Tuesday, December 17, 2013

SAAT TAKDIR MEMPERTEMUKAN KITA (LAGI)

Malang berubah sedingin salju. Padahal, hujan hanya turun satu-satu. Konyolnya, aku menghitung rintikan hujan itu dengan gumaman yang cukup cepat. Bodoh! Ya, terkadang aku melakukan hal-hal yang mungkin bagi orang tidaklah bermakna.


Sudah pukul sebelas siang. Aku masih betah duduk berteduh di bangku depan altar ruko Yamaha di bilangan jalan MT Haryono sembari melirik motorku yang masih diservis. Seisi ruangan itu, didominasi oleh pria. Jumlah wanitanya termasuk aku sangat bisa dihitung jari, kuhitung dalam hati, hanya tiga kepala termasuk aku.

Menit demi menit berlalu.Motorku masih dalam proses penggantian oli. Agar tidak jenuh, kucoba berjalan semeter ke depan, mendekati batas plafon ruko. Kutangkupkan tangan kananku ke atas, menadah hujan dengan ragu-ragu. Kurasakan dinginnya air langit yang juga menitik mengenai jilbabku.

"Sendirian?"

Tenggorokanku rasanya tercekat. Aku memilih pura-pura tak mendengar suara yang sangat familiar untuk gendang telingaku.

"Kamu lagi servis motor ya?"

Hujan mendadak reda. Suara itu semakin jelas. Tak ada celah untukku bungkam. Kurelakan wajahku meringis malu ketika menoleh ke arahnya.

"Kamu sendirian aja?"

Aku mengangguk tanpa pikir panjang, berharap dia akan pergi dan obrolan ini tak akan dilanjutkannya lagi. Lebih dari itu, aku tak ingin menatap wajah bening itu lagi.

"Oh ya, lama nggak ketemu. Kukira kamu udah nggak di Malang lagi," ujarnya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Kupikir kamu udah nggak ingat lagi sama aku," cetusku, mendiamkan gerak bibirmu. 

Dia mengerak-gerakkan kaki kirinya ke depan, lalu hujan terjun lagi, menggerimisi sepatu kets putihnya. Eum, tapi... tunggu dulu! Senyum itu. Senyum  yang sama dengan yang pernah dipertontonkannya di hadapanku, lumer, membasahi lekukan bibir tipisnya yang ranum. Aku tahu, senyum itu semakin menambah ketampanannya.

"Aku nggak mungkin lupa sama kamu." Bibirnya tersimpul, seolah pelangi sedang berkumpul di sana.

Kutengok sekejap wajahnya. Tak ada tanda-tanda kebohongan apalagi kegombalan. Ah, aku lupa! Nada bicaranya memang sering membuatku ge-er.

"Aku dengar, kamu pindah ke sini ya?" 

What?! Dari mana dia tahu kalau aku baru saja pindah dan menetap di kota ini? Sejak pertemuan terakhir pasca wisuda 2012 lalu, aku ataupun dia sama-sama menghilang tanpa saling mengirim kabar. Hhh... memberi kabar? Itu tak pernah ada dalam kamus pertemuanku dengannya.

Aku tak menjawab karena memang tak ingin banyak bicara. Dia membuka satu demi satu dialog baru yang kurasa itu hanyalah basa-basi yang terlalu melebar dan aku tak suka basa-basi. Tiba-tiba bayangan empat tahun lalu itu muncul lagi. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menahan isi memori itu agar tidak keluar dari kepalaku. Saat kuberikan kotak merah berisi baju putih sebagai hadiah ulang tahun untuknya. Peristiwa itu membuatku teronggok malu. Dia memang menerima kado itu, tapi aku yakin, baju putih yang kuberi itu tak mungkin dipakainya, apalagi dipakai di hadapan pacarnya. Uh, sudahlah! Kugeser masuk memori itu ke otakku, membiarkannya menjamur hingga lapuk sekalian, harapku.

Sudah tiga puluh menit kudengarkan dirinya bermain aksara tanpa sepatah balas pun dariku kecuali senyum pelit. Seorang teknisi memanggilku, tanda motorku selesai diservis. Fiuh, lega rasanya. Dengan ini, aku bisa cepat-cepat pulang.

Kuberikan isyarat permisi melalui mataku padanya. Kujemput motor yang sudah diparkir keluar oleh sang teknisi. Hujan juga sudah tak menetes lagi. Tanpa menoleh lagi, kuhidupkan starter motorku, hendak pulang.

"Tunggu, Va!" Pemilik mata sipit itu menyerukan namaku. Nadanya sedikit berbeda, terdengar seperti sedang memaksaku untuk tidak buru-buru pergi.

Baiklah, aku menyerah untuk beberapa detik saja. Kumatikan mesin motorku tapi aku tetap duduk di sadel sembari menunggunya menghampiriku.

"Eva, aku memang masih koass, bolak-balik Lamongan-Malang. Dan, kamu tau nggak? Aku yakin, kamu akan kembali ke sini. Sudah lama aku nungguin kamu. Aku tau kamu sering menyervis motor di tempat ini. Aku nungguin kamu karena aku ingin..."

Astaga! Mataku hampir berair mendengar celotehannya yang menurutku seharusnya tak perlu diutarakan. Tapi, terlanjur sudah, bibirku mulai panas. Lekas kupotong kalimatnya, "Vandi, aku lupa menyampaikan kabar ini. Aku sudah menikah. Aku baru saja menikah dua bulan yang lalu."

Matanya mencoba mengerti ucapanku, tapi perlahan berubah sayu dan mungkin.. frustrasi. Hanya itu yang kutangkap. Aku sadar, pernah memendam perasaan padanya semasa kuliah. Tapi, perasaan itu juga sudah kubuang jauh dan kugantikan dengan kehadiran seseorang yang tidak lain adalah suamiku, orang yang telah mempersuntingku saat aku tengah move on.

Bibirnya gemetar, "Ah-oh, itu tadi yang mau kubilang. Aku ingin ngucapin selamat buat kamu, Va,"

Aku tahu dia berbohong, berusaha menyembunyikan potongan kalimat yang tak mungkin lagi dikatakannya. Aku berusaha menata hatiku. Sakit memang, aku bisa merasakan perasaannya. Perasaan yang ternyata dulu diam-diam segaris dengan perasaanku meski tak pernah ada hubungan atau kedekatan lebih di antara kami.

Setelah lama terdiam, aku pun menghidupkan kembali mesin motorku dan pergi meninggalkannya. Memang terkesan buru-buru. Ya, aku buru-buru pergi karena air mataku juga buru-buru jatuh. Kulihat dirinya dari kaca spion, masih berdiri pilu di sana. Dan, ribuan kendaraan di belakangku semakin memudarkan bayangannya hingga lenyap seketika. Kututup helmku rapat-rapat, berharap tak ada yang menebak bahwa aku sedang menangis.

"Maafkan aku, Vandi. Dulu, aku memang mencintaimu, diam-diam kumencintaimu. Tapi, hari ini aku menyesal ketemu kamu setelah minggu lalu kulihat sapaanmu di kotak emailku. Kau menyiratkan satu pesan yang tak bisa lagi kutunggu karena aku sudah jadi milik orang lain, orang yang kini lebih kucintai darimu, orang yang sangat menghargai dan memahamiku, dan pria beruntung itu adalah sahabatmu," pekik batinku.
----

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.