Tuesday, March 11, 2014

DI MANA TITIK TERENDAH HIDUPMU?

Membaca buku TIME OF YOUR LIFE si Prof. Rando Kim selalu bikin kejutan. Seperti halnya hari ini saya baru membaca sub bab di mana beliau menuliskan bahwa di usia 20-an bukanlah waktunya untuk menabung atau berinvestasi (begitulah pemikiran disertai analisisnya yang menurut saya cukup pro dan kontra). Eeeeh... tapi baru saja kemarin saya membuka rekening baru untuk menyimpan sisa gaji kemarin agar nggak kececeran.

Tapi bukan tentang sub bab menabung itu yang mau saya bahas, melainkan tentang salah satu isi dari bab 2 yaitu titik terendah dalam hidup.


Di manakah titik terendah dalam hidupmu? Bagaimana kondisimu pada saat mencapai titik terendah itu? Banyak dari kita pasti akan menjawab dengan beragam alasan. Ada yang bilang kalo titik terendah dalam hidupnya saat mengalami kebangkrutan, saat menghadapi bencana alam, saat kehilangan orang yang dicintai dan lainnya. Ya, semua pasti punya jawaban untuk pertanyaan itu.

Tapi, menurut saya, menarik sekali jalan pemikiran Prof. Kim ini. Terlepas dari beliau non-muslim, tapi saya cukup menghargai analisisnya karena sudah cukup lama merajai hidup dan memperoleh banyak pengalaman.

Pada salah satu sub bab di bab 2 tersebut, beliau bercerita. Saat itu betapa pelik dan pahit hidupnya. Dalam kurun waktu satu tahun dan tiga periode berturut harus kehilangan kakek, nenek dan ayahnya. Belum lagi masalah warisan serta pajak warisan yang harus ia bereskan tapi sama sekali tak ia mengerti lantaran masih sangat muda. Ada juga cerita kalo dia pernah gagal berkali-kali dalam ujian penerimaan pegawai hingga akhirnya harus berhadapan dengan wajib militer. 

Dalam sub bab itu pula, beliau mengilustrasikan. Ibaratnya kamu sekarang sedang berada dalam sebuah sumur yang kering dan dalam. Di dalamnya, kamu bergantungan pada seutas tali. Kamu sangat ketakutan. Kamu harus memanjati tali itu agar bisa keluar dari sumur tapi seluruh energimu telah habis terkuras. Dan, di bawah kakimu semua tampak gelap dan kamu mengira bahwa dasar sumur itu sangat dalam dari apa yang kamu bayangkan sebelumnya.

Pertanyaannya, jika saja kamu mengalami situasi di atas (terperangkap dalam sumur), apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap memaksa seluruh energimu untuk memanjati seutas tali itu? Atau, apakah kamu justru pasrah lalu mekepaskan tanganmu dari tali itu hingga terjatuh ke dasar sumur? Apa pilihanmu?

Untuk pertanyaan ini, Prof. Kim menjawab dengan sungguh aneh. Beliau memilih untuk melepaskan tangannya dari tali itu dan membiarkan dirinya terjatuh ke dasar sumur. Tapiiii, ada kalimat setelahnya yang berbunyi: "Aku akan menyerah dan melepaskan tali itu. Kemudian, aku yakin akan jatuh ke dasar. Akankah aku jatuh dan mati? Ataukah aku akan terluka parah?...... Tidak, semua itu tidak akan terjadi!"

Kenapa Prof. berkata demikian? Kenapa ia justru memilih untuk melepaskan tali daripada memanjatinya dengan sisa energinya yang hampir habis? Semua kembali kepada pikiran kita sendiri.

Ini hanyalah ilustrasi sebuah kondisi seolah berada pada titik paling lemah dalam hidup. Ketika masalah/cobaan itu menerpa, kita cenderung beranggapan tak akan ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Atau, ketika kamu sedang disodori sebuah pistol oleh segerombolan penyandera, kamu akan pasrah dan berkata, "Aku pasti akan mati juga." 

Nah, kembali masalah sumur tadi dan ujian yang kita anggap terlalu berat itu. Sebenarnya, dasar sumur itu tak pernah sedalam yang kita pikirkan kok. Dan, titik terendah dalam hidup tak pernah sejauh atau sekeras yang kita pikirkan. Kenapa kita selalu merasa takut, merasa berat dengan cobaan itu dan merasa sudah tak ada artinya lagi? Itu karena pikiran kita cnederung menakutkan apa yang sebenarnya tak terlihat seperti halnya menakutkan dasar sumur yang sama tak terlihatnya itu.

