Wednesday, November 26, 2014

GHIBAH MEMUTUS SILATURAHMI

Senin kemarin di kelas profesi sedang heboh membahas argumen terkait figur yang menjadi buah bibir.

Ketika heboh terdengar omongan miring mengenai seseorang, teman-teman lain yang awalnya tidak paham, akhirnya harus mendengar.

Jujur, saya beruntung memiliki teman-teman (yang biasanya kami duduk dalam barisan kursi yang sama dan yang paling sering diajakin bertukar pikiran) baik dan bijaksana. Terus terang, kami sebenarnya risih ketika di sekeliling kami terdengar beragam ghibah mulai A sampai Z. Akhirnya, selasa kemarin, mbak yang biasa kami panggil "ibu" (soalnya usianya lebih tua dan udah punya dua anak serta lebih dewasa daripada semua) serta "tante" (mbak yang udah punya anak satu tapi masih agak muda usianya) memberikan nasehat kepada kami.

Benar juga. Apa sih yang kami ketahui? Padahal, tidak begitu dekat dengan orang tersebut meski memang orang tersebut pernah berbuat salah.

Beberapa dari kami yang kontra dengan omongan miring tersebut sungguh sangat kecewa. Kecewa karena ghibah tersebut ternyata disebarkan oleh teman baik dari orang yang menjadi buah bibir. Seperti kisah dalam sinetron Jilbab I'm in Love yang sering kami nonton tiap maghrib. Kok ada ya yang udah lama berteman bahkan bersahabat, tapi sering su'udzan bahkan tega membuka aib temannya sendiri kepada teman/orang lain yang sama sekali belum mengenalnya.

Menurut kami, jika memang apa yang dibincangkan tentang orang tersebut adalah benar, tidak seharusnya diberitahukan pada orang lain. Saya juga hampir saja termakan oleh ghibah itu kalau saja tidak ada teman-teman baik dan bijak seperti si ibu dan si tante yang menguraikan nasehat mengenai hal tersebut kemarin. Saya pun berpikir ulang, memang betul bahwa kita tidak boleh seenaknya men-judge seseorang hanya karena salah satu sikapnya yang kurang baik.

Seharusnya, kita saling mengingatkan
Bukan dengan menusuk dari belakang
Seharusnya, kita saling mengajak untuk berbenah diri bersama
Bukan dengan menyudutkan satu atau beberapa pihak yang tersalah
Seharusnya, kita bisa melihat orang yang memiliki salah tersebut dari sudut pandang lain
Memang, sikapnya tak mengenakkan hati
Namun, bukankah lebih baik jika tidak diadakan ghibah disertai kebencian yang mendalam sampai ingin menjauhinya
Jika sudah menjauh, bisakah kita bayangkan bila berada di posisinya

Saya pernah merasakan hal itu
Mengalami saat berada di posisi terpuruk, menjadi buah bibir ketika masih sekolah
Dijauhi teman-teman hanya karena satu oknum yang menyebarkan berita salah tentang saya
Rasanya sakit? Tapi, saya berusaha untuk terus memaafkan bahkan berani meminta maaf pada orang yang sudah memfitnah saya. Mungkin, saya kurang mengoreksi diri sehingga terjadilah fitnah itu atau mungkin waktu sekolah dulu, saya pernah menyakiti hati yang memfitnah. Semua bisa saja diselidiki makna di baliknya asalkan mau tekun mengoreksi diri.

Tak habis pikir...
Mengapa belakangan ini banyak terjadi ghibah?

Dari uraian ini, saya bisa menyimpulkan agar kita lebih selektif dalam mencari teman.
Bukan berarti kita memblokir diri dari semua teman.
Kita tetap harus menghormati teman atau siapapun yang ada di sekitar kita
Namun, untuk bersahabat, sebaiknya pilihlah teman yang benar-benar sholeh, bukan sekadar baik
Sebab, teman adalah cerminan tentang siapa diri kita
Kita bisa dinilai dari siapa teman kita, dengan siapa kita bergaul dan berbincang setiap harinya
Jadi, jangan asal pilih teman dekat deh ya

Kita juga harus berhati-hati ketika mempunyai teman (biasa) yang hobinya menceritakan aib orang lain. Sebab, tidak dimungkiri, suatu hari, nama kita bisa saja akan menjadi salah satu bagian dari ghibahnya. Ini ada kok dalam hadits (hehe saya lupa bunyinya).

