Monday, March 31, 2014

RINDU BULEK (TANTE) YANG DULU

Malam ini lagi seru-seruan nyapa adek sepupu di FB. Mulai dari ada temennya yang minta kenalan sama saya dan mau beli buku saya. Dan, di tengah perbincangan ngebahas soal julukan yang dikasih oleh bulek (tante) kami pada adek sepupu saya itu.


Saya memang nggak pernah nge-add FB bulek saya itu karena emang nggak tau. Baru aja tadi nge-add dan kelilingin timelinenya. Ya, saya baru sadar kalau dia memang sudah pindah agama dari Islam ke Kristen (karena menikah dengan pria Kristen). Ah, saya malas membahas SARA. Tapi, jujur, saya merindukan sosok bulek yang dulu. 

Sebelum bekerja di Hongkong pun, beliau memang jarang shalat (saat masih tinggal di Magetan, rumah mbah kami). Sampai akhirnya CLBK dengan teman lamanya yang tinggal di Batu dan akhirnya menikah sebagaimana pernikahan non-muslim. Oh iya, beliau adalah adik Mama. Sekarang sudah punya satu anak dan menetap di Kota Batu.

Melihat foto-fotonya berbingkai Christmas, catatan ayat-ayat injil yang di-tag oleh temen-temennya dan semua yang berbumbu "agama barunya" membuat candu rindu ini makin menyekap dada saya. Saya sangat merindukan bulek yang dulu. Pernah sekali saya senang melihat dia shalat saat saat saya berkunjung ke Magetan beberapa tahun silam. Dia juga sering mengucapkan kalimat-kalimat seperti Subhanallah, Astaghfirullah dan lainnya. Namun, sejak pindah agama, itu semua otomatis lenyap entah ke mana. Yang dulunya bilang Astaghfirullah, kemarin-kemarin bilangnya Astaga.

Sekarang saya pun sudah menetap di Malang tapi belum pernah sempat ke rumah beliau karena jarak yang cukup jauh jika harus mengendarai motor. Pernah sekali ke rumahnya, saya merasa kurang tenteram .Entah karena sudah terbiasa mendengar adzan, shalat dan mengaji, itu semua tak kudapati di rumah bulek, kecuali anaknya dari mantan suaminya yang dulu (adek sepupu saya yang laki-laki) memang masih Islam (semoga saja selamanya bisa tetap istiqamah walau tinggal di rumah yang mayoritas non-muslim). Untungnya adek sepupu saya Islam jadi ada sajadah untuk saya shalat walau harus bawa mukena sendiri dan shalat di kamar adek sepupu saya itu. Rasanya benar-benar aneh, gak tahu kenapa sih, tapi benar-benar "pengap" dan sunyi.

Saya harus bilang apa lagi. Tapi, hati kecil saya masih berharap bulek bisa kembali ke Islam, entah bagaimana caranya. Namun, saya lebih berharap jika bulek bisa kembali menjadi muslim, beliau akan bisa istiqamah dalam beribadah daripada yang dulu. Mungkin, harapan ini terdengar sangat sulit karena menyangkut akidah seseorang. Namun, tanpa bermaksud mencela agamanya, saya pun masih menghormatinya. Bedanya, saya tak pernah datang dan mengucapkan selamat hari raya Natal padanya apalagi berkunjung ke rumah saat beliau Natal. Kalaupun besok-besok diundang, mungkin saya akan mencari alasan untuk tidak ikut karena... aahhh.. bukannya saya sok alim tapi saya selalu teringat dengan ayat "Lakuum diinukuum waaliyadiin..." Selama ini hanya sekali waktu kecil saya pernah mendatangi rumah tetangga untuk mengucapkan selamat Natal karena mereka teman kantor Bapak. Karena diajak dan belum paham banget sama Islam jadi saya mau-mau saja lumayan bisa makan kue gitu maksud saya, hehehe...

Ya sudahlah, apapun itu... saya kembalikan semua pada Allah. Meski tak "sekoridor dan sejalan" lagi, saya tetap sayang pada semua tante dan om saya termasuk bulek itu juga. Tapi, mau tidak mau, saya pun harus tetap istiqamah untuk tidak menyepelekan hal-hal kecil terkait syariat dan bagaimana menjalin hubungan dengan non-muslim. Itu saja. 

I miss you, bulek

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.