Jadi, ketika cobaan paling berat (menurut subjektifitas kita berat) datang menerpa bahkan bertubi-tubi, maka yang sebaiknya kita lakukan adalah selami cobaan itu sedalam apapun dan jangan pernah melintaskan bahwa cobaan itu terasa berat. Kalau pikiran sudah ter-setting "berat" maka segalanya akan tampak berat. Tapi, jika kita mau menyediakan sejenak waktu untuk berpikir bahwa segalanya tampak mudah dan (untuk yang Muslim) percaya bahwa di balik kesulitan ada kemudahan dari Sang Maha Penyayang, pasti cobaan itu tidak akan seberat yang kita pikirkan.

Untuk hal lainnya. Apakah tindakan melepaskan tali dan membiarkan diri terjatuh itu adalah hal bodoh? Prof. Kim menjawab, "Tidak." Dalam sebuah kalimat yang dikutip dari puisi lama, "Menyerah tidak selamanya menjadi tindakan pengecut. Ketika beban yang kau tanggung begitu berat, lepaskan tali itu. Biarkan sayap-sayap kepercayaan dirimu berkembang."

Maksud dari kalimat di atas apa? Kok disuruh menyerah? Kok menyerah itu bukan tindakan pengecut?
Kalau dalam kajian Islam, kata Surrender  sangat berbeda makna harfiahnya dengan kata Tawakal. Padahal Surrender ataupun Tawakal sama-sama berdefinisi berserah diri, kan? Namun, yang membedakannya adalah, Surrender itu adalah kepasrahan orang bodoh tanpa disertai tindakan/usaha apapun sebelum dan sesudahnya. Sedangkan, Tawakal adalah berserah diri kepada Allah karena tahu bahwa segala keputusan akhir hanya hak Allah, setelah melakukan serangkaian upaya sebelumnya. 

Dan, kalau saya boleh menyimpulkan, mungkin maksud dari kalimat Prof. Kim tidak berbeda dengan konsep Surrender dan Tawakal yang saya maksud di atas. Seringkali kita mendengar petuah "Pantang menyerah". Tapi, jika dipikirkan lagi kalimat Prof. menyerah itu memang tak selamanya merupakan tindakan seorang pengecut.... asal.... (kita kaitkan dengan konsep Islami di atas)... asal kita menyerah setelah kita melakukan berbagai ikhtiar dan tentu saja, menyerah di sini maksudnya berserah diri kepada Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang terjadi pada kita. 

Contohnya begini, kita punya impian ingin membangun 1000 panti asuhan di usia 22 tahun (misal). Namun, ternyata setelah usia kita 22 tahun pas, impian itu tak kunjung terkabul. Tapi, sebelumnya kita sudah berupaya mengumpulkan modal, belajar mengenai segala hal yang berkaitan dengan proses pembangunan panti asuhan dan lain sebagainya. Di saat kemudian, menyerahlah untuk sejenak. Menyerah di sini maksudnya adalah rehat sejenak. Pikirkan dan koreksi lagi semua schedule untuk mewujudkan impian itu. List semua ikhtiar yang sudah kita lakukan dan apa saja kekeliruan yang terjadi. Penting bagi kita untuk rehat dan introspeksi sejenak sambil bertanya, "Kira-kira apa yang saya lakukan belakangan sehingga impian saya tak berhasil terwujud tepat pada waktunya?" Dengan ini, kita bisa menata kembali energi dan pikiran pun akan semakin matang dalam mencerna segala hal.

Overall, jika masing-masing dari kita memiliki definisi titik terendah, maka jangan pernah menduganya terlalu dalam dan kejam. Kedua, ketika kita merasa beban di pundak kita terlalu berat, jangan forsir tenaga untuk menyelesaikannya sekaligus dalam satu waktu. Tapi, coba rehat sejenak, jernihkan pikiran dan rileks-kan tubuh. Setelah itu, lanjutkan apa yang seharusnya dilakukan. Bukan, begitu? :) Ini sih pendapat saya. Bagaimana denganmu?

5 comments:

  1. semoga titik kehidupan saya selalu naik dan terus naik...hidup di titik terendah itu perih ya dan itu saya alami waktu kecil di saat ekonomi ortu pas-pasan pasca usaha ortu saya gulung tikar.terpaksa harus keluar tim vokal grup waktu SD krn tak sanggup beli baju seragam nyanyi, ibu saya harus ngutang agar bisa bisa seragam SMP..semoga anak sya tidak pernah mengalami kesulitan seperti sya dulu...aamiin...sorry jd curcol :(

    ReplyDelete
  2. aamiin aamiin Bund... iyaa gak papa malah bagus bisa berbagi cerita makasih ya :)

    ReplyDelete
  3. Keren sekali nih pemikiran, jadi berada di antara tawakkal dan surrender.. bermanfaat sekali reviewnya nih kak..

    ReplyDelete
  4. nice post ,, saya jadi ingat THE SECRET hukum tarik menarik, jika suatu masalah terus di pikirkan maka akan mengundang lebih banyak masalah.

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.