Monday, December 2, 2013

(FIKSI) SENYUMAN ITU

Aku menuliskan ini bukan karena ingin mengingatmu lebih dalam lagi. Bukan! Saat itu, masih dalam pusaran waktu 2011, tepat saat KKN berlangsung. Walau perasaan ini tak kupendam lagi, walau perasaan ini sudah lama kubuang dari dinding kalbuku, tapi, aku tetap menghormati waktu yang telah sering mempertemukan kita. Pertemuan yang sebenarnya tidak kuinginkan, mungkin kau pun demikian halnya.

Ini adalah jadwal piket pertama di hari pertama tugas KKN. Aku terpilih sebagai orang pertama. Para panitia yang telah menyusun jadwal itu, menyandingkan namaku dengan seorang teman laki-laki bernama Try. Ya. Semua teman laki-laki tak ada yang kukenal, kecuali sosok Randi.

Pagi itu, aku telah siap-siap hendak berangkat menjalankan tugas piketku di Balai Desa. Jaket seragam KKN warna hitam, rok kotak-kotak cokelat, sepatu karet cokelat dan jilbab cokelat kukenakan tanpa peduli aku terlihat cantik atau buruk. 

Untunglah cuacanya berada di garis tengah, tidak panas dan tidak juga dingin. Wonorejo memang sebuah desa yang tidak jauh dari pantai Balekambang membuat aku cukup betah meski pertama menginjak desa ini, aku sempat mengalami ruam-ruam gatal.

Ah, aku benar-benar merasa sangat malu! Pagi itu, aku telah siap-siap hendak berangkat. Tidak jauh di depan kos putri, aku berjalan kaki ke depan rumah kos putra yang berada di pinggir jalan setapak. Berdiri mematung di samping tiang pilar teras kos putra membuatku merasa seperti daun putri malu. Aku menunggu tumpangan kendaraan yang bersedia mengantarkanku ke Balai Desa. Tadinya, aku bersikeras meminta teman perempuan yang memboncengiku karena aku tak bisa menggunakan motor bergigi. Namun, teman perempuan yang tadinya hendak menolongku, mendadak membatalkan janjinya dan memintaku untuk berangkat bersama Try. Ya, berboncengan dengan Try.

Aku masih menunggu, berdiri membelakangi sinar mentari. Kulihat pintu kos putra sudah terbuka.

"Emma, maaf ya. Try masih pakai baju. Tadi, dia baru selesai mandi," kata salah seorang teman laki-laki yang menghampiriku. Dia menengok jam tangannya dan berbalik menoleh ke dalam rumah, memanggil nama Try dengan kencang.

Beberapa menit kemudian, sosok berwajah bak boneka porselen pelan-pelan keluar dari kos putra, menali sneakernya lalu mengibas jaket hitamnya yang mungkin terkesan berdebu. Dengan debaran jantung tak menentu, kutengok wajah mulus yang digelantungi dagu runcing itu. Di kerah bagian kiri jaketnya tampak semacam bros kecil bergambar boneka warna hijau, mungkin itu untuk menandakan agar jaketnya tak tertukar. Ah! Sebenarnya bukan itu yang ingin kulihat. 

Usai menali sepatu, dia berjalan ke arah garasi, memasang kunci motor lalu menghidupkan mesinnya. 

Cuek sekali, batinku.

Ya, begitulah dia. Dia yang kusebut sebagai Randi. Seorang mahasiswa kedokteran yang sering kutemui di berbagai tempat tak terduga yang menurutku merupakan serangkaian fase takdir.

Teman laki-laki yang tadi memanggil Try lalu menegur Randi, "Ran, kamu mau ke mana?"

Aku hanya menyimak dalam bungkam.

"Mau antar anak-anak lah," jawab Randi dengan senyum sumringah khasnya. 
Begitu bencikah matanya sampai tidak ingin menoleh ke arahku? pikirku dengan ekspresi datar.
"Oh, iya. Oke, kalau begitu, kamu saja yang mengantar Kordes dan yang lain," kata laki-laki yang dijuluki Papi L itu lagi.

Try belum juga siap. Sementara itu, jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Seharusnya, aku dan Try sudah lebih dulu tiba di Balai Desa sebelum beberapa teman lain menyusul untuk sekadar memberi sambutan dan meminta perizinan pada Pak Lurah. Tapi, apa boleh buat, aku harus menunggu beberapa menit lagi.

