Friday, January 23, 2015

KAMU

Aku ingat jelas ketika kamu menangis di hari penyatuan cinta kita. Diam-diam, kelenjar mataku menitikkan airnya usai mengucapkan ijab qabul. Bahagia luar biasa, itu yang kurasa ketika berhasil duduk sebagai pendamping hidupmu. Kulihat semburat cerah di wajahmu. Kamu mengangsurkan dahi untuk kucium lembut saat kita duduk berdua di pelaminan. Kamu tersenyum. Walaupun tak secantik putri Indonesia, bagiku kamu tetap istri tercantik di hatiku. Saat kubisikkan kata-kata lembut, kamu merajuk. "Gombal," itu katamu sambil menjawil pipiku.

Sebulan setelah menikah, kita menjalani hubungan jarak jauh. Tidak lama, hanya dua bulan. Ah, itu juga terasa lama bagiku. Setiap hari di sela bimbingan skripsi, kamu selalu menyempatkan waktu untuk meneleponku. Kadang pula aku lebih dulu menyapamu via BBM. Hari demi hari, kucoba berpuasa demi menahan rindu tak terbendung ini. Aku rindu memelukmu, mencium keningmu, menjawil pipi putihmu dan mengganggumu ketika sedang mencuci piring.


Dua bulan kemudian, kamu pun telah menyelesaikan studi S1mu. Kupikir, kamu akan menerima tawaran kerja sebagai dosen di kampus tempatmu kuliah dulu. Akan tetapi, kamu justru memilih untuk menyusulku ke Malang. Sehari sebelum kedatanganmu, aku meneleponku. Aku sempat mengetes keteguhan hatimu. Kamu pun menjawab, "Ke mana pun suami pergi, istri harus mengikutinya." Kalimat itu terasa sangat manis. Persis sepert tahi kucing rasa cokelat. Itulah yang pernah kukatakan ketika aku mulai jatuh cinta padamu. Jatuh cinta yang baru benar-benar muncul ketika kita melewati bulan madu berdua.

Walaupun rumah yang kubeli ini tidak besar dan mewah, kamu tetap bersyukur. Kamu membersihkan setiap pagi usai shalat subuh. Setelah itu, kamu menyeterikakan kemeja dan celana untuk kupakai bekerja. Kamu juga menyiapkan sarapan untukku. Aku tak terbiasa langsung makan nasi jadi kamu menyiapkan dua lembar roti isi selai kacang kesukaanku tiap pagi. Aku juga tak suka kopi dan teh, jadi kamu membuatkanku satu jar kecil jus jeruk. Setelah aku selesai mandi, aroma wangi pun menguar lembut dari seluruh penjuru rumah tipe 36 ini. Itu tandanya kamu telah selesai menyulap rumah ini menjadi istana. 

Sebelum aku memulai sarapan, kamu juga sudah berdandan rapi dan cantik. Setiap pagi, kamu selalu bertanya gamis dan jilbab apa yang menurutku bagus untuk kamu pakai. Aku selalu menjawab dengan kata terserah. Kamu selalu protes bila aku hanya mengatakan itu. Tapi, ujung-ujungnya kamu memilih gamis dan jilbab sesuai seleramu sendiri. Bagiku, tak usahlah menanyakan hal sesepele itu karena apapun yang kamu pakai, kamu tetap terlihat cantik. Asalkan, kamu tidak menggunakan daster batik. Aku akan membolehkannya ketika tidur saja. Kamu baru boleh mengenakan daster atau piyama model apapun ketika tidur.

