Tuesday, August 5, 2014

SEJUMPUT KISAH KELUARGA BESARKU

Tiga malam ini, salah satu bulek saya yang dari Madiun ikut kami ke Malang bersama anak bungsunya si kurcacil Deska. Tadi sore pas saya mandi beliau udah dijemput suaminya bulek saya yang juga adik Mama (bulek saya yang tinggal di kota Batu) buat nginep ke sana sekalian besok barengan balik ke Madiun mereka dari Batu.

Sebut saja namanya Thi. Bulek Thi itu orangnya suka ngajak ngobrol. Saya yang notabene pendiam gini suka banget diajak ngobrol atau ditanya-tanyain gitu. Yaaa emang sih, saya kadang nggak begitu suka dikepoin, tapi kalo keluarga sendiri sih nggak papa lah yaa hehehe.


Saya pribadi jauh lebih akrab dengan para bulek dan pak lek dari garis saudara Mama. Mama itu anak sulung dan punya.... 7 apa 8 adik gitu ya hehehe saya suka lupa itungannya. Bulek Thi dan bulek Tri tinggal di Madiun, Pak lek Nen dulunya ikut kami ngerantau di Parepare dan sekarang masih stay di sana sama anak istrinya. Sementara Dua paman saya sisanya tinggal di Jakarta.

Banyak orang berkata, di antara saudara lain, Mama yang hidupnya paling beruntung. Ah, mereka terlalu berlebihan memuji. Saya juga nggak merasa jadi anak orang yang kaya banget. Tapi yang pasti, menurut saya, semua saudara Mama adalah orang-orang yang sangat baik dan semuanya beruntung. Bedanya memang ada pada jalan hidup yang dipilih masing-masing sih.

Bukan berarti saya nggak memahami adik-adik dari garis Bapak. Cuman, kalau masalah keakraban, saya memang dari kecil sudah lebih dulu dan lebih sering dekat dengan keluarga Mama. Semua tante dan paman (adik Mama) juga lebih suka ngehubungin kami di rumah, nggak itu telepon atau SMS. Saya juga lebih akrab sama sepupu yang di Madiun daripada di Malang. Salah satunya yaa si Chomel Ratna itu yang kata para tetangga di Setren bilang kalau kami ini udah kayak saudara kandung, entah gimana caranya wajah kami ini mirip banget kayak kembar gitu.

Paman dan tante dari keluarga Mama memang terkenal sebagai orang yang loyal dan nyaman banget. Saya aja sering tuh curhat sama mereka semua hihihi. Malah saya sering diajak jalan-jalan, ditraktir apaan gitu pas waktu masih kecil dulu. Kalau saudara Bapak sih juga sama baik dan humble-nya cuman bedanya, saudara Mama itu lebih berjiwa muda dan paham banget sama anak muda kayak saya ini. Jadinya, kalau ada apa-apa, mereka pasti udah bisa nebak, ooooh maksudnya ini toooh. Mereka juga nggak sungkan kayak saudara Bapak sih.

Dari mereka semua, belakangan ini saya kagum dengan Bulek Thi. Beliau kan baru saja bercerai. Orangnya tuuuh kuaaaat banget. Semua orang termasuk almarhum kerabat pada bilang kalau beliau itu adalah seorang wanita pekerja keras. Iya, beliau memang sangat kuat bekerja. Pas kemarin sampai siang tadi nginep di rumah aja, saya kadang sampai makjleb lihat Bulek Thi baeeek banget. Dia mauuu aja nawarin diri nyuciin tumpukan cucian Mama dan Bapak pas ditinggal arisan kemarin. Terus, mau bersih-bersih, nyapu, ngepel, beliin jajan bahkan pas saya nitip duit buat beli jepit rambut, eeeh uang saya ditolak sama beliau. Beliau yang beliin. Duh, sungkan sekaligus kagum! Kalau dibandingin sama Mama, memang tenaga Bulek Thi ibarat kata kayak Superwoman gitu. Sekarang aja di Setren, dia bekerja ngemong bayi beberapa tetangga dan menjahit demi menghidupi dua anak lanangnya. Hebat, kan? :)

Heum, betapa banyak nikmat Allah yang kudu pandai-pandai disyukuri. Ketika mendengar kisah perjuangan Bulek Thi, saya jadi terenyuh dalam hati. Memandang wajahnya yang mencoba untuk selalu tersenyum, bikin saya sempat nangis pas lagi sholat hehehe.

