Wednesday, July 2, 2014

PARENTING NABAWIYAH: KRITERIA SUAMI

Beberapa hari kemarin, saya udah janji kan ya mau posting lanjutannya PN. Nah, pada hari ini mau sharing mengenai kriteria pria yang layak dijadikan sebagai suami menurut pandangan Islam. Pedomannya masih berpacu pada QS. An-Nisaa':34.

Laki-laki kayak gimana sih yang layak dipilih dan dijadikan sebagai seorang qawamah atau suami?

Mengenai tolak ukur memilih suami ini, pernah terjadi kekeliruan pada zaman Nabi dulu. Kalau di zaman Nabi dulu, pernah ada sebuah kejadian di mana seorang wanita memilih pria hanya berdasarkan penampilan luarnya saja. Berikut ini ada sebuah kisah yang dikutip dari hadist shahih:


Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dikisahkan dari Sahal,

“Seorang laki-laki melewati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata (kepada para shahabat): Bagaimana menurut kalian orang ini?

Mereka menjawab: Jika ia melamar diterima, jika merekomendasikan diterima dan jika bicara didengar.

Kemudian beliau diam.

Berikutnya lewat lagi seorang laki-laki dari kalangan orang-orang miskin. Beliau kembali bertanya: Bagaimana menurut kalian orang ini?

Mereka menjawab: Jika ia melamar, tidak akan diterima. Jika merekomendasikan tidak diterima dan jika bicara tidak didengar.

Rasulullah bersabda: Yang ini lebih baik dari sepenuh bumi orang seperti yang tadi (pertama).” (HR. Bukhari)


Ternyata permasalahan mengenai kesalahan memilih pasangan akibat tertipu oleh penampilan fisik juga masih kerap terjadi di sekeliling kita kan. Yang miskin dan sangat sederhana dalam penampilan fisik/luar lantas dianggap tak layak dipilih. Sementara yang dari luar saja sudah terlihat mewah dan "wah" malah dianggap pantas.

Dan, dari kisah sahabat Nabi di atas, Rasulullah kemudian bikin sahabat itu jadi makjleb dengan berkata, "Yang ini lebih baik dari sepenuh bumi orang yang tadi (pertama)." Ini bukan berarti orang ganteng/cantik nggak layak looh ya tapi maksud dari Rasulullah saw. tentu ada hubungannya dengan Allah yang tidak menilai umatnya dari segi penampakan luar, melainkan dari ketakwaannya.

Nah, untuk ciri-ciri pria yang layak dijadikan sebagai suami, dapat kita nilai dari hadits-hadits Nabi berikut ini:

فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ " )خ م(
“Wahai pemuda, siapa yang memiliki Baah, menikahlah karena bisa lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa yang belum sanggup, maka puasalah karena akan menjadi benteng baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

إذا أتاكم من ترضون خُلُقَه ودِ نٌَْه فزوجوه إنْ لِ تفعلوا تكنْ فتنةٌ فى الأرض وفسادٌ عر ضٌ
“Jika ada yang datang kepada kalian yang telah kalian ridhoi akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia karena jika tidak akan menimbulkan fitnah di bumi ini dan kerusakan yang luas. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Tirmidzi berkata: Hasan Ghorib)
عَلَ صَلَّى اللََّّ عَلَ هٌِْ وَسَلَّمَ فِ مَسِ رٌٍ لَهُ فَحَدَا الْحَادِي فَقَالَ النَّبِ
صَلَّى اللََّّ كَانَ النَّبِ هِ وَسَلَّمَ ارْفُقْ اٌَ
أَنْجَشَةُ وَ حٌَْكَ بِالْقَوَارِ رٌِ )روه البخاري ومسلم(
“Nabi shallallahu alaihi wasallam suatu saat dalam sebuah perjalanan. Seorang yang ahli menggiring unta dengan langgamnya, melakukan hal tersebut. Nabi berkata: Berlaku lembutlah wahai Anjasyah terhadap kaca.” (HR. Bukhari dan Muslim)
عَلَ هٌِْ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ ؤٌُْمِنُ بِاللََِّّ
صَلَّى اللََّّ عَنْ أَبِ هُرَ رٌَْةَ عَنْ النَّبِ
وَالْ وٌَْمِ الْْخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْ ا را فَلْ تٌََكَلَّمْ بِخَ رٌٍْ أَوْ لِ سٌَْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ
الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَ ءًٍْ فِ الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِ مٌُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ زٌََلْ
أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَ اٌْ را )رواه البخاري ومسلم(
“Berpesanlah yang baik terhadap wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari rusuk adalah yang paling atas. Jika kamu meluruskannya, kamu bisa mematahkannya. Jika kamu biarkan, akan terus bengkok. Maka berpesanlah yang baik terhadap wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari beberapa petunjuk Nabawi di atas, kita mendapatkan kejelasan kriteria laki-laki yang layak menjadi pemimpin rumah tangga adalah sebagai berikut:

