Monday, January 27, 2014

GANGGUAN ENURESIS

Kalian pasti udah kenal Nunung (pelawak yang maen di OVJ) kan???  Sudah gede tapi masih ngompolan.
Kok bisa ya? Langsung bahas aja ya. Jadi, perilaku ngompolan yang nggak wajar ini bisa menyerang siapa aja, baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Tapi, biasanya lebih sering terjadi/kasusnya lebih banyak terdapat pada usia anak. Nama gangguannya adalah enuresis.


Apa itu enuresis?

Enuresis, jika ditinjau dari bahasa klinis, adalah inkontinensia urin pada usia di mana seseorang atau seorang anak udah mampu buang air kecil/pipis/berkemih secara normal. Ini sering menjadi sumber frustrasi bagi orang tua dan dapat memicu kecemasan pada si anak. Biasanya, kasus tersebut bakal ditutup rapat atau disembunyikan oleh para orangtua ketika tahu anaknya mengalami enuresis. Kenapa? Sebab, bagi mereka, gangguan tersebut sangat memalukan.

Kalau dalam DSM-IV, diagnosa enuresis adalah sebagai berikut:
  1. Buang air kecil di malam atau siang hari di tempat tidur atau pada pakaian.
  2. Sebagian besar tidak disengaja, tapi ada pula yang disengaja. Sekurang-kurangnya terjadi 2 kali dalam 1 minggu selama lebih kurang 3 bulan, atau harus menyebabkan kesulitan yang signifikan dalam bidang sosial, akademik atau fungsi lainnya.
  3. Anak tersebut harus mencapai usia di mana buang air secara normal sudah terpenuhi atau pada usia kronologis 5 tahun dan pada anak yang keterbelakangan mental paling sedikit 5 tahun.
  4. Tidak berhubungan dengan efek fisiologis suatu zat atau kondisi kesehatan secara umum.
Penyebabnya?

Enuresis ini bisa disebabkan karena banyak faktor, di antaranya:
  1. Faktor genetik: kalo misalkan kedua orang tua punya riwayat enuresis, maka anak/keturunannya pun bisa mengalami hal serupa, presentase kemungkinannya sebesar 77%, kalo salah satu orangtua aja, maka kemungkinan diturunkannya gangguan ini sebesar 40-44%
  2. Faktor psikologis dan sosial, biasanya disebabkan karena faktor kelahiran saudara kandung, kematian atau keretakan dalam rumah tangga/perceraian kedua orangtua.
  3. Faktor tidur: sebagian besar orangtua pun mengeluhkan bahwa anak mereka sangat sulit dibangunkan karena telah mencapai tahap tidur lelap sehingga lupa untuk pipis trus akhirnya pipis di tengah-tengah lagi tidur.
  4. Kapasitas kandung kemih yang kecil sehingga tidak cukup mampu menahan urin lebih banyak.
  5. Prematur
  6. Konstipasi
Lalu, gimana cara menyembuhkannya?

Sebelumnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya enuresis pada anak. Caranya, butuh kerjasama yang baik antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya memberikan nasihat, ketika anak akan tidur, maka suruh aja untuk buang air kecil terlebih dahulu. Trus, kalo misalkan belum kerasa mau pipis pas tidur, maka ortu kudu getol bangunin anaknya agar mau pipis.

Selain itu, cara-cara lainnya adalah:
  • Pake teknik enuresis alarm: ortu harus tahu dulu, kapan saat-saat anak ingin pipis. Bisa juga tuh diobservasi dari gerak-geriknya. Trus keesokan harinya, sediakan jam beker yang berfungsi sebagai alarm agar anak bangun untuk pipis dulu. Tingkat kesuksesannya sih sekitar 85-100% tergantung gimana pandai-pandainya aja memprediksi kapan anak merasa mau pipis.
  • Teknik hipnoterapi
  • Akupunktur. Ini juga sama dengan teknik tradisional: naruh capung di udel si anak.
  • Farmakologi: biasanya pake obat impiramin/tofranil atau Desmopresin asetat nasal spray (DDAVP)
Nah itulah sekilas pelajaran psikologi dari saya hari ini. Semoga bermanfaat dan sehat selalu ^_^

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.