Ada hal yang lebih genting ingin kutumpahkan. Kita pernah kebingungan karena keuangan kita sedang di ujung tanduk. Padahal, itu belum akhir bulan. Aku merasa sangat tertekan ketika usaha restoran yang kubangun mulai dari nol, terlalap oleh api karena kecerobohan seorang koki. Itu adalah masa di mana Tuhan sedang memperingatkan kita agar berhati-hati menggunakan uang. Untunglah kita masih punya simpanan. Aku tak tahu seberapa mampu uang tersebut menopang hidup kita. Paling tidak, cukup sampai akhir bulan depan. Begitu harapku. Namun, masalah tak hanya berhenti sampai di situ. Aku harus membayar gaji 20 orang karyawan sementara sisa uang kas tak cukup mengimbanginya. Sungguh menyakitkan. Lebih dari setengah jumlah karyawan memutuskan untuk berhenti karena telah memperoleh pekerjaan baru. Mau tak mau, aku harus merelakan kepergian mereka. Sisanya, hanya empat orang yang bertahan dan bersedia membantu kita. Aku sungguh malu pada mereka. Entah terbuat dari apa hati mereka sehingga bersedia mengalihkan gaji mereka untuk membayar sisa gaji karyawan lain yang belum terlunaskan.

Sebagai konsekuensinya, aku pun tak bisa memberikan uang belanja lebih untukmu. Anehnya, kamu tak pernah mengeluh. Aku tahu bahwa rasa kecewa itu ada, tapi kamu tak pernah menampakkannya. Entah bagaimana caraku berterima kasih atas seluruh kebaikan itu. Kebaikan yang membuatmu bertahan di sampingku. Kebaikan yang menawarkan penawar bagi kegamangan dan kesedihanku. 

Sejak peristiwa itu, kita sering makan hanya dengan lauk tahu, tempe dan telur secara bergantian. Setiap hari, kamu hanya sanggup belanja tiga lauk itu. Hanya jenis sayurnya saja yang berbeda. Kamu pun mengolah tiga lauk itu dengan cara berbeda. Kadang digoreng pakai tepung, ditumis dengan sambal atau diorak-arik. Sesekali, kamu memakai uang tabunganmu untuk membeli ikan segar atau seperempat potong ayam. Itu kamu lakukan semata-mata agar aku tidak jenuh dengan masakanmu. Apapun yang kamu masak, aku selalu menghabiskannya. Aku tahu, kamu berjuang keras untuk membahagiakanku termasuk lewat apa yang kamu masak.

Hari-hari di mana roda hidup kita bergelinding ke bawah, aku membutuhkan energi ekstra. Waktu itu, aku selalu berangkat pagi, mencari dan melamar pekerjaan ke mana saja. Ah, sungguh itu bukan kemauanku. Aku tak suka menjadi seorang karyawan. Aku tak bisa bekerja di bawah aturan orang lain. Tapi, untuk kali ini saja aku harus mengalahkan egoku. Aku punya kamu. Aku teringat akan kesusahan demi kesusahan yang kamu rasakan tiap hari. Kamu pernah bilang bahwa aku tak boleh patah semangat. Kamu selalu mendoakan agar kondisi kita pulih dan aku bisa kembali membangun usaha restoran seperti yang selama ini menjadi passionku. Dengan begitu, kamu tak perlu lagi mengikhlaskan tabungan pribadimu untuk kepentingan dapur. Kamu pun juga tak perlu lagi pusing melakukan diet ketat karena aku tak ingin melihatmu kurus. Aku ingin kamu tetap sehat, bukan hanya aku.

Tiga bulan berjalan, aku belum mendapatkan pekerjaan. Semua lamaran yang kumasukkan, tak ada yang tembus. Tak ada yang mau menerimaku. Alasannya sungguh tidak masuk akal. Sebagian besar dari mereka menjadikan kebakaran restoranku sebagai satu-satunya kekurangan fatal yang membuatku di-black list dari daftar lowongan. Mereka menilai itu akibat kelalaianku yang kurang bertanggung jawab. Mereka juga bilang, aku tidak cermat mengamati karyawan. Sakit dada ini mendengarnya. 

