Tuesday, January 7, 2014

PERAHUKU MASIH BERLAYAR

"Kapan kamu menikah?"
"Sudah punya calon belum?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih terus bercokol dan menghantui sejak lulus kuliah S1 2012 lalu. Saat itu, saya pernah menargetkan bisa menikah tahun 2013 kemarin. Namun, hingga pengujung 2013 kemarin, tampaknya memang belum diperkenankan. Apalagi, ditambah dengan ucapan salah satu pamanku (adik dari Mama). Ketika paman menelepon, beliau berpesan, "Jangan nikah dulu. Ntar aja. Sukses dulu baru nikah ya. Inget loh!" Kalimat itu membuat hatiku retak. Sukses itu banyak definisinya. Tapi, bagiku, sukses itu bukanlah semata-mata memperoleh uang yang banyak seperti persepsi yang kebanyakan orang bangun. Eum... mungkin, aku masih harus berbuat sesuatu agar melihat orangtuaku bangga, once again...

Kupikir mendapatkan predikat lulusan terbaik, punya IP cumlaude, punya sejumlah prestasi itu sudah cukup membuat orangtua bangga. Tapi... mungkin, ada hal selain itu yang perlu kucari lagi hingga kelak kudapatkan restu orangtua untuk mengizinkanku menikah.

Di 2014 ini, ada beberapa teman kuliahku yang sebentar lagi akan menikah. Saya pun mulai menetapkan niat baru, jika memang 2014 ini Allah menetapkan aku untuk menikah, mudah-mudahan Allah juga memberikan restu itu pada orangtua dan keluarga besarku.

Bukan hanya laki-laki saja yang perlu 'mencari' jodohnya. Perempuan pun harus berusaha. Caranya, selain memperbaiki diri, juga harus banyak-banyak bersosialisasi. Kebetulan, aku adalah orang yang masih punya sisi introvert. Aku punya banyak teman dan sahabat, tapi tak begitu suka berada di tempat ramai jika memang tak ada keperluan yang sangat penting. Untuk sosialisasi, bisa dibilang tidak terlalu buruk. At least... orang-orang bisa menerimaku apa adanya, baik sebagai kenalan biasa ataupun teman. 

Tentang pencarian jodoh, aku pernah punya satu pengalaman. Beberapa tahun lalu ketika masih kuliah, aku berkenalan dengan seorang laki-laki asal Jakarta. Sebut saja X. Orangnya baik, humoris, sangat enak diajak ngobrol, pandai berbahasa asing dan tidak menyangka dia punya penampakan fisik yang tampan. Usianya 3 tahun di atasku dan saat itu juga masih kuliah. Teman-temanku mengira aku pacaran dengannya. Padahal, kami hanya berteman biasa. Itu juga karena sejak remaja, aku memang sudah memegang prinsip untuk tidak pacaran. Tapi, ketika itu, aku memang belum sepenuhnya mempraktikkan apa yang kupahami tentang pergaulan Islami antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim.

Saat itu juga, orangtuaku sempat bertanya, "Apa ada seseorang yang mendekatimu?" Kubilang saja ada, namanya X. Aku dan X juga pernah berbicara serius. Kami ingin ta'aruf. Iya, ta'aruf. Seolah semua itu terasa terburu-buru. Kebetulan, keluarga besarku adalah Jawa tulen sedang Kak X berasal dari tanah Palembang. Suatu hari di bulan ramadhan, aku mencoba mengenalkan Kak X pada Mama tapi lewat telepon dan aku yang bercerita tentangnya. Mama dan sebagian keluarga besar mengatakan bahwa keluarga kita hendaknya juga harus menikah dengan yang sama adatnya (maksudnya kalo ceweknya orang Jawa, maka ia juga harus menikah dengan yang berasal dari keluarga Jawa tulen). Aku sempat down. Mengapa pikiran mereka masih begitu kolot? Pun di luar sana banyak pasangan yang berbeda adat, beda suku hingga beda negara, tapi justru bisa tetap awet. Bukankah yang paling penting itu adalah agamanya? Akhirnya, aku pun meluruhkan niat untuk ta'aruf itu sembari berharap kelak pemikiran keluarga besarku tidak lagi sekolot itu.

