Friday, November 1, 2013

MY BOOK, MY SOULMATE

netsains.net
Hobi baca? Iya bangeeeet ^__^. Buku, perpustakaan, toko buku dan sejenisnya sudah menjadi salah satu hal paling "sakral" bagi saya. Mencintai dunia perbukuan adalah hobi saya. Setiap ada kesempatan, entah itu diajak jalan-jalan ke mall, ke pameran atau ke manapun, pasti saya tidak akan lupa untuk mengunjungi toko bukunya.

Kebetulan, saya tinggal di kota kecil yang ada di Sulawesi Selatan. Untuk sementara memang masih menetap di sini beberapa bulan lagi sebelum pindah dan menetap di Malang. Di kota Parepare ini, tidak ada Gramedia. Toko buku pun adanya hanya menjual buku-buku umum untuk materi pelajaran sekolah, selain itu tidak ada. Jika pun ada, paling-paling bukunya buku tua dan tidak pernah up to date. Dulu, sejak kuliah di Malang, dalam waktu seminggu atau sebulan, sudah tak terhitung lagi berapa kali saya menyambangi toko-toko buku, baik itu Gramedia, Togamas, Wilis (tempat menjual buku obral/loak/bekas/tua yang super duper miring harganya) dan lainnya. Saking hobinya membaca buku dan mengunjungi toko buku, teman saya sampai geleng-geleng kepala dan "panas" sendiri ketika saya ajak masuk ke sana. Jangankan mau nge-tem baca-baca buku sejenak, baru masuk toko buku saja, dia sudah mengantuk. Hehehe...  

Nah, ketika saya sudah lulus kuliah dan pulang ke Parepare lalu bekerja sebagai dosen, saya benar-benar hampa. Semua buku-buku materi formal saya ada di rumah yang di Malang. Alhasil, saat mengajar, saya selalu menyempatkan diri untuk browsing materi di internet. Ingin membeli buku ke Gramedia, terlalu jauh, adanya di Makassar dan memakan waktu 3-4 jam dari Parepare.

Heum, eh tunggu dulu, kenapa judulnya "My Book, My Soulmate" ? Itu bukan hanya karena saya sangat mencintai buku, tapi buku ibarat pasangan hidup bagi saya yang masih single ini :). Karena saya bukanlah tipe orang yang hobi hangout ke tempat-tempat hiburan dan lebih banyak menghabiskan waktu luang di rumah, buku lah yang menjadi teman saya dalam kesendirian. Dengan membaca buku, saya seolah sedang bercakap dan bercanda dengan soulmate saya. Dari soulmate (buku), saya belajar banyak hal tentang kehidupan. Soulmate (buku) itu juga yang dulunya membantu saya keluar dari keterpurukan. Maksudnya apa sih? Begini, dulu saat masih masa pubertas, saya sangat bingung menghadapi permasalahan yang muncul dari dalam diri saya sendiri (proses pencarian jati diri). Namun, semenjak kuliah, akhirnya kemelut internal itu pun mulai terpecahkan. Selain memang pernah kuliah di fakultas Psikologi, mendengarkan berbagai petuah dari dosen-dosen yang notabene para Psikolog, Psikiater dan dokter, saya juga rajin mencari "jawaban" itu dari buku-buku yang saya baca, entah itu dari novel atau nonfiksi. Dari situlah, paradigma saya mengenai diri sendri mulai berubah. Dari yang dulunya, saya lebih banyak pesimisnya dan kurang bersemangat bahkan jarang sekali tersenyum, akhirnya saya bisa bangkit menjadi pribadi yang baru dan bisa senyum setiap saat tanpa diminta. Itu semua saya peroleh dari soulmate saya itu.

Selain itu, kenapa saya bilang, buku itu adalah soulmate saya, sebab soulmate itu prinsipnya akan menerima apa adanya diri kita termasuk kekurangan dan kelebihan kita. Seperti itulah buku. Walaupun, dia tak punya mulut untuk berbicara, mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, tapi buku selalu setia mendampingi kita dan menerima keberadaan kita kapan pun, di mana pun, tanpa adanya protes atau kritik darinya. Contohnya saja diary yang bersedia menjadi "tong sampah" untuk semua keluh kesah, buku agenda yang bersedia menjadi teman setia kita saat bekerja, merekam segala schedule serta mengingatkan kita akan jadwal-jadwal padat tersebut tanpa pamrih, seperti halnya novel atau buku bergenre apapun yang memberikan kita insight dari rangkaian plotnya, serta seperti halnya Alquran yang menjadi penuntun hidup kita. Jadi, apapun bentuk dan jenisnya, tidak ada salahnya kan kita belajar dan mengambil hikmah dari buku yang dibaca? :)

Tapi, kita juga harus tetap waspada. Tidak semua buku adalah bacaan yang menuntun dan positif. Zaman sekarang, tidak jarang kita dapatkan selipan konten yang "tak pantas dikonsumsi" di beberapa buku-buku yang terjual di sekeliling kita. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam kubangan lumpur akibat buku yang tak bermoral.

Kemudian yang terakhir, kebetulan saya juga hobi menulis dan hingga sekarang ini sedang berjuang menjadi seorang penulis buku maupun di blog. Sebagai penulis, tentu perlu menyelaraskan hobi tersebut dengan membaca buku. Dengan membaca buku, kita bisa memetik banyak hal yang dapat menjadi referensi untuk tulisan kita serta akan semakin memperluas wawasan kita tentang dunia kepenulisan itu sendiri. Oh ya, dan, dengan menulis buku juga akan menjadi amal jariyah untuk kita maupun yang membacanya.

Jadi, kalau ditanya, apakah saya bisa hidup tanpa adanya buku?? Saya tentu menjawab, I can't... really can't. Rasanya sama saja seperti hidup tanpa soulmate, tanpa pasangan hidup, dan jomblo terus-terusan...huaaaah... tentu tahu kan rasanya seperti apa? Heheh ^__^.

Inilah sekilas cerita tentang kecintaan saya terhadap buku. Buku adalah jendela dunia. Sudah sebaiknya, kita terus melestarikan keberadaan bacaan-bacaan yang bermanfaat untuk negeri kita, untuk kelangsungan hidup kita, untuk generasi penerus kita dan untuk mencerdaskan bangsa dan negeri ini. So, peliharalah rasa kecintaan kita pada buku ya! :)

4 comments:

  1. Makasih udah ikutan GAnya, woh..di Parepare ya, nun jauh di sana :D

    ReplyDelete
  2. akan tetapi jaman skrg sepertinya sudah mulai berubah, kini internetlah yg menjadi jendelanya dunia.
    apakah dengan begitu kita akan mengabaikan keberadaan buku?
    semoga menang GAnya ya
    ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak juga, internet memang sedang berkuasa, tapi buku tetaplah menjadi primadona yg selalu dirindukan byk org (khususnya mereka yg lebih suka baca scara konvensional daripada baca digital)

      aamiin terima kasih ^^

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.