Setelah keliling kota hanya untuk mendengarkan omelan ketus para pimpinan HRD tersebut, aku memutuskan untuk pulang. Pasrah. Pesimis. Itu bukanlah bagian dari sifatku, tapi aku merasakannya. Di tengah jalan, aku bertemu seorang pengemis. Kutengok kantong pantalonku. Hanya ada lima ribu rupiah. Itupun sebenarnya ongkos untuk pulang ke rumah. Akhirnya, kuberikan selembar lima ribu itu pada si pengemis setelah dia bilang belum makan apapun sejak kemarin. Melihat pengemis itu, aku tak ingin hal serupa dialami oleh kamu, istriku. Aku tak ingin kamu merasakan kelaparan dan kepayahan sebab tugas utamaku adalah memberimu nafkah. Betapa berdosa diri ini jika aku hanya memikirkan rasa sedih yang kian bergulir dalam dadaku.

Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki dari perempatan Pizza Hut Ciliwung menuju Perumahan Taman Raya Sulfat. Sangat jauh memang, tapi kupaksakan diri. Aku tak ingin meninggalkanmu di rumah terlalu lama. Di sisi lain, ada kicauan sendu dalam sanubariku. Pantaskah aku pulang tanpa membawa kepastian padamu? Tak ada uang yang bisa kubawa pulang sementara sudah hampir seharian aku mencari pekerjaan ke mana-mana. Aku cemas bila nanti kamu sedih, marah dan... meninggalkanku.

Tak terasa, adzan maghrib pun berkumandang. Sebenarnya perjalananku sudah hampir sampai, tapi aku menepi di masjid sekitar Sulfat untuk shalat sejenak. Dalam doa, aku menyebut namamu. Aku menahan tangis di depan Rabb-ku. "Suami macam apa aku ini?" pekik batinku sambil tertunduk lesu dalam doa. Seusai shalat, aku pulang. Tidak lebih dari dua puluh menit, kakiku sudah berpijak di depan teras rumah. Kamu menyambutku dengan senyuman. Kamu meraih tasku, membukakan sepatuku lalu membawanya masuk. 

Hari itu cuaca sangat dingin menusuk tulang. Itulah sebabnya kamu menyiapkan air panas untukku mandi. Saat di dapur, kamu berdiri sambil tertegun di depan kompor. Tatapanmu fokus ke arah panci berisi air yang sebentar lagi mendidih. Aku datang menghampiri lalu memelukmu. Kamu terkejut dan membalas pelukanku dengan sapuan lembut tanganmu pada pipiku. Aku gemetar ketika ingin menyampaikan bahwa belum ada satupun perusahaan yang mau menerimaku. Tapi ternyata kamu sudah lebih dulu menebaknya. Mungkin karena kita sudah punya ikatan batin satu sama lain sehingga apapun yang kurasakan, kamu juga bisa merabanya.

Kupikir kamu akan benar-benar marah, tapi tidak. Kamu tidak marah padaku. Kamu justru memberi pelukan hangat dan mengusap punggungku yang penat. Kamu tersenyum sambil berbisik, "Sayang, aku bersyukur telah memilikimu." Ya Rabb, bulu romaku bergidik mendengarnya. Malaikat macam apa yang diberikan Tuhan padaku? Kamu masih bisa bersyukur di tengah kemirisin hidup yang kita jalani waktu itu. Ketika kutanya mengapa, kamu memberiku sebuah ayat dari surat Ibrahim dalam Al-Qur'an. Kamu menarik kesimpulan bahwa apapun keadaannya, kita harus bisa bersyukur. Aku pun membalasnya dengan menyebutkan sebuah ayat dari surat Al-Anfal yang semakin meyakinkanku bahwa Allah akan memberikan pertolongan lebih dari yang kita duga. Jika kita mau berusaha dan bersabar, Allah akan memberikan pertolongan yang sangat besar sebagai penyenang dan penenang hati untuk kita berdua.

"Mas, aku bersyukur menjadi istrimu. Apapun kondisi kita sekarang, aku percaya kita mampu melewatinya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kita berdua," ujarmu setelah mematikan kompor waktu itu.

"Benarkah?" tanyaku dengan mata berbinar.

