Monday, January 6, 2014

SEKOLAH INKLUSI (PART 3)

 KURIKULUM (KHAS)

Sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang menyatukan antara anak-anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus untuk mengikuti proses belajar mengajar bersama-sama. Saat ini sekolah inklusi telah ada mulai dari tingkat TK hingga SMA, bahkan pemerintah mulai memarakkan dan memilih salah satu sekolah negeri untuk dijadikan sekolah inklusi.

Sistem belajar pada sekolah inklusi tidak jauh berbeda dengan sekolah regular pada umumnya. Mereka (para siswa) berada dalam satu kelas yang idealnya dalam satu kelas terdiri dari 1-6 anak berkebutuhan khusus dengan dua guru dan satu terapis yang bertanggung jawab dibawah koordinasi guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Porsi belajar pada anak berkebutuhan khusus lebih kecil daripada yang ‘normal’. Hal ini tidak bertujuan untuk membatasi, melainkan kebutuhan untuk terapi.

Pada waktu-waktu tertentu, bila perlu anak-anak tersebut akan ‘ditarik’ dari kelas reguler dan dibawa ke Ruang individu untuk mendapatkan perlakuan (bimbingan) khusus. Dengan demikian diperlukan keberagaman metode pembelajaran agar supaya materi dapat tersampaikan secara merata kepada semua anak didik. Guru perlu memastikan bahwa semua siswa, terlebih mereka yang berkebutuhan khusus, sudah memahami penjelasan dengan baik. Ketika anak-anak berkebutuhan khusus belum bisa menerima materi dengan baik, sekolah pun harus siap melaksanakan program pembelajaran individual (PPI) atau IEP (individual educational program) untuk mendampingi satu per satu anak berkebutuhan khusus secara lebih intensif. Bentuk dari PPI atau IEP ini disesuaikan dengan kebutuhan yang perlu dikembangkan pada anak.

PPI menetapkan tahap instruksi sekarang dari ABK, kelemahannya dan yang terpenting, sasaran yang harus dicapai di sekolah pada akhir tahun. Juga perlu disertakan sasaran yang bersifat perilaku, kognitif, dan afektif atau emosional dan PPI ini harus terus direevaluasi dan direvisi setiap tahun.PPI merupakan suatu resep mengajar dan diagnostik berkesinambungan bagi seorang anak. Di beberapa tempat juga dituntut PPI jangka pendek. Ini tidak perlu dibicarakan dengan orangtua, meskipun orangtua boleh membacanya kalau menginginkannya. PPI tetap berguna bagi guru dalam merancang sasaran jangka panjang.

Bagaimana Dengan Penerapan Ujian?
Pendidikan bukanlah sebuah rutinitas ujian demi ujian tanpa memandang perbedaan kemampuan setiap individu. Inti dari sebuah pendidikan adalah memanusiakan manusia. Demikian pula ketika anak berkebutuhan khusus dihadapkan dengan ujian sebagai hasil evaluasi. Sebagaimana dalam tulisan diatas substansi dari pendidikan adalah untuk menjadikan manusia yang seutuhnya, sehingga standart yang ditetapkan adalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anak dan bentuk pelaporannya lebih banyak bersifat deskriptif. Demikian pula ketika menyangkut ujian kelulusan, dalam hal ini UAN, mereka perlu adanya dispensasi dengan memiliki standart khusus. Menyangkut masalah UAN ini telah disetujui oleh direktorat pembinaan sekolah luar biasa bahwa anak dengan berkebutuhan khusus tidak perlu mengikuti UAN (Julia Maria, januari 2008).
.

Model Kelas Inklusi
Direktorat PLB (2007: 7) menjelaskan tentang penempatan anak berkelainan di sekolah inklusi dapat dilakukan dengan berbagai model sebagai berikut:
1. Kelas reguler (inklusi penuh)
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.
2. Kelas reguler dengan cluster
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus.
3. Kelas reguler dengan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
4. Kelas reguler dengan cluster dan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
5. Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian
Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler.
6. Kelas khusus penuh
Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.