# Dari hadits pertama, terdapat kata Al Baah

An Nawawi menjelaskan, “Al Baah mempunyai 4 cara membacanya sebagaimana yang disampaikan oleh Al Qodhi ‘Iyadh. Yang paling terkenal: al Baah. Yang kedua: al Bah. Yang ketiga: Al Ba’. Dan yang keempat: Al Bahah."
Aslinya dalam bahasa berarti: Jima’(senggama). Diambil dari kata al Mubaah yang artinya rumah. Para ulama berbeda pendapat tentang arti Al Baah. Pertama yang paling benar: Jima’... Yang kedua: Beban tanggung jawab pernikahan. (Al Minhaj). Jadi, dalam kata ini terdapat 2 arti:
-Laki-laki harus mempunyai kemampuan menafkahi batin istrinya.
-Laki-laki harus mempunyai harta membiayai kebutuhan rumah tangganya

# Akhlak dan Agama
Dalam riwayat lain pula disebutkan: agama dan amanahnya. Dalam riwayat lain disebutkan lebih jelas: Jika ada yang datang melamar. Sementara akhlak diterjemahkan oleh para ulama lebih spesifik: muasyarah (memperlakukan istri dengan baik).

Muhammad Abdurrahman al Mubarakfuri dalam kitabnya yang menjelaskan Sunan Tirmidzi berkata,
“Jika Anda tidak menikahkan orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, sementara kalian memilih sekadar keturunan, ketampanan dan harta.
(Kerusakan yang luas) yaitu jika kalian tidak menikahkan sang putri kecuali hanya kepada yang punya harta dan kehormatan, akan banyak wanita tanpa suami dan laki-laki tanpa istri. Muncullah banyak fitnah zina. Dan berikutnya para orangtua menanggung aib dan mencuatlah fitnah dan kerusakan, yang berefek pemutusan nasab, krisis kebaikan dan penjagaan diri.” (Tuhfah al Ahwadzi)

Jadi, inti dari poin ini adalah, laki-laki (apabila akan menjadi suami) harus menjaga agama, amanah serta akhlaknya terhadap sang istri dan memperlakukan istri dengan baik.

# Kelembutan
Banyak sekali orang yang mendefinisikan bahwa pemimpin itu adalah orang yang keras, tegas dan cenderung kasar dalam bersikap. INI TIDAK BENAR. Jadi, definisi kepemimpinan dalam bahasa Al-Qur'an menjelaskan bahwa seorang suami/qawamah/pemimpin dalam keluarga harus memiliki ciri kelembutan baik pada ucapan dan perbuatan. 

Tegas bukan berarti kasar. Ini merujuk pada hadits Nabi di mana wanita itu diibaratkan sebagai sebuah kaca. Jadi, seorang suami harus benar-benar telaten, sabar, lemah lembut dalam memperlakukan istri yang ibarat kaca rawan pecah. Seorang suami harus hati-hati dalam membawa dan menjaga "kaca" tersebut.

# Mampu meluruskan tanpa mematahkan
Inilah kriteria yang amat sulit untuk diaplikasikan. Wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Apabila diluruskan maka rawan patah. Jadi, untuk memiliki kriteria ini, seorang pria harus memiliki serta menimba ilmu kepemimpinan yang benar-benar matang. Ini bukanlah persoalan sederhana.

Dalam banyak kasus sering kita saksikan, banyak laki-laki/suami yang santun dan lembut namun tidak mampu meluruskan dan mendidik istri ke jalan yang lurus hanya dengan dalih tidak ingin menyakiti. INI SALAH. Banyak pula laki-laki/suami yang mendidik istri dengan sarkas dan memaksa.

Nah looh susah kan? :D Tapi inilah petuah sekaligus keinginan Rasulullah saw. agar para suami mampu mendidik, membimbing dan memimpin sang istri dengan meluruskannya tanpa ada yang patah serta harus disertai sentuhan yang lembut.

Kesimpulan dari uraian di atas, maka kriteria pria yang layak dijadikan suami adalah:
  1. Mampu menafkahi secara batin
  2. Mampu menafkahi secara finansial/materi
  3. Istiqamah dalam agama
  4. Teguh memegang amanah
  5. Punya akhlak yang mulia
  6. Memimpin dengan penuh kelembutan
  7. Mampu meluruskan kesalahan serta mendidik tanpa mematahkan yang lan

sumber: Parenting Nabawiyah oleh Budi Ashari, Lc.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.