Wednesday, November 5, 2014

CURHAT ANAK MAPRO: HIDDEN WAR?

Menjelang siang, baru satu jam ngerjain tugas take home UTS kualitatif, baru satu nomor dan itu jawabannya puanjaaaang semuaaaa (ibu dosen emang niat banget gitu yaa nyuruh kita menulis). Biar gak suntuk, saya mau sharing bentar sekalian update blog.

Isinya lagi-lagi curhat sih. 

Ini bermula dari presentasi kami di kelas. Kemarin pagi, saya sama seorang teman kebagian jatah presentasi metpen bagian pengumpulan data. Nah, pas giliran saya yang ngejelasin, emang saya niatkan tuh dari awal, jelasin panjang lebar, lebih detail dan lebih lengkap biar semua bisa paham jadi gak banyak yang nanya. Eeeeeh.... nggak tahunya, di sesi diskusi, kami berdua diborong oleh banyaaak pertanyaan dari banyak orang.

Untungnya, kami berdua mampu survive, hehe..maksudnya bisa menjawab semua dengan baik. Nggak sia-sia dong ya bangun jam setengah tiga pagi nge-print terus prepare presentasi. Nah, dari sekian banyaknya penanya, ada seorang teman yang pertanyaannya itu hanya masalah teknis saja. Itupun dipertanyakan sampai berbusa-busa. Kami berdua masih dengan kepala dingin berusaha menjelaskan, bahwa kami memang salah dalam menyajikan salah satu slide sehingga membuat persepsi beberapa teman jadi ambigu. Namun, anehnya, sebagian kecil dari mereka yang ambigu itu malah bingung dengan pertanyaannya sendiri.

Rekan saya di presentasi kali itu pun sudah panas, hampir aja buku itu melayang, katanya. Haha... saya pun, sudah berkali-kali meluruskan dan memohon maaf kepada penanya untuk satu kesalahan teknis yang sebenarnya itu tidak menjadi persoalan besar. Naah... ketika sudah dijelaskan berulang kali, si penanya tadi bilang gini, "Udah paham sih,,, tapi..." 

Sampai teman-teman yang lain ada yang turut memberi masukan. Kami tampung. Ada pula yang berkomentar gini, "Saya nggak habis pikir dengan mereka itu. Kok sikap mereka seperti itu ya. Tahu sudah paham, tapi masih saja mencari-cari kesalahan padahal itu sudah jelas diakui oleh kelompok presentasi bahwa itu adalah kesalahan teknis. Kenapa diperdebatkan panjang lebar padahal masih banyak pertanyaan yang lebih berbobot daripada itu?"

Yaa..sudahlaah...
Selepas presentasi, kami berdua sih senyum dan ketawa-ketawa aja. Fenomena yang lucu. Lucu sekali. Bukannya mengejek, tapi yaa ngapain juga coba mendebatkan apa yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan? Kalau saja posisinya, penjelasan kami yang salah dan fatal terkait materi, naaah itu baru deh sebuah kesalahan besar. Bukan juga kami meremehkan kesalahan kecil. Tapi, posisinya, kami berdua pun sudah minta maaf dan sebenarnya itu juga tidak perlu dimintain maaf sih karena gaya penulisan kami dalam slide presentasi mengikuti aturan dalam buku. Ini tuh cuma soal gaya penulisan.

Yaa ampuun sampai heboh yaa...
Ibu dosen juga sudah menjelaskan dan bisa menerima gaya penulisan kami. Kami juga menyampaikan bahwa memang sebaiknya penulisannya ditata lagi untuk penomorannya biar ada klasifikasi yang jelas. 

-----
Saya akhirnya jadi kasihan pada mereka yang terlalu sensitif seperti beberapa penanya tadi. Dengan sikap demikian, jadi banyak teman lain yang kurang respek terhadap mereka. Ada juga yang berargumen bahwa mereka sedang mencari-cari kesalahan. Yaaa apapun itu, mereka tetap teman kami. Saya pribadi juga terkadang kurang setuju dengan sikap mereka, namun bukan berarti harus membenci dirinya kan? 

Bukan hanya pada kasus ini saja, tapi masih ada beberapa peristiwa di kelas yang memang sempat menyulut komentar buruk dari teman-teman lain terhadap mereka dan itu secara terang-terangan loooh diucapkan. Bayangkan gimana sakitnya dikomentarin pedes, negatif dan mengejek dirinya secara terang-terangan? Yang ngomong teman lawan jenis pula!
-----

Psikolog memang manusia
Tapi, jangan menjadikan itu sebagai alasan untuk berbuat keburukan
Di manapun dan kapanpun, etika dan moral akan selalu menjadi ujian terberat kita
------
Semoga lain waktu, gak akan ada lagi deh kejadian kayak gini.
Kasihan kan kalau belum jadi psikolog tapi udah banyak cap negatifnya
Walau mungkin konteksnya bercanda, sebaiknya jangan berlebihan deh
Kalau timbul permusuhan, gimana?
Sayang, kan?

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.