Sunday, November 3, 2013

LETIH TINGKAT DEWA

Walau saya sudah berusaha menata emosi untuk tidak gugup, tidak khawatir dan merasa baik-baik saja, tapi saya tetaplah manusia. Saya bukanlah seorang ilmuwan psikologi yang sempurna, yang dapat terjauhkan dari berbagai tekanan.

Belum jadi istri orang saja, saya sudah seperti ini. Mungkin, ini bisa dibilang kekurangan saya. Semenjak Mama pergi lagi ke Malang untuk menjenguk kakek yang sakit di Madiun, semua pekerjaan rumah saya handle. Saya tak bisa mengharapkan adik laki-laki saya, karena dia selalu saja sibuk dengan futsalnya setiap hari. Daripada ngomel, saya kerjakan sendiri pelan-pelan. Sudah dua minggu ini, setelah mendapat haid lagi, saya terkejut ketika tahu darah yang keluar tidak sebanyak biasanya, namun terjadi sudah lebih dari 7 bahkan melewati 10 hari. Ingin periksa, saya belum punya waktu. Membaca artikel dengan gangguan menstruasi seperti yang saya alami secara mendadak dan baru pertama kali ini, membuat saya was-was. Psikis saya pun terguncang.
Sebelumnya, waktu Mama juga tak ada di rumah dan pembantu juga mulai diberhentikan, saya juga mengerjakan pekerjaan rumah kemudian karena kelelahan berat akhirnya drop lagi. Untungnya saat itu libur semester, jadi bisa istirahat penuh. Dan, sekarang, Mama belum juga pulang, pembantu pun mungkin sudah tidak lagi diizinkan Mama bekerja di sini guna menghemat. Bukannya tak ingin membantu, tapi saya cemas dengan keadaan saya sekarang. Tak ada keluhan fisik berarti seperti nyeri atau lainnya. Namun, saya tampaknya benar-benar kekurangan darah yang cukup signifikan hingga warna gusi saya pucat dan darah menstruasi yang mungkin ini darah istihadhah masih keluar sedikit demi sedikit tapi belum juga berhenti. Saya tetap melaksanakan shalat dan terus mandi hadas besar. Inginnya bisa istirahat panjang, tapi besok-besok harus kerja lagi, pergi pagi dan kadang pergi siang pulang sore, lalu mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, nyuci baju, ngepel, nyapu tiap hari dengan rumah dua tingkat ini. Inilah akumulasi dari keletihan. 

Mungkin, jika saya menikah nanti, saya lebih baik meminta izin pada suami untuk dicarikan pembantu untuk urusan pekerjaan yang cukup menguras energi saya seperti mengepel dan mencuci. Jujur, saya inilah yang menjadi kekurangan saya. Tak bisa menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah yang beberapa di antaranya cukup berat bagi saya. Sebab, jika itu terjadi terus-menerus, saya akan anemia lagi dan kesehatan saya terganggu lagi seperti saat ini. Bukannya saya manja. Dari dulu, saya sudah belajar mengerjakan pekerjaan rumah, membantu Mama, namun tidak seperti ini yang harus melakukan semua rangkaian pekerjaan setiap hari secara estafet. Itulah kekurangan saya, tak bisa disuguhkan pekerjaan yang berat-berat secara rutin.

Semoga saya bisa cepat sembuh dan semoga saja gangguan menstruasi tersebut tidak akan terjadi lagi setelah ini. Semoga Allah masih bisa memberi saya napas, hehe... (sempat takut juga karena kekurangan banyak darah dan harus mengonsumsi zat besi rutin).

Kelak jika ingin menikah, kondisi ini akan saya ungkapkan pada calon suami saya. Semoga dia bisa memahami dan menerimanya (saya tentu tidak akan mengabaikan tanggung jawab sebagai seorang istri atau ibu rumah tangga nantinya, tapi saya ingin porsinya tidak berlebihan karena saya tak sanggup terlalu letih berulang kali). :) semangaat...!! Masih ada banyak tugas yang perlu diselesaikan, mudah-mudahan bisa pulih secepatnya.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.