Sunday, December 15, 2013

KARENA TUHAN INGIN KAMU KONSISTEN

Tidaklah penting berapa kali kamu gagal.
Yang penting adalah konsistensimu
untuk bangkit dari kegagalan
@de_Paresma

-----
Waktu kecil, saya masih terlalu introvert. Tidak punya teman, kecuali tetangga saya yang mana dia pun hanya memiliki saya sebagai satu-satunya sahabat hingga sekarang. Sejak kecil, saya sering di-bully, sering diejek, sering dijatuhkan. Saat duduk di bangku taman kanak-kanak, saya juga pernah dimusuhi teman tanpa sebab.


Meski introvert, guru-guru saya bilang, saya berprestasi. Saat SD, saya selalu menang. Menang dalam lomba MIPA antarsekolah. Menang lomba pidato bahasa Indonesia dan Inggris berturut-turut. Termasuk menang dalam menjawab segala jenis pertanyaan seputar Biologi saat kelas 5 SD yang membuat guru saya bosan melihat saya mengacungkan tangan terus. 

Saat pertama kalinya, saya ikut lomba, lomba MIPA, saya menangis. Ibu kepsek memeluk saya dan memberi selamat karena saya berhasil maju ke babak berikutnya. Saya menangis bukan karena sedih atau bahagia. Saya menangis karena saya bisa melampaui kekurangan saya. Saya yang dulunya malu-malu kambing, selalu berdiam diri, mojok sendiri di kelas, tidak punya teman kecuali buku dan pulpen, eh... ternyata bisa punya prestasi yang bermanfaat buat orang lain.

Saat SMP, saya mulai mengalami krisis. Saya sudah punya teman-teman dekat, yang satu misi, satu visi dan satu "otak". Sampai-sampai semua teman iri melihat kami yang cenderung "pandai" kumpul dalam satu kelompok. Tapi, kemenangan yang dulu selalu saya dapatkan, ternyata tak mudah mempertahankannya. Waktu itu, saya punya teman, cewek. Dia menganggap saya sebagai rival meski kami satu kelompok belajar. Ketika saya berhasil mengalahkan prestasinya, merebut kursi juara I umum sekolah, dia membenci saya, kami tak lagi sekelompok. Bukan cuma dia, teman-teman yang men-support dia juga ikut mencemooh saya. Salah apakah saya? Saya meraih prestasi itu bukan karena mengemis, tapi atas perjuangan sendiri. Bahkan, saya pun cukup tak peduli saat mereka bilang, "Kamu gak pantas ngalahin dia."

Ya, perbandingan demi perbandingan itu membuat saya jenuh. Tapi, saya belajar lagi. Kata orang, pemenang sejati adalah yang mau down to earth di hadapan musuh. Saya meminta maaf terlebih dulu pada teman saya itu walaupun yang salah adalah dia. Kami pun berteman lagi, tapi tetap menjadi rival untuk mengikuti kompetisi pemilihan siswa teladan. Walau satu sekolah, saya dan dia tetap diadu. Ya, saya kalah. Saya pun belajar bahwa hidup itu bagai roda, ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Saya juara III sedang dia juara I. 

Selain belajar dari sekolah, saya pun belajar arti kegagalan yang menimpa rumah kami. Rumah saya dan orangtua. Saat itu, bapak difitnah telah korupsi oleh teman baik sekaligus tetangga sendiri. Kami sangat mengenal siapa bapak. Beliau bukanlah orang yang mau menerima "uang haram" seperti itu. Mau tidak mau, kami terguncang. Kasus fitnah tersebut telah sampai ke pengadilan bersama teman yang menuduhnya saat itu. Alhamdulillah, Allah memang tak pernah tidur. Allah menunjukkan kebenarannya. Bapak mungkin sempat kalah saing dengan kawan sekantornya itu, tapi sudah terbukti bahwa bukan bapak yang bersalah, tapi temannya itu. Akhirnya, sang teman pun mendekam di bui. Selama berbulan-bulan, bapak mencoba bersabar dan memaafkan semuanya. Namun, sejak itu, kantor bapak yang kebetulan salah satu bank besar sedang mengalami krisis. Kami yang biasanya tak pernah ada kesulitan keuangan, mendadak harus gigit jari. Bapak yang biasanya membelikan saya pulsa 50 ribu tiap bulan, tiba-tiba harus berhemat ketat. Kegagalan menimpa rumah kami. Alhamdulillah, meski begitu, kami tetap rukun dan saling menguatkan.