Beberapa meter di seberang mataku, kulihat Randi tampaknya bersiap-siap menunggangi kuda besi itu. Tapi, tak kulihat satu pun orang yang hendak diboncengnya. Masih dengan sikap acuhnya, dia mengeluarkan motor silver itu ke depan jalan setapak, ke pinggir kebun yang ada di seberang rumah kos putra. Dia memutar-mutar stir, mengencangkan gas agar mesin panas sempurna.

Papi L keluar lagi dan kebingungan melihatku yang sedari tadi menunggu tanpa kepastian. "Ran... Randi..." panggilnya.

Sayang, Randi tak menoleh. Deruman motor itu mengaburkan suara Papi L sehingga tak terdengar oleh Rendi.

"Ran... Kamu bonceng Emma saja biar cepat! Try itu masih lelet pakai bajunya!" teriak Papi L. Lagi-lagi, tak didengar oleh Rendi.

Selang beberapa detik kemudian, Siska--teman perempuan yang awalnya ingin memboncengku tapi tidak jadi--berlari dari kos putri lalu beringsut naik ke motor yang ada di bawah kendali Randi. Randi sempat terkejut,

"Hei, Siska! Kamu mau ke mana?"
"Ya, mau ikut ngantar ke Balai Desa dong!"
"Heh, yang seharusnya pergi duluan itu Emma sama Try. Jadi, mending kamu turun sekarang. Biar Randi yang bonceng Emma..."
"Gak papa... Nanti biar Emma bareng Try aja biar enak!"
"Hei, seharusnya kamu loh yang bonceng Emma, Sis!"
"Gak berani aku! Jalannya banyak yang rusak..." kelit Siska

Aku hanya tersenyum kecut. Aku tahu, Papi L sudah baik, mau membantuku. Dia juga sebenarnya segan padaku, karena awalnya aku meminta dibonceng oleh perempuan saja. Belum ada dua detik Papi L selesai koar-koar, Randi dan Siska melaju lebih dulu, pergi meninggalkan dusun menuju Balai Desa.

"Dasar anak-anak! Giman sih Siska itu, harusnya kamu duluan ke sana?" gerutu Papi L dengan wajah ditekuk.
"Udah, gak papa, Papi L. Nanti biar aku berangkat sama Try saja," tampikku.
"Maaf banget ya, Emma. Ini terpaksa banget, kamu harus dibonceng sama Try. Tapi, kamu tenang saja, Try udah kupesan untuk gak ngebut-ngebut bonceng kamu."
"Iya," balasku pendek.

Akhirnya, Try sudah siap. Sosok bergigi gingsul itu cepat-cepat mengeluarkan motor birunya lalu memanggilku.
"Papi L, kita berangkat dulu ya!"
"Iya, hati-hati!" pesan Papi L. "Try, jangan ngebut-ngebut ya!"
"Oke, Bos!" sahut Try sambil mengacungkan jempol.

Di sepanjang jalan menuju Balai Desa, Try terus-menerus meminta maaf padaku. Semalam, katanya, dia berdiskusi dengan teman-teman lain. Sama seperti lainnya, Try pun menganggapku berbeda dari seluruh teman perempuan yang ada. Aku yang mengenakan jilbab lebih lebar, lebih tertutup dan cenderung introvert memang sangat berbeda jauh dengan seluruh teman perempuan yang rata-rata tidak banyak yang berjilbab, super supel dan lebih cerewet. Try meminta maaf karena dia terpaksa memboncengku. Dia tahu batasan-batasan apa yang kumiliki. Saat itu, aku juga berbalik meminta maaf padanya dan menganggap ini semua terpaksa. Ya, kami berharap, tidak akan timbul fitnah karena kami juga dalam rangka bertugas untuk program KKN, bukan untuk perbuatan aneh-aneh.

Saat memasuki tikungan ke Balai Desa, dari arah depan, Randi tampak membawa motor itu sendiri. Sepertinya, dia bermaksud kembali ke kos untuk menunggu kawan-kawan lain yang ingin ikut ke Balai Desa. Di tengah jalan saat berpapasan dengannya, Try dan Randi saling menyapa. Saat itu, aku mencoba menengok sekilas, eh... matanya baru menyadari kehadiranku. Randi memberiku satu senyum simpul dengan mata sipitnya yang memicing sempurna. Aku tahu apa makna senyum itu. Senyum yang tidak memperkenankan aku untuk menelusuri dirinya lebih jauh. Ya, itu yang selama kurun tiga tahun ini kutangkap jika bertemu dengannya.