Semoga kita bisa menjaga lisan kita ya
Sungguh, manusia itu tempatnya khilaf dan salah
Saya pun manusia jadi sangat mungkin untuk berbuat salah dan khilaf
Yang terpenting adalah, ketika berbuat salah, kita berani menyelami diri, mengakui, mengoreksi dan berbenah (berubah).

Monday, November 24, 2014

EDISI RINDU

Tak terasa sudah 11 bulan menetap di Malang, meninggalkan tanah kelahiran, kota Parepare. Kerinduan itu makin membuncah ketika beberapa waktu lalu melihat ada begitu banyak perubahan di tempat saya mengajar dulu, STAIN Parepare.

Mahasiswa/i yang pernah belajar bersama kelas saya mengalami banyak perubahan baik yang sangat signifikan. Semenjak saya resign, salah satu mahasiswa di kelas Kesehatan Mental saya dulu ada yang berhasil tembus ke program Dai Muda Indonesia di MNC TV. Walaupun tidak berhasil jadi juara, namun antusiasme dari masyarakat Parepare, Makassar dan Sulawesi sangat tergambar jelas ketika Fajar (nama mahasiswa tersebut) pulang pasca tereliminasi dari Dai Muda. Meskipun tidak maju sebagai pemenang, berkat ketenaran Fajar sebagai salah satu Dai Muda di Parepare, alhamdulillah preman-preman pasar dan sekelompok "penjahat" yang dulu beraksi di Parepare mau berguru dan belajar bersama Fajar di masjid tiap usai shalat subuh. Subhanallah.. barakallah.. Saya sendiri takjub melihat perubahan positif tersebut.

Saturday, November 22, 2014

CURHAT ANAK MAPRO DI KELAS FILSAFAT

Pagi tadi kami kuliah filsafat ilmu tambahan.
Nah si ibu dosen tuh sambil menerangkan materi terakhir, beliau bercerita banyak.
Nama dosen kami Bu Ida. Anak Bu Ida kan punya PR tapi kasihan banget karena pulang sekolahnya udah maghrib jadi ga bisa ngerjain PR sekolah karena udah capeeek dan ngantuk berat. Padahal PR itu dikumpul hari ini. Jadi Bu Ida berbaik hati bantu ngerjain tugas puteranya.
Tugasnya tuh susaaah, disuruh wawancarain orang yang pernah hidup dalam masa penjajahan sebelum kemerdekaan. Beruntung Mamanya Bu Ida masih hidup dan beliau dulu masih ingat apa aja yang terjadi di zaman penjajahan meski masih kanak-kanak.

Dari cerita ortu Bu Ida, kami jadi bener-bener ngerasain betapaaa kasihan banget dan dibodohi oleh penjajah.

Tuesday, November 11, 2014

RALAT INFO GIVEAWAY PARESMA

Euum.. temen-temen, sekadar info, buku Syabab sudah tersebar di TB Togamas (di Gramedia sementara proses distribusi). Buku Secangkir Kopi Bully dan Catatan Kriuk adanya di Gramedia. 

Bagi yang mau ikut giveaway ini, silakan aja. Syaratnya juga cukup mudah, hanya dengan foto bersama minimal 2 buku saya (silakan pilih judul apa saja). Jadi, nggak harus punya bukunya ya. Fotonya pun bisa langsung di toko bukunya.

Wednesday, November 5, 2014

CURHAT ANAK MAPRO: HIDDEN WAR?

Menjelang siang, baru satu jam ngerjain tugas take home UTS kualitatif, baru satu nomor dan itu jawabannya puanjaaaang semuaaaa (ibu dosen emang niat banget gitu yaa nyuruh kita menulis). Biar gak suntuk, saya mau sharing bentar sekalian update blog.

Isinya lagi-lagi curhat sih. 

Ini bermula dari presentasi kami di kelas. Kemarin pagi, saya sama seorang teman kebagian jatah presentasi metpen bagian pengumpulan data. Nah, pas giliran saya yang ngejelasin, emang saya niatkan tuh dari awal, jelasin panjang lebar, lebih detail dan lebih lengkap biar semua bisa paham jadi gak banyak yang nanya. Eeeeeh.... nggak tahunya, di sesi diskusi, kami berdua diborong oleh banyaaak pertanyaan dari banyak orang.