Thursday, December 26, 2013

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (SAD EDITION)

"Mau apa lagi?"
"Apa boleh buat?"
Kalimat-kalimat di atas sering diucapkan oleh mereka yang "masa bodoh" dan cenderung putus asa.

Jujur, semester ini, ada beberapa hal yang membuat saya sedih. Sedih, karena ada beberapa mahasiswa/i yang mengecewakan. Di kelas semester satu, ada seorang mahasiswa dan satu mahasiswi yang menyedihkan. Si mahasiswa sudah tak pernah masuk kelas lagi setelah mengikuti UTS. Dia sempat mengirimkan SMS, memohon untuk diberi izin. Tapi, saya sudah tak bisa menuliskan "izin" karena jumlah alphanya sudah melebihi ambang batas (hehehe lebai tapi serius nih). Akhirnya, dia terpaksa tak bisa ikut UAS.


Lalu, yang mahasiswi, sebelumnya dia cukup rajin. Hanya beberapa kali saja tak hadir karena izin dan sakit. Sepekan sebelum UAS pun, kami masih sempat foto bersama sekelas. Entah kenapa, saat UAS, dia tak datang. Saya bertanya pada teman-teman di kelas, katanya dia sedang ada masalah tapi tak mau membaginya. Dia juga nyuekin sahabatnya, tetangganya dan semua orang sekelilingnya. Seminggu ini pun dia hampir gak pernah datang kuliah lagi. Saya sudah memberikan tawaran agar ikut UAS susulan, tapi tawaran itu tak diindahkan namun dia mengirim pesan meminta maaf pada saya.

Sedih. Karena mahasiswi itu enggan untuk berbagi, lebih milih memendam deritanya sendiri dan menjauhi lingkungannya. Saya sudah coba menasehatinya, namun tampaknya dia bermasa bodoh dan putus asa. Bukan hanya ujian di kelas saya, tapi ujian-ujian di kelas lain pun banyak yang tak diikuti.

Saya dan teman-teman lain pun cukup kecewa dengan sikapnya. Tapi yaaa... saya juga tak bisa memaksa dia untuk menceritakan apa masalahnya. Kami semua cuma berharap semoga masalahnya segera selesai.

Menghindar dari masalah itu bukanlah hal yang baik, saya pikir kita semua udah tahu. Putus asa hanyalah perbuatan orang-orang sesat saja, saya pikir, kita semua juga udah tahu itu dari Alquran. Saya cuma bisa menghela napas panjang sambil beristigfar. Kenapa ya, mahasiswa/i di sini, motivasi belajar dan motivasi berprestasinya rendah? Di kelas saya (di semester satu dan lima) saja, mahasiswa/i yang tergolong aktif dan berprestasi itu bisa dihitung jari. Sementara yang lain, sibuk menyembunyikan diri dalam kubangan keputusasaan.

Kami pun sudah mencoba berbagai cara, bahkan dulu saat saya pertama kali ngajar di Guidance Club, tak banyak yang berminat. Cuma itu-itu aja yang datang dan cuma itu-itu pula yang dapat mengambil hikmah dari apa yang kami pelajari bersama. Lainnya, tak tahu ngambang ke mana.

Saya juga sudah mencoba mengetes mereka dengan skala yang saya buat sendiri, kuesiner sederhana, hasilnya memang kurang memuaskan bahkan cenderung buruk. Segala cara termasuk memperbaiki metode mengajar pun sudah diupayakan, tapi lagi-lagi mereka menutup diri dan enggan terbuka kepada dosen tentang apa yang mereka rasakan. Kalau saja mereka mau menerima uluran tangan dan kepedulian kami sebagai pengajar, mungkin setidaknya, mereka bakal sedikit lega.

Saya bukannya pasrah atau menyerah. Yaa... saya kembalikan lagi pada diri mereka. Sekuat dan segigih apapun seorang pengajar memberi arahan, bimbingan dan nasehat, toh kalau tak ada niat dan motivasi dari diri mereka sendiri, semua hanya sia-sia. 

Melihat mereka, saya flashback kembali ke masa lalu saya. Mengejar prestasi dengan ambisius yang ketinggian memang kurang baik juga, sama seperti yang pernah saya lakukan, Belajar, belajar dan terus belajar sampai suatu titik jenuh, saya merasa kurang bahagia. Saya merasa kehilangan makna dari apa yang saya lakukan. Satu hal... satu hal yang saya lupakan saat itu, yaitu saya lupa mendekatkan diri sama Maha Pemilik Ilmu. Barulah saat SMA, saat prestasi saya tak lagi membara layaknya masa SD dan SMP, saya bertemu dengan seorang sahabat. Rasanya pun seperti bertemu dengan cahaya terang, membawa saya semakin mendekat pada Sang Pencipta. Dari satu selipan kisah saya ini, saya melihat, mahasiswa saya sepertinya mengalami hal serupa dengan apa yang pernah saya alami. 

