dan tak pernah pulang?

Karena desakan faktor ekonomi, lagi-lagi masalah klasik, masalah uang dan uang melulu. Uang bisa dicari tapi kehangatan dan proses perkembangan anak tak akan pernah bisa diputar ulang. Bagaimana jika anak-anak itu memendam rasa sakit hati yang kemudian menggunung dan terbawa hingga dewasa? Kemungkinan besar, jika masalah ekonomi mereka pun berakhir baik, tapi anak akan trauma dan bisa saja membenci orangtua mereka. Masih mending jika orangtua mereka rajin kirim kabar dan rasa rindu sang anak masih dapat terobati. Tapi, kalau pergi tanpa kabar selama bertahun-tahun, bagaimana kondisi si anak kemudian?

Hmm...
Masalah ekonomi selalu saja menjadi biang kerok alias pemicu berbagai masalah lain. Masalah ekonomi pun selalu saja merenggut kehangatan keluarga yang tadinya utuh.

Siapa sih yang tidak mau kaya, kebutuhan tercukupi dan mampu menyekolahkan anak tinggi-tinggi? Kalau belum berkeluarga, ya tidak masalah. Tapi, ketika sudah menjadi orangtua dan memiliki anak, waktu kita adalah faktor paling utama bagi anak-anak, bukan uang!

Anak butuh waktu orangtuanya. Anak butuh perhatian. Anak butuh pengawasan. Memang benar kata Kak Seto, apabila terjadi hal menyimpang pada anak, maka yang perlu dipertanyakan adalah orangtuanya.

Jika si ibu bekerja, maka sudah menjadi konsekuensinya, harus menjalani multi peran. Kalau memang bekerja, upayakan tidak di tempat yang sangat jauh dari rumah. Kalau memang diharuskan meeting ke luar kota, sebaiknya tetap melakukan pengawasan terhadap si anak, misalnya dengan menitipkannya pada mertua atau orangtua atau keluarga dekat.

Oh iya, cerita ini juga ada kaitannya dengan artikel lama: "Baby Sitter dan Insecure Attachment Pada Anak"

Ahh, semoga nggak ada yang nggebukin saya ya gegara ngomongin ini, hehe, soalnya saya bahkan belum married apalagi punya anak. Tapi, setiap hari semenjak kuliah di Psikologi, saya seringkali membayangkan bagaimana jika saya berperan sebagai ibu nanti ya? Saya juga kadang dengerin selentingan omongan orang di luar sana, nge-judge kalau Psikolog itu harusnya lebih bisa paham dan perfect dalam urusan beginian. Hehehe... iya juga sih, jangan hanya retorika belaka, tapi juga kudu ada pembuktian. Eh, tapi, namanya juga nggak ada seorang ibu/orangtua yang sempurna kan ya? Kita juga nggak bisa menyalahkan para orangtua (yang cuma sibuk sama kerjaannya daripada sama anaknya). Biar gimana pun, sebelum menginterpretasi apa motif di balik kekeliruan yang mereka lakukan, kita juga perlu tahu bahwa di belakang semua itu pasti ada trigger event yang tersembunyi. Banyak hal yang dapat menjadi penyebab/akar masalahnya. 

Berdoa saja, semoga para ibu di dunia ini tidak hanya semakin cerdas dalam soal karir, soal beberes rumah atau dalam soal memanjakan suami :D, tapi juga cerdas ngemong anaknya dan senantiasa haus untuk belajar memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Aamiin. Salut deh sama para ibu di dunia ini termasuk pada Mama saya sendiri :D !!

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.