Bulek Thi, semoga Allah senantiasa melimpahkan dan melapangkan rezekimu dan anak-anakmu di sana. Semoga senantiasa diberi keberkahan, kebaikan, keselamatan, kesejahteraan dan keselamatan sama Allah ya. Semoga Teddy dan Deska kelak bisa menjadi superhero sukses untuk membanggakan Bulek Thi.

Yang lalu biarlah berlalu. Jika memang "mantan" paman kami itu pernah berniat jahat, biarlah saja dia di luar sana. Tak perlu diungkit kembali. Semoga Allah kelak membuka pintu hatinya untuk bertaubat.

Ya, memang benar. Nggak semua anak itu bisa dikatakan sebagai korban perceraian. Anak-anak yang merasa kecewa seperti Teddy dan Deska karena ortunya bercerai memang banyak. Tapi, mereka sekarang sudah berada di tangan ibu yang baik seperti Bulek Thi. Justru, perceraian inilah yang menjadi impian mereka. Rasa lega itu sangat jelas tergambar dari raut Bulek Thi dan anak-anaknya. Mereka bertiga memang benar-benar kuat.

------

Skip cerita mengenai saudara Bapak. Mereka semua juga sama baiknya dengan keluarga Mama. Namun, saya cenderung melihat lebih banyak garis "kesungkanan" ketika berbaur dengan mereka. Mereka memang udah pada berumur gitu ya, tapi pendekatan terhadap keponakannya yang muda memang rada kurang afdol. Yaa saya juga kurang paham, tapi itulah yang selama ini saya amati. Saya dan anak-anak mereka (sepupu2) juga tidak begitu akrab, malah jarang terlibat obrolan panjang dengan mereka. Hanya beberapa saja. Mungkin juga karena sepupu-sepupu dari saudara Bapak mayoritas udah pada punya anak karena menikah di usia muda. Jadinya, saya juga yang merasa kurang nyaman ketika ingin mengobrol dengan mereka. Ah, mungkin lebih tepatnya, saya ini suka grogian kalo berhadapan dengan mereka yang sekarang obrolannya itu nggak jauh tentang anak dan keluarga. Lagian, saya juga jarang diajak ngobrol dan saya ini tipe orang yang nggak suka asal selonong ngajak orang ngobrol, takutnya kagak nyambung. Yaaa.. pernah sih ngajak ngobrol tapi mendadak di-cut karena obrolan saya kurang diperhatikan. Jadinya, sekarang saya merasa ada jarak dengan mereka.

Meski demikian, banyak sekali cerita suka duka dan mengharu biru di antara saudara2 Bapak, dan itu pun membuat saya kagum. Yang paling dekat dengan saya itu cuman adek bungsu Bapak, Bulek Sri karena masih muda dan belum bersuami. Sejak kecil, saya selalu dimanjain sama Bulek Sri selain sama Mbah (ortu Bapak). Jadinya, sampai sekarang suka ngebanyol deh sama beliau haha.

Bagaimana pun mereka semua, saya tetap cinta pada mereka. Saya mencintai keluarga besar ini, apa adanya mereka. Meski pernah terjadi kesalahpahaman, meski pernah tergores luka, tapi saya tetap menganggap mereka sebagai orang-orang yang patut untuk dihargai bin dihormati.

Euum... di sudut hati, saya sih sebenarnya pengen bisa akrab juga sama sepupu-sepupu dari saudara Bapak. Tapi, gimana ya, emang udah dari kecilnya pada kurang nyambung kalau ngobrol. Mereka juga tipe orang yang tidak mau banyak bicara kalau bahan obrolannya nggak sesuai dengan keinginan mereka. Jadinya, untuk bercanda-candaan, kayaknya terdengar kurang pantas aja gitu.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.