Selepas dia lenyap bersama motor silver itu, aku terus mendesah dalam hati. Pikiranku tak henti menafsirkan seluruh akumulasi senyum yang kuperoleh darinya selama ini.

Saat pertama kali mengenalnya dalam pekan P2KK, senyum itulah yang dia haturkan padaku. Senyum yang goresan dan mungkin juga ukurannya kurasa sama saja dengan senyum-senyum sebelumnya. Tidak terlalu sempit dan tidak pula terlalu lebar. 

Aku memang tak sering-sering melihatnya. Itu karena gedung kuliah kami dibedakan. Aku di kampus pusat, sementara dia di kampus II yang cukup memakan jarak. Aku hanya menemukannya secara tak sengaja pada berbagai kesempatan langka. Begitulah takdir mempertemukan aku dengannya. Tapi, hingga kami bertemu dan satu kelompok lagi di KKN, senyum itu tak pernah berubah. 

Saat kurasa, aku masih memendam perasaan padanya, aku ingin senyum itu terlihat lebih lebar dan terbuka hingga menjereng gigi putih rapinya. Tapi, itu tak kudapati. Hanya senyum simpul dengan bibir yang hampir dikulum, hanya itu yang sering kusaksikan darinya. Senyum yang kupelajari dari ilmu grafologi saat masih magang di BK kampus. Senyum yang menyimpan arti bahwa pemberinya merahasiakan atau menutup sesuatu dari orang yang diberinya senyum itu. Senyum yang menyiratkan bahwa Randi tidak ingin tahu lebih banyak tentangku, seperti aku yang dulu ingin tahu lebih banyak tentangnya meski tanpa menanyakan langsung pada dirinya. Senyum yang sudah kupatenkan sebagai wujud tindakan yang kemudian kupilih selanjutnya: memilih untuk mengusir perasaanku terhadapnya yang selama itu kupendam.

Bukan berarti aku ingin dia terbuka dan menyambutku. Bukan berarti dulu aku ingin agar Randi membalas rasa ini. Tapi, ini tentang sebuah alarm bagiku. Ya, alarm yang selalu santer mengingatkanku agar tidak lengah menghadapi ujian VMJ ini. Alarm yang dulu sering kuacuhkan padahal sangat kubutuhkan untuk melindungi hatiku dari virus yang dapat mengotorinya.

Dan, akhirnya, aku sampai pada titik ternyaman dalam hidupku. Aku kembali memedulikan alarm itu. Senyum itu kuanggap sebagai tanda bahwa aku harus mundur lebih jauh darinya agar aku bisa lebih baik lagi dari yang dulu.

Subhanallah! Maha Suci Allah yang memberiku ujian itu. Tiga tahun aku terpenjara oleh perasaan yang membuatku sering jatuh mellow, menjadikan aku seperti sosok bertopeng yang jauh dari pribadi asliku. Aku tak ingin lagi seperti itu. Dan, kini, aku menyadari, senyuman itu mengisyaratkan bahwa Randi bukanlah seseorang yang kelak harus kunanti. Randi bukanlah sosok yang terbaik bagiku. Tanpa kujelaskan, doa-doaku dan tangan-tangan Allah sudah lebih dulu menjawabnya. Allah telah menjauhkanku dari pemuda Banjarmasin itu.

Sekarang, aku kembali menjadi diriku yang asli, diriku yang nyaman tanpa topeng-topeng saat mencintainya dulu. Aku baru menyadari, perasaan yang kupendam dahulu justru telah membuatku hampir lumpuh. Beruntung kini, aku bisa menyembuhkan dan memaafkan semua masa lalu itu. Walau aku tak pernah terikat apapun dengannya, tapi aku juga tidak ingin terus-menerus hidup dalam tempurung perasaan lalu. 

Ah, akhirnya, aku bebas! Aku bisa tersenyum lebar! Tak lagi kulihat senyum itu. Dan, lebih dari itu, aku bahagia, karena aku tahu Allah sedang tersenyum padaku. Senyuman Allah-lah yang menyambuhkanku. Dia Yang Maha Tahu apa yang kubutuhkan.
-----

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.