Monday, June 30, 2014

PARENTING NABAWIYAH: (CALON) SUAMI

Kemarin, adik tingkat ngasih saya ebook yang kupas tuntas mengenai parenting nabawiyah. Sungguh menarik sekali bahasannya apalagi pematerinya adalah Bapak Budi Ashari, Lc. Pokok bahasan parenting nabawiyah inipun tampaknya sudah mulai dipakai oleh pakar psikologi Islam khususnya untuk menganalisa permasalah rumah tangga. 

Psikologi itu, lebih banyak dikembangkan oleh bangsa Barat. Jadi, jangan heran jika banyak teori yang tidak sesuai dengan syariat Islam apalagi mengenai beberapa bagian dalam teori Psikoanalisa Freud. Ya, jadi para calon psikolog/psikolog harus pandai memilah-milih, terutama bagi Psikolog Muslim.

Ebook Parenting Nabawiyah yang kemarin saya peroleh insya Allah akan saya bahas sedikit demi sedikit di blog ini. Filenya ternyata lama kalau mau dibagikan/dikirimin gitu.

Dalam konsep Parenting Nabawiyah ini, ternyata menyadarkan kita. Kita looh tiap hari baca Al-Qur'an dan terjemahannya. Tapi, betapa masih minimnya ilmu kita karena enggan atau lupa mengkaji satu demi satu ayat dalam surat cinta Ilahi Rabbi itu. Jadi, salah satu ayat yang semestinya dipegang kokoh oleh para calon suami/calon istri atau bagi suami/istri yaitu ada pada QS An-Nisaa: 34. Dengan memahami tafsir serta mengaplikasikan ayat tersebut, insya Allah para suami istri di bumi ini tak akan pernah merasa gentar menghadapi segala ujian rumah tangga yang Allah kasih.

مَا فَضَّلَ اللََّّ الرِّجَال قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Qs. An Nisa’: 34)

Untuk para wanita yang rindu menikah, hendaknya memperhatikan penggalan pertama ayat tersebut. Ayat di atas ini menjelaskan tentang posisi dan definisi seorang suami. Awalnya mungkin kita sudah tahu arti suami itu apa, perannya bagaimana, yaah makna standar sebagaimana orang lain pun memikirkannya. Rupanya tidak semudah itu membicarakan mengenai sosok suami.

Berikut ini saya copast penjelasan tafsirnya ya.

Kata (قوامون ) berasal dari kata وامة( ). Secara bahasa, kata قوامة( ) baik dengan fathah pada Qof ataupun Kasroh, mempunyai beberapa arti:
1. عماده الذي قٌوم به و نٌتظم
Pilar kokoh yang digunakan untuk penopang dan pengatur agar rapi (Al Mishbah al Munir, Ahad bin Muhammad Al Fayumi)
2. وَالْقِوَامُ بِالْكَسْرِ مَا قٌُِ مٌُ الِْْنْسَانَ مِنْ الْقُوتِ وَالْقَوَامُ بِالْفَتْحِ الْعَدْل وَالِِعْتِدَال Qiwam dengan Kasroh: makanan yang membuat manusia bisa tegak berdiri. Qowam dengan fathah: Adil dan seimbang (Al Mishbah al Munir, Ahad bin Muhammad Al Fayumi)
3 . الق مٌ هو الس دٌ وق مٌ القوم س دٌهم الذي سٌوس أمورهم. قٌال فلان قوام أهل ب تٌه وهو الذي قٌوم شأنهم
Al Qoyyim: Tuan/pemimpin. Qoyyim Qoum: pemimpin umat mengatur semua uru-san mereka. Dikatakan: Fulan Qiwam keluarganya, berarti: Dialah yang mengurusi urusan mereka. (Mukhtar ash Shihah, Abu Bakar Ar Razi)
4. Qoma amir terhadap rakyatnya: walinya (yang menolong, membela, mewakili dan mengurusi) (Asas al Balaghah, Az Zamahsyari)
5. Qiyam terhadap sesuatu: memperhatikan dan menjaga sesuatu itu (Mu’jam Mufradat Al Quran, Al Ashfahani)

