Friday, April 11, 2014

GOODBYE ESPRESSO (FIKSI)

pic by google
Aku masih di sini, duduk terpaku menatap titik-titik hujan yang mengetuk jendela bening di samping kiriku. Seorang barista baru saja meletakkan gelas espresso di meja bundarku. Barista itu tampak canggung, mungkin juga sungkan karena aku tak berkata apa-apa, pun terima kasih kepadanya. 

Sekarang, bola mataku memerhatikan cangkir espresso itu dengan saksama. Kutuangkan setengah sendok teh gula murni dan kutambahkan satu sachet kecil madu. Kusaksikan tiap kepulan asap yang mengembang bak sebuah pertunjukan opera yang tak ingin kulewatkan. Kuputar cangkir itu hingga pegangannya mengarah tepat di sebelah kanan. Tapi, tak ada hasrat yang cukup tinggi untuk segera meneguknya. Kubiarkan cangkir itu menyepi sendiri. Hanya aroma espresso-nya saja yang kunikmati.

Di depanku, tak ada siapapun. Aku masih duduk sendiri, merasa kelam. Hanya setelan rok rempel panjang dan jas kantor yang ceria karena keduanya berwarna fuschia. Barista tadi, aku tahu dia masih melihatku di seberang sana, tepat di samping meja kasir dia berdiri sambil mendekap nampan hitam ke dadanya. Mungkin saja pelayan perempuan itu merasa khawatir espresso yang kupesan akan segera dingin. Aku tak peduli.

Lelah. Letih. Ingin rasanya segera melempar tubuh ini ke atas kasur empuk hijau di kamarku. Tapi, hujan tak kunjung mengisyaratkan tanda berhenti. Eum, tidak... Bukan itu. Seharusnya sekarang aku masih duduk di kubikel kantorku, memeriksa sejumlah berkas pendaftaran orang-orang yang ingin menggunakan jasa tes psikologi, mencatat laporan analisa dan interpretasi hasil tes yang sudah dua hari lalu belum juga kuselesaikan. Aku merasa, produktivitasku melamban. Tak ubahnya seperti seekor kura-kura. Apapun yang terjadi, aku hanya bosan. Itulah kenapa aku bolos kerja hari ini. Aku tahu, bosku tidak akan marah apalagi memecatku karena dia... Ah, bagian inilah yang tak kusenangi tapi harus kutegaskan.

Alasan yang lebih tepat kenapa aku membolos itu karena tak ingin berjumpa dengan bosku. Lelaki bermata bulat nan bercahaya itu... aku tak ingin melihatnya, lagi. Sebenarnya, aku juga bolos agar dia segera memecatku. Tapi, tampaknya belum ada sinyal apapun. Kalau aku tak terlihat di kantor, biasanya dia akan meneleponku, menanyakan di mana aku berada lalu menyusulku. Tapi, hari ini tak ada telepon ataupun SMS darinya. Atau, mungkin saja dia sedang sibuk menyuruh sekretarisnya untuk membuatkan surat pemecatan untukku. Ya, mudah-mudahan saja.

Arrrghh... Haruskah kupecahkan saja cangkir espresso itu sebagai pelampiasan kemarahanku padanya? Pada dia yang telah membatalkan pernikahan kami yang seharusnya sudah digelar minggu lalu. Seharusnya, dia menyusulku ke kafe ini, tempat yang selalu kami kunjungi berdua setiap akhir pekan. Apakah dia benar-benar sudah tak peduli seperti aku yang mengacuhkan secangkir espresso yang sejatinya itu adalah minuman favoritnya. 

Aku benci kopi, jenis apapun itu aku tak pernah mau meminumnya. Aku sengaja memesannya karena mungkin saja lelaki itu akan menyusulku. Dan, sekarang, cangkir itu benar-benar dingin, melebur dengan suhu ruangan di kafe ini.

Aku tak kuasa menahan kekecewaan ini. Tapi, aku masih menyimpankan ruang kecil untuk menerima penjelasan darinya, seandainya dia datang dan memberiku jawaban mengapa dia membatalkan pernikahan kami. 

