Wednesday, May 28, 2014

SEIMBANGKAN LOGIKA DAN PERASAAN

Wanita itu.... senjatanya hati dan emosi. Sejak zaman sekolah dulu, saya mungkin termasuk salah satu siswi yang jarang sekali curhat. Malah sebaliknya, menjadi sarang curhat. Hampir setiap jam istirahat, teman-teman mem-booking saya hanya untuk curhat private. Bahkan ada pula beberapa teman yang bela-belain SMS saya di sela jam pelajaran hanya agar curhatnya nggak ketahuan padahal kita masih satu kelas. 

Dari banyaknya teman cewek yang pernah curhat, mayoritas mereka kerap menulis atau berujar kata-kata yang mewakili perasaan seperti, "Saya rasa... Saya sakit hati..." atau semacamnya. Dan, sejak saya kuliah di Psikologi, barulah saya ngeh, kenapa kalo ngobrol sama temen cewek pasti kebanyakan dari mereka akan berkata, "Saya rasa..." atau menaruh kalimat tersebut untuk menegaskan argumen/sudut pandangnya terhadap permasalahan. Ooooh.... betapa telatnya saya. Baru saat kuliah, saya mengetahui kalau wanita itu ahli dalam permainan emosi dan hati. Beda sekali ketika ada teman cowok atau klien cowok yang curhat. Kebanyakan mereka akan sering menggunakan kalimat, "Saya pikir...." Ternyata cowok itu identik dengan logika atau pemikiran logis dan rasionalis. Hehehe...


Masalah atau curhatan yang sering saya hadapi adalah tentang hubungan klien dengan sang kekasih. Kalau klien cewek yang curhat, pasti akan terlihat dominasi emosinya. Menurut makhluk Venus ini, apapun masalah yang dialami, mereka tetap menunjukkan "rasa" cinta kepada sang kekasih. Ada pula yang sempat ditentang hubungannya dan dilarang melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih mapan (menikah). Mereka bersikukuh untuk tidak melawan perasaannya.

Sedangkan, saat menghadapi klien cowok yang memang "iklim" rasio dan logikanya lebih menonjol, mereka setidaknya lebih mudah untuk diberi nasihat (bila memang meminta nasihat selama konseling atau curhat). Malah, ada beberapa di antara mereka membuat semacam pemikiran jangka pendek dan panjang untuk masalah tersebut. Yaaa... bukankah mereka itu adalah tipe yang mudah untuk diarahkan, kan? Dengan berpikir logis dan tidak hanya memandang dari satu sudut. pasti akan mencapai ending konseling yang melegakan. Beda jika yang dihadapi adalah klin laki-laki yang lebih dikuasai oleh emosi (layaknya wanita). Apapun keputusan yang ditawarkan, pasti akan berbelit-belit dan cenderung ragu sebab kecintaannya kepada sang kekasih jauh lebih besar dan sudah menerobos nalarnya. Maksud saya, mereka akan susah untuk diajak kompromi karena perasaan mereka lah yang bekerja lebih besar daripada logika.

Intinya, bukan hanya para klien itu yang wajib untuk menyeimbangkan kadar perasaan dan logikanya. Kita pun selaku konselor atau calon psikolog sangat wajib untuk memiliki ying dan yang dalam kedua hal itu. Dalam artian, psikolog/konselor harus bersikap netral. Tidak memihak atau lebih condong pada apa yang dirasakan atau direfleksikan oleh klien. Empati itu adalah hal pokok yang juga kudu kita miliki. Simpati pada klien pun tidak boleh asal sembarangan. Calon psikolog kudu bisa membedakan dengan tepat mana empati dan simpati. Salah-salah, nanti klien malah yang menyalahartikan.

Mungkin.... bisa dibilang, ini juga menjadi salah satu tugas terberat buat para single fighters agar dapat bertahan untuk tidak menerobos syariat Islam, terutama soal hubungan antara laki-laki dan perempuan. Cinta itu adalah virus yang mematikan. Kenapa banyak tokoh berkata, Cinta itu buta? Itu memang benar karena cinta adalah sebuah energi yang kedahsyatannya sulit untuk digambarkan seberapa besarnya. Ini juga yang menjadi tugas para wanita untuk tidak "mudah" memasang badan (baca: menerima) bujuk rayu laki-laki. Kata orang, cinta itu adalah salah satu bagian dari emosi, kan? Dan, bukankah titik kelebihan juga kelemahan wanita ada pada perasaannya? Makanya, wanita itu... menurut saya... akan jauh lebih mudah untuk mencintai seseorang. Beda dengan laki-laki yang lebih banyak pertimbangannya. Saya nggak expert sih karena nggak pernah pacaran. Tapi, sejauh yang sering saya amati dari temen yang punya pacar atau klien yang punya kekasih, kebanyakan yang laki-laki tuh penuh negosiasi ketika menyukai seorang wanita. Kalau cowok yang dominannya suka sama cewek cantik secara fisik, maka otaknya akan cenderung mencari yang menurutnya cantik secara fisik. Sementara cewek, kalau suka sama seseorang, pasti ia nggak mikir banyak terlebih dulu tentang bagaiamana latar belakang tuh cowok, siapa keluarganya, bibit bebet bobotnya gimana.. Kalau perasaannya sudah jauh lebih besar, ada beberapa tipe cewek yang lebih mementingkan perasaannya daripada kekurangan atau kelebihan si cowok. Pokoknya, kalau si cowok udah bilang cinta, ia akan jauh lebih mudah masuk "perangkap".

Ini juga salah satu tips singkat yang saya masukkan dalam buku #CKUS. Seimbangkan logika dan perasaan!! Ini mungkin lebih khusus untuk cewek ya. Sebab, tahu sendirilaaah alasannya.

Wahai teman cewek, please, turn on your logic! Hidupkan logikamu saat menyukai seseorang. Walau memang perasaan/hati itu sulit untuk dikendalikan, setidaknya bila logika sudah kau nyalakan, sistem sarafmu akan berkompromi sejenak. Kau akan diajak untuk bernegosiasi dengan prinsip yang kau piara, sesuai kah atau tidak. Kau tahu kan? Rasa cinta itu tidak salah. Kau tidak bisa menyalahkan pada siapa cintamu terpaut. Tapi, kau juga harus ingat, cinta itu butuh tempat yang layak dan tepat. Ketika perasaanmu memahami bahwa cinta itu harus ditempatkan di jalan yang benar, maka kau pun akan memahami bahwa cinta itu adalah fitrah yang harus dijaga kesucian dan kehormatannya. 

Cinta yang benar penempatannya adalah ketika seorang laki-laki yang kau cintai dan mencintaimu mengucapkan ikrar ijab dan qabul di hadapan walimu. Cinta yang demikian akan jauh lebih dihormati dan dirahmati oleh-Nya karena kalian langsung berjanji di hadapan-Nya, dan didoakan oleh para malaikat-Nya.

Beda jika cinta itu kau transitkan di mana-mana dan pada siapapun. Cinta yang demikian akan jauh lebih menyakitkan ketika kau tahu bahwa itu bukanlah tempat tujuan pendaratanmu selamanya. Yang namanya transit, tentu masih memungkinkan untuk berpindah ke lain tempat, kan? Ya, seperti pesawat. Mungkin, begitulah aktivitas pacaran menurut filosofi slengekan saya hehehe :D 

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.