Sunday, September 28, 2014

CURHAT ANAK MAPRO PSIKOLOGI: HANDBOOK

Sunday is the placebo holiday for me. Walau tanggal merah tapi bukan hari libur sebenarnya. Tapi bersyukur karena praktikum belum dimulai jadi setidaknya Sabtu dan Minggu masih ada sedikit waktu longgar untuk melakukan hal-hal lain. Jadi, untuk saat ini, Sabtu dan Minggu digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas.

Sejak hari pertama kuliah di kelas pasca 2 minggu psikodiagnostik non-stop, kami sudah kebanjiran tugas. Dan, kau tahu apa yang ada di otak kami semua? Yup, soal handbook alias buku wajib. Kenapa? Ada masalah? Kalau masalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk beli buku itu bukan hal asing. Sejak Psikodiagnostik pun, kami udah menggelontorkan banyak uang hanya untuk buku. Kendala yang terasa itu adalah persoalan Bahasa. Mayoritas buku-buku Psikologi yang benar-benar asli adalah berbahasa asing alias English. Bukan hampir, melainkan semua handbook untuk perkuliahan magister profesi ini menggunakan bahasa Inggris.


Saya pribadi dulu, zaman S1 masuk kelas reguler-bilingual khusus. Jadi, udah dari dulu dicekokin pengantar berbahasa Inggris. Kalau soal fasih nggaknya berceloteh dalam bahasa Inggris, jujur saja nggak lancar karena jarang dilatih. Tapi, kalau untuk membaca buku bahasa Inggris yaaa masih lumayan mengerti hehe. Meski demikian, tetap saja menjadi tugas dobel karena pada proses perkuliahan, kami juga diminta oleh dosen untuk men-translate per Chapter buat tujuan presentasi kelas. Naaah... kalau satu tugas satu handbook sih, nggak berat lah ya. Laaah ini.... tugasnya beranak-pinak dengan handbook berbeda. Bagaimana tidak keriting otak ini untuk memahami serta menerjemahkan dengan baik. 

Untuk kitab suci wajib, kami sudah menggunakan DSM-V. Hahaha... tentunya nggak beli dong ya :D. Secara gitu looh, DSM-V hanya ada di Amerika. Tapi, untunglah dosen kita berbaik hati meminjamkan walau untuk di-fotokopi. Iya, fotocopy. Emang malu-maluin sih ya soalnya sama aja kayak membajak buku orang. Tapi, ini situasinya beda dong *ngeless dikit. Nggak lucu kan kalau hanya untuk sebuah DSM-V harus bela-belain ngurus visa dan berangkat ke Amerika buat beli satu buku itu doang. Mau tidak mau karena itu adalah buku paling wajib yang harus dimiliki seorang psikolog, yaa kami fotokopi deh. Lumayan laah yaa... buat pengganti bantal *iya tebel bangeeet soalnya.

Di sisi lain, buku-buku tersebut kan susaaaah banget ya diperolehnya alias tidak diperjual-belikan dengan bebas di toko buku. Jadi, ada banyak sekali download-an ebook handbook yang kami dapat dari dosen-dosen. Malah, demi mencari buku terjemahannya, temen-temen kami sampai hunting ke Togamas. Nyari salah satu handbook assessment. Ketemu!! Tapi, kendalanya adalah buku tersebut juga limited edition. Jadi, kalau mau beli banyak untuk satu kelas, harus pesan alias PO dulu ke Togamas. Syukurlah, pihak Togamas memahami kebutuhan kami. Walau cuman 1 itu doang handbook terjemahan, yang penting mata nggak keriting amat pas belajar Psychological Assessment II.

---
Demikian curhat saya :D
Oh ya, tips untuk kalian yang hendak ngambil kuliah S2 Mapro Psikologi, selain menyiapkan dana yang sangat besar untuk SPP per semester, kalian juga kudu nyiapin budget khusus buku ya. Ini yang paling krusial. Mungkin di awal kita mengira SPP itu udah yang paling gede (atau kalau di PTS ada pula biaya DPP, ini juga lebih besar biasanya dari SPP). Namun, di tengah-tengah yang paling banyak menguras biaya itu sebenarnya adalah biaya untuk buku dan teman-temannya itu deh. Trus, belum lagi nanti kalau praktek di RSJ. Bukan kita yang dibayar looh ya, melainkan kita yang harus membayar sendiri biaya praktek kita selama di RSJ. Bayarnya juga dihitung per hari belum lagi kalau harus pakai bantuan alat tes, beli lagi dooong untuk lembar jawaban tes-nya per subjek yang digunakan. Hehehe... 

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.