"Iya. Insyaallah," jawabmu lalu beranjak ke kamar mandi sambil menggotong sepanci air panas untuk dicampur dengan air dingin dalam bath up.

Aku juga masih ingat. Pagi hari setelah itu, tepat pukul tujuh, ponselku berdering. Sederet nomor asing mengusik waktu sarapanku. Kamu memintaku untuk mengangkatnya sambil bertutur, "Barangkali yang menelepon itu adalah perantara rezeki kita, Mas." Kubersihkan tanganku dengan serbet lalu mengangkat telepon itu.

"Betul ini dengan Bapak Fandi?" Di seberang sana, terdengar suara perempuan.

Aku menjawab dengan terbata sekaligus menduga-duga, "I-iya betul. Maaf, ini dari siapa ya?"

"Bapak Fandi dimohon untuk datang ke kantor karena Bapak diterima bekerja di perusahaan kami. Kebetulan kami sangat membutuhkan manajer baru."

Aku berbunga-bunga. Setelah perempuan yang mengaku HRD tadi menyebut sebuah nama perusahaan swasta, aku baru ingat ternyata pernah mengirimkan lamaran kerja ke tempat itu juga. Selepas memasukkan ponsel ke dalam saku celana, kamu mendekatiku. Kamu sangat bahagia mendengar kabar ini. Aku tahu, ini pasti berkat doa-doa yang kamu panjatkan dalam tahajjudmu. Sejak saat itulah, kehidupan kita mulai membaik. Gajiku memang tak sebanyak bayaran yang diterima seorang manajer perusahaan milik negeri. Tapi setidaknya, aku bisa kembali menabung untuk membangun restoran kita. Aku juga bisa memberikan modal untuk membuka butik sendiri seperti impianmu. Lebih dari itu, kamu pun hamil. Mungkin, Tuhan baru mempercayakan titipannya ketika kondisi kita sudah pulih.

Sekarang, sepuluh tahun berlalu. Putra pertama kita--Farras--tumbuh besar. Kita juga sudah punya tiga anak. Dua tahun setelah kamu melepas ASI untuk Farras, kamu hamil. Kembar identik perempuan. Kita sepakat memberinya nama Aisyah dan Asiyah. Dua-duanya merupakan nama yang dimuliakan oleh Allah. Nama-nama para bidadari penghuni surga. Kita pun berharap seperti itu. Aduhai, ini benar-benar nikmat yang semakin hari semakin bertambah!  Benar katamu bahwa ketika kita sabar, Allah akan membantu. Selain itu, restoran kita juga sudah berdiri tegak lagi. Sejak itulah, aku memutuskan untuk resign dari posisi manajer dan fokus pada passionku. Tak henti-hentinya kumengucap syukur karena aku yakin ini semua berkat kamu, istriku. Ya, semua berkat doa-doa yang tak putus dari bibir mungilmu.

Malam ini, makan malam dengan seorang perempuan. Dia sangat cantik meskipun tidak berhijab rapat sepertimu. Hijab yang dikenakannya lebih modern dan glamour. Dia juga sangat cerdas, seksi dan mempesona. Dia adalah mantanku waktu SMA. Aku memang pernah pacaran sekali. Kamu pun tahu itu. Tapi, aku tidak menceritakannya padamu tentang pertemuanku dengannya. Ini sudah pertemuan yang entah ke berapa kali. Aku menyembunyikannya karena tak ingin kamu menuduhku selingkuh. 

Beberapa minggu sejak pertemuanku dengan Vina, ada getaran rasa yang mencuat kembali. Mungkin ini yang disebut CLBK. Dia menawarkan kerja sama padaku. Passion kami memang sama, di bidang kuliner. Dia juga punya restoran, bahkan lebih banyak dariku. Itulah mengapa aku kembali tertarik padanya. Aku merasa menemukan teman berbincang yang sejalan. 