Beda lagi dengan mahasiswa yang merasa terkucilkan, tak punya teman dan merasa tak berharga. Saya pun pernah demikian, saat SD, saya digilir ke SDN Unggulan. Di sana, saya tak bertahan lama hingga memutuskan kembali ke sekolah asal. Kenapa? Karena saya tak punya teman. Sebagian besar teman di SD unggulan menganggap saya sebagai musuh yang perlu disingkirkan. Prestasi saya turun drastis dan saya sering di-bully baik oleh teman maupun guru. Saya sempat stres tapi berusaha menyembunyikannya dari sekolah asal saya. Barulah saat kembali, saya ceritakan semua. Sedih memang, apalagi waktu itu saya pernah mengikuti lomba dan saingan saya di final adalah teman kelas di SD unggulan. Gurunya juga teman saya itu malah memusuhi dan menghina saya di depan podium, mengatakan bahwa saya tak pantas dipilih sebagai juara. Saya tahu, itu sakit. Tapi, saya tak pernah memusuhi mereka sekalipun waktu itu saya keluar sebagai juara pertama. Ya, dia memang jauh lebih pintar dari saya. Tapi, saya temukan hikmah bahwa kita tak cukup hanya pintar dalam bidang akademik. Kita juga harus pintar mengontrol emosi termasuk saat berhadapan dengan orang yang membenci kita. Mau sepintar apapun tapi kalau nggak bsia ngendaliin emosi, nggak bisa ngehargain orang lain, citra diri yang jadi korban.... hancur!

Tak punya teman, dijauhi teman dan dianggap musuh oleh teman memang hal yang menyakitkan. Tapi, percayalah, kamu tak akan pernah sendirian. Jangan hanya karena masalah itu kamu mengorbankan waktumu yang sangat berharga. Saat SMP dulu, saya bahkan pernah dibenci oleh hampir seisi kelas termasuk guru dengan alasan mereka yang menyakitkan saya. Tapi, karena hidup harus terus berjalan, jadi untuk apa memusingkan mereka yang membenci kita kalau memang kita tak salah? 

Ah, banyak sekali memang masalah dalam dunia pendidikan! Yang penting, tetaplah mendekatkan diri pada Allah, maka kita insya Allah akan kuat menghadapi rintangan apapun. 

Mau kamu nggak punya teman sekalipun, masih ada Allah yang akan selalu menjadi teman setiamu dan akan memberimu teman lain yang lebih baik dari mereka. 

Kalau kamu punya masalah, jangan pernah berlama-lama mengacuhkan orang terdekat apalagi lingkungan dan aktivitasmu. Kamu boleh berdiam diri dan menjauh sejenak untuk refreshing tapi setelah itu kembalilah dan hadapi masalah itu.

Kalau kamu sedang bingung tak tahu ke mana harus mengadu, pergilah menemui-Nya. Karena ketika kita berada pada titik terendah, bukankah yang kita cari itu adalah Tuhan?

Ah, sudahlah kawan! Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu masih punya mimpi yang harus kamu kejar. Orang-orang di luar sudah menantimu di ujung pintu kemenangan, jadi jangan pernah membuang-buang waktu hanya untuk memikirkan rasa sedihmu itu.

Percayalah, semua akan baik-baik saja kalau kamu mau bangkit.

Harus berapa kali lagi sih, saya bilang. Saya juga agak jenuh membahas masalah ini terus, tapi karena saya sayang pada kalian, saya kembali mengingatkan. Terserah, kalian mau dengar atau tidak. Itu keputusan kalian! Bertanggung jawab lah dengan pilihan hidupmu dan berhentilah menyusahkan diri serta orang lain.




4 comments:

  1. Tugas dosen segitu saja begitu beratnya, apalagi tugas seorang ibu. Hampir tak bisa dibayangkan...
    Untung saja dosen ini lebih memahami, lebih sabar, tapi muridnya yang tak bisa berkompromi dengan toleransi yang telah diberikan. Kasian, semoga ini menjadi pelajaran bersama bagi calon dosen sepertiku.. hehehe amin...

    ReplyDelete
  2. hehehe bisa aja kamu Gha... Gha... :D

    terliat sepele tapi yaa cukup menguras pikiran hehe,,,

    yap semoga Agha ntar jadi dosen yg punya gebrakan baru yaa ^^ sukses selalu

    ReplyDelete
  3. semangat! Insya Allah, semua akan baik2 aja :)

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.