Monday, May 19, 2014

BILA CINTA, HARUSKAH ADA CEMBURU?

pic by riaroidaminarta
Mungkin, ini tak penting untuk dibaca. Malam ini saya tak punya bahan yang psikologis banget untuk ditulis. Request dari teman untuk nulis tentang skizofrenia untuk sementara saya tunda. Saya kudu recall lagi untuk itu, hehe maklum lah, nggak semua bagian dari skizofrenia saya hapal, jadi harus baca buku lagi.

Mendadak, di kepala saya melayang-layang sebuah tanya. Cinta itu bagaimana sih? Pertanyaan itu pun melahirkan anak-anak tanya lainnya.  

Ah, saya nggak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi. Kalau ditanya selama hidup, berapa kalikah saya mencintai seseorang? Jawabannya sangat bisa dihitung jari. Hanya segelintir. Saya juga nggak tahu apakah itu benar-benar cinta atau hanya rasa yang numpang lewat. Tapi, kalau dirunut dari kronologis beberapa tahun ke belakang hingga sekarang, hanya ada tiga momen yang membuat saya terjebak dalam perasaan itu. Di antara ketiganya, satu di antara itu hanya perasaan palsu, satunya lagi hanya kekaguman yang sangat dangkal dan sisanya, satu lagi... yang terakhir... inilah yang nggak saya pahami.

Kata orang, kalau kita mencintai, tentu akan ada rasa cemburu. Benarkah? Uhtukke? Bagaimana prosesnya? Tapi, saya selalu menyadari... saya tak pernah benar-benar memiliki rasa itu. Dulu, ketika mengagumi seseorang, dulu ketika entah gimana caranya bisa suka sama seseorang yang tak pernah saya sukai dan sekarang ketika perasaan itu hadir dalam diam... saya merasa tak pernah sedikit pun cemburu. Ketika orang yang pernah saya sukai ternyata memiliki kekasih, ketika orang yang saya kagumi ternyata menyukai teman dekat saya dan ketika orang yang saya cintai diam-diam ternyata begitu banyak yang mengagumi dan memproklamirkan diri sebagai calon istrinya, rasa cemburu itu... nihil. Apakah saya yang abnormal? Apakah cemburu itu tanda cinta yang absolut, yang harus selalu hadir sebagai indikator valid? Jika begitu, apakah saya yang tidak normal karena tak pernah merasakannya?

Saya sempat memvisualisasikannya dalam bayangan. Andai orang lain menjadi saya, apakah ia akan cemburu ketika tahu orang yang dicintainya mungkin... akan menikah dengan orang lain? Bagaimana cemburu itu sebenarnya? Apakah jika ia tak cemburu, itu masih bisa disebut cinta?

Kata orang, rasa cemburu itu mungkin memang belum dialami sekarang, tapi nanti. Nanti ketika saya telah benar-benar memiliki seorang pendamping berpangkat "suami". Pasti! Kecemburuan itu akan menghampiri. Entah dengan cara saya marah ketika ada orang lain yang mengaguminya atau dengan saya yang mendadak berubah menjadi istri posesif yang selalu ingin tahu di mana dan dengan siapa suami saya berada. Tapi, apakah benar, saya akan memiliki perasaan dan bersikap seperti itu nantinya? Jika tidak, bagaimana saya akan menjelaskan kepada suami saya nantinya bahwa saya mencintainya? Bukankah cinta itu tak cukup dikatakan dengan untaian kata? 

Kendatipun suatu hari, saya akan mendengar kabar bahagia orang yang saya kagumi.... menikah dengan yang lain, apakah jika saya tak cemburu itu bukanlah sebuah cinta? Tapi, hanya karena saya selalu menganggap semua adalah kehendak Tuhan, bahkan sebelum semua bayangan itu terjadi. Apakah masih salah bila saya tak juga cemburu? Tentu tidak, begitulah saya menampik.

Nggak semua orang di dunia ini bisa menonjolkan rasa cemburunya. Mungkin, saya adalah salah satu di antaranya. Salah satu di antara mereka yang tidak paham bagaimana cara menunjukkan kecemburuan, bagaimana cemburu itu bekerja. Sejak kecil pun, ketika semua kakak sulung di dunia ini melihat adik-adiknya dibelikan mainan lantas dia tidak, mereka akan merasa iri dan merengek untuk meminta dibelikan yang serupa bahkan yang lebih bagus. Tapi, saya tak pernah melakukan itu. Bukan berarti saya percaya sepenuhnya pada ingatan sendiri. Saya memang tidak menampik bahwa ingatan saya akan masa kecil masih cukup kuat. Hasil tes psikologi ingatan saya pun lulus tanpa cacat. Mungkin itu juga didukung oleh kondisi tubuh yang sehat. Tapi, terus terang saja, saya tak pernah meminta orangtua membelikan sesuatu hanya karena iri pada yang lain. Saya melakukan itu, meminta in itu, hanya ketika saya bisa berhasil meraih sesuatu. Jika tidak, saya pun jarang memaksa.

Jika hari ini orang akan bilang ini klise. Jika orang-orang mengatakan ini bullshit, biarlah! Mungkin, beginilah hati saya bekerja. Mungkin benar... mungkin nanti ketika saya telah memiliki sebuah keluarga kecil, akan saya rasakan hal bernama cemburu itu. Jika suami saya adalah seorang pengacara, saya akan cemburu bila ia setiap hari menyambangi kliennya yang wanita. Jika suami saya adalah dokter, saya akan cemburu bila ia tersenyum manis di hadapan pasien wanita. Jika suami saya guru, saya akan cemburu bila ia lebih menyayangi muridnya daripada saya. Ketika saya punya anak, maka mungkin saya akan cemburu jika anak laki-laki saya sudah menambatkan hatinya pada seorang wanita (istrinya). Aigoo... Bagaimana bila semua itu hanya ilusi? Bagaimana bila saat itu juga saya tak juga cemburu? 

Ya sudahlah! Semoga ini bukanlah gejala abnormalitas. Mungkin, hanya karena saya belum benar-benar menemukan seseorang yang akan sangat dan suangaaaat saya cintai. Makanya, belum pernah merasa cemburu.

5 comments:

  1. malu.. bacanya aku khusyuk sekali... hehahaha
    ga apa apa... juts knowledge... agar membuka wawasan..

    *belajar dari pengalaman oranglain..

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.