Dulu, dia yang menerimaku bekerja di kantornya. Kami tampak begitu akrab tapi tak pernah ada kata "jadian". Mungkin, itu yang orang sebut dengan HTS alias Hubungan Tanpa Status. Aku tak suka digantung seperti itu tapi perlahan-lahan aku menerimanya sebagai bagian dalam keseharianku dan menjalani keakraban kami tanpa pernah bertanya apakah yang sebenarnya dia inginkan dari sikap manisnya padaku.

Satu tahun... dua tahun... dan kini lima tahun sudah aku bekerja di kantor itu. Itu tandanya sudah empat tahun aku menjalin cinta tidak jelas dengan lelaki berkepala plontos itu. Lima bulan yang lalu, dia mendadak datang melamarku. Kami sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang. Aku bahagia, benar-benar bahagia. Pernikahan adalah hal yang sudah lama kudambakan dan nyaris saja kualami. Namun, dua minggu yang lalu, dia datang lagi ke rumahku. Dia menunjukkan rasa penyesalan karena harus membatalkan pernikahan itu. Aku kecewa, pun dengan seluruh keluarga besarku. 

Sejak keputusan itu, aku masih kuat untuk berangkat ke kantor dan bertemu dengannya sebagai bawahannya. Tapi, hari ini, aku jengah, muak. Mungkin, sudah waktunya aku meninggalkan tempat yang pernah membawa hatiku serasa melayang ke udara. Ya, harus begitu. Jika tidak, aku akan semakin terluka olehnya.

Dan cangkir espressok itupun tak lagi mengepulkan kehangatan. Langit di luar sana sudah tampak cerah kembali. Aku berdiri dari kursiku, kugandeng tas Hermes putihku dan pergi dari meja itu. Saat aku bertransaksi di depan kasir, barista tadi datang membereskan mejaku. Dilihatnya cangkir espresso itu lalu menoleh ke arahku. Ya, aku juga menoleh dan memberinya seutas senyum pelit. Dia merasa bingung kenapa aku memesan secangkir kopi tapi tidak meminumnya seseruput pun. Aku sengaja mencampakkan espresso itu sebagaimana lelaki plontos itu telah mencampakkanku.

Setelah membayar, aku pun melenggang pergi dari kafe itu. Dan ini adalah kali terakhir aku datang ke tempat ini. Besok atau kapanpun, aku tak berminat untuk datang lagi. Tempat itu sudah terlalu banyak menyimpan kenangan indah yang tak jelas. Sudah waktunya aku membuang semua ketidakjelasan itu.


Aku ingin memulai babak baru dalam hidupku...
Aku akan berupaya keras mengintrospeksi diriku...
Aku tahu, aku bukanlah wanita sempurna untuk dimiliki seorang laki-laki...
Aku sadar, mungkin saja... mungkin, Andrew membatalkan pernikahan kami karena tahu aku punya cacat di kaki..
Ah, bagiku bukanlah suatu kecacatan. Hanya sepenggal tanda lahir berupa lingkaran hitam sebesar bakpao di betis sebelah kananku. Mungkin, dia jijik melihat wanita bertompel. 
Seharusnya aku marah kalau dia benar menolakku hanya karena tompel ini.
Ya, seharusnya aku marah... karena biar bagaimanapun Tuhan lah yang menitipkan tompel ini sejak aku lahir.
Andrew tak berhak menghakiminya. Kurasa begitu.

Selamat tinggal Andrew...
Kuharap, kamu benar-benar tak punya niat untuk mencariku lagi...

5 comments:

  1. Tadi pas ke Gramedia, eh ketemu sama anak karyanya kakak yang bernama “kriuk-kriuk” gitu. Rasanya bahagia sekali, karena ngga nyangka bisa ketemu langsung dengan buku aslinya. Alhamdulillah, senang rasanya. Semangat menulisku yang awalnya mandul hanya gara-gara “kesibukan” sudah mulai bisa tak dijadikan alasan lagi untuk terus menulis. Terimakasih kak! Aku jadi semangat menulis lagi berkat tulisan kakak yang mampang di Gramedia. Keren!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ooooh hehehe iya Agha sama-sama ^^ tetep semangat nulis dan berkarya juga ya buat Agha

      Delete
    2. Iya,... terimakasih atas motivasinya.. hari ini aku senang sekali...

      Delete
    3. oke lah... aku tunggu buku yang sedang diproses oleh kakak...

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.