Kembali ke sekolah. Kali itu SMA. Kegagalan demi kegagalan saya temui. Gagal lolos di lomba novel cilik, gagal lolos waktu kirim naskah ke media-media cetak, gagal mempertahankan peringkat kelas dan kegagalan lainnya. Di sana, saya belajar arti sahabat. Untuk usia remaja seperti saya waktu itu, teman adalah faktor terpenting. Saya punya satu sahabat. Kami bagaikan puzzle yang saling melengkapi. Saya belajar arti peduli dan bangkit dari sahabat saya itu. Saya pun menemukan hidayah memakai jilbab melalui sahabat saya yang sudah lama berjilbab itu. 

Saya belajar, kita tidak akan mutlak terus menang. Ada kalanya kita harus kalah. Tentunya, kalah dengan terhormat.
Saya belajar, untuk tidak menangisi kegagalan itu berlarut-larut. Kita harus bangkit dan harus terus bangkit karena kegagalan akan terus menghantui dan tak akan pernah habis. Semangat kita pun juga semestinya tak mudah kendur.
Saya belajar menjadi sahabat yang baik seperti yang dilakukan sahabat saya. Ketika temannya sedang terpuruk, teman yang lain semestinya membantu. Saat temannya khilaf, teman yang lain harusnya mengingatkan dan menegur.

Dari kegagalan itu, saya belajar lagi mencoba mendengar pengalaman kegagalan dan kesuksesan orang lain.
Apa yang membuat mereka kuat? Konsistensi. Acapkali gagal, mereka konsisten untuk terus bangkit dan berlari, meski luka-luka, meski terlunta-lunta.

Saya juga belajar menjadi pendengar yang baik dari segala pengalaman orang lain. Kesedihan, kebahagiaan, keterpurukan, kegetiran mereka adalah sumber kekuatan untuk melukis matahari di hari ini dan esok, bukan menjadi sumber sugesti bahwa masa depan itu suram.

Saya belajar, kelemahan itu adalah sumber kekuatan yang terpendam, seperti kata orang-orang bijak.

Saya memang bukan orang bijak atau orang besar. Tapi saya adalah pembelajar. 
Saya juga tak ingin dikenal sebagai ini dan itu, tapi saya akan bersyukur jika dikenali sebagai salah satu di antara orang-orang yang dapat memberikan manfaat bagi semesta.

Apapun yang saya lakukan, terlepas dari berhasil atau gagal, itu semua adalah proses pembelajaran. Hasil akhirnya nanti akan saya dapatkan di akhirat. Bukankah dunia ini adalah proses dan akhirat adalah hasil?

Ya, begitulah adanya.

Apapun yang saya lakukan, saya tahu, Allah ingin saya konsisten, istiqomah. Konsisten untuk selalu menyadarkan diri agar berjalan di rel yang lurus dan benar. Konsisten untuk senantiasa menegur diri saat menghadapi berbagai persimpangan jalan. Konsisten untuk terus bangkit dan kembali melakukan hal-hal baik.

Saya tak peduli lagi jika ada yang tak suka pada saya karena dulu saya sudah terbiasa dengan itu

Saya justru berterima kasih, berkat mereka, saya bisa belajar arti hidup

Saya tak peduli apa penilaian orang lain

Yang saya tahu, karena Allah ingin saya konsisten terhadap-Nya... kamu pun harusnya demikian

Jangan pernah buka mulutmu untuk mengeluh sebelum kamu memperhatikan alam semesta ini dan bersyukur pada-Nya.


No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.