Thursday, December 12, 2013

CONTOH TEKNIK SAAT KONSELING

Bagi teman-teman psikologi yang bingung teknik-teknik yang digunakan saat konseling (khususnya face to face), berikut saya kasih lampiran tugas konseling saya waktu kuliah dulu beserta ilustrasi konselingnya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat ya :)



PERILAKU VERBAL
PERILAKU NON VERBAL
TEKNIK YANG DIGUNAKAN
1. Konselor : “Selamat pagi. Mari, silahkan duduk!”
Berdiri kemudian berjalan ke arah klien, tersenyum dan mempersilahkan klien untuk duduk
ATTENDING
2. Klien : “terima kasih”
Tersenyum pada konselor

3.Konselor : “perkenalkan nama saya Yanuarty. Boleh tahu, nama ibu siapa ?”
Duduk kemudian menjabat tangan klien sambil tersenyum
ATTENDING (RAPPORT)
4. Klien : “nama saya Mega”


5. Konselor : “Oh, bu Mega ke sini dengan siapa?”
Tersenyum pada klien
ATTENDING(RAPPORT)
6. Klien : “tadi diantar sama suami habis itu suami saya pergi ke kantor”


7. Konselor : “ibu tinggalnya di mana?”


8. Klien : “saya tinggal di sawojajar gang 5”


9. Konselor : “maaf, kalau boleh tahu, ibu datang kemari atas dasar inisiatif sendiri atau dari anjuran siapa dan apa yang bisa saya bantu?”
Posisi tubuh condong ke arah klien
ATTENDING
10. Klien :”begini mbak, sebenarnya saya datang ke sini karena ajakan suami saya. Eummm,, belakangan ini saya sering ketakutan sendiri mbak. Makanya suami saya nyaranin untuk ke psikolog mbak.”
Mulai berbicara dengan intonasi yang masih wajar

11. Konselor : “iya, ibu tenang saja. Sebisa mungkin kami akan membantu ibu tetapi itu juga tidak lepas dari kerja sama ibu.”
Badan agak condong ke klien dan menganggukkan kepala sambil berbicara dengan intonasi yang tegas
PARAPHRASING
12. Klien : “iya”
Mulai tersenyum dan menatap mata konselor

13. Konselor : “maaf, tadi ibu bilang ibu sering mengalami ketakutan belakangan ini. Bisa tolong dijelaskan lagi ketakutan dalam hal apa?”
Mengerutkan dahi dan kepala sedikit dimiringkan ke kanan
EKSPLORASI
14. Klien : “saya takut kalau lihat pembantu atau anak saya masak di dapur. Saya takut kalau lihat pisau mbak”
Dahinya berkerut, sesekali memejamkan mata

15. Konselor :”sudah berapa lama ibu mengalami ketakutan seperti itu dan apakah sebelumnya ibu pernah mencoba mengatasi masalah tersebut?”

EKSPLORASI
16. Klien : “sudah sejak dua bulan yang lalu. Eumm,,kalo itu belum pernah”
Sambil melihat ke atas

17. Konselor : “iya, lalu bagaimana perasaan ibu ketika melihat pisau itu?”

EKSPLORASI
18. Klien : “rasanya saya mau nangis mbak. Merinding dan saya juga memutuskan untuk tidak memasak lagi makanya saya menyewa pembantu saja”
Nada suara terdengar sayu

19. Konselor : “Ibu merasa merinding dan mau menangis kalau melihat pisau itu apakah hanya waktu ibu berada di rumah atau di tempat lain juga ?”

EKSPLORASI
20. Klien : “ya, di mana aja, mbak. Kalau lihat orang pegang pisau saya langsung ketakutan.”
Mengerutkan dahi dan menggerakkan tangan kanan menggosok mata kanan

21. Konselor : “tadi ibu mengatakan hal ini terjadi sudah sejak dua bulan yang lalu. Sebelum itu, apakah ada pengalaman atau kejadian yang sempat ibu alami?”

