Wednesday, May 6, 2015

JARANG SEKALI MEMUTAR MUSIK

Beberapa bulan lalu, saya sempat mengikuti seminar Islam oleh Ust. Budi Ashari, Lc di kampus UM (Universitas Negeri Malang). Seminar tersebut membahas tentan parenting Nabawiyah. Salah satu bahasannya adalah tentang musik dan Al-Qur'an. Ust. Budi Ashari mengemukakan bahwa musik dan Al-Qur'an itu sifatnya saling menjatuhkan. Ketika seseorang lebih sering mendengarkan/memutar musik, bahkan menjadikan itu sebagai sebuah kebutuhan, lama-kelamaan Al-Qur'an yang ia pelajari, yang ada dalam dadanya akan terkikis sedikit demi sedikit. 

Mengenai musik, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan alat-alat musik." (HR Bukhari).

Semenjak masuk S2, saya sudah jarang bahkan nyaris tidak pernah memutar musik mp3. Kalau mendengarkan musik dari tempat-tempat yang dikunjungi memang sering tapi itu juga bukan atas kehendak diri sendiri. Saya pribadi memang bukan tipe orang yang suka mendengarkan musik. Hape Asus saya yang jadul itu, di dalamnya memang masih ada daftar lagu. Itupun nyaris tidak pernah saya putar lagi dan daftar lagunya pun hanya sedikit, tidak pernah update, itu-itu saja. Selain itu, hape yang android, lebih-lebih lagi... tidak ada isi lagu di dalamnya. Cuma ada musik untuk ringtone dan itupun tidak pernah saya pakai karena kalau dibawa kuliah, harus di-silent atau di-getarkan saja nadanya. 


Nah, gimana dengan nasyid? Nasyid zaman sekarang itu, kata orang-orang yang sering mendengarkan siih... mereka bilang, mereka dengerin nasyid sebagai sarana untuk mengingat Allah. Bahkan saya pernah mendengar salah satu pembuat lagu-lagu Islami, dia bilang ini sebagai metodenya untuk berdakwah. Ya, kalau dibilang hal baik, mungkin bagi manusia emang baik. Tapi, saya juga belum menemukan apakah dulu itu Rasulullah juga melakukan hal serupa yaitu berdakwah dengan musik? Kayaknya tidak ada deh riwayat kisahnya Nabi SAW berdakwah pake musik/alat musik. Wallahu a'lam sih. Tapi, mengenai riwayat diperbolehkannya alat musik dan bernyanyi itu ada haditsnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhumasuk (ke tempatku) dan di dekatku ada dua anak perempuan kecil dari wanita Anshar, sedang bernyanyi tentang apa yang dikatakan oleh kaum Anshar pada masa perang Bu’ats.” Lalu aku berkata, “Keduanya bukanlah penyanyi.” Lalu Abu Bakar berkata, “Apakah seruling setan ada di dalam rumah Rasulullah?” Hal itu terjadi ketika Hari Raya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan ini adalah hari raya kita.” (HR  Bukhari)

Dari hadits tersebut, waktu yang diperbolehkan untuk bernyanyi hanya pada saat hari raya dan hari pernikahan. Etts... tapi tunggu dulu. Alat musik yang digunakan juga bukan gitar, bass, drum atau lainnya yang seperti kerap kita temukan di acara pernikahan zaman ini. Alat musik yang diperbolehkan oleh Rasulullah SAW itu adalah rebana yang ditabuh,

Balik mengenai nasyid tadi. Selama isi dari nasyid itu tidak ditujukan sebagai sarana beribadah kepada Allah, sebagai sarana kemaksiatan, kesyirikan dan pemujaan itu tidak masalah. Wallahu a'lam bish showab.

Kalau saya pribadi, dari dulu selalu berupaya untuk merutinkan membaca Al-Qur'an daripada mendengarkan musik. Yaaa walaupun bagi saya menghapal Al-Qur'an itu susahnya minta ampun dan mungkin nggak bakal kelar-kelar hehehe... jadi saya memulai dari hal yang ringan yaitu merutinkan diri untuk selalu tilawah Qur'an. Suara saya juga pas-pasan jadi nggak bisa seperti Qari'. Pikir saya, lebih nyaman membaca Al-Qur'an daripada mendengarkan musik. Apalagi kalau pas lagi suntuk, bete dan punya masalah... biasanya menenangkan hati dengan tilawah.

Kalau ada teman-teman yang suka banget nonton konser musik sekalipun itu adalah idola Boyband Korea, sekalipun itu misalkan yang konser adalah tokoh idola Korea saya, sudah pasti.... saya nggak akan datang. Kenapa? Bukan hanya karena masalah nggak begitu suka denger musik, tapi saya juga tidak betah berada di keramaian dalam waktu lama. Pergi nonton konser? What? No! Mending saya pilih baca buku atau browsing bacaan apa gitu di laptop atau maen mainan tradisional sama anak kecil daripada diajak nonton konser. Buang-buang duit, desak-desakan pula, ditambah lingkungan yang crowded banget... itu bisa bikin saya cemas berlebihan *kenapa malah curhat?

Oke, sekian dulu deh dari saya. Kalau ada yang salah, silakan diluruskan ya. Saya juga masih belajar kok.

4 comments:

  1. Duh, malu sendiri baca tulisan ini... masih cukup sering dengerin musik :(

    ReplyDelete
  2. wah kalo dengerin nasyid jdi nostalgia zaman SD :)

    ReplyDelete
  3. Artikel ini memberikan wawasan terbaru buat saya, wacana pembahasan ini sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  4. Benar sekali mbak,... musik itu sarana yang digunakan untuk memalingkan kita dari jalan Allah. Dulu saya pernah punya sedikit hafalan, karena musik, wess mbar kabeh hafalannya, ilang... na’udzubillah...

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.