Sunday, December 1, 2013

SINETRON DIAM-DIAM SUKA INGETIN SAMA SAHABAT KECIL

Hehehe... katanya nggak boleh nonton sinetron ya? :D Bisa bikin tua atau bikin cepat galau.... (kata dokter Bram sih). Tapi, saya juga gak sering-sering nonton. Biasanya, saya milih-milih sinetron mana yang kiranya bagus dan gak bikin mellow. Selain itu, saya juga nonton sinetron atau film apapun, biasanya untuk nyari inspirasi buat nulis.
Lihat sinetron DIAM-DIAM SUKA, saya jadi teringat dengan sahabat kecil saya waktu SD. Namanya Sutomo. Anaknya manis, punya lesung pipi, rapi, wangi dan ramah banget.

Kedekatan tokoh Sri dan Daffa (kebetulan) mirip dengan kisah saya dan Sutomo dulu. Mungkin, lebih dari itu. Dulu, saya yang masih suka jadi bahan bully-an teman-teman sekolah lantaran banyak yang iri gegara prestasi saya. Yang selalu nolongin saya tidak lain adalah Sutomo, ketua kelas saya. Awalnya, saya juga tidak tahu, kenapa dia mau berteman dengan saya yang waktu itu terbilang suka menyendiri, masih sangat introvert dan cupu banget. Saya masih ingat, dia pernah metik bunga kertas di halaman sekolah, terus dia samperin saya yang waktu itu lagi duduk sambil baca buku sendiri di kelas usai bermain sebentar. Dia ngasih bunga itu dan ngajak saya bermain.

Saat saya di-bully sama teman saya (teman yang suka banget sama Sutomo), Sutomo lah yang mengobati luka saya. Dia bahkan pernah mengancam siapapun yang berani mem-bully saya, baik itu perempuan atau laki-laki. Dia juga yang diam-diam memilih saya sebagai kandidat ketua kelas yang baru untuk menggantikannya (padahal saat itu saya berontak karena tidak mau jadi ketua kelas lantaran malu, yaaa... bagi orang yang introvert, tahulah gimana maksud saya).

Sutomo adalah sahabat pertama yang membuka cakrawala saya, yang menggantikan hari-hari mendung menjadi hujan pelangi, yang membuat saya tampil berani dan mengalahkan sisi introvert saya yang berlebihan. Dia adalah penyelamat saya. Hehehe... :D Kalau saya masih malu-malu atau enggan bermain sama teman-teman lain yang suka eksis sana-sini, Sutomo. lah yang mengajarkan saya bagaimana mengusir atau meminimalisir rasa malu yang berlebihan itu.

Ketika dia pindah sekolah, tampak jelas raut sedih di matanya. Dia bahkan enggan berbicara pada saya waktu itu. Itulah yang selama bertahun-tahun menjadi tanda tanya besar yang terus ingin saya cari. Bertahun-tahun sejak kepindahan Sutomo (kelas tiga SD), saya tak putus asa bertanya sana-sini untuk mencarinya, mencari tahu kenapa dia menangis dan menjauhi saya waktu itu. Sampai akhirnya, 2012 kemarin, saya menemukannya melalui teman SD saya juga. Selama ini, saya tidak sadar kalau teman tempat saya bertanya itu adalah sepupu Sutomo. Ya ampun! Bodohnya saya! Saya sudah susah payah mencari ke koran, radio dan ke mana-mana, rupanya dia masih begitu dekat.

Saat menemukannya kembali memang tidak langsung face to face. Hanya lewat Facebook. Saat itu juga waktunya saya rasa sangat tidak tepat, apalagi dia punya masalah dengan pacarnya di FB sampai dia diterjangi berbagai ledekan yang menurut saya menjatuhkan harga dirinya. Kasihan tapi untunglah, dia sudah putus dengan pacarnya yang obsesif bin posesif itu.

Saat itu, saya bertanya, apakah dia masih mengingat saya? Sedih! Seharusnya, saya tidak usah menanyakan itu. Dia seperti seseorang yang mengalami amnesia dissosiatif, lupa tapi hanya lupa pada persahabatan kami dulu. Saat saya menjelaskan panjang lebar untuk meyakinkannya, dia baru percaya dan ingat meski tidak sepenuhnya ingat. 

Dan, yang membuat saya lebih terkejut lagi, ketika saya bertanya mengapa dia menangis dan menjauhi saya saat itu. Saya kira, dia tidak tahu atau bahkan sudah lupa harus menjawab seperti apa. Yang dia ingat saat itu, dia menjauhi saya dan tidak memberitahukan kepindahannya pada saya karena dia menyukai saya dan tak ingin melukai hati saya. Ya ampuuun, kok bisa-bisanya dia terkena virus cinta monyet. Padahal, masih kecil banget, kelas 3 SD loooh! Tapi, saat menjawab, dia juga bilang, "Ah, lupakan saja! Sekarang sudah tidak sama dengan yang dulu. Maklum, dulu kan masih kecil banget." Pernyataannya itu seolah mengisyaratkan bahwa dia sudah tidak ingin mengingat lagi persahabatan kami. 

Jujur, saya kecewa. Kecewa bukan karena dia sudah tak suka lagi seperti yang dia katakan. Bukan! Saya kecewa karena tutur katanya sudah jauh berbeda daripada yang dulu. Yaa walaupun waktu itu kami berkomunikasi lewat SMS, tapi saya seolah bisa membaca emosi yang diikutkan pada tulisannya itu. Saya sudah tidak berarti lagi baginya. Persahabatan kami yang dulu mungkin hanyalah angin lalu. Ya, angin yang hanya numpang lewat lalu pergi begitu saja. Dia sungguh jauh berbeda dari yang dulu. Dulu, dia begitu ramah, tapi sekarang begitu dingin dan acuh. 

Yaa, tapi.. sudahlah! Saya juga menyadari bahwa memori laki-laki yang berkaitan dengan masa lalu itu biasanya memang lebih mudah terlupakan daripada memori perempuan terhadap masa lalunya.

Saya juga tidak mengharapkan apa-apa dari Sutomo. Dalam hati, saya hanya mendoakan, semoga dia mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya dan semua masalahnya kemarin bisa terselesaikan. Tak apa jika dia sudah bukan Sutomo yang dulu. Yang penting, yang saya tahu, dia pernah menjadi sahabat saya dan sampai sekarang, dia tetaplah teman saya (walaupun bukan sahabat lagi).



2 comments:

  1. huwaaaa udah gak bisa nonton sinetron... tipi udah disabotase sama mama karena nonton kak Laisa, yang di SCTV itu loh, pokoknya judulnya ada surganya gitu

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.