EKSPLORASI
22. Klien : “iya, mbak selama dua bulan yang lalu sampai sekarang ini selalu terbayang empat bulan yang lalu.. itu..saya berkunjung ke rumah mertua, sendirian aja soalnya suami saya lagi ada rapat di luar kota. Waktu itu mertua saya sedang tidur-tiduran di sofa selesai makan siang, terus saya izin keluar sebentar mau beli cemilan di warung sebelah…”
Melihat ke atas lalu menunduk

23. Konselor : “iya, lalu..?”

DORONGAN MINIMAL
24. Klien : “lalu…pas pulang itu saya lihat di rumah mertua saya kok rame sekali. Sampe ada mobil polisi dan ambulans. Saya bingung terus langsung lari ke dalam rumah mbak. saya shock mbak sewaktu lihat ibu mertua saya…diangkat sama pak polisi. Terus saya lihat ada bekas tusukan di dada ibu mertua saya dan ada pi…pisau yang banyak darahnya di lantai mbak.”
Menutup mata dengan kedua tangan lalu membukanya kembali. Tatapan matanya berkaca-kaca.

25. Konselor : “nampaknya ibu merasa sedih ketika melihat mertua ibu meninggal waktu itu”
Menurunkan nada intonasi
REFLEKSI
 26. Klien : “iya”


27. Konselor : “iya, saya mengerti dengan keadaan ibu dan saya juga turut berduka cita atas meninggalnya mertua ibu.
Memegang dada dan menurunkan intonasi
EMPATI
28. Konselor : “Lalu bagaimana hubungan ibu dengan mertua ?”

OPEN QUESTION
29. Klien : “hubungan kami baik-baik aja kok mbak. Ibu itu orangnya baik sekali sama saya dan keluarga. Udah nganggap kayak anaknya sendiri. Tapi, saya curiga mbak kalau ibu itu memang benar bunuh diri karena menurut keterangan polisi waktu itu juga gitu
Menganggukkan kepala, sesekali tersenyum dan melihat ke atas

30. Konselor : “apa ibu tahu bagaimana kejadiannya sampai mertua ibu meninggal ?”

EKSPLORASI
31. Klien : “saya juga nggak tahu mbak. Tapi, setahu saya waktu itu yang ada di rumah itu Cuma saya dan ibu mertua saya. Suami mertua saya sudah meninggal 10 tahun yang lalu dan adik ipar saya sudah nggak tinggal di situ lagi jadi ibu tinggalnya cuma berdua dengan pembantu. Tapi waktu itu, pembantunya lagi ke pasar mbak,  jadi sebelum kejadian itu yang ada di rumah cuma ibu dengan saya. Eumm,,,waktu itu, kita ngobrol biasa aja, nanyain kabar keluarga saya di rumah gimana. Euum,,, seingat saya sebelum saya izin ke warung itu, ibu nanya ke saya, kenapa saya nggak mau tinggal serumah sama ibu terus saya bingung mau jawab apa terus saya langsung pamit ke warung. Setelah itu saya pulang dan saya lihat ibu sudah meninggal”
Menggelengkan kepala, mengerutkan dahi dan meremas-remas kedua tangan

32. Konselor : “jadi ibu merasa ketakutan terhadap pisau yang ibu alami akhir-akhir ini karena kejadian meninggalnya mertua ibu ?”

CLOSED QUESTION
33. Klien : “iya, mbak”
menunduk

34. Konselor : “maaf, tadi ibu bilang, mertua menanyakan alasan ibu tidak bersedia tinggal serumah dengan mertua setelah menikah dan ibu bingung dan belum sempat menjawab. Nah, kalau seandainya waktu itu tidak ada kejadian naas itu dan sepulang dari warung mertua menanyakan hal yang sama, kira-kira apakah ibu akan tetap diam atau ibu menjawabnya ?

DIRECTING
35. Klien : “ya…, sebenarnya…saya juga merasa bersalah mbak, mungkin ibu bunuh diri karena itu mbak,,,saya juga merasa bersalah mbak karena dari awal semenjak saya dan suami saya menikah satu bulan sebelum kejadian itu, ibu memang menyuruh kami untuk tetap tinggal di rumah itu. Tapi,,,saya nggak mau kalau sewaktu-waktu ibu mencampuri urusan rumah tangga saya. Tapi,,,saya juga kasihan dan sayang sama ibu, ibu tinggal sendiri. Suami saya juga awalnya memang ingin tinggal berdua saja karena suami saya juga punya rumah sendiri, warisan dari kakeknya. Ibu memang nggak pernah tahu alasan saya dan ibu udah sering nanya gitu tiap saya berkunjung ke sana. Mungkin, ibu mertua saya kesal sama saya mbak karena saya tidak pernah ngasih tahu alasan saya untuk tidak tinggal bersama beliau dan akhirnya..ya, bunuh diri itu”
Menunduk, intonasi bicara naik turun

