Sunday, April 12, 2015

KONSULTASI: AWAM VS PSIKOLOGI

Kuliah intervensi komunitas kemarin, kami dapat ilmu baru dari Pak La. Kali ini, saya akan sharing tentang konsultasi?

The question is, pernahkah Anda melihat plang-plang konsultasi di pinggir jalan? Itu konteksnya gimana ya? Atau, pernahkah Anda melihat plang konsultasi psikologi?

Ternyata, konsultasi itu memiliki banyak sekali pengertian, tergantung konteksnya dan siapa yang melakukannya. Anyway, konsultasi dari kacamata awam dan konsultasi psikologi itu beda banget loh. Mungkin, kalian pernah gitu lihat atau ketemu sama lulusan dari jurusan mana saja. Kemudian, dia menawarkan jasa konsultasi sesuai dengan background pendidikannya. Lalu, apa bedanya sih sama konsultasi dalam bidang psikologi?


Konsultasi menurut pengertian awam adalah memberikan penjelasan tentang suatu masalah. Oke, noted.
Nah, konsultasi dalam konteks profesi khususnya profesi psikolog atau profesi apapun--(kalo bicara profesi berarti orangnya itu udah dilatih secara profesional dan memperoleh sertifikat atas profesinya tersebut)--adalah interaksi antara konsultee dan konsultan untuk membicarakan masalah-masalah klien. Nah..udah ketahuan kan bedanya dari pengertian awam sama profesi?

Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa dalam konsultasi profesi itu melibatkan tiga pihak: konsultan, konsultee dan klien. Dulu saya mengira bahwa konsultasi profesi itu hanya melibatkan dua pihak yaitu konsultan dan klien. Ternyata sebetulnya ada 3 pihak.

Penjabaran rincinya, klien itu adalah orang yang punya masalah pribadi. Konsultee adalah orang atau pihak yang me-manage klien. Konsultee juga punya masalah, tapi masalahnya adalah masalah seputar kliennya atau lembaganya. Sedangkan, konsultan adalah orang yang memberikan bantuan.

Next, konsultasi dalam bingkai profesi itu mempunyai 2 sifat: langsung dan tidak langsung. Tapi, yang paling umum itu adalah bersifat tidak langsung. Berikut ini poin-poin penjelasannya, mengapa konsultasi itu ada yang bersifat tidak langsung.

  1. Antara konsultan dan konsultee tidak berhubungan secara langsung. Maksudnya, di antara mereka ada sekat atau batas yang harus ditaati. Yaa begitulah peraturan sebenarnya.
  2. Konsultan tidak boleh memaksakan kehendak pada konsultee. Jadi, hubungan mereka setara. Tidak ada yang menekan dan ditekan, tidak ada yang berkuasa dan dikuasai, tidak ada yang paling tinggi otoritasnya. Contohnya aja seorang arstiek. Ketika konsultee mempunyai klien yang ingin membangun rumah minimalis bergaya Eropa, misalnya, maka konsultee datang pada arsitek (konsultan) untuk berkonsultasi tentang bagaimanakah desain dari gambar rumah minimalis bergaya Eropa itu. Tugas arsitek hanyalah mendesain/menggambar rumah minimalis untuk ditunjukkan kepada konsultee. Ketika konsultee keberatan karena ada beberapa bagian dari desain yang tidak sesuai dengan maksud/pikirannya, maka konsultan harus menggantinya sesuai dengan yang dimaksud konsultee. Jadi, konsultan tidak berhak mengkritisi.
  3. Konsultan juga tidak boleh mencampuri urusan-urusan pribadi konsultee apalagi urusan klien si konsultee. Konsultan tidak berhak menanyakan bagaimana kondisi klien karena itu adalah area milik konsultee. (Ini menyangkut kode etik seorang konsultan profesional).
  4. Konsultan itu orientasinya adalah problem focused. Langsung to the point apa solusinya, tidak boleh bertanya "Why?" dan tidak perlu bertanya atau menggali sebab-akibat dari masalah tersebut.
Sekarang pertanyaannya, jadi seorang psikolog itu apakah sama dengan konsultan?? Psikolog itu bisa saja menjadi konsultan, tapi bisa juga berdiri sendiri sebagai psikolog. Namun, psikolog pada dasarnya ya psikolog. Psikolog juga punya kode etik. Bedanya konsultan dari profesi lain sama yang dari profesi psikologi adalah: Psikolog diberikan hak/kewenangan oleh profesinya (sudah menjadi kode etik) untuk "menelanjangi" semua urusan pribadi klien. Jadi, psikolog yang posisinya sebagai konsultan ataupun psikolog umum, tetap diperbolehkan untuk bertanya sebab-akibat dari masalah yang ditangani, bertanya tentang semua rahasia-rahasia klien. Dalam proses konseling dan psikoterapi pun demikian. Psikolog harus tahu semua masalah personal klien dari akar-akarnya.

Begitulah materi yang kami dapatkan dari Pak La. Kalo dihubungkan dengan matkul Intervensi Komunitas, kita bisa menari simpulan bahwa teknik intervensi untuk komunitas itu ada yang bersifat langsung pada orang-orang yang ditangani dalam sebuah komunitas dan ada pula yang hanya berorientasi pada lembaga. Menangani klien dalam konteks intervensi komunitas itu, tidak harus langsung pada klien. Penanganannya pun bisa cukup sekali atau dua kali saja dilakukan dengan orientasi target yang lebih banyak. Jadi, sebisa mungkin 1 intervensi efektif untuk 1000 orang dalam sebuah komunitas.

Sekian dari saya
Semoga bermanfaat ^_^

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.