Aku dan sang mantan sering jalan bersama. Lagi-lagi, aku tak pernah menceritakan ini padamu, istriku. Anehnya, kamu tak sedikitpun menaruh curiga. Sebegitu besarkah kepercayaanmu padaku? Hampir tiap hari aku pulang malam sebab membincangkan persoalan kerja sama itu sekaligus... memintal kembali rasa yang pernah menggelora.

Di tengah makan malam romantis bersama Vina tadi, aku melihat dua orang pasangan suami istri di restoran yang sama. Mereka sudah tampak renta. Istrinya duduk di kursi roda sementara yang mendorong adalah sang suami. Mereka sedang makan malam bersama anak dan cucu. Ramai sekali. Melihat pemandangan pasangan renta itu, aku teringat akan kamu, istriku. Aku terngiang-ngiang dengan perkataanmu. Kamu pernah bilang, jika aku kelak tak mampu berjalan lagi, kamu berjanji akan merawatku. Aku juga ingat tentang cerita jika kita menua nanti, kita akan merasakan momen berkumpul dengan cucu-cucu kita. Kita akan menceritakan pengalaman manis dan pahit hidup ini sebagai bekal untuk rumah tangga mereka kelak.

Sekarang, aku tersadar. Aku mengingat perjuangan kita berdua melalui ujian demi ujian rumah tangga. Aku pun ingat betapa sabarnya dirimu ketika si kembar Aisyah dan Asiyah harus mendekam tiga minggu di rumah sakit karena terserang demam berdarah. Sementara saat itu, aku justru menikmati liburanku dengan Vina dan beberapa kawan lainnya ke Bali. Kembali suara kecil dalam hatiku berbisik, "Suami macam apa aku ini?" 

Malam ini, mungkin kamu tertidur di sofa ruang tamu sambil menanti kepulanganku. Sudah beberapa hari ini, kamu seperti itu. Kadang, kamu melek hingga tengah malam demi menungguku pulang padahal aku sudah meminta untuk tidak ditunggu. Kamu terus menolak dan yakin bahwa aku akan pulang. Pernah juga sekali aku tak sengaja menyebut nama Vina di tengah rentetan alasanku sering pulang malam. Tapi, kamu masih saja percaya padaku. Kamu percaya bahwa aku bukanlah seorang lelaki yang suka mempermainkan wanita. Kamu percaya bahwa aku tak akan pernah membagi cinta ini untuk orang selain dirimu dan anak-anak kita. Inilah yang membuat mendadak rindu padamu.

Setelah meneguk air mineral lamat-lamat, aku buru-buru pamit pada Vina. Aku menolak untuk meneruskan kerja sama dengannya karena kutahu niatnya sudah tidak baik sedari awal. Dia hanya ingin melampiaskan kesepiannya karena baru saja diceraikan oleh suami keduanya. Ya, Vina sudah menikah dua kali. Setelah kupikir-pikir, betapa bodohnya aku bila termakan bujuk rayu seorang wanita macam dia. Aku juga sadar, secantik apapun Vina, dia tak sebaik dan semulia kamu, Fany. 

"Fany sayang, aku pulang sekarang. Aku tak mau pergi dan pulang malam lagi. Aku janji akan selalu bersamamu, menjaga cinta yang telah kamu beri untukku."



4 comments:

  1. Haii mbak, lama aku gak blogwalking. Hehe. Tadi liat status ini di beranda. Cerpennya keren mbak kayak curhatan pribadi.

    ReplyDelete
  2. Makasih vey udh baca
    iya aku kngen sama vey lama tak jumpe kite hehe

    Haha ini terinspirasi dri baca blog org jd nulis jg deh tp bukan curhatan aku lohya 😀kan aku blm punya suami hahaha *diperjelas pula

    ReplyDelete
  3. hahaha, diperjelas statusnya :D Ah kamuuu...

    suami...manusiawi kalau kadang 'nyimpang'. istri yg baiklah yg kemudian membuatnya sadar :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya mbak :D ngapain jg ya diperjelas, gak penting banget hahaha

      iyup ^^ maasih udh mampir

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.