36. Konselor : “lalu tanggapan suami ibu bagaimana?”

OPEN QUESTION
37. Klien : “suami saya nggak menyalahkan saya karena saya juga tidak pernah tahu kenapa mertua saya bunuh diri. Tapi, suami saya juga sempat menyesali kejadian itu dan malah mengira kalau mertua saya punya kelainan jiwa tapi sewaktu diteliti lagi, nggak ada tanda-tanda beliau kelainan jiwa. Setelah itu, suami saya berusaha untuk sabar dan mengikhlaskan semua itu dan tidak membahasnya lagi.”
Menggelengkan kepala, menatap mata konselor sambil mengerutkan dahi

38. Konselor : “ apakah benar mertua ibu pernah mencampuri urusan rumah tangga ibu dengan suami?”

CLOSED QUESTION
39. Klien : “Tidak.. tidak pernah”
Menggelengkan kepala, memejamkan mata sekejap

40. Konselor : “dalam pernikahan, masalah itu memang bukan suatu hal yang langka. Ada pasangan yang memang bersedia tinggal serumah dengan mertua dan ada juga pasangan yang memang dari awal berkomitmen untuk tidak tinggal serumah dengan mertua dengan alasan ingin hidup mandiri tanpa bergantung lagi dengan orang tua atau mungkin tidak mau merepotkan orang tua/mertua kalau-kalau nanti terjadi masalah antara suami dan istri. Bukan begitu maksud ibu ?”

INTERPRETASI
41. Klien : “iya, mbak. Kira-kira begitulah”
Menganggukkan kepala

42. Konselor : “baiklah. Jadi, dari perbincangan kita tadi, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa pertama, ibu akhir-akhir ini sering mengalami ketakutan terhadap pisau dan itu terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Kedua, ketakutan ibu itu karena ibu pernah melihat peristiwa meninggalnya mertua ibu yang bisa dikatakan beliau meninggal bunuh diri dengan pisau dan itu terjadi empat bulan yang lalu berarti dua bulan sebelum ibu mengalami ketakutan yang tidak jelas terhadap pisau itu. Dan yang ketiga, ibu merasa bersalah sebab ibu mengira bahwa mertua ibu bunuh diri karena kurangnya komunikasi antara ibu dengan mertua, ibu terus menutupi dan tidak pernah memberitahukan alasan atas pertanyaan mertua mengapa ibu tidak mau tinggal serumah dengan mertua pasca menikah, lalu karena seringnya ibu tidak menjawab tiap kali ditanyakana hal yang sama, sehingga ibu merasa bahwa ibu lah yang seolah-olah penyebab bunuh dirinya mertua ibu.
Menggerakkan tangan kanan ke atas tangan kiri
SUMMARIZING
43. Klien : “iya”


44. Konselor :”lalu, kira-kira… Apa yang bisa ibu tangkap dari semua ini. Maksud saya, seandainya mertua ibu masih hidup dan menanyakan lagi hal tersebut, apa yang ibu lakukan ?”

DIRECTING
45. Klien : “ya saya pasti bakal ngomong apa adanya mbak, terus kalau bisa ya minta maaf juga sama almarhumah. Saya akui komunikasi saya dengan almarhumah mertua saya sangat kurang”


46. Konselor : “baiklah ibu, dapat saya simpulkan lagi  ibu sudah mengatakan bahwa komunikasi itu adalah faktor penting dalam kehidupan dan ke depannya, ibu akan membenahi hal-hal yang menurut ibu itu adalah kekurangan.”

SUMMARIZING (SOLUSI)
47. Konselor : “baiklah ibu, saya mohon maaf karena waktu saya tidak banyak dan masih harus menyelesaikan tugas yang lain, jadi pertemuan kita dicukupkan sampai di sini dulu ya. Kalau ibu masih perlu konsultasi terkait ketakutan dengan pisau bila memang masih berlanjut, silahkan datang lagi kemari dan kami akan melakukan tes kemudian bila perlu, nanti akan dirangkaikan dengan terapi. Kira-kira ibu mau datang lagi kapan ?”

PENUTUP
48. Klien : “eum,,hari kamis depan, bisa nggak mbak ?”
Melihat ke atas, sekejap mengatupkan bibir lalu memandang konselor

49. konselor : “iya, Hari kamis depan ya ibu. Saya tunggu.”

PENUTUP
50. Klien: “kalau begitu saya permisi dulu mbak. Makasih ”
Berdiri dari kursi dan menjabat tangan konselor

51. Konselor : “iya, sama-sama ibu”
Berdiri dari kursi, Membalas jabatan tangan klien sambil melontarkan senyum lalu membukakan pintu



No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.