Saturday, August 16, 2014

FIKSI: SADARLAH

Pagi-pagi sekali, kau sudah duduk di depan kolam sambil menyeruput es jeruk nipismu. 
Tak biasanya kau memilih es jeruk nipis.
Biasanya, kau akan menyeduh kopi luwak yang kau bilang itu sangat mahal.
Mengapa?

Oh, aku mengerti.
Hatimu sedang kecut, bukan?
Iya, kecut karena kau sedang memikirkan seseorang yang ternyata tidak mencintaimu.

Dulu, kalian adalah teman baik.
Dibilang pacaran juga tidak, dibilang adik dan kakak juga bukan.
Tapi, beribu pasang mata selalu memanahkan busur cemburu jika melihat kalian berbincang.

Dia, lelaki yang kau bilang dia begitu karena mencintaimu.
Cinta? Benarkah itu cinta?
Kau bilang, dia suka memujimu. 
Memuji itu kau anggap sebagai sinyal cinta.
Apa benar itu cinta?
Terkadang, kau harus paham bahwa pujian itu bisa saja hanya bermakna sebagai pujian.
Kau bilang, dia suka memberimu kado spesial.
Hadiah-hadiah istimewa itu kau tumpuk tanpa pernah kau buka karena terlalu sayang.
Seperti perasaanmu padanya.
Tapi, apa kau sadar bahwa terkadang memberi itu hanya bermakna sebagai memberi, tak lebih, tak kurang.

Setelah waktu berlalu dan kau tak lagi melihatnya, kau menjerit rindu.
Kau bilang, dia akan tetap mengingatmu.
Kau bilang, dia akan selalu berada di sampingmu, entah sebagai kakak atau sebagai sahabat, tak jelas.
Tapi ujungnya, impianmu dan dia membuat janji-janji dulu pudar seketika.
Dia pergi mengejar mimpinya ke selatan.
Dan kau, pergi ke timur untuk berpetualang mencari harta karun dambaan.
Lama sekali kau tak pernah mendengarnya bersuara walau hanya lewat sambungan kabel selular, bukan?
Lalu, apa kau masih yakin, dia masih mengingatmu?
Lalu, apa kau masih yakin, kau masih lebih berharga dari impiannya?
Lalu, apa kau masih yakin, dia akan kembali untukmu ketika kau meminta?
Mungkin tidak.
Mungkin kau belum sadar bahwa semua yang kau lalui dengannya hanya seperti bayang ilusi.
Not-not cinta yang pernah dia lagukan sebenarnya bukan sepenuhnya untukmu.

Sebentar.
Kau bukannya pernah bilang bahwa dia pernah cerita padamu.
Dia pernah menceritakan seorang gadis padamu.
Gadis yang diam-diam telah merampok perhatian dan perasaannya.
Tapi bodohnya, kau bersikukuh mengira itu hal biasa.
Apa kau belum sadar juga bahwa itu tandanya dia mencintai gadis itu, bukan kau.
Apa kau belum sadar juga bahwa itu bisa menjadi tanda kalau kau hanyalah sosok yang tak lebih spesial dari gadis itu, dari cerita ngalor-ngidulnya tentang cintanya itu.

Sudahlah.
Kau tak perlu lagi meragukan dirinya yang memang tidak pernah menyisihkan sehelai namamu dalam lemari hatinya.

Sadarlah.
Untuk apa kau memikirkan dia lagi?
Untuk apa kau mengharapkan kehadirannya sebagai sesuatu yang baru di masa nanti?
Sudah, sadarlah bahwa dia bukan takdirmu.
Sudah, sadarlah.... dia hanyalah bagian masa lalu
Sudah, sadarlah... maafkanlah segala salah pengertianmu terhadapnya dulu.
Dengan begitu, kau bisa tenang.
Dengan begitu, besok kau tak lagi menyesap aroma jeruk nipis, melainkan jeruk manis.
Dengan begitu, Tuhan pun akan memberimu jalan untuk bertemu dengan pengganti dirinya.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.