Itulah mengapa seorang laki-laki/suami disebutkan sebagai qawamah. Betapa besar tugas dan tanggung jawabnya, kan? Bukan cuman sebagai pemberi nafkah, namun juga sebagai pilar yg kokoh, penopang, pengatur, adil,pembimbing, pembela, memperhatikan dan menjaga segala hal dalam rumah tangga termasuk kepada istrinya
Jadi, dalam bahasa Al-Qur'an, suami itu berarti qawamah. Apa sih qawamah itu? Sudah dijelaskan dari copast-an di atas. Jadi, suami itu tuh bukan hanya seorang yang berkewajiban memberikan nafkah, tapi juga menjadi pilar kokoh sebuah rumah tangga. Ibarat anggota badan, suami adalah kepalanya. Suami juga seseorang yang bertugas memimpin, mengatur dengan rapi; mendidik dan membimbing istrinya; memperhatikan serta menjaga segala sesuatunya.

Cukup menjadi perenungan dalam bagi para suami dan semua laki-laki yang akan menjadi suami. Bahwa Qowamah tidak sesederhana yang dibayangkan. Tidak seumum kata kepemimpinan yang telah terkoyak-koyak maknanya hari ini.

Tetapi Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi Pilar kokoh. Tempat bersandar yang tegar. Tempat penopang yang menjamin tidak robohnya bangunan rumah tangga. Tempat kenyamanan bagi semua penghuni rumah.

Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi sumber nafkah untuk keberlangsungan. Nafkah yang memberi fasilitas hidup dan ketenangan bagi seluruh anggota rumah. Suami adalah ladang yang lapang nan hijau bagi merumputnya semua gembala.

Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi pemimpin dengan semua makna kepemimpinan. Merencanakan, mengatur, menjaga, memperhatikan dan sebagainya. Dengan tugas ini, maka suami harus menyediakan waktunya 24 jam, kapan saja untuk semua keperluan rakyatnya di rumah.

Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi keadilan dan keseimbangan. Adil dan seimbang mengharuskan jiwa yang tenang, tidak emosional, berada di tengah, bertindak hanya dengan bukti dan data. Tidak memutuskan kecuali dengan ilmu.

Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi pendidik. Keteladan dan ilmu merupakan mata air deras lagi menyejukkan yang harus dimiliki oleh suami sang guru. Pendidik tak hanya mengajarkan ilmu. Tetapi memberi keteladanan atas aplikasi ilmu tersebut. Juga mengevaluasi atas keberhasilan pendidikannya. Meluruskan jika ada yang bengkok dengan jiwa seorang pendidik murni. Terus mengawalnya hingga menghasilkan lulusan membanggakan.

Sudahkah kita memahaminya, termasuk wahai dirimu para lelaki? Sebesar inilah tugas para kaum laki-laki. Kata cinta dan keromantisan yang merupakan kebutuhan dasar para pasutri aja lewat, kan?

Jadi, dari ayat tersebut, Islam mengharuskan setiap suami benar-benar ‘memaksakan’ dirinya menuju seluruh sifat di atas. Demikian juga setiap anak laki-laki, harus dilahirkan dididik hingga mampu menjadi Qowwam bagi para istrinya.

Wajar saja jika ada lelaki yang berkata, menikah itu tidak mudah karena segalanya harus dipersiapkan. Ya, mereka harus mempersiapkan fisik, mental, finansial, akhlak, agama, batin dan lainnya. Jadi, bukan hanya perempuan saja yang bertugas membenahi dirinya sebelum menikah, laki-laki pun harusnya demikian.
---
Nah, untuk episode postingan berikutnya, insya Allah kita akan bahas mengenai kriteria suami yang lebih detil lagi.

Sumber: parentingnabawiyah.com


2 comments:

  1. Halo Kak, selamat ya dapat lemparan kado dari aku, diterima dengan baik ya. Aku pasti senang, dan terimakasih :)

    The Liebster Award: Aku Pilih Kamu, Kamu Pilih Dia, Dia Pilih Aku

    Salam,

    ASYSYIFAAHS
    Blog | Twitter | Facebook

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah dapat lemparan lagi hihi siaaap oke deh Syifaa makasih ya ^^

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.