Setelah lama tak pernah bertemu dengan Kak X, aku dengar kabar. Dia ternyata baru saja jadian dengan cewek asal Surabaya. Kulihat fotonya di socmed. Cemburu? Perasaan yang dulunya sempat terbersit padanya sudah luruh seiring niat ta'aruf yang tidak lagi ingin dibahas lebih lanjut. Aku mulai memperbaiki diriku lebih gigih lagi dan lebih aktif di Rohis. Hatiku cukup tenang. Aku yakin, Kak X bukanlah yang terbaik bagiku. Tapi, hubungan pertemananku dengannya masih baik meski hampir tak pernah lagi berkomunikasi lewat socmed. Malah, pernah ada seorang cewek (adik tingkat Kak X) yang menyapaku dan bertanya padaku, "Apa aku ini adiknya Kak X?" Adik... Lalu, hal itu kuberitahukan pada Kak X. Dia bilang, "Sudah.. jawab iya aja, kalau kamu itu adikku."

Ah...! Tak perlu lagi mempermasalahkan hal apapun. Aku juga melihat Kak X tampaknya tidak seperti yang kukenal seperti dulu. Sekali lagi, Allah pun memberi petunjuk itu padaku. Alhamdulillah aku sudah lega.

Selepas itu, masih banyak laki-laki yang hendak berkenalan denganku. Hanya saja tak sesuai dengan kriteriaku. Bukan kriteria khusus yang selama ini kupanjatkan pada Rabb-ku, tapi beberapa pria itu terlalu centil... Aku tak suka itu. Aku tak suka dipuji berlebihan apalagi hitungannya belum seberapa kenal. Ya, itu alasan aku menolak ajakan mereka untuk berkenalan. Tidak jarang, beberapa dari mereka ada yang kublokir juga dari socmed karena terlalu mengganggu.

Setelah lama berjibaku dengan masalah "pria", aku memilih untuk berdiam sejenak. Berdiam sambil menuntut ilmu agama lebih dalam. Menurutku, diri ini masih harus dipermak. Aku yakin, jodohku adalah orang terbaik. Jika aku ingin dipertemukan dengannya, maka aku juga perlu membenahi diri. Walaupun sempat bertemu lagi dengan seseorang yang juga pernah kusukai diam-diam ketika kuliah, aku sudah mantap untuk move on.

Sekarang, aku sudah sangat bahagia walau masih single. Tak ada lagi pria centil yang menggangguku... dan... masalah gagal ta'aruf yang dulu juga sudah kubuang jauh-jauh ke timbuktu, enggan membawanya kembali dalam benakku. Cukuplah itu jadi satu pelajaran bahwa aku masih harus berdakwah dalam lingkungan keluargaku, mengubah sudut pandang mereka agar tidak terlalu termakan oleh bumbu-bumbu adat. Alhamdulillah... setiap hari, paling tidak, mamaku sering mendengar ceramah Mamah Dedeh di TV tentang pernikahan dan keluarga. Aku berharap, apa yang didengarnya itu menancap di hatinya. Bahwa, jodoh itu memang perlu memandang dari segi bibit, bobot dan bebet tapi tidak terkhusus memandang kuat dari kacamata adat, melainkan dari kacamata agama sebab itulah pondasinya.

Keluargaku juga tahu kalau aku tak mau pacaran meski masih ada beberapa anggota keluarga jauh yang menanyakan, "Kamu udah punya pacar belum?" Kuharap, pengetahuan dan wawasan mereka bisa lebih terbuka lagi.

Perahuku masih terus berlayar mencari dermaga yang kokoh dan tepat di suatu pulau. Aku tak tahu dan belum tahu siapa yang akan datang menghadap pada Bapakku. Aku belum tahu, siapa yang nantinya akan menjadi imamku. Tapi, sebisa mungkin, di waktu yang sangat luang ini, mudah-mudahan bisa kumanfaatkan untuk terus memperbaiki diri. Aku yakin, one day, orang dan waktu yang tepat itu pasti akan datang. Dan, semoga dalam kesempatan ta'aruf lainnya di kemudian hari bisa berbuah manis. Kuharap, kelak, perahuku dapat berlabuh pada dermaga yang tepat. Insya Allah...



3 comments:

  1. Semoga segera bertemu dengan calon imamnya ya :-) Makasih dah ikut GA saya..

    ReplyDelete
  2. Nice story.tapi kurang panjang..mau baca lagi

    ReplyDelete
  3. bunda @Leyla: aamiin semoga esok, bisa benar2 ta'aruf yg sukss hehe. sama-sama Bund, ikut ngeramaiin

    @mainan cerdasku: heheh waduuuh ntar ngalahin rel kreta api dong

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.